![]() |
| Presiden AS Barack Obama (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri). (dok. ARA News) |
Oleh: Rudi Hendrik,
wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Kondisi perang
saudara di Suriah yang masih memburuk dan memaksa jutaan warganya membanjiri
negara-negara tetangga, terutama serbuan pengungsi ke benua Eropa, kian
melibatkan negara-negara sekutu dan lawan rezim Bashar Al-Assad untuk lebih
berperan di medan tempur.
Krisis Suriah
menjadi salah satu isu utama yang diperdebatkan oleh para pemimpin dunia dalam
Sidang Umum PBB ke-70 di New York, terlebih setelah Pemerintah Rusia
meningkatkan keberadaan kekuatan militernya di Latakia, kota pesisir Suriah.
Sebagai pemimpin
koalisi lebih 60 negara dalam memerangi kelompok Islamic State (ISIS/Daesh) di
Suriah, Presiden Amerika Seerikat Barack Obama merasa wajib bertemu dengan
Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memungkinkan terjalinnya koordinasi bersama
terkait peran kedua negara di tanah Suriah.
Namun pertemuan
kedua pemimpin itu masih mengalami benturan dalam memandang krisis Suriah,
terutama tentang kursi Presiden Suriah yang masih diduduki oleh Assad.
Presiden Obama
mendesak transisi politik di Suriah untuk menggantikan Assad, tetapi Putin
memperingatkan itu akan menjadi kesalahan besar jika rezim sekarang
disingkirkan dari kekuasaan.
Di depan Majelis Umum
PBB, Putin mengatakan, adalah kesalahan besar untuk tidak melibatkan tentara
Suriah dalam memerangi ISIS. Menurutnya, militer Suriah adalah satu-satunya
kekuatan yang benar-benar memerangi kelompok bersenjata ISIS di negara itu.
"Kami pikir
itu adalah kesalahan besar untuk menolak bekerja sama dengan pemerintah Suriah
dan angkatan bersenjatanya, yang gagah berani berjuang menghadapi terorisme di
front," kata Putin.
Putin bantah intervensi militer di Suriah
Dalam penampilan pertamanya di PBB
setelah 10 tahun, Presiden Putin menepis tuduhan jika Rusia melakukan
intervensi militer di Suriah. Putin mengatakan Russia tidak memiliki otoritas
untuk melakukan serangan udara ataupun darat.
Sebelumnya AS pernah menuduh Rusia
mengirimkan jet tempur, tank, artileri, dan pasukan angkatan daratnya untuk
membantu pasukan yang loyal terhadap Assad melawan kelompok anti-Assad.
“Kami tidak memiliki otoritas apapun.
Jika kami akan beraksi, kami pasti akan sangat menghormati norma hukum
internasional,” ujar Putin.
Norma hukum internasional itu memerlukan
permintaan langsung dari pemerintah negara terkait atau otoritas resolusi Dewan
Keamanan PBB.
Putin juga membantah jika pasukannya
bergabung dengan tentara Assad di Suriah. Pengerahan personil dan persenjataan
militer ke Latakia masih dinilai wajar, karena Rusia memiliki pangkalan
angkatan laut utama di daerah pantai itu.
![]() |
| Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu temui Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, Senin, 21 September 2015. (AP) |
Langkah Rusia di Suriah khawatirkan Netanyahu dan Obama
Nikolay Kozhanov
dari Lembaga Kebijakan Chatham House di London, mengatakan Rusia saat ini
menempatkan 20 jet tempur dan sejumlah helikopter di Suriah.
Kepada Anadolu Agency, Kozhanov mengatakan,
Moskow kemungkinan mengirim sistem pertahanan anti-rudal di dua pangkalan
militernya di Latakia, Suriah.
Rusia juga diduga
mengirimkan 1.700 tentara ke Suriah barat untuk membantu menopang rezim Assad
atas nama memerangi ISIS dan oposisi.
Langkah militer
Rusia ini menimbulkan kekhawatiran bagi Washington dan negara-negara sekutunya,
terutama Israel.
Langkah itu memaksa
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Moskow bertemu Putin pada
Senin pekan lalu, 21 September 2015.
Pertemuan itu
bertujuan untuk mencegah kemungkinan terjadinya bentrokan antara pasukan
militer Rusia dan Israel di Timur Tengah.
Netanyahu mencari
kepastian dari Putin tentang penyebaran militernya di Suriah. Israel
mengkhawatirkan adanya risiko senjata dikirim kepada kelompok bersenjata di
perbatasan Suriah-Israel.
Namun Putin
mengatakan kepada tamunya itu, tindakan Rusia di Timur Tengah akan selalu
“bertanggung jawab”.
Bahkan Obama harus melakukan pertemuan berisiko dengan Putin, di mana
hubungan kedua negara “tidak baik” untuk krisis di Ukraina.
Kritik untuk AS
Pada kesempatan di
PBB, tanpa menyebut Amerika Serikat, Presiden Rusia juga mengkritik Barat karena
mempersenjatai oposisi moderat di Suriah.
Obama telah menuai
kritikan keras dari kalangan kongres atas gagalnya program pelatihan dan
mempersenjatai oposisi moderat Suriah.
Sebelumnya
dilaporkan, kelompok pejuang Suriah yang dilatih dan dididik AS dilaporkan
menyerahkan kendaraan dan senjatanya kepada kelompok oposisi Nusra Front demi
mendapat perjalanan yang aman.
“Kami belajar akhir-akhir ini,
(Pasukan Suriah Baru) Unit NSF pada kenyataannya memberikan enam truk pickup
dan sebagian amunisinya ke tersangka Nusra Front,” kata Juru Bicara Pentagon
Kapten Jeff Davis, Jumat, 25 September.
“Jika akurat, laporan anggota NSF yang
menyediakan peralatan untuk Nusra Front sangat memprihatinkan dan pelanggaran
terhadap pedoman program pelatihan di Suriah,” kata Kolonel Patrick Ryder yang
mengawasi upaya melawan kelompok ISIS.
Ryder menambahkan, kendaraan pickup
dan amunisi merupakan sekitar 25 persen dari peralatan yang dikeluarkan untuk
NSF oleh koalisi pimpinan AS.
Perkembangan ini adalah kemunduran memalukan yang lain bagi upaya AS untuk “melatih dan memperlengkapi” pejuang Suriah dalam melawan ISIS di Suriah.
Program beranggaran $ 500 juta yang
awalnya bertujuan untuk melatih sekitar 5.400 pejuang selama tiga tahun, namun
masalahnya hanya sebagian kecil yang berhasil AS latih dalam program tersebut.
Lulusan pelatihan pertama sebanyak 54
pejuang, telah diserang oleh Nusra Front pada Juli dan Pentagon masih belum
mendapat informasi yang jelas tentang apa yang terjadi dengan mereka semua.
Kelompok pelatihan kedua yang terdiri
sekitar 70 pejuang, dikirim kembali ke Suriah akhir pekan lalu dan laporan yang
beredar di Twitter menyebutkan mereka membelot atau menyerahkan
persenjataannya.
Program ini telah goyah, dimana
Pentagon mengatakan banyak calon pejuang telah gagal dalam proses penyaringan
yang ketat.
Pemimpin gerakan
bersenjata Hizbullah Lebanon, Hasan Nasrallah, yang menyambut baik langkah
militer Rusia di Suriah mengatakan, kegagalan kampanye koalisi pimpinan Amerika
Serikat terhadap ISIS telah memaksa Moskow turun tangan.
(Sumber: MirajNews.com/id)



0 komentar:
Posting Komentar