Perang Enam Hari 1967: Pemicu Serangan Israel ke Mesir

Tentara Israel mengawasi Yerusalem Timur pada Perang Enam Hari 1967. (dok. Saraa Media)
Peristiwa “Perang Enam Hari” di tahun 1967 paling tepat dilihat sebagai satu bagian lain dalam perang 100 tahun untuk Palestina yang dimulai dengan kerusuhan anti-Zionis pada tahun 1920. Sejak itu serangkaian konflik bersenjata antara Yahudi dan Arab telah membentuk sejarah negara ini.

Perang Enam Hari bukanlah yang pertama dan juga yang terakhir. Tumbuh dewasa di kamp-kamp pengungsian setelah tahun 1948, gerilyawan Palestina meluncurkan serangkaian serangan terhadap Israel. Para gerilyawan Palestina ini sering beroperasi di wilayah Suriah dan Yordania. Israel berulang kali menyerang  dua negara ini, termasuk dengan serangan udara dan pengeboman.

Suriah meminta bantuan dari Mesir. Orang-orang Mesir berbalik melawan Israel, menutup jalur air menuju Eilat. Dalam perang yang meletus, Israel menguasai wilayah Arab yang besar, termasuk Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Kontrol itu berubah menjadi pendudukan, yang menjadi alasan utama bagi perang yang menjadi pusat perhatian hingga saat ini.

Buku baru tulisan Guy Laron, The Six-Day War: The Breaking of the Middle East, layak dibaca meskipun ada beberapa cerita yang bersumber dari spekulasi yang tidak berdasar. Sebagai contoh, Laron menceritakan bahwa pada tanggal 2 Juni 1967, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengadakan sebuah pertemuan dengan semua komandan senior tentara Mesir dan mengatakan kepada mereka bahwa Israel akan menyerang Mesir pada tanggal 4 atau 5 Juni.

Menurut Laron, Nasser kemudian mengerucutkan waktu dan menyatakan bahwa serangan terbuka Israel akan dilancarkan melalui serangan udara pada tanggal 5 Juni. Terlepas dari dugaan terhadap konspirasi dalam peringatan Nasser ini, hampir seluruh angkatan udara Mesir tidak siap berjaga pada pagi hari itu, sehingga menjamin kemenangan Israel dalam perang tersebut.

Laron mengutip dua sumber untuk pernyataan Nasser kepada staf militer senior Mesir. Salah satunya adalah Reconstructing a Shattered Egyptian Army, sebuah memoar oleh Jenderal Mohamed Fawzi, kepala staf tentara Mesir.

Satu sumber lainnya adalah pidato yang dibuat setelah perang oleh pemimpin Partai Komunis Soviet, Leonid Brezhnev. Tidak ada alasan khusus untuk mempercayai salah satu dari keduanya. Laron tidak memberikan catatan secara harfiah atas pernyataan Nasser.

Memang, catatan resmi Arab sulit didapat dan tidak semua bisa dipercaya. Sementara memoar mantan politisi Mesir dapat diandalkan untuk pengalaman dan perasaan pribadinya, kutipan langsung dari Nasser membutuhkan sumber yang lebih kuat. Pidato Brezhnev jelas bukan sumber terpercaya mengenai hal ini, dan Laron tidak menawarkan alasan yang bagus agar pembaca bisa menerimanya.

Dalam paparan utama bukunya, Laron mencoba untuk mencari tahu bagaimana Nasser meraih informasi luar biasa ini. Informasi yang didapat Nasser, menurut Laron, berasal dari Washington, dan dia mendapatkannya lewat Meir Amit, Kepala Mossad Israel, yang telah menghabiskan waktunya selama sepekan sebelum perang di Washington.

Rincian perjalanan ini tersedia karena catatan Israel tentang misi Amit dapat diakses. Amit dikirim ke sana untuk mendapatkan lampu hijau bagi serangan Israel melawan Mesir.

Dalam pembicaraannya dengan pejabat CIA dan dengan Menteri Pertahanan Robert McNamara, Amit menekankan urgensi tindakan Israel dan berjanji bahwa jika diizinkan untuk menyerang segera, Israel akan menang dengan cepat dan tidak perlu meminta intervensi AS.

Laron berspekulasi bahwa seseorang di markas besar CIA mungkin telah membocorkan informasi ke Kairo “yang didapat dari pembicaraan Amit.”

“Tentu saja,” tambahnya, “tanpa dokumentasi lebih lanjut sulit untuk diketahui dengan pasti, tapi rangkaian kejadiannya adalah bahwa informasi mengenai waktu serangan Israel mulai bocor dalam dua hari sebelum Perang Enam Hari.”

Buku The Six-Day War: The Breaking of the Middle East karya Guy Laron

Tidak ada yang dibenci investigator sejarah dan jurnalis melebihi dari sekedar desas-desus yang tidak bisa digali kebenarannya. Amit tidak menyebutkan tanggal serangan Israel saat ia berada di Amerika karena belum ditentukan oleh kabinet Israel. Bahkan, kabinet menunda keputusannya sambil menunggu hasil perundingan Amit di Washington. Setelah kembali ke Israel, rekomendasi Amit adalah untuk menunda serangan tersebut selama sepekan lagi untuk memberi Amerika lebih banyak waktu untuk meredakan ketegangan di wilayah tersebut.

Catatan resmi dari pertemuan kabinet tersebut menunjukkan bahwa keberatan terhadap penundaan datang dari Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan dan Kepala Staf Militer Yitzhak Rabin. Dengan demikian, catatan tersebut tampaknya mendukung salah satu argumen utama Laron lainnya, bahwa Kepala Angkatan Bersenjata Israel memaksa Israel melakukan perang terlepas dari kenyataan bahwa pada bulan Juni 1967 Nasser tidak berniat mengadakan konfrontasi militer. Dokumentasi yang tersedia tidak cukup menunjukkan maksud Nasser yang sebenarnya, tapi yang penting adalah apa yang diasumsikan oleh Israel.

Menurut Laron, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengantisipasi tidak ada bahaya eksistensial tetapi menganggap krisis tersebut sebagai peluang untuk memperluas perbatasan Israel. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentara mengabaikan Perdana Menteri Levi Eshkol.

Laron menunjukkan bahwa ketegangan serupa antara militer dan politisi ada di Mesir, Suriah, Uni Soviet dan Amerika Serikat. Keempat negara tersebut, menurutnya, memiliki alasan sendiri untuk memicu perang di Timur Tengah.

Kaum militeris cenderung percaya pada kekuatan mereka dan sering menuntut aksi militer. IDF tidak terkecuali.

Dalam sebuah buku sebelumnya tentang krisis Suez tahun 1956, Laron memberikan bukti yang meyakinkan bahwa Menteri Pertahanan Israel dan IDF, bekerja sama dengan Perancis dan Inggris Raya, mendorong Perdana Menteri David Ben-Gurion untuk berperang melawan Mesir.

Pada tahun-tahun berikutnya, IDF merancang lebih banyak rencana untuk perluasan wilayah, namun Ben-Gurion berulang kali menolak rencana tersebut.

Situasi tahun 1967 lebih kompleks. Kelemahan posisi politik Perdana Menteri Eshkol telah berperan dalam perjalanan peristiwa menuju perang, beberapa jenderal memberi tekanan brutal padanya. Namun, Eshkol juga muncul sebagai negarawan dengan saraf baja yang tahan terhadap semua tekanan sampai ia bisa mendapatkan lampu hijau dari Washington. Seperti IDF, dia setuju dengan Dayan dan tentara bahwa sebuah perang dapat memperbaiki situasi strategis Israel.

Laron agak mengabaikan kerapuhan sosial dan psikologis orang-orang Israel pada saat itu. Sembilan dari sepuluh orang Yahudi yang tinggal di Israel pada tahun 1967 tidak lahir di sana. Satu dari lima orang tinggal di Israel kurang dari satu dekade. Banyak dari mereka adalah korban selamat dari Holocaust atau pendatang baru dari negara-negara Arab. Kebanyakan orang Israel belum menguasai bahasa Ibrani.

Ancaman Mesir untuk memusnahkan Israel menyebabkan kepanikan yang meluas dan berkembang. Beberapa penganut militerisme dan politisi memanipulasi kekhawatiran masyarakat. Namun, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa sebagian besar adalah karena kepanikan akibat trauma terhadap Holocaust.

Dalam korespondensi pribadi mereka pada periode menjelang perang, orang-orang Israel mengungkapkan perasaan tidak berdaya sepenuhnya, berulang kali merujuk pada ancaman Arab untuk “membasmi Israel.” Kata-kata ini, yang disiarkan oleh stasiun radio Arab, mengindikasikan, bagi banyak orang Israel, kemungkinan adanya Holocaust kedua.

Nasser dibandingkan dengan Hitler; Para Rabbi pergi ke taman umum, mempersiapkannya sebagai kuburan. Ini adalah faktor utama dalam keputusan Israel untuk menyerang Mesir. Kekalahan Mesir menjadi faktor utama dalam keputusan untuk merebut Yerusalem Timur dan Tepi Barat, yang menghasilkan transisi seketika bagi Israel dari keputusasaan hingga kegembiraan.

Jadi, Perang Enam Hari muncul lebih utama akibat kepanikan dan euforia di Israel, daripada karena kepentingan kebijakan rasional di Moskow, Washington atau Tel Aviv. Terlepas dari apapun alasannya, penjajahan atas Yerusalem Timur dan Tepi Barat terbukti menjadi keputusan yang fatal. Lima puluh tahun kemudian, ia masih menjadi penyebab gagalnya perdamaian Palestina-Israel.



Judul: The Six Days War; The Breaking of the Middle East

Penulis: Guy Laron

Penerbit: Yale University Press

Tahun Terbit: 2017

Sumber: Seraa Media
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar