![]() |
| Mantan Presiden Gambia Yahya Jammeh lambaikan tangan perpisahan kepada pendukungnya. (Foto: STRINGER/AFP/Getty) |
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَـٰفً۬ا ڪَثِيرً۬ا
Artinya, "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisaa' [4] ayat 82)
Banjul, 23 Rabi’ul Akhir 1438/22 Januari 2017 --- Saat
menaiki pesawat hendak meninggalkan Gambia setelah memutuskan mundur sebagai
presiden, Yahya Jammeh berpaling kepada para pendukungnya lalu mencium Al-Quran
yang selalu dibawanya dan melambaikan tangan.
Itu adalah lambaian tangan untuk terakhir kali kepada para pendukungnya,
termasuk kepada para tentara yang menangisi di keberangkatannya pada Sabtu
(21/1) malam.
Meskipun puluhan ribu warga Gambia telah melarikan diri dari
negara selama pemerintahannya, tapi pendukung Jammeh berbondong-bondong datang
bandara untuk melihat dia berjalan di karpet merah menuju pesawatnya.
Jammeh awalnya menerima kekalahannya dalam pemilu presiden, tetapi
kemudian menolak hasil pemilu dan mengumumkan keadaan darurat nasional dalam
upaya mempertahankan kekuasaannya.
Jammeh mendarat di Guinea satu jam setelah meninggalkan
negaranya. Ada dugaan bahwa Guinea bukan menjadi tujuan terakhirnya.
Selama memimpin Gambia, Jammeh menjadi seorang presiden yang
memiliki tradisi selalu membawa kitab Al-Quran dan tasbih selain tongkat
komando.
Jammeh dan keluarganya menuju ke pengasingan politik
mengakhiri pemerintahannya selama 22 tahun.
Sebelumnya, bergantian para pemimpin negara-negara Afrika
Barat gagal membujuk Jammeh untuk menyerahkan jabatannya kepada Presiden Gambia
terpilih Adama Barrow.
Barrow yang kepresidenannya didukung oleh PBB terpaksa
dilantik sebagai presiden di Kedutaan Gambia di Dakar, ibukota Senegal pada
Kamis (19/1).


0 komentar:
Posting Komentar