*Dendam Tiga Wanita*
Malam itu. Di tengah
sebuah telaga yang gelap, tampak ada sebuah api obor yang menyala cukup besar,
memberi penerangan yang cukup bagi seorang nelayan dan perahunya. Meski angin
cukup kencang bertiup, tetapi api obor itu tidak padam, dia hanya menari-nari
tanpa konsep yang jelas.
Si nelayan yang
adalah seorang tua berusia enam puluh satu tahun itu berdiri di atas perahunya
sambil menata jala yang sedang dia tata dalam pegangannya.
Si nelayan yang
mengikat kepalanya dengan kain putih itu lalu memasang kuda-kudanya sambil
mengayun-ayunkan tangannya hendak melempar.
Sreeet!
Pada ayunan kesekian
yang dianggap adalah ayunan ideal, si nelayan bernama Rala Badar itu melempar
jauh dan luas jalanya ke air telaga yang gelap. Semua bagian jalan tertebar dan
masuk ke dalam air kecuali seutas tali yang terpegang kuat.
“Nelayan-nelayan tua,
tak ada teman untuk berdua, dalam gelap tanpa cahaya, tidak ada yang mengajak
bercanda. Nelayan-nelayan tua, selagi kuat dan tidak buta, seberapa banyak ikan
yang ada, aku akan selalu datang menjala. Nelayan-nelayan tua, biar tua tenaga
masih perkasa, meski tidak ada istri di rumah, anggap saja istri ada di telaga.
Hahahak!”
Sambil menunggu jalan
turun ke dasar telaga yang tanpa cahaya, Rala Badar bernyanyi lagu tanpa musik
dengan syair buah ciptanya yang spontanitas saja. Namun, lagu itu sering dia
nyanyikan di saat-saat seperti itu, di saat menunggu. Lagu itu dia beri judul
Nelayan Tua.
“Nelayan-nelayan tua,
semakin tua semakin terasa, semakin lama semakin berusia, tapi mati tidak
kunjung kudamba. Nelayan-nelayan tua, jala kutebar dengan gembira, mengurung
ikan yang putus asa, kutarik jala penuh bahagia. Nelayan-nelayan tua, semakin
malam semakin gulita, hawa dingin merangkul dada, tapi ikan semakin suka.
Hahaha!”
Setelah bernyanyi dua
putaran, Rala Badar mulai menarik tali di tangannya secara perlahan,
seolah-olah tarikan itu memiliki ritme napas.
Awalnya biasa saja,
seperti malam-malam biasa. Namun, ketika semakin ditarik, tetap biasa saja.
Sebagai seorang
nelayan jala kawakan, Rala Badar bisa merasakan jika ada ikan besar yang
tertangkap oleh jalanya.
“Ikan besar!” pekik
Rala Badar tiba-tiba. Dia terkejut tapi kemudian girang.
Dengan bersemangat,
lelaki tua itu menarik jalannya lebih cepat tapi lebih berirama, seolah-olah
ada musik yang sedang bermain mengiringi kegembiraannya. Mulutnya pun bernyanyi
Nelayan Tua lagi tapi versi gembira.
“Nelayan-nelayan tua,
pagi siang malam berusaha, lelah keringat pun tak sia-sia, ikan besar datang
bersua. Nelayan-nelayan tua, tidak sia-sia mengabdi setia, kepada Tuhan kuasa
dunia, akhirnya dapat ganjaran pahala. Hahaha!”
Rala Badar terus
menarik dengan tenaga kuat karena beban tarikannya sangat terasa berat.
Perahunya sampai tergoyang-goyang.
“Tarik, Rala! Ikan
besarmu datang! Tarik Rala! Ikan besarmu datang!” teriak Rala Badar setiap
tangannya menarik.
Hingga akhirnya,
sebagian besar dari jalanya sudah tertarik.
“Itu dia!” seru Rala
Badar saat melihat sedikit dari sosok besar di dalam jala yang gelap.
Terlihat pula
beberapa ikan seukuran telapak tangannya yang terjerat jaring. Namun, tiba-tiba
Rala Badar terkejut karena merasa aneh.
“Ikan besarnya kenapa
tidak bergerak?” tanya Rala Badar kepada dirinya sendiri. “Itu bukan ikan.”
Rasa heran dan
penasaran justru membuat Rala Badar mempercepat tarikannya hingga tanpa irama
dan lagu lagi.
Sosok besar di dalam
jala terus ikut tertarik dan semakin mendekati perahu. Sosok yang gelap itu
besar tapi tidak bergerak.
“Hah, berbaju dan
berambut?” ucap Rala Badar. “Itu mayat.”
Memang benar Rala
Badar, sosok yang awalnya dia anggap ikan besar itu ternyata sesosok tubuh yang
tidak bereaksi atas jeratan jala. Bisa dipastikan bahwa itu adalah mayat.
Sebagai mantan
seorang prajurit rakyat, Rala Badar tidaklah takut berhadapan dengan mayat. Dulu
di medan perang, dia sudah sering memeluk mayat.
Karena itu, tanpa
rasa takut atau ngeri, Rala Badar segera menggapaikan tangan kirinya meraih
kain baju si mayat yang sudah semakin jelas oleh penerangan obor perahu.
“Anak perempuan,”
ucap Rala Badar saat sudah memastikan sosok mayat yang rambutnya masih
terkepang tunggal tersebut.
Rala Badar menarik
tubuh yang masih terlingkup oleh jaring ikan sehingga merapat pada lambung
perahu. Tubuh itu dia balik sehingga mengambang terlentang.
Ternyata seorang anak
perempuan berusia belasan tahun dan memiliki wajah yang cantik. Rala Badar
cepat memeriksa denyut nadi bocah perempuan yang tidak lain adalah Akira, putri
mantan perampok terkenal yang sudah tobat.
“Hah! Masih hidup!”
pekik Rala Badar.
Buru-buru Rala Badar
meraih tubuh Akira dan menariknya naik ke atas perahu. Senaiknya Akira yang
tidak sadarkan diri ke perahu, nelayan itu segera mengeluarkannya dari
selimutan jala.
Rala Badar tidak
peduli lagi dengan beberapa ikan yang menggelepar-gelepar di dalam jalanya. Ia
lebih mengutamakan untuk menyelamatkan anak perempuan yang dijalanya.
“Anak cantik yang
malang. Berkah Tuhan kau masih hidup, Nak,” ucap Rala Badar seperti orang
panik.
Rala Badar segera
menekan-nekan dada Akira menggunakan tumpukan dua telapak tangannya. Tekhnik
itu dia pelajari saat berada di dalam Pasukan Infanteri 100. Tekhnik napas
buatan dia lakukan dengan meniupkan udara lewat persentuhan bibir. Tidak
terlintas sedikit pun di pikiran Rala Badar untuk melecehkan Akira yang masih
bocah.
Rala Badar melakukan
tindakan menekan dada dan memberi napas buatan berulang kali secara bergantian.
“Ya Tuhan, beri
keberkahan kepada anak malang ini,” ucap Rala Badar lirih sambil terus
berusaha.
“Uhhukr!”
Tiba-tiba tubuh Akira
terhentak dan terbatuk sembari mengeluarkan air dari dalam tenggorokannya.
“Puji Tuhan!” teriak
Rala Badar gembira bercampur haru.
“Uhhuk uhhuk!” Akira
kembali terbatuk mengeluarkan air dari dalam perutnya.
Sejenak sepasang mata
Akira terbuka dengan lemah.
“Ibu,” ucap Akira
begitu lemah.
“Tidak apa-apa, Nak.
Jangan takut. Kau bersama Kakek,” kata Rala Badar.
“Ibu!” sebut Akira lebih
jelas.
“Ibumu tidak ada di
sini, Nak. Tapi kau bersama Kakek. Kakek orang baik,” kata Rala Badar agar
pikiran si bocah tidak takut.
Rala Badar lalu
menengok mencari sesuatu di perahunya. Ternyata dia mencari botol air yang
terbuat dari bambu.
“Ayo minum dulu,”
kata Rala Badar sambil mengangkat belakang kepala Akira dan tangan lainnya menempelkan
bibir tabung ke bibir Akira.
Akira pun menurut.
Meski dia banyak minum air sungai ketika hanyut di kala malam, tapi dia merasa
haus saat itu.
“Kakek si-si-siapa?”
tanya Akira yang ingatannya masih normal.
“Nama Kakek Rala
Badar. Kakek seorang nelayan telaga. Jangan takut, Kakek orang baik,” kata Rala
Badar. “Namamu siapa, Nak?”
“Akira, Kek,” jawab
Akira lemah.
“Kakek akan membawamu
pulang, ya. Kau harus istirahat dan diobati. Wajahmu terluka. Mungkin juga
tubuhmu ada yang luka,” kata Rala Badar.
Entah kenapa, ketika
diingatkan tentang luka, Akira mendadak tersadar terhadap rasa sakit yang
mendera seluruh tubuhnya.
“Aaak. Sakiiit!”
erang Akira sembari mengerenyit menahan sakit.
“Iya, Nak. Kita
segera pulang,” kata Rala Badar. “Berbaringlah di sini.”
Lelaki tua yang masih
kuat itu segera mengambil dayungnya untuk pergi dari spot tersebut. Rala Badar
pulang dengan membawa satu anak dan beberapa ekor ikan saja yang masih ada di
dalam jaring yang belum sempat dia rapikan. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar