Puisi Palestina Taufik Ismail Buat Peserta ICIM Menangis

Taufik Ismail (kanan) dan Prof. Nabila Lubis (kiri). (Foto: Nurhadis/MINA)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُ ۥنَ (٢٢٤) أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِى ڪُلِّ وَادٍ۬ يَهِيمُونَ (٢٢٥) وَأَنَّہُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ (٢٢٦) إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا وَٱنتَصَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْ‌ۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَىَّ مُنقَلَبٍ۬ يَنقَلِبُونَ 

Artinya, "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah, dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS. Ash-Shuara [26] ayat 224-227).

(RajaDumay.com) --- Bacaan puisi Palestina sastrawan terkemuka Indonesia Taufik Ismail membuat ratusan peserta Konferensi Internasional Media Islam (ICIM) di Jakarta kemarin terpukau, bahkan beberapa peserta dibuat menangis. 

Dengan suara syahdu dan bergetar, Taufik Ismail membacakan puisi berjudul “Palestina, Bagaimana Kami Bisa Melupakanmu” di hadapan sekitar 300 peserta konferensi dari berbagai negara di dunia. 

Sebelumnya ia mengungkapkan, puisi itu ia buat sekitar 27 tahun lalu tentang bagaimana hati kita tertuju pada Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Pembacaan puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Prof. Nabila Lubis.

Bahkan peserta asal Palestina memberi penghargaan kepada kedua sastrawan senior tersebut usai membacakan puisi.

Berikut puisi Palestina karya Taufik Ismail:

Palestina, Bagaimana Kami Bisa Melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan buldozer dengan suara gemuruh menderu
Serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku
Meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan 
Lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria
Serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah
Dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua
Serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Quran 40 tahun silam
Di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu.

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka 
Menjawab laras baja dengan timpukan batu Cuma
Lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya 
Siapakah yang tak menjerit?
Srasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka
Tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya
Pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan
Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta
Jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu
Darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi ‘Allahu Akbar!’ dan ‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1.000 ton sepekan memproduksi dusta
Menebarkannya ke media cetak dan elektronika
Mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara
Membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia
Membantai di Shabra dan Shatila
Mengintai Yasser Arafat, Ahmad Yassin dan semua pejuang negeri anda
Aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jumat sedunia
“Doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalan-Nya, yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu dengan kukuh kita bacalah ‘la quwwatta illa billah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu. 

Tanahku jauh, bila diukur kilometernya beribu-ribu 
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu 
Serasa terngiang-ngiang di telingaku


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar