Sakit Pengacau Kredit, Bab8 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Radit tidak menyangka bahwa sakit kakinya yang terpusat di lutut akan bertambah sakit. Dia merasa ruang di dalam lutut kanannya penuh. Itu karena terjadinya pembengkakan.

Namun, Radit tetap memaksakan berjalan menuju gudang. Dia tiba di gudang saat semua karyawan gudang sudah pulang. Mau tidak mau dia menambah ekstra kerja untuk mematikan lampu dan menutup pintu gudang yang besar.

Radit pulang mengendarai sepeda motornya dengan lutut yang berdenyut-denyut sakit. Dia hanya mengerenyit menahan deritanya. Sudahlan pikirannya kacau, dieksekusi dengan pemutusan hubungan kerja, kakinya malah tambah sakit.

Radit tiba dengan selamat di rumahnya.

“Aaak!” jerit Radit saat dia menurunkan kaki kanannya dari sepeda motor menginjak lantai teras.

Tekanan ujung kakinya pada lantai membuat lututnya sangat sakit. Bingunglah Radit.

Dia kemudian mengatur cara turunnya dengan mengandalkan kaki kiri dan kedua tangan. Radit benar-benar terpincang. Dia masuk ke rumah dengan melompat-lompat kecil.

“Aak!” jeritnya lagi ketika ada insiden kecil pada kaki kanannya, apakah itu karena berpijak, ataukah karena tersenggol sesuatu.

Bersusah paya dia untuk sampai ke kamarnya. Dia pergi merebahkan diri di kasur dengan pakaian lengkap berjaket dan tas melintang di badan. Sepatu pun masih dia kenakan.

Setelah diam sejenak. Radit bangun duduk untuk melepas tas, jaket dan sepatu. Dia naikkan kaki kanan celananya untuk melihat perkembangan lututnya. Lutut kanannya bengkak memerah, berkilau dan terasa hangat. Kaki kanan itu sudah tidak bisa diluruskan. Dipakai berpijak pun sangat sakit.

Radit: “Assalamu ‘alaikum, Sayangku.”

Radit mengirim pesan kepada nomor hp istrinya. Radit memandangi pesan itu, fokus kepada tanda centang duanya. Namun, setelah setengah menit, tanda itu tidak kunjung berubah warna biru. Tidak ada pula balasan.

Radit memutuskan untuk menelepon.

Panggilannya masuk, tetapi tidak diangkat. Sampai deringannya berakhir. Dengan kesal, Radit mengulang panggilannya. Andini tidak juga mengangkat hp-nya.

“Istri durhaka!” desis Radit memaki sambil mengerenyit menahan denyutan sakit pada lututnya. Dia terus menelepon.

Hingga sepuluh kali percobaan, tetap saja Andini tidak mengangkat hp-nya. Entah apa kondisinya.

“Istri durhaka! Istri durhaka!” Kali ini Radit berteriak marah.

Dengan wajah yang menunjukkan kemarahan, dia kemudian hanya mengetik pesan ke nomor istrinya.

Radit: “Aku tadi pagi nabrak orang. Aku dipecat kerja. Kakiku bengkak. Sekarang di rumah enggak bisa jalan. Kamu tega enggak mau pulang rawat aku?”

Akhir pesan itu ditutup dengan sepuluh emoji menangis kencang.

Ingin rasanya Radit menangis. Sudahlah kondisi batin dan pikirannya kacau, ditambah harus menahan sakit yang kontinyu. Radit meletakkan hp-nya di kasur.

Cling!

Baru saja, sudah terdengar suara pesan masuk.

Radit cepat mengambil kembali hp-nya dan menyalakan layar. Dia berharap Andini membalas pesannya.

Namun, nomor yang mengirim pesan adalah Sukaryo, salah satu karyawan yang ambil kreditan hp kepada Radit.

Sukaryo: Assalamu ‘alaikum, Mas. Saya terkena phk. Saya mau pulang kampung, jadi hp-nya mau saya balikin. Angsuran pertama saya bisa balik gak ya, Mas?”

Deg!

Tersentak jantung Radit membaca pesan itu. Pikirannya langsung tersadar bahwa ada phk massal karyawan di pabrik. Pikirannya langsung tertuju kepada para pelanggannya yang baru berangsur satu kali.

“Bagaimana kalau mereka termasuk yang kena phk?” tanya Radit kepada dirinya. Seketika dia panik tingkat setan.

Langkah pertama yang Radit lakukan bukan membalas pesan dan pertanyaan Sukaryo, tetapi dia menelepon seorang staf perusahaan yang dikenalnya.

“Monika, aku bisa minta data karyawan yang di-phk, gak?” tanya Radit kepada staf tersebut.

“Mohon maaf, Pak Radit. Tidak boleh. Itu data perusahaan,” jawab staf yang bernama Monika di ujung sambungan.

“Masalahnya, aku harus tahu, apakah yang dipecat itu termasuk karyawan yang ambil hp kredit ke aku atau bukan,” kilah Radit.

“Ditelepon saja satu-satu, Pak. Ditanya langsung,” saran Monika.

“Ya sudah, terima kasih,” ucap Radit.

Dengan panik, Radit menelepon pelanggan kreditnya satu per satu. Hasilnya beragam.

“Tenang, Mas. Saya enggak di-phk kok. InsyaAllah angsuran lancar,” jawab pelanggan pertama yang Radit telepon.

Radit pun lega.

Namun setelahnya, ada tiga nomor yang tidak aktif. Semakin paniklah Radit yang berujung dengan hanya kegusaran.

“Aku rencananya mau balikin hp-nya, takut gak bisa bayar angsuran, Mas,” jawab salah satu konsumen Radit.

“Kamu tahu Angga, Eboy, Rustam dan Firman? Mereka di-phk juga?” tanya Radit.

“Oh iya, Mas. Mereka juga kena.”

“Kenapa nomor mereka enggak aktif ya?”

“Wah, itu aku enggak tahu, Mas. Mas Radit samperin saja ke kontrakannya.”

“Iya, iya.”

Semakin pusinglah Radit. Memang ada konsumennya yang tidak di-phk, tetapi lebih banyak yang di-phk. Dari mereka yang di-phk, ada beberapa yang tetap komitmen mengangsur, tetapi banyak pula yang tiba-tiba nomor hp-nya tidak aktif. Beberapa lainnya memilih ingin mengembalikan kreditannya.

Radit bisa saja mendatangi kediaman para pelanggannya satu per satu, tetapi sekarang dia sedang tidak bisa ke mana-mana lantaran kakinya sakit.

Karena bingung menyikapi kondisi tersebut, akhirnya Radit mengadu kepada Erwin Bujana, pemilik hp kreditan.

“Waduuuh! Kok bisa begitu kondisinya, Dit?” kata Erwin kecewa dan marah.

Radit menceritakan kondisinya secara jujur.

“Gua enggak mau tahulah. Ini bisnis, Dit. Kalau sampai hp-hp itu hilang koneksinya, elu harus ganti rugi. Pokoknya, gua tahunya elu nyetor tiap bulan dari angsuran semua hp. Urusan elu sakit mah, kan elu punya keluarga.”

Itulah respons dan sikap Erwin untuk Radit.

Radit benar-benar bingung, diperparah dia tidak bisa fokus berpikir karena sakit di lututnya terus berdenyut. Karena saking bingungnya, Radit sampai tidak bisa menentukan hal tepat apa yang harus dia lakukan lebih dulu.

“Aaakk…!” teriak Radit sebagai pelampiasan kemarahannya atas kondisi buruk yang menimpanya.

Entah, apakah tetangganya mendengar teriakannya. Namun, sepertinya tidak, sebab tidak ada yang datang mengetuk pintu di malam itu untuk bertanya “ada apa?” Atau mungkin tetangga ogah ikut campur urusan tetangga.

Akhirnya, setelah jam sepuluh malam, barulah Radit agak tenang setelah tidak bisa berbuat banyak dan dia dilanda demam. Dalam kondisi kesakitan, dia mencoba mengurus dirinya sendiri dulu.

Dengan mengandalkan hp, Radit memesan makanan dan obat secara online. Ketika pesanannya datang, dia harus mengesot di lantai dan mengandalkan kekuatan tangan untuk keluar menerima pesanan.

Berulang kali Radit mengecek pesan yang dia kirim kepada istrinya, ternyata kondisinya tidak berubah. Seolah-olah Andini sengaja tidak mau membuka pesan itu.

Dengan memendam rasa marah, Radit berusaha untuk menelepon lagi. Namun, kali ini panggilannya tidak masuk. Nomor hp istrinya tidak aktif.

Semakin marah dan bingunglah Radit. Dugaan-dugaan negatif muncul di dalam kepalanya, tapi tidak ada dugaan bahwa istrinya selingkuh.

“Biarkan. Kalau sampai besok telepon aku enggak ditanggapi juga, aku juga enggak akan peduli, mau kamu lahiran kek, keguguran kek, kawin lagi kek. Aku cari perempuan lain yang lebih salehah!” kata Radit marah. Dia bicara sendiri. “Terserah mau emak matre kamu marah-marah, mau nungging, mau mati, terserah!”

Radit malam itu susah tidur. Dua faktor menyebabnya, yaitu banyak pikiran dan rasa sakit yang tak kunjung reda. Padahal, dia sudah minum obat pereda nyeri.

Sepanjang malam dia merintih, ditambah demam. Bergerak ganti posisi tidur saja, lututnya sakit, apalagi sampai salah posisi kaki, Radit semakin mengerang. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar:

  1. Waduh... Kredit macet.. Makin puyeng Radit

    BalasHapus
  2. Baru bisa masuk komentar di bab 8, Om. Sudahlah. yang penting bisa. Sarang Keong😘🤣

    BalasHapus
  3. Sialan juga istri Radit, Om. Aku pastikan aku lebih saleha dari dia. om jangan ragukan🙄😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap. Om mah percaya, Salehah itu bukan berarti gak ada dosa, minimal selingkuh online ya hahahaha

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Ahahahah atau lebih tepatnya aku itu selingkuhan salehah biar terkesan enggak pembohongan publik gitu ya, Om?🤔😂

      Hapus
    4. Idiih. padahal dengan Om doang loh🤧

      Hapus
    5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus