Rudi Hendrik Novel - Laporan media asing menunjukkan bahwa kelompok paramiliter yang dikenal sebagai Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Sudan telah membantai penduduk desa di wilayah selatan.
Hindustan
Times melaporkan
pada Selasa (18/2), lebih dari 200 orang, termasuk wanita dan anak-anak, tewas
dalam serangan terhadap desa-desa di Sudan selatan.
Menurut
laporan tersebut, para militan RSF, yang terlibat dalam konflik selama hampir
dua tahun dengan tentara Sudan, baru-baru ini menargetkan penduduk desa sipil
di daerah-daerah yang tidak memiliki kehadiran militer.
Sebuah
kelompok pemantau perang menyatakan pada Selasa, militan Sudan menewaskan lebih
dari 200 orang, termasuk wanita dan anak-anak, dalam serangan tiga hari
terhadap desa-desa di selatan negara itu.
Laporan
menunjukkan bahwa militan RSF telah menyerang Desa Al-Kadris dan Al-Khalwat di
Negara Bagian Nil Putih selama tiga hari terakhir, melakukan pembantaian
terhadap warga sipil.
Organisasi
pemantau perang juga melaporkan bahwa selama serangan itu, pasukan RSF terlibat
dalam "eksekusi, penculikan, penghilangan paksa, dan penjarahan,"
yang mengakibatkan ratusan orang terluka atau hilang.
Sudan yang
terletak di Afrika timur laut, telah mengalami konflik internal yang mematikan
dalam beberapa tahun terakhir. Sejak April 2023, negara tersebut terlibat dalam
perang mematikan antara pasukan Abdel Fattah al-Burhan, komandan tentara, dan
Mohamed Hamdan Dagalo, komandan RSF.
Perang ini
telah mengakibatkan puluhan ribu kematian, membuat lebih dari 12 juta orang
mengungsi, dan telah digambarkan oleh Komite Penyelamatan Internasional sebagai
salah satu krisis kemanusiaan paling mematikan, juga menyebutnya sebagai
"krisis kemanusiaan terbesar yang pernah tercatat hingga saat ini."
Konflik
yang sedang berlangsung telah memperburuk situasi kemanusiaan, yang menyebabkan
pengungsian yang meluas dan kekurangan sumber daya penting yang parah.
Organisasi-organisasi
internasional menyerukan gencatan senjata segera dan bantuan kemanusiaan untuk
meringankan penderitaan warga sipil yang terkena dampak kekerasan. []
Sumber: Mi’raj
News Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar