*Siksa Dari Gunung*
Lisa: Gue takuuut!
Pendaki1: Kenapa,
Neng? Istighfar, istighfar. Santai dulu, jangan ‘takut, takut, takut’! Baca
bismi!
Lisa: Pak, saya mau
pulang. (Lemah)
Pendaki1: Mau pulang
ke mana? Ini ‘kan masih di atas gunung. Kalau mau pulang, besok. Ini masih
malam.
Lisa: Pak, mau
pulang. Pak, mau pulang!
Lisa terus merengek.
Rina: Gue curiga,
jangan-jangan ini anak kecil yang kakinya belah itu, yang di tebing. (Dalam
hati)
Sementara itu, tenda
menjadi becek oleh darah haid Lisa.
Rina dan yang lainnya
lalu membersihkan darah Lisa. Lisa sendiri istirahat dan yang lainnya
rapi-rapi.
Pendaki senior
memberikan Lisa teh hangat yang dibuatnya sendiri.
Pendaki1: Minum,
Neng! Gak apa-apa, minum yang ini saja biar hangat.
Lisa pun meminum teh
hangatnya.
Tiga puluh menit
kemudian, setelah yang lainnya rapi-rapi, Lisa kembali kumat seperti tadi,
sampai-sampai dia tersiram teh di gelasnya sendiri.
Lisa kejang lagi dan
gerakannya sangat kencang.
Rina dan
rekan-rekannya terkejut dan ramai kembali.
Pendaki senior dan
rekan-rekannya segera datang lagi ke tenda tersebut.
Pendaki1: Kenapa
lagi?
Elang: Begini lagi.
Pendaki1: Udah,
lakuin saja yang kayak tadi, biar cepat sadar.
Kembali Lisa diruqyah
dan diazani, tetapi tidak juga sadar.
Lisa: Eee … mau
pulang. Mau pulang. (Merintih pelan)
Lisa terus mengulangi
ucapan itu dalam kondisi yang kejang-kejang.
Rina: Gue ngeri kalau
Lisa diajak sama yang masukin. (Cemas)
Rina: Sa, jangan
ngomong kayak gitu, kasih kita semangat dong. Kita sudah sampai sini. (Sedih)
Lisa terus
mengucapkan kalimat “mau pulang”, sampai pagi.
Tim tidak diberi
kesempatan untuk istirahat sampai pagi, dari sekitar pukul 20.30 sampai 04.00
WIB.
Rina dan Tim
benar-benar merasa lelah dan kurang istirahat.
Gito: Coba bongkar
tasnya, siapa tahu dia bawa jimat atau apa. Kok sampai separah ini?
Rina lalu membongkar
tas milik Lisa, tetapi tidak menemukan benda mencurigakan.
Rina: Enggak ada,
Bang.
Di dalam hati, Rina
membenarkan kecurigaan Gito, karena ayah Lisa termasuk orang yang mengerti
dunia msitis dan perjimatan. Mereka khawatir tanpa sepengetahuan mereka, Lisa
membawa benda dari pemberian ayahnya untuk jaga-jaga.
Rina terus memeriksa
dengan seksama, sampai baju Lisa yang hanya satu di tas dibuka semua
lipatannya.
Rina: Enggak ada
apa-apa, Bang.
Sementara itu, wajah
Lisa sudah sangat pucat dan badannya sangat dingin.
Rina: Masak sih gue
harus kehilangan sahabat di sini? (Menangis)
Pendaki1: Kalau umur
dia masih panjang, bagaimana pun dia pasti tetap akan hidup. Sudah, Neng,
pikirannya jangan negatif, berdoa saja supaya temannya sadar.
Rina: Tapi bagaimana,
Pak? Ini dia enggak mau ngomong. Salah kita apa?
Sampai saat itu,
tenda terus goyang hanya karena Lisa yang terus kejang dan bergerak-gerak
kencang. Darah haid pun terus keluar.
Rina tadi sudah
mengganti celana Lisa, jadi kini dia sudah tidak punya celana ganti. Sampai
darahnya kering di celana.
Rina: Kenapa ya, Lisa
kan badannya kecil, kenapa bisa ngegoyang tenda sekencang itu?
Sultan: Aduh kacau.
Ngeri kenapa-kenapa nih. Bakal habis kita.
Rina: Bagaimana ya
celananya?
Elang: Udah, enggak
usah dibuka-buka, nanti malah kedinginan, takutnya hipo.
Hingga akhirnya,
waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Sementara Lisa masih
dalam kondisi kejang dan dibiarkan begitu, sebab Tim dan pendaki senior sudah bingung
harus berbuat apa untuk menyadarkannya.
Rina: Ya Allah,
bagaimana bisa turun kalau kondisi Lisa begini terus? (Dalam hati)
Rina: Ya Allah, kalau Lisa bisa turun dengan selamat, gue janji enggak akan naik gunung lagi. (Dalam hati)


0 komentar:
Posting Komentar