![]() |
| Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi. (Burma Times) |
(RajaDumay.com) --- Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu
Kyi telah mengatakan agar tidak "melebih-lebihkan" nasib etnis Muslim
Rohingya yang teraniaya.
Selain ratusan ribu terbuang di negeri-negeri tetangga, ratusan
ribu Muslim Myanmar telah dilarang menggunakan haknya dalam pemilihan umum Ahad,
8 November 2015, pemilu pertama yang dianggap akan berlangsung demokratis
setelah masa pemerintahan militer berpuluh tahun lamanya.
Suu Kyi telah menghadapi kecaman internasional karena tidak
bersuara dalam mendukung etnis Rohingya, minoritas Muslim yang paling terpukul
oleh serangan mematikan dalam kekerasan komunal oleh mayoritas Budha Myanmar.
"Hal ini sangat penting, kita tidak harus membesar-besarkan
masalah," kata Suu Kyi kepada wartawan asing pada konferensi pers di
Yangon beberapa hari lalu ketika ditanya “apakah kelompok Rohingya menjadi
korban genosida?”.
"Saya tidak mengatakan bahwa ini adalah masalah kecil,"
katanya. Namun ia menegaskan akan mengamankan semua orang di negeri itu dengan
perlindungan sesuai hukum jika partainya menang.
Pekan lalu sebuah klinik HAM di Yale Law School di Amerika
Serikat menerbitkan sebuah anilisis hukum 80 halaman yang mengklaim telah
ditemukan bukti kuat dilakukannya genosida terhadap Muslim Rohingya.
PBB dan kelompok hak-hak lainnya yang telah mengutuk
pengobatan masyarakat tidak menggunakan istilah untuk menggambarkan kondisi di
mana Rohingya hidup.
Setelah kekerasan komunal 2012 di negara itu, sekitar 200 orang telah tewas dan
sekitar 140.000 mengungsi, sebagian besar Muslim Rohingya.
Namun Pemerintah Myanmar telah menegaskan, kelompok itu
tidak menghadapi penganiayaan resmi, dengan alasan bahwa mayoritas mereka adalah
imigran ilegal dari Bangladesh dengan menyebutnya “etnis Bengali”, meskipun
faktanya mereka telah tinggal di negara itu selama beberapa generasi. (Rudi
Hendrik)
(Sumber: Burma Times)


0 komentar:
Posting Komentar