| Aktris Korea Selatan Han Ga-in |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Judul "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Seorang gadis di antara para siswa lainnya, untuk pertama
kali melangkah memasuki gerbang Institut Pendidikan Yayasan Kenang Indonesia
yang disingkat “IP YAKIN”.
Gadis itu berkulit putih bersih dengan wajah cantik layaknya
wajah-wajah orang kaya yang selalu hidup di bawah hembusan angin AC. Berseragam
putih lengan panjang dengan dasi panjang berwarna hitam berlogo sesuatu. Rok
abu-abunya juga panjang, berbeda dengan siswi lainnya yang hampir semua memakai
rok selutut. Ia mengenakan sepatu hitam bergaris putih bermerek punya luar
negeri. Tangan kanannya menjinjing tas berwarna merah dengan hiasan gantungan
kunci berbandul miniatur gitar listrik.
Kedatangannya menyedot perhatian mata para siswa yang sudah
ramai berdatangan sebelum bel menjerit meneriaki para penuntut ilmu untuk masuk
ke kelasnya masing-masing. Selain wajah cantiknya yang laksana bintang kejora
di langit malam tanpa awan, wajahnya juga memang tayang perdana di sekolah itu.
Namun, yang lebih membuat gadis ini menjadi pusat magnet di pagi itu karena
rambut sebahunya yang berwarna kuning emas seperti orang bule.
Kedatangan si gadis juga menjadi perhatian empat siswi yang
sedang berkumpul di bawah tiang keranjang lapangan basket.
“Wow! Siapa tuh?” tanya siswi berambut ikal sebahu sambil
mencolek temannya ketika pertama kali melihat kedatangan siswi berambut bule.
Siswi cantik bertahi lalat kecil di pipi kiri itu bernama lengkap Iyut Nirmala, panggilannya Ala.
Ketiga temannya yang segera memandang ke arah pandangan Iyut,
berdesah “wow” secara bersamaan.
“Anak baru,” kata siswi berambut panjang sepunggung, pelan.
Ia bernama Novi Andria, panggilannya
Ofi.
“Malapetaka,” ucap siswi yang rambut sebahunya diikat dengan
ikat rambut bermodel kulit kucing, membuat anting emasnya berkilau jelas di
telinga. Ia bernama Indah Pertiwi,
panggilannya Iwi.
Sementara siswi berambut pendek yang cantik terkesan tomboy,
tidak berkomentar. Ia bernama Ristana,
panggilannya Iis.
Keempatnya adalah sosok siswi yang masuk kategori “cantik”.
Selain karena mereka memang cantik dari segi wajah, mereka juga memiliki kulit
yang putih. Tiga dari mereka mengenakan rok sebatas atas lutut, berbeda dengan
Ristana yang ujung roknya hingga menutupi lutut.
Di sekolah swasta itu, untuk urusan rok, aturannya dari atas
lutut hingga mata kaki. Sepatu wajib hitam dan kaus kaki putih panjang sebetis
atas. Siswa/siswi berdasi panjang hitam dengan logo sekolah IP YAKIN.
“Malapetaka apa yang lu maksud?” tanya Novi serius.
“Lu lihat, noh anak Batalion!” tunjuk Indah dengan matanya
ke arah sekelompok siswa yang berkumpul di depan pintu ruang Pembimbing Siswa
yang masih tertutup.
Keenam siswa dengan berbagai wajah itu, semuanya memandangi lewatnya
siswi berambut bule untuk setiap detiknya. Keenam siswa itu disebut “Batalion”
karena itu adalah nama kelompok band mereka di sekolah.
“Lu lihat, semua anak batangan di sekolah ini pada
ngelihatin dia. Bukan karena tuh anak makhluk alien atau siluman buaya ijo,
tapi karena tuh anak memang cantik!” kata Indah berapi-api, kian menegaskan
ramalan buruknya.
Memang, hampir semua siswa yang melihat kedatangan si gadis
berambut pirang, tidak segera membuang pandangannya ke obyek yang lain. Minimal
terjadi loading di mata, kepala,
bahkan di hati mereka.
“Pak Mukhtar yang tawadhu’
aja sampai kesirep sama pesona rambut emasnya,” kata Indah berbisik, lebih
menegaskan analisanya.
Keempat gadis itu pun memandang ke nun jauh di depan perpustakaan,
tempat seorang pria berwajah sejuk dengan jenggot lima jarinya dan peci hitam
khas Indonesia, berdiri terdiam memandang kedatangan siswi berambut pirang.
Lelaki berusia 45 tahun itu adalah guru agama Islam di sekolah itu, namanya Mukhtar Abdulghani. Karenanyalah, ia
satu-satunya guru yang tidak pernah ganti baju, selalu pakai baju koko dengan
berbagai warna dan jenis.
“Akhirnya Pak Mukhtar kena deh,” kata Iyut yang membuat
keempatnya tertawa ramai.
Tawa keempatnya yang nyaring membuat Pak Mukhtar beralih
memandang kepada mereka, tapi guru agama itu tidak tahu bahwa keempat gadis itu
menertawakannya. Pak Mukhtar lalu berlalu pergi menuju ke ruang guru. Sementara
beberapa meter di belakangnya berjalan si gadis rambut pirang.
Dengan membaca plang petunjuk yang dipasang di sisi atas, si
gadis pirang tidak perlu bertanya untuk menemukan di sudut mana ruangan Kepala
Sekolah berada.
“Hahaha!”
Tiba-tiba tawa sekelompok siswa meledak keras di area parkir
motor. Dari candaan fisik yang mereka lakukan, menunjukkan mereka sedang
menjadikan siswi rambut pirang sebagai obyek candaan.
“Dasar Geng Anak Cicak!” rutuk Ristana dengan wajah sinis.
Geng Anak Cicak adalah nama ejekan yang ditujukan kepada
kelompok geng siswa di sekolah itu yang bernama Geng Anak Monster, disingkat Geng
Amos.
“Tau tuh, norak banget, kayak gak pernah lihat artis
Vietnam!” rutuk Novi yang diikuti tawa Indah dan Iyut.
“Gua yakin banget, Rina bakal jatuh pamor dalam beberapa jam
doang!” kata Indah melanjutkan ramalannya.
“Lu bilang beberapa jam doang, Wi?” ucap Novi dengan
ekspresi syok seperti mendengar kabar dapat voucher belanja seribu rupiah.
“Ya!” sahut Indah penuh yakin ditambah separuh kebanggan.
“Siapa berani taruhan? Bakso dua biji!”
Kalimat akhir Indah membuat Ristana menarik pelan rambut
Indah.
“Aw!” pekik Indah merengut sambil berpaling kepada Ristana.
“Taruhan bakso dua biji, ketahuan miskinnya. Kalau ramalan
Iwi benar, gua traktir bakso Rina semangkok,” ujar Ristana.
“Setuju. Kalau Iwi benar, gua traktir Ofi,” kata Iyut.
“Oke, kalau Iwi menang, gua traktir Iis,” kata Novi pula.
“Dan kalau Iwi kalah, traktir kita bertiga.”
“Lha, yang traktir gua siapa?” protes Indah.
“Duo K,” jawab Novi dan Iyut berbarengan.
Tiba-tiba dua siswi cantik muncul berlari ke arah mereka
berempat. Siswi pertama rambut sebahunya di kepang kanan-kiri, bertabur ikat
rambut karet warna-warni. Siswi kedua berambut panjang. Sisi kanan kepalanya
hanya dihiasi satu jepit rambut warna putih terang. Keduanya juga termasuk
gadis-gadis yang cantik.
“Wah, gawat gawat gawat!” teriak siswi berkepang begitu
heboh, membuat keempat gadis yang didatanginya jadi pasang wajah serius, hingga
kening ikut menegang dengan cara berkerut. Ia bernama Windi Anggita, panggilannya Windi.
“Ada Han Ga-in di sekolah kita!” kata siswi satunya lagi,
juga begitu panik. Namanya Ade Irma,
panggilannya Adel. “Mana Rina?
Mana?”
“Han Ga-in itu binatang apaan?” tanya Indah kepada kedua
sahabat mereka juga yang dikenal dengan nama Duo K.
“Han Ga-in itu artis cantik drama Korea,” Ristana yang
justeru menjawab.
“Betul!” sahut Duo K bersamaan sambil menunjuk Ristana. Nama
Duo K melekat pada Windi dan Ade karena mereka adalah pemuja K-Pop, film dan
drama-drama Korea.
“Rina harus tahu kalau di sekolah ini akan ada Han Ga-in
blasteran Amerika. Hah! Anak itu bakalan merebut pasar perhatian para brondong
se-YAKIN. Sekarang Han Ga-in ada di ruangan Kepsek. Gak masalah kalau dia anak
baru kelas satu, tapi kayaknya enggak deh, pesonanya matang banget untuk kelas
satu. Wah! Kalau kelas tiga, Rina bisa habis keinjak-injak!” cerocos Windi
dengan mimik seperti wajah rakyat yang sedang mendapat serangan udara negara
tetangga.
Memang, wajah siswi berambut pirang tadi mirip dengan aktris
drama Korea Selatan Han Ga-in, bintang utama di drama “Bad Guy” (2010) dan film “Architecture
101” (2012).
Kepanikan Windi semakin komplit oleh kehebohan paniknya Ade
Irma, membuat yang lainnya sangat tidak nyaman.
“Aaa! Berisik!” bentak Novi. Karakternya sebagai anggota
geng perempuan muncul ke permukaan. “Anak itu baru masuk halaman aja sudah
bikin kacau anggota Geng Bintang Tujuh.
Pokoknya lihat aja kalau sampai mengusik karisma kita!”
Iyut pun menghardik Duo K, “Memang hebatnya apa kalau
rambutnya bule? Siapa yang tahu, dia cuma anak pinggir jalan yang mungut muka
di tangga plaza. Geng Bintang Tujuh pantang keguncang cuma karena nongolnya
bidadari abu-abu yang gak jelas. Udah, berhenti panik gitu, ngejatuhin derajat
kelompok kita aja!”
Duo K hanya diam merengut.
Keenam siswi itu memang tergabung dalam satu kelompok yang
bernama Geng Bintang Tujuh. Kelompok geng perempuan itu beranggotakan tujuh
gadis, tidak lebih tidak kurang. Nama geng mereka sudah mahsyur di seantero IP
YAKIN. Bahkan keberadaan geng ini sudah diketahui oleh para guru di sekolah
itu. Namun untungnya, masalah yang mereka timbulkan tidak pernah ada yang
sampai ke tangan para guru, jadi jajaran guru pun tidak mempermasalahkannya.
Geng Bintang Tujuh diketuai oleh Rina
Viona.
“Memangnya anak baru itu di ruangan kepsek mana?” tanya
Indah kepada Duo K.
“Kepsek SMK,” jawab Windi.
IP YAKIN memiliki dua sekolah dalam satu gedung, yaitu SMU
dan SMK. Adapun Geng Bintang Tujuh adalah siswi-siswi SMK jurusan sekretaris.
“Kita tunggu aja, masuk mana dia,” kata Novi dengan wajah
berdarah dingin.
Teeet! Teeet! Teeet!
Jeritan bel listrik tiga kali terdengar nyaring, memanggil
semua siswa untuk masuk ke kelasnya masing-masing.
“Inna lillahi!”
pekik Indah terkejut bukan main sambil memandang ke arah gerbang.
Kelima lainnya segera memandang setujuan dengan pandangan
Indah. Ketika mereka melihat obyek yang dimaksud, semuanya pun merasa
terguncang.
“Akk!” pekik tertahan Windi dan Ade bersamaan. Saking
syoknya, keduanya nyaris jatuh terduduk di lantai semen.
“Oh!” keluh Novi serasa kehilangan pijakan, bahkan tubuhnya
jadi lunglai, tangannya segera berpegangan di tiang keranjang basket.
Iyut terperangah dengan mulut terbuka dan mata mendelik,
hampir tidak bisa dibedakan dengan wajah ikan asin yang terjemur.
Sementara Ristana tetap terdiam, cool, meski di dalam hatinya bergolak tidak karuan.
Yang mereka lihat sehingga mereka terguncang adalah sosok
seorang siswi berhijab yang melangkah mendatangi mereka. Yaaa, hanya seorang
siswi berjilbab yang memang berwajah cantik. Tapi, apakah sampai sedahsyat itu
efek yang ditimbulkan siswi itu sehingga membuat keenam anggota Geng Bintang
Tujuh terguncang hebat?
“Ri... Rina?” ucap Indah gagap bernada bertanya, tapi tidak
ada yang menjawab.
Siswi itu memang Rina, Rina Viona, Ketua Geng Bintang Tujuh.
Rina, kemarin masih tampil penuh pesona tidak jauh beda dengan keenam anggota
gengnya. Bahkan roknya yang terpendek di antara mereka. Sekarang, roknya
panjang mencapai mata kaki. Kemarin, rambut ikal indahnya masih tergerai
mempercantik wajah bersihnya. Kini, rambut itu telah tertutup oleh jilbab
putih.
Seorang ketua geng yang hidup penuh gengsi dan gaya glamour,
yang tidak sedikit pun perduli dengan gaya hidup rilijius atau pendidikan
agama, tiba-tiba dalam sepintas malam berubah wujud seperti ganti judul film.
Tidak hanya itu, Rina adalah sosok terkejam dan terjahat di Geng Bintang Tujuh.
“Assalamu ‘alaikum!”
Bukan Rina yang mengucapkan salam. Bukan juga salah satu
dari keenam lainnya dengan maksud menggoda.
Salam yang terdengar teriakan itu berasal dari seorang siswi
berjilbab lainnya yang berlari bersama tas ransel di punggungnya di belakang
Rina. Salam itu membuat Rina berhenti dan berpaling. Didapatinya siswi
berjilbab berlari melewati keberadaannya dan mendapati keenam anggota Geng
Bintang Tujuh yang masih menunjukkan wajah bingung dan ketidakpercayaan.
“Ala, cepat pinjam hp-mu!” pinta gadis cantik berwajah
sedikit lebih hitam itu sambil menadahkan tangan kanannya kepada Iyut Nirmala.
Suaranya sedikit serak, tapi itu alami sebagai warna suaranya.
Meski mereka tidak akrab dengan siswi itu, tapi siswi itu
bersikap begitu akrab. Tanpa mau bertanya “untuk apa”, Iyut menyerahkan handphone-nya kepada siswi itu.
Setelah menyentuh layar hp beberapa kali, siswi itu segera
bergerak ke depan Rina sambil tertawa-tawa kecil, membuat lesung pipinya
terlihat manis.
“Senyum!” seru siswi itu kepada Rina sambil mengarahkan
kamera hp di tangannya untuk memfoto Rina.
Crek!
Siswi itu mendapat gambar bagus. Ia pun tertawa sendiri
sambil berbalik memulangkan hp itu kepada Iyut.
“Jazakillah, Ala!”
ucap siswi itu penuh senyum sambil membungkuk layaknya orang Jepang menghormat.
Ia lalu berlari pergi sambil tertawa dan melambaikan tangan
kepada Rina yang hanya tersenyum, senyum pertamanya dalam balutan hijab.
“Ayo ke kelas!” ajak Rina kepada teman-temannya yang belum
berhenti mematung.
Belum habis rasa syok yang mereka rasakan, malah muncul Barada yang seenaknya saja meminjam hp
lalu memotret Rina dan pergi begitu saja. Padahal mereka tidak akrab dengan
Barada, tapi memang siswi kelas dua jurusan akuntansi itu punya kelebihan bisa
mengakrabkan diri dengan siapa pun. (RH)
(Bersambung: Dari Resleting Hingga Wawasan Konflik Dunia )
(Bersambung: Dari Resleting Hingga Wawasan Konflik Dunia )

0 komentar:
Posting Komentar