*Dendam Tiga Wanita*
“Bagaimana jika kau Ayah daftarkan di Sekolah Ksatria Banin?” tanya Rala Badar kepada Akira.
Dia duduk serius menghadap
kepada Akira yang sedang memotong-motong daun bawang.
“Jika aku sekolah, apakah
aku akan tinggal di sana?” tanya balik Akira. Dia memang tidak tahu-menahu
tentang lembaga sekolah resmi seperti Sekolah Ksatria Banin yang terkenal.
“Iya. Kau hanya bisa pulang
ketika waktu libur atau Ayah yang datang menjengukmu di asrama,” jawab Rala
Badar.
“Berarti, jika aku sekolah,
Ayah akan tinggal sendirian lagi. Tidak ada yang akan membantu Ayah,” kata
Akira.
“Benar. Ayah memang sudah
terbiasa sendiri. Mungkin yang paling berat adalah Ayah akan kesepian. Ayah
akan sangat merindukanmu. Namun, aku akan sangat bangga jika kau kelak menjadi
anak yang berbakat dan memiliki gelar pendidikan yang baik,” ujar Rala Badar.
“Banyak sekali orang-orang lulusan Sekolah Ksatria Banin yang sekarang memiliki
kedudukan bagus di kemiliteran Negara Zonic atau bekerja di badan-badan
pemerintahan. Bahkan bisa bekerja di Istana Battleham.”
“Aku tidak ingin mencari
jabatan di pemerintahan yang telah membunuh keluargaku, Ayah,” kata Akira,
tetapi itu di dalam hatinya saja. Dia lalu berkata kepada ayahnya, “Baik, aku
akan bersekolah jika diterima di sekolah itu. Aku akan menjadi orang hebat saat
besar nanti.”
“Bagus!” pekik Rala Badar
sambil bangkit berdiri seraya tersenyum lebar.
Rala Badar lalu pergi dengan
tergesa-gesa ke dalam kamarnya. Tidak berapa lama, dia kembali keluar menemui
Akira sambil menggendong sebuah guci sebesar perut perempuan hamil.
“Apa itu, Ayah?” tanya
Akira.
Prakr!
Tanpa menjawab, Rala Badar
membanting guci tersebut ke lantai tanah rumahnya yang keras. Guci tersebut
pecah dan berserakanlah kepingan-kepingan koin bercetak yang banyak.
Koin-koin uang shebel itu
terdiri dari dua warna, yaitu warna perunggu dan warna perak. Uang shebel
perunggu jumlahnya lebih mendominasi. Sedangkan uang shebel perak hanya
sedikit.
Satu shebel perak bernilai
20 shebel perunggu, dan 1 shebel emas senilai 25 shebel perak.
“Waaah! Uang celengan Ayah
banyak sekali!” seru Akira terperangah.
“Bantu Ayah menghitungnya.
Ini untuk biaya sekolahmu. Meski seandainya kau lolos tes, pasti ada biaya
sekolahnya,” kata Rala Badar.
“Iya.”
Maka dengan senang hati
Akira beralih membantu ayahnya dalam menghitung uang tabungan tersebut.
“Berapa lama Ayah menabung
uang sebanyak ini?” tanya Akira.
“Sekitar lima tahun.”
“Ayah menabung pasti ingin
membeli sesuatu?”
“Tidak. Ayah menabung saja,
tidak tahu untuk membeli apa. Tapi karena Ayah sekarang memiliki tujuan yang
membutuhkan uang, maka uang tabungan Ayah bisa kita gunakan. Nanti Ayah akan
rajin menabung lagi untuk tambahan biaya sekolahmu.”
“Hahaha! Berarti Ayah akan
semakin giat mencari ikan untuk dijual.”
“Benar. Itu demi anak
kesayangan Ayah. Hahaha!”
“Kapan kita akan pergi?”
“Besok.”
“Apakah jauh?”
“Sekolah Ksatria Banin ada
di Kota Patre. Kita harus naik kuda ke sana. Mungkin satu hari perjalanan. Ayah
akan menyewa kuda dan Ayah akan memakai pakaian prajurit Pasukan Infanteri 100.
Itu sebagai tanda bahwa Ayah memang seorang veteran.”
“Pasti besok Ayah sangat
gagah.”
“Hahaha!” Keduanya tertawa.
Memang, keesokan paginya,
Rala Badar sudah siap berangkat dengan berpakaian seorang prajurit. Sepatu
boot, pelindung paha dan tangan, baju pelindung, hingga helm, semuanya berbahan
kulit tebal warna biru gelap yang baunya sangat khas. Sabuk logamnya begitu
khas dan memiliki kepala berukir angka 100. Itu adalah salah satu simbol
Pasukan Infanteri 100.
Selain tanda itu, Rala Badar
masih memiliki tanda prajurit yang terbuat dari lempengan logam bercetak yang
terbuat dari perunggu.
Dia juga menyandang sebilah
pedang yang bersarung. Pedang itu adalah pedang khusus Pasukan Infanteri 100,
bukan senjata pedang prajurit umum.
Setelah mendapatkan kuda
sewaan, Rala Badar dan Akira pun pergi naik kuda.
Akira sendiri tampil rapi
dan cantik dengan pakaian yang sederhana. Dia memang tidak memiliki pakaian
bagus. Ketika dia mulai tinggal bersama ayah angkatnya, orang tua itu
membelikan pakaian anak perempuan bekas tapi bagus. Saat ini dia berangkat
dengan membawa beberapa setel pakaian juga.
Rala Badar berkuda santai
karena dia membawa boncengan. Akira duduk di depan. Sesekali Akira yang
memegang tali kendali kuda.
Mereka meninggalkan
pinggiran Kota Bowei dan menuju ke Kota Patre. Mereka harus melewati pinggiran
sebuah hutan, dua bukit dan dua lembah.
Rala Badar dan Akira singgah
beberapa kali di perjalanan, apakah itu di tengah jalan atau di sebuah desa.
Beberapa kali juga mereka bertemu Pasukan Singa Banin yang merupakan pasukan
keamanan provinsi.
Melihat Rala Badar dalam
tampilan seragam prajurit perang, jelas menarik hati para prajurit Pasukan
Singa Banin untuk bertanya. Namun, setelah dijelaskan maksud dan tujuan Rala
Badar berpakaian prajurit dari pasukan yang tidak aktif, mereka bisa menerima
alasan itu dan membiarkan Rala Badar dan Akira melanjutkan perjalanan.
“Aku ingin mendaftarkan
cucuku bersekolah di Sekolah Ksatria Banin,” jawab Rala Badar ketika ditanya
oleh prajurit.
Dia dan Akira sudah sepakat
bahwa Akira akan disebut “cucu” oleh ayahnya dengan maksud menghindari
kecurigaan dari prajurit pasukan keamanan. Ketimpangan usia yang jauh terpaut
bisa meciptakan kecurigaan jika Akira diperkenalkan sebagai anak. Dan akan
sangat berbahaya jika para prajurit itu tahu bahwa Akira adalah anak dari seorang
mantan perampok yang dibunuh oleh pasukan besi, apakah itu Pasukan Algojo Hitam
atau Pasukan Zabaniyah.
Setibanya di Kota Patre, hari
sudah senja. Jadi Rala Badar harus bermalam lebih dulu. Besok pagi barulah
mereka akan pergi ke Sekolah Ksatria Banin.
*****
Keesokan paginya.
Rala Badar sejak dua jam
yang lalu terus berjalan tanpa henti dari sisi ruang yang satu ke sisi yang
lain. Seperti itulah sikap lelaki berwajah tegas tersebut jika sedang
berdebar-debar menunggu sesuatu yang sangat dia harapkan.
Sesekali Rala Badar membenarkan
posisi helm kulit lusuhnya. Bahkan sudah dua kali dia membuka helmnya lalu
memasangnya kembali.
Pagi ini Rala Badar masih mengenakan
pakaian kebanggaannya, pakaian yang sepuluh tahun lalu dia pakai ketika pergi
berperang ke perbatasan utara negerinya.
Bagi Rala Badar, hari ini
adalah hari yang sangat istimewa, salah satu momentum istimewa dalam sejarah
hidupnya. Rasanya seperti sedang menunggu kelahiran bayi pertama.
“Pak Rala!” panggil wanita
di balik kaca yang geleng-geleng kepala melihat aktivitas Rala Badar bak
layaknya alat penggosok pakaian.
“Ya?” tanya Rala sambil
cepat datang mendekat ke lubang-lubang kaca tempat orangtua biasa mendaftarkan
anaknya.
“Bisakah Bapak duduk di
kursi dan menunggu dengan tenang?” tanya wanita cantik itu seraya tersenyum
agar tidak menyinggung perasaan Rala Badar.
“Oh! Jika saya duduk di
kursi, saya akan semakin merasa tidak tenang,” kata Rala sambil tersenyum pula.
“Jika begitu, silahkan Bapak
lanjutkan!” kata wanita petugas itu dengan tetap tersenyum.
Rala pun kembali berjalan
menuju sisi ruangan yang nanti dia akan berbalik dan berjalan lagi. Wanita
petugas di dalam ruangan kaca hanya kembali geleng-geleng, membuat petugas
wanita lainnya yang satu ruangan denganya hanya tertawa.
Beruntung di ruang tunggu
pendaftaran itu tidak ada orang lain selain Rala Badar. Mungkin akan berbeda
suasananya jika di ruang tunggu pendaftaran itu ada orang lain.
Rala seketika berbalik
ketika mendengar suara langkah sepatu menuruni tangga, jalan yang tadi dilalui
anaknya menuju ruangan tes kelayakan. Rala segera berlari kecil menuju tangga.
Dari atas turun seorang
pemuda berpakaian rapi serba putih. Sepatu khususnya membuat setiap langkahnya
berdetak khas. Kedua tangannya memakai sarung tangan putih yang tebal. Pemuda
berambut pendek itu memiliki tatto tiga garis putih pendek dia atas alis
kirinya.
Melihat yang turun hanya
seorang pemuda, Rala Badar agak kecewa. Lelaki bertangan kasar itu kembali
berbalik dan berjalan lagi hendak melanjutkan mondar-mandirnya.
“Pak Rala Badar!” panggil
pemuda yang baru turun itu.
“Ya, aku!” sahut Rala
terkejut seraya berpaling ke belakang. Ternyata yang memanggilnya adalah pemuda
yang baru turun itu. Rala segera berbalik dan datang mendekat.
“Namaku Sukrama, salah satu
guru tes. Anak Bapak lulus semua tes dasar untuk Kelas Putih. Sekarang Bapak
ikut aku untuk melihat anak Bapak menjalani tes tingkatan!” kata pemuda itu.
“Mari ikut aku!”
Pemuda bernama Sukrama itu kembali menaiki tangga. Rala Badar mengikuti. (RH)


Ini lanjutan dari cerita yang di NT ?
BalasHapusBukan lanjutan, mudah-mudahan nanti bisa dilanjut
Hapus