Andini Sakit Hamil, Bab4 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Andini Karina sedang melayani seorang pelanggan yang sedang menimbang untuk memilih satu di antara tiga lipstik berwarna merah. Sementara dua rekan lainnya melayani pelanggan yang lain di sisi kanan dan kirinya.

“Mbak, kalau yang ini….”

Kata-kata si pelanggan terputus ketika ingin bertanya kepada Andini. Dia berhenti berkata karena melihat kondisi wajah Andini yang tidak bagus. Andini tetap cantik, tetapi sangat pucat, agak mengerenyit dan berkeringat tidak wajar.

“Mbak, kok pucat banget? Mbak sakit ya?” tanya si pelanggan.

Andini tidak menjawab, tapi dia mengerenyit.

Mendengar perkataan pelanggan yang dilayani oleh Andini, kedua karyawan lain seketika menengok dan memerhatikan wajah Andini. Belum juga salah satu di antara mereka bertanya kepada Andini, istri Radit itu mendadak limbung.

“Eeh, Andini!” pekik rekannya terkejut sambil memegangi tubuh wanita cantik itu.

Andini yang nyaris pingsan, segera dipapah ke dalam. Atasan dan bos pemilik toko kosmetik juga segera mendatangi Andini.

Singkat cerita, Andini dibawa ke klinik terdekat. Kesimpulannya, Andini sedang mengandung. Mengandung bayi. Andini pun mengirim pesan kepada suaminya.

Andini: “Mas, aku sakit.”

Radit: “Sakit apa?”

Andini: “Sakit hamil.”

Radit: “Yes. Tokcer.”

Andini: “Dasar!”

Radit: “Kok dasar?”

Andini: “Lelaki mah dapat enaknya doang, sakit dan payahnya jatah perempuan.”

Radit: “Kata Pak Ustaz, menanam itu ibadahnya suami, mengandung itu ibadahnya perempuan.”

Andini: “Iyaaa. Mas, bisa pulang cepat gak? Aku lemas.”

Radit: “Aduuuh, enggak bisa, Sayang. Nanti sore ada banyak bahan mau datang.”

Andini: “Ya udah deh.”

Radit: “Istirahat saja. Tiduran saja.”

Andini: “Iya.”

Radit: “Cepat sembuh ya, Sayang. Sarang keong.”

Andini: “Sarang keong.”

Komunikasi pesan pun berakhir.

Sore harinya. Ternyata tidak ada bongkar muat barang di gudang. Bukan karena jadwal kedatangan barang terganggu atau tertunda, tetapi memang tidak ada jadwal bongkar muat barang. Radit hanya berdalih dusta saja sebagai alasan agar tidak pulang cepat. Pasalnya dia sedang senang-senangnya bergerilya menawarkan kredit hp berbagai merek, mencatat pesanan dan menghitung angsuran.

Bagaimana tidak bersemangat jika setiap hari ada yang memesan. Kredit yang memberi kemudahan membuat banyak karyawan yang tertarik. Lama kelamaan, semua karyawan, bahkan atasan tahu bahwa Radit mengkreditkan hp dengan harga tidak jauh beda dengan harga toko.

Meski semua karyawan sudah punya hp, tetapi banyak alasan yang membuat mereka ingin beli hp lagi dan yang baru. Ada yang beralasan hp-nya sudah jelek atau rusak, ada yang memang ingin yang baru atau lebih bagus, ada yang memang ingin punya dua hp, ada yang untuk anaknya agar hp-nya aman dari gangguan ketika di rumah, ada yang untuk istrinya, ada juga yang beli untuk pacar atau selingkuhannya, dan lain-lain.

Pada menit-menit terakhir menuju jam pulang, Radit mengirim pesan kepada istrinya.

Radit: “Sayang, aku mau ambil hp di Erwin. Kamu mau aku belikan apa?”

Andini: “Enggak langsung pulang?”

Radit: “Sabar ya. Aku sudah janji besok bawain hp yang sudah pesan-pesan.”

Andini: “Ya sudah. Beliin sate padang saja ya.”

Radit: “Siap, Sayangku. Sarang keong.”

Andini: “Sarang keong too.”

Sepulang dari perusahaan, Radit langsung pergi ke toko milik Erwin.

Saat bertemu, kedua rekanan bisnis itu selalu saling tertawa karena prospek kreditan yang bagus.

“Baru dua minggu, ini sudah melampaui target satu bulan. Tapi apakah aman, Dit?” tanya Erwin.

“Aku ini kepala gudang di pabrik. Aku sudah siap jurus ampuh jika ada yang berani nunggak. Aku bisa kerja sama dengan bagian keuangan supaya gaji mereka yang nunggak dipotong langsung,” jawab Radit.

“Oke, oke, oke. Hahaha!” ucap Erwin lalu tertawa.

Radit kembali pulang ke rumah dengan membawa beberapa hp pesanan, yang angsuran pertamanya akan dia terima saat menyerahkan hp kepada si pemesan. Tidak lupa dia mampir membeli makanan pesanan istrinya.

Andini menyambut kedatangan suaminya dengan kelemasan.

“Kamu sudah makan, Sayang?” tanya Radit yang kasihan melihat istrinya yang masih pucat dan lemah.

“Belum. Nunggu Mas pulang,” jawab Andini.

“Kan bisa ngorder,” kata Radit sambil membelai kepala istrinya yang berambut.

“Aku maunya makanan yang dibawa suami. Kalau yang dibawa suami sudah pasti pakai cinta,” kilah Andini.

“Hahaha! Ada-ada saja,” tawa Radit. “Ini!”

Radit memberikan sebungkus sate padang yang dibawanya kepada sang istri.

Andini segera masuk lebih dulu meninggalkan suaminya yang belum buka sepatu. Maklum, sudah sangat lapar karena lama menunggu. Andini duduk dan meletakkan bungkusan itu di meja. Namun, ketika dibuka….

Andini langsung menarik wajahnya seraya mengerenyit.

“Hoekk!” mual Andini tiba-tiba.

Andini segera berlari ke kamar mandi.

Radit terkejut mendengar mualan istrinya. Dia yang baru mau buka sepatu, menunda niatnya dan langsung berjalan cepat menyusul istrinya ke kamar mandi.

“Hoek! Hoek!”

Di kamar mandi, Andini sedang berjongkok, berjuang menahan gejolak di perut dan tenggorokannya. Radit memasukkan satu kaki bersepatunya dan satu tangannya memijit-mijit tengkuk Andini.

“Kenapa?”

“Enggak tahan cium bau satenya,” jawab Andini.

“Kok bisa?”

“Bawaan bapaknya bayi,” kata Andini sambil mengerenyit menahan sakit di pangkal tenggorokannya.

“Kok aku?” protes Radit.

“Ya iya. Aku itu suka banget sate padang. Tapi sejak ada benih Mas, aku malah mual,” debat Andini.

“Hmmm,” gumam Radit. “Terus, minta dibeliin apa dong biar mau makan.”

“Yang Mas Radit suka apa?” tanya Andini yang sudah selesai muntahnya.

“Bakso telur,” jawab Radit.

“Ya udah, tolong Mas beliin, ya?”

“Siap, Sayang,” ucap Radit masih bersemangat, demi menyenangkan hati istrinya yang sedang mengandung. Dia membantu istrinya berdiri.

Mumpung masih pengantin baru dan bisnis kreditan lagi ramai-ramainya, Radit pun masih punya sisa semangat untuk berjuang demi memenuhi kerewelan selera makan istrinya.

“Sayang istri, sayang istri, sayang istri,” kata Radit di dalam hati menyemangati dirinya yang sudah lelah.

Hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk membeli bakso telur.

Entah aneh atau memang rumusnya seperti itu, ketika Andini makan bakso telur, dia tidak mual.

“Tuh kan, selera bayinya ngikutin selera bapaknya,” kata Andini merasa benar.

“Hahaha!” Radit hanya tertawa. Dia yang juga lapar akhirnya makan sate milik istrinya.

Di sela-sela mereka sedang makan itu, Andini menyampaikan pembicaraan serius.

“Mas, aku kan hamil. Kalau kondisiku lemas-lemas begini, kayaknya aku enggak bisa deh masuk kerja. Aku sudah bicara sama Ibu. Ibu minta supaya aku berhenti kerja saja. Aku dan Ibu khawatir sama kandunganku,” ujar Andini.

Perkataan istrinya itu membuat Radit berhenti mengunyah sebentar, seolah sedang loading untuk mencerna kata-kata itu. Dia memandang wajah cantik istrinya.

“Enggak mau nunggu kalau sudah tujuh bulan baru berhenti?” tanya Radit yang secara tidak langsung menunjukkan keberatannya.

“Awalnya aku mau seperti itu, tapi Ibu khawatir banget. Takut kandunganku kenapa-napa,” jawab Andini. “Kalau biaya untuk lahiran, aku sudah ada tabungan. Cukup kok, meringankan keuangan Mas Radit.”

“Ya sudah kalau gitu. Aku juga enggak terlalu khawatir kalau kamu enggak kerja. Bisnis kredit aku prospeknya bagus banget,” kata Radit akhirnya.

“Terus, selama aku sakit, aku mau tinggal di rumah Ibu. Kalau di sini, aku enggak ada yang bantu kalau Mas kerja,” ujar Andini.

“Kapan mau ke rumah Ibu?”

“Besok pagi, sebelum Mas berangkat ke pabrik,” jawab Andini.

“Oke.” (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 komentar: