Mau Pulang, Bab14 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*

 

Lisa: Gue takuuut!

Pendaki1: Kenapa, Neng? Istighfar, istighfar. Santai dulu, jangan ‘takut, takut, takut’! Baca bismi!

Lisa: Pak, saya mau pulang. (Lemah)

Pendaki1: Mau pulang ke mana? Ini ‘kan masih di atas gunung. Kalau mau pulang, besok. Ini masih malam.

Lisa: Pak, mau pulang. Pak, mau pulang!

Lisa terus merengek.

Rina: Gue curiga, jangan-jangan ini anak kecil yang kakinya belah itu, yang di tebing. (Dalam hati)

Sementara itu, tenda menjadi becek oleh darah haid Lisa.

Rina dan yang lainnya lalu membersihkan darah Lisa. Lisa sendiri istirahat dan yang lainnya rapi-rapi.

Pendaki senior memberikan Lisa teh hangat yang dibuatnya sendiri.

Pendaki1: Minum, Neng! Gak apa-apa, minum yang ini saja biar hangat.

Lisa pun meminum teh hangatnya.

Tiga puluh menit kemudian, setelah yang lainnya rapi-rapi, Lisa kembali kumat seperti tadi, sampai-sampai dia tersiram teh di gelasnya sendiri.

Lisa kejang lagi dan gerakannya sangat kencang.

Rina dan rekan-rekannya terkejut dan ramai kembali.

Pendaki senior dan rekan-rekannya segera datang lagi ke tenda tersebut.

Pendaki1: Kenapa lagi?

Elang: Begini lagi.

Pendaki1: Udah, lakuin saja yang kayak tadi, biar cepat sadar.

Kembali Lisa diruqyah dan diazani, tetapi tidak juga sadar.

Lisa: Eee … mau pulang. Mau pulang. (Merintih pelan)

Lisa terus mengulangi ucapan itu dalam kondisi yang kejang-kejang.

Rina: Gue ngeri kalau Lisa diajak sama yang masukin. (Cemas)

Rina: Sa, jangan ngomong kayak gitu, kasih kita semangat dong. Kita sudah sampai sini. (Sedih)

Lisa terus mengucapkan kalimat “mau pulang”, sampai pagi.

Tim tidak diberi kesempatan untuk istirahat sampai pagi, dari sekitar pukul 20.30 sampai 04.00 WIB.

Rina dan Tim benar-benar merasa lelah dan kurang istirahat.

Gito: Coba bongkar tasnya, siapa tahu dia bawa jimat atau apa. Kok sampai separah ini?

Rina lalu membongkar tas milik Lisa, tetapi tidak menemukan benda mencurigakan.

Rina: Enggak ada, Bang.

Di dalam hati, Rina membenarkan kecurigaan Gito, karena ayah Lisa termasuk orang yang mengerti dunia msitis dan perjimatan. Mereka khawatir tanpa sepengetahuan mereka, Lisa membawa benda dari pemberian ayahnya untuk jaga-jaga.

Rina terus memeriksa dengan seksama, sampai baju Lisa yang hanya satu di tas dibuka semua lipatannya.

Rina: Enggak ada apa-apa, Bang.

Sementara itu, wajah Lisa sudah sangat pucat dan badannya sangat dingin.

Rina: Masak sih gue harus kehilangan sahabat di sini? (Menangis)

Pendaki1: Kalau umur dia masih panjang, bagaimana pun dia pasti tetap akan hidup. Sudah, Neng, pikirannya jangan negatif, berdoa saja supaya temannya sadar.

Rina: Tapi bagaimana, Pak? Ini dia enggak mau ngomong. Salah kita apa?

Sampai saat itu, tenda terus goyang hanya karena Lisa yang terus kejang dan bergerak-gerak kencang. Darah haid pun terus keluar.

Rina tadi sudah mengganti celana Lisa, jadi kini dia sudah tidak punya celana ganti. Sampai darahnya kering di celana.

Rina: Kenapa ya, Lisa kan badannya kecil, kenapa bisa ngegoyang tenda sekencang itu?

Sultan: Aduh kacau. Ngeri kenapa-kenapa nih. Bakal habis kita.

Rina: Bagaimana ya celananya?

Elang: Udah, enggak usah dibuka-buka, nanti malah kedinginan, takutnya hipo.

Hingga akhirnya, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.

Sementara Lisa masih dalam kondisi kejang dan dibiarkan begitu, sebab Tim dan pendaki senior sudah bingung harus berbuat apa untuk menyadarkannya.

Rina: Ya Allah, bagaimana bisa turun kalau kondisi Lisa begini terus? (Dalam hati)

Rina: Ya Allah, kalau Lisa bisa turun dengan selamat, gue janji enggak akan naik gunung lagi. (Dalam hati)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar