![]() |
| Hizbu Tahrir Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno, Senayana, Jakarta. |
Allah Subhana wa Ta'ala berfirman,
وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ
Artinya, "Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat." (QS. Huud [11] ayat 118).
Hizbu Tahrir Indonesia dan Jama’ah Muslimin (Hizbullah)
sama-sama mengusung khilafah. Namun, keduanya tidak bisa bersatu dalam kepemimpinan.
Apa hal?
Permasalahanya adalah terletak pada kata “khilafah”-nya.
Dalam hadits yang disampaikan oleh sahabat Hudzaifah ibnulYaman radhiyallahu ‘anhu Nabi Muhammad
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membagi
kekhilafahan Islam dalam lima bentuk sistem yang semuanya berbeda.
1. Khilafatullah
(masa kenabian dari zaman nabi Adam Alaihissalam
sampai ditutup oleh Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam)
2. Khilafah ‘ala minhajin
nubuwwah (pengganti yang mengikuti jejak kenabian, dari Khalifah Abu Bakar,
Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib)
3. Khilafah dalam bentuk mulkan
adhon (kerajaan yang menggigit, dari dinasti Umayyah, Abasyiah, Turki Utsmani,
Syafawi, Mughol dan sistem kerajaan pada masa itu).
4. Khilafah dalam bentuk mulkan
jabariyyah (kerajaan yang menyombong, sekarang lebih diistilahkan sebagai
sistem kenegaraan). Khilafah dalam bentuk mulkan
jabariyyah menyebarluas dari semenjak runtuhnya Turki Utsmani sampai kini.
Seluruh ormas Islam yang melebur menjadi partai guna menjadikan Islam sebagai
sistem kenegaraan adalah masuk dalam katagori ini.
Karena Hizbu Tahrir lahir sebagai partai Politik maka tidak
lain dan tidak bukan gagasan khilafah yang mereka inginkan adalah masuk ke dalam
sistem khilafah mulkan jabariyyah,
akibatnya tidak ada keselarasan antara Hizbu Tahrir dan Jama’ah Muslimin(Hizbullah).
Sistem khilafah dalam bentuk mulkan
jabariyyah akan lenyap karena atas takdir Allah mereka pasti lenyap, karena
sudah menjadi takdir bahwa khilafah umat Islam murni kembali kepada fitrah
kenabian, bukan bertujuan politik kekuasaan dengan wilayatul amr yang Hizbu Tahrir nantikan, sehingga khilafah tak
kunjung ditegakkan.
5. Khilafah ala
minhajin nubuwwah (pengganti yang kembali menggunakan sistem manhaj
kenabian, mereka tidak berorientasi pada sistem politik dalam bentuk kerajaan
maupun kenegaraan (adhon dan jabariyyah), itulah keberadaan
mendasarnya dan sangat signifikan akibatnya. Inilah yang Jama’ah Muslimin saat
ini tegakkan di tengah maraknya sistem jabariyyah
(negara politik).
Kembali pada kesimpulan, sistem khilafah yang dinantikan
oleh Hizbu Tahrir dan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) adalah berbeda. Jama’ah
Muslimin (Hizbullah) menegakan khilafah ‘ala
minhajin nubuwwah, sementara HTI menginginkan khilafah dalam bentuk mulkan jabariyyah (sistem kenagaraan
Islam).
Tentara Nasional Indonesia (TNI) Allah takdirkan untuk
mengawal Pancasila di negeri ini dari ideologi lain, baik yang bersifat negara
Islam maupun non-Islam, itulah yang menyebabkan HTI tak akan mampu menembus ring lingkaran akhir ini.
Kenegaraan yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah yang
diimpikan HTI akan lenyap dari Indonesia, karena pasti akan bertentangan dengan
ideologi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Berbeda dengan kekhilafahan yang dipraktikkan oleh Jama’ah
Muslimin (Hizbullah) yang tidak sedikit pun merongrong eksistensi sebuah sistem
kenegaraan, sehingga tidak akan terjadi konfrontasi antara sistem khilafah yang
mengikuti manhaj kenabian dengan sistem politik kenegaraan. Wallahu ‘alam.


0 komentar:
Posting Komentar