![]() |
| (Innomuslim file) |
Sahabat sekaligus mertua Rasulullah itu memiliki nama lengkap Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi at-Taimi. Namun pada akhirnya dia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq bin Abu Quhafah.
Julukannya 'Atiq, karena wajahnya yang tampan dan nasabnya yang baik. Abu Bakar memang berasal dari garis keturunan yang bersih dari cela dan aib.
Pada suatu kesempatan Rasulullah sedang duduk bersama beberapa sahabat lainnya, tiba-tiba datang Abu Bakar. Maka Nabi bersabda, “Siapa yang suka melihat ‘Atiq (orang yang terbebas) dari api neraka, silakan melihat Abu Bakar.” Maka julukan itu pun menempel pada diri Abu Bakar dan dia terkenal dengan sebutan itu.
Abu Bakar dilahirkan dua tahun enam bulan setelah peristiwa penyerangan pasukan gajah terhadap Ka’bah. Beliau berkulit putih, berperawakan kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya, wajahnya tirus, matanya cekung, berkening lebar, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan inai maupun katam (sejenis tumbuhan yang digunakan untuk menghitamkan rambut).
Abu Bakar tumbuh di bawah naungan ayahnya Abu Quhafah yang masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah dan ibunya Ummul Khair, Salma binti Sakhr bin Amir, adalah sepupu Abu Quhafah yang juga masuk Islam dan menjadi salah satu shahabat Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersama sang putra.
Masa muda Abu Bakar tidak ternodai oleh keburukan dan perilaku negatif kaum Jahiliyah, karena dia memegang teguh sifat-sifat luhur bangsa Arab. Abu Bakar dikenal sebagai pribadi yang berakhlak mulia, sosok yang menyenangkan, mudah membantu sesama, jujur dalam setiap perkataannya, baik pergaulannya, bahkan mengharamkan atas dirinya khamr sejak masa jahiliyah.
Dia sangat mengerti garis keturunan bangsa Arab, terutama garis keturunan Quraisy, termasuk cerita-cerita mereka yang baik maupun yang buruk, dan menguasai ilmu ta’wil mimpi.
Lebih dari itu, Abu Bakar juga merupakan seorang pedagang berpengalaman dan terlatih. Semua itu membuat Abu Bakar disukai dan sangat dipercaya oleh kaumnya serta menempati posisi yang terhormat. Maka tidak heran jika kemudian Abu Bakar menjelma sebagai salah satu pemuka kaumnya pada masa jahiliyah dan menjadi salah satu elemen penting dalam permusyawaratan mereka. Bahkan dia merupakan satu dari sepuluh tokoh Quraisy yang berlanjut kemuliaannya sejak masa jahiliyah hingga masa Islam.
Disamping itu, Abu Bakar pun dipercaya sebagai kordinator dalam urusan diyat, jika dia telah memutuskan sesuatu dalam urusan itu, yang lain akan ikut dan segera menyetujuinya.
(Sumber: SahabatNabi.com)


0 komentar:
Posting Komentar