Kisah Sedih Pemuda Kaya Australia Dapat "Hadiah" Kanker

Ali Banat (dok. Sembangsado.blogspot.my)
(RajaDumay.com) --- Nama pemuda tersebut adalah Ali Banat, seorang pemuda Muslim dari Australia yang hidup dalam kesuksesan dan penuh dengan kemewahan. Akan tetapi, akhir-akhir ini kehidupannya berubah drastis. Penyebabnya adalah dokter memvonis dia menderita penyakit kanker stadium 4 dan diperkirakan umurnya tidak akan lebih dari 7 bulan lagi.

Setelah mengetahui itu, Ali pun benar-benar berubah dan menjadi orang yang berbeda. Dia meninggalkan seluruh bisnisnya yang telah sukses serta membuang jauh-jauh kehidupan glamornya, lalu berhijrah menjalani hidup dengan sederhana untuk mengabdikan sisa hidupnya di jalan Allah.


Saksikan video Ali Banat di sini!


Ketika ditanya oleh seorang Sheikh tentang kehidupannya, dia menjawab, “Allah telah memberiku Hadiah,
Alhamdulillah, dengan menghadiahkan sakit kanker pada setiap tubuhku, setelah itu, aku bertekad untuk merubah hidupku secara sempurna untuk orang fakir.”

"Mengapa engkau namai penyakit ini dengan hadiah?" tanya Sheikh.


"
Alhamdulillah, aku anggap ini hadiah, karena….” Dia terdiam sambil menangis, lalu melanjutkan jawabannya, “Alhamdulillah, aku anggap ini hadiah karena Allah masih memberi kesempatan kepadaku untuk berubah.”

Penyakit kanker ini membuka matanya untuk hal yang sangat kecil sekali pun seperti menghirup udara segar, karena sebelum dia mengidap kanker, ia menganggap nikmat ini hanyalah sebuah hal yang remeh.

Ketika Ali mendengar bahwa dirinya terkena kanker, dia langsung menyedekahkan mobil dan jam tangan mewahnya, sampai baju-bajunya yang mahal untuk orang-orang di negara miskin, dia ingin meninggalkan kelezatan dunia ini tanpa sisa pun.


Sheikh tersebut sebelumnya tidak mengetahui kemewahan yang dimiliki oleh Ali kecuali setelah beliau memasuki kamarnya. Ali memperlihatkan sebuah gelang berlian yang harganya $60.000, dan Sheikh tersebut seperti terkejut ketika mendengarnya.


Kamarnya dipenuhi oleh barang-barang mewah, mahal dan bermerek, sebuah sepatu saja harganya $1.300, bahkan untuk sebuah sandal toilet pun dia rela membayar $700, dan juga kamarnya dipenuhi oleh assesoris lainnya, seperti kaca mata dari berbagai macam merek dan topi yang bermerek pula.


Ali telah meninggalkan dunia yang dahulu pernah terikat padanya, dan tidak ada lagi bagian dari hatinya untuk menampung Dunia.


Sheikh itu keluar, kemudian dia menanyakan sambil menunjuk ke arah mobil Ferrari yang harganya $600.000,  “Wahai Ali, apa yang engkau rasakan ketika melihat ini?”


"Bermimpi untuk menyupir ini, tidak pernah terbetik dalam benakku lagi, aku tidak ingin melakukan ini kembali. Setelah dikabarkan bahwasanya engkau sakit dan tidak bisa hidup lama lagi, demi Allah ini adalah Akhir dari minat kamu, sudah seharusnya kita hidup tidak mewah,” ujar Ali


“Akan tetapi orang-orang ingin menaikinya, ingin memilikinya, dan ingin mengendarainya?”
kata Sheikh.

“Demi Allah, mereka telah berharap tujuan yang salah, dan mereka tidak akan tahu, kecuali ketika telah ditimpa penyakit yang akan menghabiskan masa hidup mereka, ketika mereka tahu bahwa semua ini tidaklah bermanfaat untuk mereka.”

Ketika Sheikh bertanya berapa harga mobil itu di hatimu, Ali menjawab, “Ini tidaklah berharga seperti harga sandal toilet yang aku hadiahkan untuk anak fakir Afrika. Demi Allah, senyum anak itu karena sandal tersebut sama dengan harga semua mobil ini,
Wallahil a’adziim.”

Kini Ali telah mengabdikan kehidupan dan hartanya untuk membantu orang-orang fakir, setelah perjalanannya ke Afrika, dia telah membangun sebuah yayasan yang diberi nama “Muslim Around the World Project”. Maka telah sempurna pembangunan masjid dan sekolah agar menjadi sedekah jariyah yang bermanfaat baginya setelah meninggal dunia kelak.


Ali bercerita kepada Sheikh, itu semua dimulai ketika dia berziarah ke kuburan temannya yang wafat karena penyakit kanker juga, dia terduduk di sebelah kuburan temannya, kemudian dia mulai berpikir akan keadaan dirinya kelak, karena setelah kita wafat, tak ada yang bersama kita, tidak ada yang disampingmu, tidak ada Ibu, Ayah, Saudara dan Saudari, kecuali amalanmu, sampai uangmu tak akan bermanfaat untukmu, karena yang akan tinggal bersama adalah sedekah.


Tak ada satu pun yang mampu menolongmu, dimulai dari asa kuburmu hingga engkau bertemu dengan Allah.


Sebagaimana dia memahami nyatanya kematian, Ali menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bersiap diri berjumpa dengan Maha Pencipta, Allah.


Kemudian Sheikh membacakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya,
“Siapa yang cinta untuk bertemu dengan Allah, maka Allah akan cinta untuk bertemu dengannya, dan barangsiapa yang benci untuk bertemu dengan Allah, maka Allah benci untuk bertemu dengannya.”

“Apakah engkau suka bertemu dengan Allah?” tanya Sheikh kepada Ali.

“Dengan sebab kanker ini, seseorang menyarankanku untuk mengambil obat tertentu, yang dapat meringankan rasa sakit, dan
Subhanallah obatnya sangat kuat sekali, aku minum dari dosis wajar, aku hilang kesadaran dan seperti masuk ke alam lain, dan aku tidak tahu berada di mana. Hal itu sangat menyakitkan, dan Subhanallah, aku melihat banyak hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan keluargaku duduk di sebelahku dan aku di ambang kematian. Dan menunjukkan jari ke langit. Aku berkata 'Ya Allah, ambillah aku'.”

“Aku Melihat hal yang sangat indah, sehingga membuatku berharap untuk wafat. Esoknya,
Subhanallah, aku terbangun dan aku heran, ternyata Allah belum mengambilku,” kata Ali dengan suara yang bercampur dengan tangisan.

Di akhir pertemuan, Sheikh berdoa kepada Allah agar mensucikannya, menyembuhkannya dan memanjangkan umurnya, serta Sheikh berdoa kepada Allah untuk membalas kebaikannya dan memberinya surga Firdaus yang paling tinggi.



(Sumber: Kabar Salam)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar