Ketukan Kedua, Bab4 "Sembilan Ketukan"


*Sembilan Ketukan*

 

Eko Subagyo kembali melanjutkan tidurnya. Berbeda dengan Sutrisno yang sulit tidur karena memikirkan ketukan pintu barusan.

Sutrisno: Kenapa Eko enggak penasaran ada orang yang mengetuk pintu rumahnya? (Bicara dalam hati)

Sutrisno: Kira-kira siapa yang usil banget? Mana tengan malam begini.

Tok tok tok! (3X)

Sutrisno: Astaghfirullah!

Sutrisno terkejut karena kembali terdengar suara ketukan di pintu depan.

Sutrisno: Siapa sih? (Lirih)

Sutrisno segera bangun dan pergi ke jendela samping pintu.

Sutrisno tanpa ragu segera menyingkap tirai jendela dan melongok di kaca, melihat ke depan pintu dan sekitarnya.

Kali ini, Sutrisno sempat melihat belakang tubuh seseorang yang bergerak masuk ke kegelapan di halaman rumah.

Sutrisno: Oooh begitu rupanya. Habis mengetuk langsung lari. (Bicara sendiri)

Sutrisno menengok melihat ke jam dinding. Ternyata sudah pukul 01.30 WIB. Sutrisno menghampiri Eko di sofa.

Sutrisno: Ko, Ko, bangun! Bangun, Ko!

Eko: Kenapa sih? (Kesal)

Sutrisno: Ada orang yang mengetuk pintu lagi.

Eko: Oooh. Hahaha!

Sutrisno: Kok kamu malah ketawa sih?

Eko: Terus, maunya bagaimana?

Sutrisno: Ada orang yang ngetuk-ngetuk pintu rumah kamu tengah malam begini, kamu kok malah enggak peduli, malah ketawa?

Eko: Habis mau bagaimana? Itu sudah sering saya dengar.

Sutrisno: Sudah sering kamu dengar? Maksud kamu, kamu juga sering dengar ada yang ngetuk pintu?

Eko: Iya. Hampir tiap malam.

Sutrisno: Kenapa kamu enggak bilang?

Eko: Saya sudah bilang tadi. Biarin saja, enggak usah dihiraukan.

Sutrisno: Wah, parah parah parah! Kenapa kamu enggak bilang kalau ketukan itu juga sering kamu dengar. Jadi saya bisa enggak usah kepo.

Eko: Hahaha! Ya sudah, tidur saja. Biarin saja, kalau ada yang ngetuk lagi, enggak usah diurusin.

Dengan kesal hati, Sutrisno kembali ke kasurnya dan berusaha tidur. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar: