![]() |
| (Dok. BBC.com) |
(RajaDumay.com) --- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berharap fakta-fakta
kasus kematian terduga teroris Siyono warga Klaten oleh Densus 88 dapat
terungkap.
"Kami mengikuti prosesnya. Bagaimana akhir dari
fakta-fakta yang akan dibuktikan," kata Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin, Kamis
(31/3).
Menurut Ma’ruf, pengungkapan fakta kematian perlu dilakukan
karena ada isu yang menyebutkan Siyono adalah teroris, tapi ada juga yang
membantah.
Mengomentari tentang rencana autopsi, Ma'ruf mempercayakan sepenuhnya
kepada pihak keluarga ataupun kepolisian terkait kepentingan untuk melakukan
autopsi.
Sebelumnya, isteri Siyono, Suratmi, telah meminta kepada
ormas Islam Muhammadiyah agar kematian suaminya dibuat jelas.
Usai menemui Suratmi yang belakangan memilih mengurung diri
dari tamu, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan
bahwa ibu dari lima anak itu bersikeras agar jenasah Siyono di autopsi.
Namun, sebagian warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kec.
Cawas, Kab. Klaten, Jawa Tengah, menyatakan penolakannya terhadap rencana
autopsi oleh tim independen PP Muhammadiyah yang didukung Komnas HAM dan
dikawal oleh Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam).
Kepala Desa Pogung, Djoko Widoyo mengatakan pada Rabu, surat
penolakan warga terhadap rencana autopsi itu sudah diserahkan ke polisi.
Penolakan pihak desa terkait rencana autopsi atas jenazah Siyono
disesalkan banyak pihak, termasuk kalangan aktivis di Yogyakarta yang curiga adanya
pihak yang mengatasnamakan warga.
"Yang jadi pertanyaan, apa benar warga menolak atau ada
pihak lain, itu yang harus ditelusuri," kata aktivis Jogja Police Watch, Baharudin Kamba, Kamis (31/3/2016).
(Sumber: Mirajnesw.com/id)


0 komentar:
Posting Komentar