![]() |
| Ilustrasi (FreeMalaysiaToday.com) |
Oleh: Melisa Riska Putri
Pada Januari 2015, Al-Qaeda menyerang kantor majalah satir
Charlie Hebdo dan toserba milik Yahudi, menewaskan 17 orang. Salah satu korban
adalah seorang polisi Muslim, Ahmed Merabet.
Setelah serangan, banyak aksi massa menentang penyerangan, selain menenteng poster
bertuliskan “Je Suis Charlie” sebagai dukungan pada Charlie Hebdo, juga poster “Je
Suis Ahmed”. Ahmed menjadi simbol positif Muslim dan massa membedakan antara
Muslim dan kelompok militan.
Namun serangan di Paris 13 November yang menewaskan 129
orang, menyisakan pukulan berat bagi Muslim Perancis. Laman New York Times
edisi Senin (16/11/2015) menyebutkan, tak ada lagi aksi massa yang menyatakan
solidaritas kepada Muslim pascaserangan.
Sebab pascaserangan, Muslim Perancis tidak hanya dirundung
ketakutan, tetapi juga menghadapi meningkatnya kecurigaan dari masyarakat di
sana.
“Kami sudah merasakannya. Banyak bahasa kebencian muncul di Facebook. Mereka ingin membunuh Muslim,”
kata Latetia Syed (17 tahun), remaja Muslim yang tinggal di Paris.
Syed mengungkapkan, pada Ahad (15/11/2015) ia bersama
keluarganya mendatangi Teater Bataclan untuk memberikan penghormatan kepada 89
korban tewas oleh serangan ISIS di lokasi itu. Namun, bukan simpati yang mereka
peroleh, melainkan tatapan tak bersahabat dan kecurigaan dari peziarah lain.
Pada hari yang sama, ketegangan terjadi saat seorang lelaki
Perancis mendekati sekelompok Muslimah berjilbab yang memberikan penghormatan
kepada para korban Teater Bataclan. Pria itu dengan lantang menyebut Al-Quran
sebagai sumber inspirasi para ekstremis.
Namun, seorang Muslimah bernama Abiba Trabacke membantah
tudingan itu, “Al-Quran menyatakan seseorang tak boleh membunuh orang lain.
Mereka (ISIS) tidak ada hubungannya dengan kami!”
Namun pria itu tetap dengan lantang menegaskan Al-Quran
sebagai sumber kekerasan.
Beberapa Muslimah yang bersama Trabacke tak kuasa menahan
air mata mendengar tuduhan itu.
“Kami menyerukan perdamaian dan cinta!” seru salah seorang
Muslimah di antara mereka.
“Diam!” bentak orang lain yang mendengar perdebatan itu. Ia
menyatakan, itu bukan saatnya terlibat dalam upaya membela diri.
Trabacke menoleh ke arah orang itu dan berkata, “Anda lihat
jilbab yang saya pakai? Ini bentuk keyakinan saya, perintah dari Tuhan.”
Di sisi lain, Aykut Kasaroglu, penjaga toko di Montreuil,
sebuah distrik kaya yang kaya dengan imigran, menjadi korban kecurigaan. Menurutnya,
kecurigaan dan dan ketakutan kini sangatr jelas dialami MuslimPerancis. Ia
mengalaminya pada Senin, 16 November 2015.
Hari itu, Kasaroglu pergi ke pusat kebugaran dengan
mengendarai motor dan memakai helm.
“Namun, polisi menghentikan saya dan meminta membuka helm
agar wajah saya terlihat jelas. Setiap orang curiga,” katanya.
Hassen Farsadou, seorang tokoh Muslim mengungkapkan, para
imam pun tidak terhindar dari perasaan tersebut. “Semua imam di Perancis
khawatir,” ujarnya.
Pada Senin itu, Presiden Francois Hollande meminta parlemen
menyetujui perpanjangan masa keadaan darurat dan amendemen konstitusi untuk
memerangi terorisme. New York Times
mengatakan, kebijakan itu mengarah pada ktidakpercayaan kepada Muslim. (Republika)


0 komentar:
Posting Komentar