![]() |
| Ilustrasi suami isteri (dok. Tau Gak Sih?) |
Awal berjumpa dengannya adalah ketika aku dijodohkan oleh orang tuaku, sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya karena aku mempunyai calonku sendiri yang sudah kukenal lama dan kuketahui tabiat serta ibadahnya. Tetapi karena paksaan orang tua yang menjamin kebahagiaan ku karena kemapanannya dan menyuruhku untuk tidak durhaka ke orang tua akupun terpaksa mengiyakannya.
Kalau saja saat itu aku lebih mementingkan perkataan Rasulullah tentang hak seorang wanita dalam menerima calon suami dan berani mengutarakan ini ke orang tuaku mungkin kehidupanku akan berbeda pikirku. Rasul pernah mengatakan ini dalam sabdanya:
Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)
Bahkan pembangkangan seorang wanita terhadap ayahnya atau ibunya dalam hal pilihan suami, tidak tergolong kedurhakaan. Bukhari meriwayatkan;
Dari Khansa binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. (HR. Bukhari)
Riwayat Ahmad berbunyi;
Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad)
Dalam hadist ini menjelaskan seandainya pembangkangan Khansa binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khonsa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khansa untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.
Tetapi setelah aku berfikir tak pantas aku menyesalinya, karena semua terjadi atas kehendak Allah. Jika aku menyesalinya, sama dengan aku menyalahi takdir yang Allah gariskan padaku. Tugasku adalah mensyukuri apapun pemberian Allah dan menjalani segala sesuatunya sesuai dengan syariat
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (QS. Al Hadid : ayat 22)
Akhirnya aku mencoba untuk mencintainya tentu dengan niat ibadah untuk Allah, dan akhirnya aku terbiasa. Satu setengah tahun pernikahan kami berjalan, kami dikaruniai seorang putra. Tak pelak kehidupan keluargaku makin bertambah ramai dengan datangnya titipan Allah ini, namun tak sesuai dengan apa yang aku impikan. Suamiku mulai berubah, sering terlambat pulang kerja, bahkan terkadang sering menginap. Saat kutanya dia malah membentakku dengan kata-kata kasar hingga bayi kecil kami menangis karena teriakannya. Aku hanya menangis dan mengadukan ini ke Allah berharap dia mendapat hidayahNya. Akupun tidak memendam sedikitpun amarah lagi kepada suamiku, aku tetap melayaninya sebagai istri dan mensyukuri segala pemberiannya sebagaimana hadist ini:
“Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Seiring waktu berjalan, dia semakin kasar bahkan terkadang nafkah yang diberikan semakin berkurang. Saat kutanya apakah ada masalah di kantornya dia malah menyuruhku bekerja untuk mencari tambahan buat biaya hidup kami, semakin berat perjuanganku untuk beribadah kepada Allah adalah saat mertuaku ikut membenciku karena alasan yang tidak jelas. Ia sering bilang aku boros dan tak pandai menjaga suamiku, kerap kata-kata yang menyakitkan pun terlontar untukku. Aku tetap bersabar dan terus mendoakan mereka berdua, berbekal gelar sarjana ekonomi akupun mencari kerja.
Akhirnya aku diterima kerja disebuah perusahaan di kota, tak jarang kubawa anakku saat bekerja atau kalaupun terlalu sibuk kutitipkan putrakku kepada ayah-ibuku, saat mereka bertanya mengapa aku bekerja kujawab dengan datar “aku hanya ingin menyibukan diri dan menyiapkan bekal lebih banyak untuk putrakku”. Semakin sakit hatiku saat orang tuaku mengatakan kalau aku tidak becus menjadi ibu dan istri, karena sudah mempunyai suami mapan tetapi malah menyibukan diri untuk bekerja. Aku hanya diam, tak ku jelaskan soal masalah dikeluargaku bahwa suamiku sendirilah yang menyuruhku kerja. Aku tak ingin orang tuaku merasa bersalah karena pilihan mereka.
“Bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: Ayat 46)
Beberapa tahun aku bekerja kini, aku tetap masih menerima perlakuan kasar. Terkadang saat suamiku marah dengan alasan tidak jelas, aku tetap meminta maaf padanya dengan kata-kata lembut agar aku diizinkan tidur disampingnya. Kujalankan tugasku sebagai seorang istri sesuai syariat agama sebagaimana hadist Rasulullah saw:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
Suatu ketika, karena badanku yang tiba-tiba terasa tidak enak aku meminta izin pulang dari kantor lebih cepat. Kujemput anakku menggunakan taksi di rumah orang tuaku karena sudah tak kuat badanku rasanya ingin tidur dirumah. Saat pulang kutengok mobil suamiku di dalam pagar, aku terheran dan saat aku masuk aku melihat sendal seorang wanita. Kutidurkan anakku di kamarnya lalu kutengok kamarku, betapa hancur dan marahnya diriku saat melihat suamiku berzina dengan wanita lain di kamar kami.
Tersontak aku berteriak, dan suamiku keluar dengan wanita itu. Suamiku menamparku, dan dia bilang dia bosan denganku dia kemudian pergi dengan wanita itu dan tidak pernah kembali. Betapa hancur hatiku, ingin pingsan rasanya karena kondisi badanku yang sangat lemah namun kudengar anakku berlari kearahku dan memelukku berkata “Bunda kenapa menangis? Ayah kemana? Bunda jangan sedih, aku bisa ko jagain bunda.” Subhanallah, aku mencoba kuat dan sabar. Semakin deras air mataku, kuucap syukur kepada Allah karena Dia memberiku seorang permata hati ini yang begitu mencintaiku dan bisa ada bersamaku saat ini.
Kusegerakan diri untuk shalat Ashar, karena waktu sudah menunjukan pukul 15.25 sore. Aku bersujud kepada Allah, karna aku tau saat tak ada tempat untuk bersandar, selalu ada tempat untuk bersujud. Setiap hari semakin ingin rasanya aku menghabiskan waktuku untuk beribadah karena jujur saja, saat aku beribadah semakin kuat dan ikhlas aku menghadapi ini. Tentunya tak kutinggalkan tanggung jawab untuk bekerja dan mengurus anakku. Suatu malam membaca Al-Qur’an kutemukan beberapa penggalan ayat yang bahkan sampai saat ini selalu masih terngiang.
“Dan Aku jadikan sebahagian dari kalian cobaan bagi sebahagian yang lain. Bisakah kalian tabah?” (QS. Al-Furqon; Ayat 20)
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS, Al-Anfal: ayat 46).
Aku rasa Allah-lah yang membimbingku agar membaca beberapa ayat ini, akhirnya semakin kuat diriku, bahkan Allah mempertemukanku dengan sahabatku yang lama tak berjumpa untuk menghiburku. Kuceritakan semua masalahku padanya, kemudian terlontar kata-kata yang membuatku semakin tegar:
Dia berkata “Jangan pernah menghitung apa yang sudah pergi darimu, cobalah hitung apa yang kau punya saat ini. Kamu masih mempunyai Allah dan anakmu, jangan kamu sia-siakan waktumu untuk hal yang tidak penting. Kamu masih mempunyaiku sebagai sahabatmu jika kamu ingin bercerita, kamu masih mempunyai anakmu untuk menemanimu, dan kamu masih mempunyai Allah untuk menjagamu”
Akhirnya kujalani hidupku untuk membesarkan anakku dengan berbekal keikhlasan ku menjalani ini karena Allah, orangtuaku pun tak jarang mengunjungi ku. Mereka merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku, namun kukuatkan mereka dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Saat itu perjuanganku semakin berat karena kebutuhan yang semakin banyak tidak sepadan dengan penghasilanku. Aku terus berdoa dan mencoba memulai usaha kecil-kecilan menjual kue di tempatku bekerja. Ada firman Allah yang mengatakan:
“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasakan) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta.
(Sumber: Tau Gak Sih?)


0 komentar:
Posting Komentar