Wajah Lain di Hp Bos, Bab1 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Radit duduk bertindih paha alias paha kanan menyilang menindih paha kiri, sehingga ujung kaki kanan menggantung bersama sepatu berkelasnya. Dia memegang buku katalog dan sebatang pena warna silver mengilap. Dia duduk di sebuah kursi tanpa meja yang menghadap ke panggung besar di dalam ruangan itu.

Panggung memiliki background yang menunjukkan pemandangan halaman sebuah masjid nan indah dengan berbagai hiasannya. Pencahayaan lampu yang menyorot dari beberapa sudut sudah menerangi panggung.

Di sisi kanan Radit berdiri seorang wanita cantik berpakaian Muslimah warna putih-kuning dengan jilbab warna putih cemerlang. Kecantikan seindah telur rebus yang dibelah dua. Dia menggendong sejumlah berkas di dalam pelukannya. Ia bernama Desti, Sekretaris Pak Radit.

“Mulai!” kata Radit pelan, tapi itu perintah kepada Desti.

“Baik, Pak,” jawab Desti pelan. Namun setelah itu, dia berteriak lantang dan nyaring laksana host acara kuis televisi, “Musiiik!”

Dang dang dang…!

Setelah itu, terdengar beberapa kali tabuhan drum yang tidak terlihat di mana drumnya, yang kemudian disusul irama dari jenis alat musik lainnya. Musik terdengar keras yang langsung mengajak jantung dan darah ingin ikut menyentak-nyentak sesuai irama. Suaranya memenuhi ruangan besar tersebut, tidak sampai ke luar-luar karena ruangan di luar ruangan tersebut adalah area kerja lainnya dari perusahaan tersebut.

Musik itu jelas berasal dari belakang panggung. Semua tahu itu.

Setelah musik mengintrokan dirinya sendiri, irama pun berubah lebih bersemangat.

“Masuuuk!” teriak Desti dengan wajah memandang ke ujung kanan panggung.

Setelah itu, dua detik kemudian, dari balik tembok ujung kanan panggung keluar seorang pemuda tampan yang mengenakan baju jenis koko warna putih dan celana warna hitam. Dia juga memakai kopiah warna hitam yang membuatnya terlihat seperti pemuda alim yang memiliki pancaran aura kesalehan.

Pemuda itu berjalan layaknya seorang model peragawan yang sedang berjalan di catwalk. Pemuda itu berjalan lurus menuju ke ujung kiri panggung. Namun, ketika sampai di tengah, dia berhenti sebentar menunjukkan pose gaya dengan wajah dan badan menghadap kepada Radit.

Radit dan Desti memandangi dengan seksama tanpa senyum. Itu karena apa yang sedang mereka lakukan memang perkara penting untuk kesuksesan perusahaan dan industri yang sedang mereka bangun untuk go international.

Setelah menunjukkan penampilannya, pemuda model itu lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke pintu di ujung kiri panggung. Sementara itu, Radit melakukan checklist pada katalog yang ada di tangannya.

Belum juga model itu hilang di balik dinding ujung panggung kiri, dari ujung kanan kembali muncul pemuda lain yang juga tampan dengan model dan warna pakaian muslim yang berbeda. Pemuda kedua juga model peraga.

Demikian seterusnya. Usai pergi model yang satu, lalu muncul model yang lain dengan pakaian yang berbeda. Tidak hanya lelaki, tetapi ada pula para model wanita yang tampil dengan pakaian muslimah. Cantik-cantik, apalagi dengan pakaian muslimah yang bagus dan indah.

Akhirnya pertunjukan usai dan musik pun berhenti. Radit sudah mencatat dan mengevaluasi seluruh jenis pakaian muslim dan muslimah yang diperagakan.

“Beberapa baju harus diubah model bagiannya, sudah saya tandai dan beri catatan,” kata Radit sambil memberikan buku katalognya kepada Desti. “Dua puluh satu baju sudah sempurna. Usahakan perbaikannya selesai dalam lima hari. Jadi, minta Bu Rosiana untuk melemburkan bagian produksi.”

“Baik, Pak,” ucap Desti patuh.

Klililing! Klililing!

Tiba-tiba terdengar suara nada dering alat musik angklung. Sumbernya dari dalam saku celana Radit. Ketika si pemuda tampan itu bergerak merogoh sakunya, Desti menyempatkan matanya melirik kepada celana bosnya.

“Assalamu ‘alaikum, Sayang!” sapa Radit setelah menempelkan ponselnya di salah satu telinganya.

“Wa ‘alaikumussalam!” jawab satu suara lembut seorang wanita di ujung sambungan telepon.

“Sudah di mana?” tanya Radit.

“Nih, sudah di depan lobi,” jawab wanita di dalam telepon.

“Masuk dulu. Masa istri Bos enggak masuk, seperti tamu saja.”

“Kalau masuk lagi, pasti bakal lama lagi. Pakai ciuman dululah, pakai pegang-pegang dululah, bisa-bisa pakai acara buka bersama dulu.”

“Hahaha!” Meledak tawa Radit mendengar alasan istrinya.

Memang, apa yang disebutkan istrinya itu sering terjadi di saat sang istri datang ke kantor suaminya.

Desti hanya berdiri diam. Dia tidak ikut tertawa karena dia tidak mendengar topik komedi apa yang sedang dibicarakan oleh istri bosnya di telepon.

“Acara satu jam lagi. Ini hari kerja, pasti macet. Jangan sampai Riska kecewa kepada ayahnya,” kata istrinya Radit.

“Ya sudah, tunggu sebentar, aku segera ke depan,” kata Radit.

Dia menutup teleponnya setelah itu.

“Des, tolong kamu ambilkan tasku di ruanganku. Sama hp-ku yang satu lagi ada di laci. Aku mau langsung ke lobi, sudah ditunggu istriku,” perintah Radit.

“Baik, Pak,” ucap Desti patuh.

Setelah itu, keduanya melangkah menuju pintu keluar. Sekeluarnya, Radit dan Desti berpisah tanpa kata.

Radit langsung menuju ke lobi sedangkan Desti menuju ke kantor bosnya.

Setiap orang yang berpapasan dengan Radit pasti menyapa dengan hormat karena mereka semua adalah karyawan di perusahaan yang bernama Raddix tersebut. Raddix juga menjadi nama merek semua produk fesyen yang perusahaan itu produksi.

Setibanya di lobi kantor yang megah, Radit melihat sosok wanita muda cantik mengenakan pakaian muslimah warna biru muda sedang duduk di sofa tunggu lobi.

Melihat kedatangan sang suami, wanita cantik itu langsung tersenyum dan bangkit berdiri menyambut. Dia sambut Radit dengan satu ciuman, tapi bukan di bibir atau pipi suaminya, melainkan di punggung tangan.

“Tunggu tasku, sedang diambilkan oleh Desti,” ujar Radit kepada istrinya.

“Iya,” ucap si wanita mengangguk. Lalu katanya, “Nanti usai acara, kita ajak Riska makan-makan dulu. Setelah itu, aku antar Mas Radit balik lagi ke sini dan aku antar Riska pulang ke rumah ibunya.”

“Iya,” angguk Radit.

Sementara itu di dalam, Desti bergegas masuk ke ruangan bosnya yang luas dan megah. Dia langsung menyasar sebuah tas kerja warna biru gelap. Tidak lupa dia membuka laci meja untuk mengambil sebuah ponsel milik Radit.

Ninung ninung ninung…!

Ketika ponsel itu ada di genggamannya, tiba-tiba gadget tersebut menyala dan berdering. Desti melihat ada yang menelepon dengan nama kontak Andini Sayang.

Desti hanya menaikkan kedua alisnya. Seketika muncul berbagai macam duga-duga di dalam kepalanya. Selain nama Andini Sayang, wallpaper layar pun adalah wajah wanita cantik yang sedang tersenyum. Wajah itu tidak berhijab dan itu bukan wajah istri bosnya yang dia kenal.

Pastinya Desti tidak berani mengonfirmasi panggilan telepon tersebut. Dia segera masukkan ke dalam tas dan membiarkannya berirama di dalam. Dia harus segera ke lobi untuk menyerahkan tas tersebut.

Dia tidak mau ambil pusing dengan urusan pribadi bosnya yang menurutnya adalah seorang pria muslim yang kental dengan amalan agamanya. (RH)


Catatan: Novel di kategori Lambat adalah novel baru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

9 komentar:

  1. Ini Om. Aku sudah di sini๐Ÿค— jauh rupanya kesini, sejauh Sumatera dan Jawa๐Ÿ˜…

    BalasHapus
  2. Aku yakin kalau Om tahu nomor teleponku, pasti akan Om simpan dengan nama "Sandaria Sayang"๐Ÿ˜†

    BalasHapus
  3. Aku yakin kalau Om tahu nomor teleponku, pasti akan Om simpan dengan nama "Sandaria Sayang"๐Ÿ˜†

    BalasHapus
  4. Komentar pun susah, Om๐Ÿ˜ญ

    BalasHapus
  5. Gak masuk komentarku Om๐Ÿ˜ญ

    BalasHapus