*Miliarder Ular Biru*
Andini Karina sedang
melayani seorang pelanggan yang sedang menimbang untuk memilih satu di antara
tiga lipstik berwarna merah. Sementara dua rekan lainnya melayani pelanggan
yang lain di sisi kanan dan kirinya.
“Mbak, kalau yang
ini….”
Kata-kata si
pelanggan terputus ketika ingin bertanya kepada Andini. Dia berhenti berkata
karena melihat kondisi wajah Andini yang tidak bagus. Andini tetap cantik,
tetapi sangat pucat, agak mengerenyit dan berkeringat tidak wajar.
“Mbak, kok pucat
banget? Mbak sakit ya?” tanya si pelanggan.
Andini tidak
menjawab, tapi dia mengerenyit.
Mendengar perkataan
pelanggan yang dilayani oleh Andini, kedua karyawan lain seketika menengok dan
memerhatikan wajah Andini. Belum juga salah satu di antara mereka bertanya
kepada Andini, istri Radit itu mendadak limbung.
“Eeh, Andini!” pekik
rekannya terkejut sambil memegangi tubuh wanita cantik itu.
Andini yang nyaris
pingsan, segera dipapah ke dalam. Atasan dan bos pemilik toko kosmetik juga
segera mendatangi Andini.
Singkat cerita,
Andini dibawa ke klinik terdekat. Kesimpulannya, Andini sedang mengandung.
Mengandung bayi. Andini pun mengirim pesan kepada suaminya.
Andini: “Mas, aku
sakit.”
Radit: “Sakit apa?”
Andini: “Sakit
hamil.”
Radit: “Yes. Tokcer.”
Andini: “Dasar!”
Radit: “Kok dasar?”
Andini: “Lelaki mah
dapat enaknya doang, sakit dan payahnya jatah perempuan.”
Radit: “Kata Pak
Ustaz, menanam itu ibadahnya suami, mengandung itu ibadahnya perempuan.”
Andini: “Iyaaa. Mas,
bisa pulang cepat gak? Aku lemas.”
Radit: “Aduuuh,
enggak bisa, Sayang. Nanti sore ada banyak bahan mau datang.”
Andini: “Ya udah
deh.”
Radit: “Istirahat
saja. Tiduran saja.”
Andini: “Iya.”
Radit: “Cepat sembuh
ya, Sayang. Sarang keong.”
Andini: “Sarang
keong.”
Komunikasi pesan pun
berakhir.
Sore harinya.
Ternyata tidak ada bongkar muat barang di gudang. Bukan karena jadwal
kedatangan barang terganggu atau tertunda, tetapi memang tidak ada jadwal
bongkar muat barang. Radit hanya berdalih dusta saja sebagai alasan agar tidak
pulang cepat. Pasalnya dia sedang senang-senangnya bergerilya menawarkan kredit
hp berbagai merek, mencatat pesanan dan menghitung angsuran.
Bagaimana tidak
bersemangat jika setiap hari ada yang memesan. Kredit yang memberi kemudahan
membuat banyak karyawan yang tertarik. Lama kelamaan, semua karyawan, bahkan
atasan tahu bahwa Radit mengkreditkan hp dengan harga tidak jauh beda dengan
harga toko.
Meski semua karyawan
sudah punya hp, tetapi banyak alasan yang membuat mereka ingin beli hp lagi dan
yang baru. Ada yang beralasan hp-nya sudah jelek atau rusak, ada yang memang
ingin yang baru atau lebih bagus, ada yang memang ingin punya dua hp, ada yang
untuk anaknya agar hp-nya aman dari gangguan ketika di rumah, ada yang untuk
istrinya, ada juga yang beli untuk pacar atau selingkuhannya, dan lain-lain.
Pada menit-menit
terakhir menuju jam pulang, Radit mengirim pesan kepada istrinya.
Radit: “Sayang, aku
mau ambil hp di Erwin. Kamu mau aku belikan apa?”
Andini: “Enggak
langsung pulang?”
Radit: “Sabar ya. Aku
sudah janji besok bawain hp yang sudah pesan-pesan.”
Andini: “Ya sudah.
Beliin sate padang saja ya.”
Radit: “Siap,
Sayangku. Sarang keong.”
Andini: “Sarang keong
too.”
Sepulang dari perusahaan,
Radit langsung pergi ke toko milik Erwin.
Saat bertemu, kedua
rekanan bisnis itu selalu saling tertawa karena prospek kreditan yang bagus.
“Baru dua minggu, ini
sudah melampaui target satu bulan. Tapi apakah aman, Dit?” tanya Erwin.
“Aku ini kepala
gudang di pabrik. Aku sudah siap jurus ampuh jika ada yang berani nunggak. Aku
bisa kerja sama dengan bagian keuangan supaya gaji mereka yang nunggak dipotong
langsung,” jawab Radit.
“Oke, oke, oke.
Hahaha!” ucap Erwin lalu tertawa.
Radit kembali pulang
ke rumah dengan membawa beberapa hp pesanan, yang angsuran pertamanya akan dia
terima saat menyerahkan hp kepada si pemesan. Tidak lupa dia mampir membeli makanan
pesanan istrinya.
Andini menyambut
kedatangan suaminya dengan kelemasan.
“Kamu sudah makan,
Sayang?” tanya Radit yang kasihan melihat istrinya yang masih pucat dan lemah.
“Belum. Nunggu Mas
pulang,” jawab Andini.
“Kan bisa ngorder,”
kata Radit sambil membelai kepala istrinya yang berambut.
“Aku maunya makanan
yang dibawa suami. Kalau yang dibawa suami sudah pasti pakai cinta,” kilah
Andini.
“Hahaha! Ada-ada saja,”
tawa Radit. “Ini!”
Radit memberikan
sebungkus sate padang yang dibawanya kepada sang istri.
Andini segera masuk
lebih dulu meninggalkan suaminya yang belum buka sepatu. Maklum, sudah sangat
lapar karena lama menunggu. Andini duduk dan meletakkan bungkusan itu di meja. Namun,
ketika dibuka….
Andini langsung
menarik wajahnya seraya mengerenyit.
“Hoekk!” mual Andini
tiba-tiba.
Andini segera berlari
ke kamar mandi.
Radit terkejut
mendengar mualan istrinya. Dia yang baru mau buka sepatu, menunda niatnya dan
langsung berjalan cepat menyusul istrinya ke kamar mandi.
“Hoek! Hoek!”
Di kamar mandi,
Andini sedang berjongkok, berjuang menahan gejolak di perut dan tenggorokannya.
Radit memasukkan satu kaki bersepatunya dan satu tangannya memijit-mijit
tengkuk Andini.
“Kenapa?”
“Enggak tahan cium
bau satenya,” jawab Andini.
“Kok bisa?”
“Bawaan bapaknya bayi,”
kata Andini sambil mengerenyit menahan sakit di pangkal tenggorokannya.
“Kok aku?” protes
Radit.
“Ya iya. Aku itu suka
banget sate padang. Tapi sejak ada benih Mas, aku malah mual,” debat Andini.
“Hmmm,” gumam Radit.
“Terus, minta dibeliin apa dong biar mau makan.”
“Yang Mas Radit suka
apa?” tanya Andini yang sudah selesai muntahnya.
“Bakso telur,” jawab
Radit.
“Ya udah, tolong Mas
beliin, ya?”
“Siap, Sayang,” ucap
Radit masih bersemangat, demi menyenangkan hati istrinya yang sedang
mengandung. Dia membantu istrinya berdiri.
Mumpung masih
pengantin baru dan bisnis kreditan lagi ramai-ramainya, Radit pun masih punya
sisa semangat untuk berjuang demi memenuhi kerewelan selera makan istrinya.
“Sayang istri, sayang
istri, sayang istri,” kata Radit di dalam hati menyemangati dirinya yang sudah
lelah.
Hanya butuh waktu lima
belas menit saja untuk membeli bakso telur.
Entah aneh atau
memang rumusnya seperti itu, ketika Andini makan bakso telur, dia tidak mual.
“Tuh kan, selera
bayinya ngikutin selera bapaknya,” kata Andini merasa benar.
“Hahaha!” Radit hanya
tertawa. Dia yang juga lapar akhirnya makan sate milik istrinya.
Di sela-sela mereka
sedang makan itu, Andini menyampaikan pembicaraan serius.
“Mas, aku kan hamil.
Kalau kondisiku lemas-lemas begini, kayaknya aku enggak bisa deh masuk kerja.
Aku sudah bicara sama Ibu. Ibu minta supaya aku berhenti kerja saja. Aku dan
Ibu khawatir sama kandunganku,” ujar Andini.
Perkataan istrinya
itu membuat Radit berhenti mengunyah sebentar, seolah sedang loading
untuk mencerna kata-kata itu. Dia memandang wajah cantik istrinya.
“Enggak mau nunggu
kalau sudah tujuh bulan baru berhenti?” tanya Radit yang secara tidak langsung
menunjukkan keberatannya.
“Awalnya aku mau
seperti itu, tapi Ibu khawatir banget. Takut kandunganku kenapa-napa,” jawab
Andini. “Kalau biaya untuk lahiran, aku sudah ada tabungan. Cukup kok, meringankan
keuangan Mas Radit.”
“Ya sudah kalau gitu.
Aku juga enggak terlalu khawatir kalau kamu enggak kerja. Bisnis kredit aku prospeknya
bagus banget,” kata Radit akhirnya.
“Terus, selama aku
sakit, aku mau tinggal di rumah Ibu. Kalau di sini, aku enggak ada yang bantu
kalau Mas kerja,” ujar Andini.
“Kapan mau ke rumah
Ibu?”
“Besok pagi, sebelum
Mas berangkat ke pabrik,” jawab Andini.
“Oke.” (RH)


Lanjut
BalasHapussiap lanjut
HapusCoba peruntungan komen di sini, Om🤔
BalasHapusOm..Sarang Keong 😍😂
BalasHapusOm...Sarang Keong 😍😂
BalasHapus