
(RajaDumay.com) --- Cinta itu datang dari dalam kalbu. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Nya. Suami istri dalam ikatan pernikahan yang sah bisa saling mencinta karena Dia Yang Mahakuasa yang menumbuhkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمِنۡ ءَايَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَڪُم مَّوَدَّةً۬ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ
Cinta bukanlah kuasa kita, melainkan anugerah-Nya semata. Maka dari itu, tidak salah kalau dikatakan, cinta itu tak dapat dipaksakan, walaupun kita bisa belajar untuk mencinta dan dicinta. Seorang suami yang memiliki lebih dari satu istri (berpoligami) tidak bisa disalahkan manakala dia mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain. Dia tidak mungkin kuasa menyamakan cinta dan berlaku adil di dalamnya karena ini di luar kemampuannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang teladan, sangat berlaku adil di antara istri-istri beliau dalam perkara yang tampak. Namun, bukan rahasia bahwa cinta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang istrinya yang bernama Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma melebihi cinta beliau kepada istri-istri yang lain.
Amr Ibnul Ash radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku memimpin sebuah pasukan. Di antara anggota pasukan ada Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Ketika pulang dari memimpin pasukan tersebut, aku bertanya kepada beliau,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ: وَمَا تُرِيْدُ؟ قُلْتُ: أُحِبُّ أَنْ أَعْلَمَ. قَالَ: عَائِشَةُ. قُلْتُ: إِنَّمَا أَعْنِي مِنَ الرِّجَالِ. قَالَ: أَبُوْهَا
"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling Anda cintai?"
Beliau balik bertanya, "Apa yang kamu inginkan?"
"Saya ingin sekali mengetahuinya," jawabku.
"Aisyah," kata beliau.
"Maksud saya dari kalangan lelaki," kataku menjelaskan.
"Ayah Aisyah," tukas beliau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Fathimah radhiallahu ‘anha, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menemui ayahnya guna meminta keadilan beliau dalam permasalahan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Sebab, mereka mengetahui besarnya kedudukan ‘Aisyah di hati beliau dan besarnya cinta beliau kepadanya.
Fathimah pun minta izin masuk menemui ayahnya yang sedang berbaring bersama Aisyah di dalam selimutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan.
Fathimah berkata, “Wahai Rasulullah, istri-istrimu mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilan kepadamu dalam hal putri Abu Quhafah (yakni Aisyah)”
Aisyah terdiam mendengar hal tersebut. Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap,
أَلَسْتِ تُحِبِّيْنَ مَا أُحِبُّ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَأَحِبِّي هَذِهِ
Fathimah menjawab, “Ya.”
Rasulullah bersabda, “Kalau begitu cintailah dia ini (Aisyah).” (HR. Muslim)
Allah subhana wata'ala telah berfirman:
وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِيلُواْ ڪُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ وَإِن تُصۡلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورً۬ا رَّحِيمً۬ا
Abidah as-Salmani rahimahullah mengatakan, “Yakni kalian tidak bisa berlaku adil dalam masalah cinta dan jima’.”
Namun, apabila seorang suami memungkinkan baginya berlaku adil dalam hal jima’, itu lebih baik dan lebih utama. (al-Mughni, 7/35)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang suami tidak boleh melebihkan salah seorang istrinya dalam hal pembagian. Akan tetapi, apabila ia mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain, begitu pula ia menggaulinya lebih dari yang lain, tidak ada dosa atasnya dalam hal ini.” (al-Fatawa, 32/269). (Ummu Ishaq Al-Atsariyah)
(Sumber: Asysyariah.com)

0 komentar:
Posting Komentar