*Miliarder Ular Biru*
Radit tidak menyangka bahwa sakit kakinya yang terpusat di lutut akan bertambah sakit. Dia merasa ruang di dalam lutut kanannya penuh. Itu karena terjadinya pembengkakan.
Namun, Radit tetap memaksakan berjalan menuju gudang.
Dia tiba di gudang saat semua karyawan gudang sudah pulang. Mau tidak mau dia
menambah ekstra kerja untuk mematikan lampu dan menutup pintu gudang yang
besar.
Radit pulang mengendarai sepeda motornya dengan lutut
yang berdenyut-denyut sakit. Dia hanya mengerenyit menahan deritanya. Sudahlan
pikirannya kacau, dieksekusi dengan pemutusan hubungan kerja, kakinya malah
tambah sakit.
Radit tiba dengan selamat di rumahnya.
“Aaak!” jerit Radit saat dia menurunkan kaki kanannya
dari sepeda motor menginjak lantai teras.
Tekanan ujung kakinya pada lantai membuat lututnya
sangat sakit. Bingunglah Radit.
Dia kemudian mengatur cara turunnya dengan
mengandalkan kaki kiri dan kedua tangan. Radit benar-benar terpincang. Dia
masuk ke rumah dengan melompat-lompat kecil.
“Aak!” jeritnya lagi ketika ada insiden kecil pada
kaki kanannya, apakah itu karena berpijak, ataukah karena tersenggol sesuatu.
Bersusah paya dia untuk sampai ke kamarnya. Dia pergi
merebahkan diri di kasur dengan pakaian lengkap berjaket dan tas melintang di
badan. Sepatu pun masih dia kenakan.
Setelah diam sejenak. Radit bangun duduk untuk melepas
tas, jaket dan sepatu. Dia naikkan kaki kanan celananya untuk melihat
perkembangan lututnya. Lutut kanannya bengkak memerah, berkilau dan terasa
hangat. Kaki kanan itu sudah tidak bisa diluruskan. Dipakai berpijak pun sangat
sakit.
Radit: “Assalamu ‘alaikum, Sayangku.”
Radit mengirim pesan kepada nomor hp istrinya. Radit
memandangi pesan itu, fokus kepada tanda centang duanya. Namun, setelah
setengah menit, tanda itu tidak kunjung berubah warna biru. Tidak ada pula
balasan.
Radit memutuskan untuk menelepon.
Panggilannya masuk, tetapi tidak diangkat. Sampai
deringannya berakhir. Dengan kesal, Radit mengulang panggilannya. Andini tidak
juga mengangkat hp-nya.
“Istri durhaka!” desis Radit memaki sambil mengerenyit
menahan denyutan sakit pada lututnya. Dia terus menelepon.
Hingga sepuluh kali percobaan, tetap saja Andini tidak
mengangkat hp-nya. Entah apa kondisinya.
“Istri durhaka! Istri durhaka!” Kali ini Radit
berteriak marah.
Dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, dia kemudian
hanya mengetik pesan ke nomor istrinya.
Radit: “Aku tadi pagi nabrak orang. Aku dipecat kerja.
Kakiku bengkak. Sekarang di rumah enggak bisa jalan. Kamu tega enggak mau
pulang rawat aku?”
Akhir pesan itu ditutup dengan sepuluh emoji menangis
kencang.
Ingin rasanya Radit menangis. Sudahlah kondisi batin
dan pikirannya kacau, ditambah harus menahan sakit yang kontinyu. Radit
meletakkan hp-nya di kasur.
Cling!
Baru saja, sudah terdengar suara pesan masuk.
Radit cepat mengambil kembali hp-nya dan menyalakan
layar. Dia berharap Andini membalas pesannya.
Namun, nomor yang mengirim pesan adalah Sukaryo, salah
satu karyawan yang ambil kreditan hp kepada Radit.
Sukaryo: Assalamu ‘alaikum, Mas. Saya terkena
phk. Saya mau pulang kampung, jadi hp-nya mau saya balikin. Angsuran pertama
saya bisa balik gak ya, Mas?”
Deg!
Tersentak jantung Radit membaca pesan itu. Pikirannya
langsung tersadar bahwa ada phk massal karyawan di pabrik. Pikirannya langsung
tertuju kepada para pelanggannya yang baru berangsur satu kali.
“Bagaimana kalau mereka termasuk yang kena phk?” tanya
Radit kepada dirinya. Seketika dia panik tingkat setan.
Langkah pertama yang Radit lakukan bukan membalas
pesan dan pertanyaan Sukaryo, tetapi dia menelepon seorang staf perusahaan yang
dikenalnya.
“Monika, aku bisa minta data karyawan yang di-phk,
gak?” tanya Radit kepada staf tersebut.
“Mohon maaf, Pak Radit. Tidak boleh. Itu data
perusahaan,” jawab staf yang bernama Monika di ujung sambungan.
“Masalahnya, aku harus tahu, apakah yang dipecat itu
termasuk karyawan yang ambil hp kredit ke aku atau bukan,” kilah Radit.
“Ditelepon saja satu-satu, Pak. Ditanya langsung,”
saran Monika.
“Ya sudah, terima kasih,” ucap Radit.
Dengan panik, Radit menelepon pelanggan kreditnya satu
per satu. Hasilnya beragam.
“Tenang, Mas. Saya enggak di-phk kok. InsyaAllah
angsuran lancar,” jawab pelanggan pertama yang Radit telepon.
Radit pun lega.
Namun setelahnya, ada tiga nomor yang tidak aktif.
Semakin paniklah Radit yang berujung dengan hanya kegusaran.
“Aku rencananya mau balikin hp-nya, takut gak bisa
bayar angsuran, Mas,” jawab salah satu konsumen Radit.
“Kamu tahu Angga, Eboy, Rustam dan Firman? Mereka
di-phk juga?” tanya Radit.
“Oh iya, Mas. Mereka juga kena.”
“Kenapa nomor mereka enggak aktif ya?”
“Wah, itu aku enggak tahu, Mas. Mas Radit samperin
saja ke kontrakannya.”
“Iya, iya.”
Semakin pusinglah Radit. Memang ada konsumennya yang
tidak di-phk, tetapi lebih banyak yang di-phk. Dari mereka yang di-phk, ada
beberapa yang tetap komitmen mengangsur, tetapi banyak pula yang tiba-tiba
nomor hp-nya tidak aktif. Beberapa lainnya memilih ingin mengembalikan
kreditannya.
Radit bisa saja mendatangi kediaman para pelanggannya
satu per satu, tetapi sekarang dia sedang tidak bisa ke mana-mana lantaran
kakinya sakit.
Karena bingung menyikapi kondisi tersebut, akhirnya
Radit mengadu kepada Erwin Bujana, pemilik hp kreditan.
“Waduuuh! Kok bisa begitu kondisinya, Dit?” kata Erwin
kecewa dan marah.
Radit menceritakan kondisinya secara jujur.
“Gua enggak mau tahulah. Ini bisnis, Dit. Kalau sampai
hp-hp itu hilang koneksinya, elu harus ganti rugi. Pokoknya, gua tahunya elu
nyetor tiap bulan dari angsuran semua hp. Urusan elu sakit mah, kan elu punya
keluarga.”
Itulah respons dan sikap Erwin untuk Radit.
Radit benar-benar bingung, diperparah dia tidak bisa
fokus berpikir karena sakit di lututnya terus berdenyut. Karena saking bingungnya,
Radit sampai tidak bisa menentukan hal tepat apa yang harus dia lakukan lebih
dulu.
“Aaakk…!” teriak Radit sebagai pelampiasan
kemarahannya atas kondisi buruk yang menimpanya.
Entah, apakah tetangganya mendengar teriakannya.
Namun, sepertinya tidak, sebab tidak ada yang datang mengetuk pintu di malam
itu untuk bertanya “ada apa?” Atau mungkin tetangga ogah ikut campur urusan
tetangga.
Akhirnya, setelah jam sepuluh malam, barulah Radit
agak tenang setelah tidak bisa berbuat banyak dan dia dilanda demam. Dalam
kondisi kesakitan, dia mencoba mengurus dirinya sendiri dulu.
Dengan mengandalkan hp, Radit memesan makanan dan obat
secara online. Ketika pesanannya datang, dia harus mengesot di lantai dan
mengandalkan kekuatan tangan untuk keluar menerima pesanan.
Berulang kali Radit mengecek pesan yang dia kirim
kepada istrinya, ternyata kondisinya tidak berubah. Seolah-olah Andini sengaja
tidak mau membuka pesan itu.
Dengan memendam rasa marah, Radit berusaha untuk
menelepon lagi. Namun, kali ini panggilannya tidak masuk. Nomor hp istrinya
tidak aktif.
Semakin marah dan bingunglah Radit. Dugaan-dugaan
negatif muncul di dalam kepalanya, tapi tidak ada dugaan bahwa istrinya
selingkuh.
“Biarkan. Kalau sampai besok telepon aku enggak
ditanggapi juga, aku juga enggak akan peduli, mau kamu lahiran kek, keguguran
kek, kawin lagi kek. Aku cari perempuan lain yang lebih salehah!” kata Radit
marah. Dia bicara sendiri. “Terserah mau emak matre kamu marah-marah, mau
nungging, mau mati, terserah!”
Radit malam itu susah tidur. Dua faktor menyebabnya,
yaitu banyak pikiran dan rasa sakit yang tak kunjung reda. Padahal, dia sudah
minum obat pereda nyeri.
Sepanjang malam dia merintih, ditambah demam. Bergerak
ganti posisi tidur saja, lututnya sakit, apalagi sampai salah posisi kaki,
Radit semakin mengerang. (RH)


Waduh... Kredit macet.. Makin puyeng Radit
BalasHapusKalau lutut bengkak, itu pengalaman Om
HapusOm...Sarang Keong 😍
BalasHapussarang keong too. hahahaha!
HapusBaru bisa masuk komentar di bab 8, Om. Sudahlah. yang penting bisa. Sarang Keong😘🤣
BalasHapusOke, yang penting bisa sarang keong
HapusSialan juga istri Radit, Om. Aku pastikan aku lebih saleha dari dia. om jangan ragukan🙄😆
BalasHapusSiap. Om mah percaya, Salehah itu bukan berarti gak ada dosa, minimal selingkuh online ya hahahaha
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusAhahahah atau lebih tepatnya aku itu selingkuhan salehah biar terkesan enggak pembohongan publik gitu ya, Om?🤔😂
HapusIdiih. padahal dengan Om doang loh🤧
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus