*Petualangan Tina dan Ayu*
Sepulang sekolah, Trio Antik (Tina Cihuy, Ayu
Nostalgia dan Salman Alfarisy) belajar kelompok di rumah Tina. Mereka dapat PR
IPA dari Ibu Anna Maharani.
Tina dan Ayu beda kelas dengan Salman, tapi dapat
tugas yang sama.
“Sambil disedot sirupnya, digigit mie ronggengnya,
ya,” kata Musdahlifa, ibu dari Tina. Ia meletakkan jamuan buat anak-anak di
meja ruang tamu.
“Mie goreng, Bu, bukang mie ronggeng!” ralat Tina.
“Hahaha!” tawa Ayu.
“Hehehe!” kekeh Salman pula.
“Harap maklum ya, Nak Salman. Tina sama Ibu termasuk
keluarga pesurak kosa kata bahasa Indonesia. Memang bawaan radi orok. Hihihi!”
ucap Musdahlifa lalu tertawa malu sendiri.
“Iya, Bu. Sa-sa-saya juga pe-pe-penghancur. Ma-ma-malah
lebih pa-pa-parah,” kata Salman, berusaha menghibur.
“Ibu tinggal ya. Kalau mie ronggengnya kurang, nanti
Ibu masak gali,” kata Musdahlifa.
“Kalau kurang, biar Ayu yang masak, Bu. Biar enggak
kurang porsinya. Hahaha!” seloroh Ayu.
“Ayu mah jatuhnya tiga porsi, Bu. Satu porsi mah cumi
buat sesajen,” timpal Tina.
“Woiiit! Kamu kira saya wewe lele yang doyan sesajen?”
sahut Ayu sewot.
“Sa-sa-sa….”
“Sapi?” tanya Ayu memotong perkataan Salman.
“Bu-bu-bukan. Sa-sa-sajen mania! Hahaha!” kata Salman
lalu tertawa sendiri.
“Yaudah, lanjutin bejalarnya,” kata Musdahlifa lalu
berjalan ke dalam.
“Sampai mana tadi?” tanya Tina.
“Nomor lima,” jawab Ayu.
“Gambarlah alat reproduksi katak,” baca Salman.
“Ih keren, Salaman momongnya lancar!” sorak Tina.
“Itu kan ka-ka-kalau ba-ba-baca!” dalih Salman.
“Ya udah, kamu kalau ngomong, baca buku saja, Sal!”
kata Ayu.
“Hahaha! Ba-ba-baca buku ba-ba-bahasa Inggris?” sahut Salman.
“Baca buku separah aja,” timpal Tina pula.
“Buku sejarah, Tina,” ralat Ayu.
“Iya, maksud saya itu,” kata Tina seraya tersenyum.
“Kalau ibu kamu, yang meralat kamu. Kalau kamu, yang
meralat saya,” kata Ayu.
“Kalau Ayu, yang lalatin Salmon, eh Salaman. Hahaha!”
kata Tina.
“Sa-sa-salmon? Waaah dimarahin pa-pa-pacar saya
loooh!” kata Salman.
“Siapa?” tanya Tina.
“Na-na-namanya Ausyana,” jawab Salman seraya tersenyum
malu kambing.
“Hahaha! Kirain Ayu,” kata Tina.
“Kalau saya, enggap apa-apa juga sih. Hahaha…!” kata
Ayu genit. “Bapaknya Salman kan juragan pisang.”
“Oooh, kirain juragan kingkong!” kata Tina.
“Singkong, Tinaaa, bukan kingkong!” ralat Ayu.
“Iyaaa!” teriak Tina pula, tanda mengerti tapi rada
sewot. Lalu katanya kepada Salman, “Sal, gambarin ya. Anggap aja biaya sewa.”
“Si-si-siap!”
“Sambal nunggu, saya baca novel ya,” kata Tina sambil
meraih buku tua yang dibelinya kemarin di pasar. Ia membaca judul novelnya,
“Pintu Setan Kuning.”
“Awas, nanti malam setannya datang loh, Tina,” kata
Ayu.
“Kalau datang saya suguhin mie ronggeng. Hahaha…!”
kata Tina berseloroh lalu tertawa sendiri.
“Ke-ke-kenapa enggak disuruh ga-ga-gambar reproduksi
manusia saja?” tanya Salman.
“Pasti mikirnya jorok!” tukas Ayu sambil menunjuk
wajah Salman.
“Hahaha…!” tawa Salman kencang.
“Wuiiih! Bagus nih ceritanya. Batu mulai, netek
sihirnya sudah baca mandra!” kata Tina heboh sendiri.
“Hahaha…!” tawa Ayu dan Salman.
“Tina ngomong jorok!” tukas Ayu lagi.
“Ngomong jorok apa?” tanya Tina mendelik.
“Tadi nyebut ini!” jawab Ayu sambil menusuk dada Tina.
“Aw! Sembarangan main tusuk!” bentak Tina. “Jorok
apaan? Tadi saya ngomong nenek sihir kok!”
“Nanti kalau saya sebutin, malah saya yang dibilangin
jorok,” kata Ayu.
“Dengarin nih manteranya, lucu loh,” kata Tina sambil
senyum sendiri. Lalu ia membaca mantera di dalam buku novel itu, “Tung tung
tung. Bolak balik bolak balik. Nungging jungkir balik. Ka buka buka. Woi!”
Tiba-tiba buku novel di tangan Tina melompat sendiri
dan kaget.
“Allahumma!” pekik Tina terkejut.
“Allahuakbar!” teriak Ayu pula terkejut. (RH)


Tiap baca yang gagap2 serasa ikut ketularan
BalasHapusYa Allah, ketemu aja idenya bikin karakter emaknya Tina
BalasHapus