*Dendam 3 Wanita*
Sekolah Ksatria Banin adalah yang
terbesar dan terbaik di Provinsi Banin. Akan menjadi aib bagi anak pejabat dan
bangsawan jika tidak menuntut ilmu di sekolah ini. Itulah stigma di kalangan
keluarga menengah ke atas di provinsi tersebut.
Meski sekolah ini menerima murid dari
semua kalangan dan latar belakang, tetapi ada perbedaan ketika masa penerimaan
murid baru bagi anak kalangan atas dan menengah ke bawah. Anak-anak dari
keluarga pejabat, bangsawan dan pengusaha besar, mendapat kemudahan proses
untuk lulus tes dan diterima bersekolah. Namun, bagi anak dari kalangan
menengah ke bawah, mereka benar-benar harus menunjukkan kualitasnya untuk bisa
diterima di Sekolah Ksatria Banin.
Seperti halnya Akira. Ia harus
benar-benar lulus dari sejumlah tes. Dari hasil tes yang ditentukan oleh
Pendidik Siswa, Akira akhirnya diterima sebagai murid Kelas Putih Tingkat Lima.
Ada lima kelas di Sekolah Ksatria
Banin. Berdasarkan urutan ketinggiannya dari bawah ke atas, lima kelas itu
adalah Kelas Putih, Kelas Kuning, Kelas Biru, Kelas Merah dan Kelas Hitam.
Setiap kelas memiliki sepuluh tingkatan.
Hari ini adalah hari pertama Akira
masuk sekolah. Ia memeluk Rala Badar di gerbang masuk Kelas Putih. Akira akan
tinggal di asrama selama masa pendidikannya.
Sebenarnya Rala Badar sangat berat
melepas Akira yang telah menjadi anaknya selama lebih beberapa bulan. Namun ia
berpikir, jika Akira hanya tinggal di rumahnya yang sederhana sebagai nelayan telaga
dan sungai, Akira tidak akan memiliki perkembangan apa-apa. Sedangkan ia sangat
bercita-cita memiliki seorang anak yang berhasil dan membanggakan dirinya,
meskipun ia hanya seorang ayah angkat.
Rala Badar mengiringi perpisahan itu
dengan tetes air mata, meski bibirnya mengembang tersenyum.
Akira saat ini berpenampilan dengan
rambut dikepang tunggal. Ia seperti sebuah mutiara yang bersinar, cantik, putih
dan bersih. Dagunya yang bermodel sedikit belah memberi kekhasan pada wajahnya.
Namun, masih ada bekas goresan pada wajahnya yang sudah menjadi halus.
Seorang staf perempuan dari bidang
kesiswaan mengantar Akira bertemu dengan Kepala Kelas Putih Sekolah Ksatria
Banin. Kepala Kelas adalah seorang wanita berwibawa berusia 50 tahun, namanya
Alicia Sedrallia.
Saat itu suasana koridor, lapangan dan
taman ramai oleh para siswa dengan berbagai aktivitasnya. Pagi itu belum
terdengar lonceng tanda kelas awal dimulai.
Dari ruangan Kepala Kelas, Akira dibawa
ke ruang seragam dan langsung berganti pakaian seragam. Seragam yang dikenakan
berwarna putih-putih dengan tepian berwarna hitam. Model bajunya lengan
panjang, sementara pakaian bawah untuk murid perempuan adalah celana panjang
putih berlapis rok putih yang kanan dan kirinya belah.
Dalam perjalanan menuju ke asrama, satu
rombongan murid perempuan berpapasan dengan Akira dan staf yang mengantarnya.
Dari kelima murid perempuan itu, satu orang dikenal oleh Akira, yaitu
Alexandria. Alexandria berjalan paling depan dan di tengah. Kelimanya
mengenakan seragam yang sama dengan seragam Akira.
Ketika bertemu pandang dengan
Alexandria, Akira melihat tatapan gadis cantik itu tampak tajam kepadanya.
“Selama pagi, Staf Lily!” sapa
Alexandria kepada staf bidang kesiswaan lalu membungkuk 15 derajat memberi
hormat, diikuti oleh keempat rekannya.
“Selamat pagi, Anak-Anak,” jawab staf
bernama Lily sambil menundukkan wajahnya sedikit. Senyumnya mekar.
“Apakah ini murid baru, Staf Lily?”
tanya Alexandria seraya tersenyum tipis dan memandang penuh arti kepada Akira.
“Akira akan menjadi teman sekelas
kalian,” jawab Lily.
“Dengan senang hati kami menerimanya.
Semoga Akira mau berteman dengan kami,” ucap Alexandria, senyumnya semakin
lebar kepada Akira.
“Tentu,” ucap Akira seraya tersenyum
lebih kecil. Ia melihat ada ketidakcocokan antara senyum dan tatapan Alexandria
kepadanya.
“Silakan, Staf Lily,” ucap Alexandria
sambil menepi, memberi jalan kepada Lily dan Akira yang menuju ke asrama.
Keempat teman Alexandria juga menepi.
Sepertinya Alexandria adalah pemimpin di antara teman-temannya.
Lily dan Akira melanjutkan
perjalanannya menuju asrama. Alexandria dan keempat rekannya memandangi sejenak
kepergian Akira.
“Itu anak baru yang mengalahkanku
secara curang di arena tes,” kata Alexandria kepada keempat temannya.
“Berarti harus kita balas,” kata gadis
remaja bertubuh paling tinggi di antara mereka. Namanya Rossifa.
“Harus. Pembalasan itu harus ia rasakan
sejak awal ia masuk ke kelas,” desis Alexandria dengan tatapan penuh kebencian.
“Ayo, kita siapkan pelajaran buat anak itu!”
Alexandria dan keempat sahabatnya
kembali berjalan, pergi menuju kelasnya.
Setelah itu, Akira diantar ke asrama
dan ditunjukkan ranjang tempat tidurnya.
Teng teng teng...!
Saat itulah, terdengar suara lonceng
sebanyak lima kali dentingan. Itu tanda bahwa kelas akan dimulai pagi itu.
Semua murid dari tingkat satu hingga tingkat sepuluh wajib masuk ke kelasnya
masing-masing.
Dari asrama, barulah Akira dibawa ke
kelasnya di Tingkat Lima.
Pagi itu, Kelas Putih Tingkat Lima
diajar oleh Master Holfor, guru bidang alat. Biasanya, kelas pertama adalah
teori, setelah itu praktik terbatas yang jika memungkinkan akan tetap dilakukan
di dalam kelas. Setelahnya, praktik permainan atau pekerjaan yang menggunakan
alat tersebut. Untuk kelas ini, akan dipraktikkan di lapangan atau di ruangan
khusus.
Tok toko tok!
Staf Lily mengetuk pintu kelas, mebuat
Master Holfor yang sedang menggambar di papan tulis jadi berhenti dan menengok
ke pintu. Master Holfor mengangguk, mengizinkan Staf Lily dan Akira masuk.
“Murid baru, Master. Namanya Akira,”
ujar Lily.
“Baik,” ucap Master Holfor.
“Aku permisi, Master,” ucap Lily lalu
membungkuk hormat.
“Terima kasih, Staf Lily,” ucap Master
Holfor seraya tersenyum.
Lily meninggalkan Akira di kelas itu.
Di dalam kelas besar itu ada 49 murid
laki-laki dan perempuan. Setiap murid memiliki satu meja bermodel satu kaki
setinggi perut. Meja itu sifatnya permanen, menyatu dengan lantai. Tidak ada
kursi di kelas itu. Baik guru maupun murid, semuanya menjalani kegiatan belajar
dengan berdiri di tempat. Tidak ada buku atau alat tulis lainnya. Sistem
pembelajaran di sekolah itu mengandalkan daya ingat dan hafalan.
Format susunan meja adalah adalah 6 x
9, enam baris dan sembilan saf.
Dari ke-49 murid di Tingkat Lima itu,
lima di antaranya adalah Alexandria dan keempat sahabatnya. Posisi meja
Alexandria ada pada baris keempat dan saf ketujuh, agak di belakang. Masih ada
empat meja yang kosong dengan posisi yang tersebar.
“Akira, ambil kapur dan tuliskan namamu
di papan tulis sebelah kanan, agar teman-temanmu semua bisa memanggilmu dengan
namamu. Setelah itu, pilihlah satu meja yang kosong!” perintah Master Holfor.
“Baik, Master,” ucap Akira patuh.
Master Holfor kembali berbalik dan
melanjutkan gambarnya di papan tulis bagian tengah. Sejenak Akira mencari letak
kapur. Ternyata ada di kotak yang menyemat di ujung kanan papan tulis.
Tidak ada suara di antara para murid.
Mereka kusyuk memerhatikan apa yang digambar oleh Master Holfor, yaitu gambar
sebuah bola.
Ketika Akira baru melangkah hendak
mengambil kapur di kotaknya, tiba-tiba ....
Seet! Slep! Bdak!
“Hahaha ...!”
Tiba-tiba dari bawah sebuah meja di saf
pertama melesat satu benda aneh. Benda itu itu seperti alat penjepit kecil dari
logam dan memiliki tali benang yang tebal dan kencang. Benda itu menangkap
pergelangan kaki kiri Akira dan menariknya. Akira yang sedang berjalan menjadi
oleng ke samping lalu jatuh menabrak belakang kaki Master Holfor.
Akibatnya, Akira dan Master Holfor
jatuh bersama ke lantai.
Tawa seluruh murid di kelas itu
meledak. Sementara alat yang menjerat kaki kiri Akira sudah lepas dan tertarik
balik ke induknya. Alat itu cepat disembunyikan di belakang kaki salah seorang
sahabat Alexandria, namanya Lingsa.
“Apa yang kau lakukan, Akira?!” bentak
Master Holfor marah sambil bangun berdiri dengan pandangan yang ganas kepada
gadis kecil itu.
“Ma... maafkan aku, Master. Ada sesuatu
yang menarik kakiku sampai terjatuh,” ucap Akira yang buru-buru bangun berdiri.
Ia menunduk sambil mencuri pandang kepada murid-murid yang berdiri di meja saf
depan, seolah mencari hal apa yang menyerang kakinya.
“Berdiri satu kaki di pojok kanan.
Letakkan bola rotan di atas kepala. Jika bola tidak jatuh selama lima belas
menit, maka hukumanmu selesai. Jika bola jatuh sebelum waktu terpenuhi,
hitungan diulang dari pertama! Mengerti!” kata Master Holfor keras kepada Akira.
“Mengerti, Master,” jawab Akira patuh.
Sementara para murid yang lain sudah
terdiam ketika melihat kemarahan guru mereka.
Master Holfor mengambil sebuah bola
rotan dan melambungkannya kepada Akira. Gadis itu menerimanya dan pergi
berjalan ke sudut depan kanan. Di titik itu, Akira meletakkan bola rotan di
atas kepalanya dan ia lepas, lalu ia mulai berdiri dengan satu kaki saja.
Akira berdiri dengan kaki kanan sambil
menatap ke dinding belakang kelas. Di sisi atas ada sebuah jam besar. Ia
menghitung pergereakan jarum jam itu. Jam yang sama juga terpajang di dinding
atas papan tulis.
Tampak Alexandria tersenyum melihat apa yang dialami oleh Akira. (RH)

.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar