SAAT malam tiba di Gaza Utara, sebagian besar pemandangan kota yang dipenuhi bangunan runtuh dan tumpukan puing berubah menjadi gelap gulita.
Putra-putra Rawya Tamboura yang masih kecil ikut tinggal di
dalam reruntuhan rumahnya. Mereka takut gelap, jadi sang ibu menyalakan senter
dan lampu ponselnya untuk menghibur mereka, selama baterainya masih ada.
Terlantar selama perang yang berlangsung sekitar 16 bulan,
Tamboura kembali ke rumahnya. Namun, rumahnya masih seperti cangkang kehidupan
yang membuat frustrasi.
“Tidak ada air bersih, listrik, pemanas atau layanan, dan
tidak ada peralatan untuk membersihkan puing-puing,” katanya.
Hampir 600.000 warga Palestina membanjiri kembali Gaza Utara
di bawah gencatan senjata yang kini telah berlangsung sebulan di Gaza, menurut
Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Setelah kelegaan dan kegembiraan awal karena mereka bisa kembali
ke rumah, meskipun rusak atau hancur, mereka sekarang menghadapi kenyataan
hidup di reruntuhan untuk masa mendatang.
“Beberapa orang berharap perang tidak pernah berakhir,
karena merasa lebih baik terbunuh,” kata Tamboura. “Saya tidak tahu apa yang
akan kami lakukan dalam jangka panjang. Otak saya berhenti merencanakan masa
depan.”
Gencatan senjata selama enam pekan akan berakhir pada Sabtu,
29 Februari 2025, dan tidak pasti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ada upaya untuk memperpanjang ketenangan saat fase
berikutnya dinegosiasikan. Jika pertempuran meletus lagi, mereka yang kembali
ke utara bisa mendapati diri mereka sekali lagi di tengah-tengah perang.
Sebuah laporan pekan lalu oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni
Eropa memperkirakan akan menelan biaya sekitar $53 miliar untuk membangun
kembali Gaza, setelah seluruh lingkungan dihancurkan oleh perang genosida
Israel di daerah kantong Palestina yang berpenduduk padat itu. Saat ini, hampir
tidak ada kapasitas atau dana untuk memulai pembangunan kembali yang
signifikan.
Pemerintah kota Gaza mulai memperbaiki beberapa saluran air
dan membersihkan puing-puing dari jalan-jalan, kata seorang juru bicara, Asem
Alnabih. Namun, mereka kekurangan peralatan berat. Sementara ini hanya ada 40
buldoser dan lima truk sampah yang masih berfungsi, katanya.
Bertahan hidup dari hari ke hari
Rumah Tamboura di kota utara Beit Lahiya hancur oleh
serangan udara di awal perang, jadi dia dan keluarganya tinggal di Rumah Sakit
Indonesia yang ada di dekatnya. Di rumah sakit yang dibangun oleh MER-C
Indonesia tersebut, di bekerja sebagai perawat.
Setelah gencatan senjata, mereka pindah kembali ke
satu-satunya kamar di rumahnya yang masih setengah utuh. Langit-langitnya
sebagian runtuh, dindingnya retak, lemari es dan wastafel yang masih ada tidak
dapat digunakan karena tidak ada air atau listrik. Mereka menumpuk seprai dan
selimut di sudut.
Tamboura mengatakan, putranya yang berusia 12 tahun membawa
wadah air yang berat dua kali sehari dari stasiun distribusi. Mereka juga harus
mencari kayu bakar untuk memasak. Masuknya bantuan, maka berarti ada makanan dan
harganya di pasar akan turun. Namun meski turun, harga itu tetap mahal.
Karena Rumah Sakit Indonesia terlalu rusak untuk berfungsi,
Tamboura berjalan kaki satu jam setiap hari untuk bekerja di Rumah Sakit Kamal
Adwan. Dia mengisi daya ponselnya dan suaminya menggunakan generator rumah
sakit.
Banyak kerabat Tamboura yang kembali tanpa menemukan apa pun
yang tersisa dari rumah mereka, sehingga mereka tinggal di tenda-tenda di atas
atau di samping reruntuhan bangunan yang tertiup angin musim dingin atau banjir
saat hujan.
“Saya takut menghadapi kenyataan ini”
Sementara Asmaa Dwaima dan keluarganya kembali ke Kota Gaza,
tetapi dia harus menyewa apartemen karena rumah mereka di lingkungan Tel
al-Hawa hancur. Hanya beberapa pekan setelah kembali, dia pergi mengunjungi
rumah empat lantai miliknya, yang sekarang hanya berupa tumpukan puing yang
rata dengan tanah dan terbakar.
“Saya tidak bisa datang ke sini karena saya takut. Saya
membayangkan rumah saya dalam pikiran saya, keindahannya, dan kehangatannya.
Saya takut menghadapi kenyataan ini,” kata dokter gigi berusia 25 tahun itu.
“Mereka tidak hanya menghancurkan batu, mereka juga menghancurkan kita dan
identitas kita.”
“Kami perlu menyingkirkan puing-puing karena kami ingin
mengeluarkan pakaian dan beberapa barang kami,” katanya. “Kami membutuhkan
peralatan berat. Tidak ada batu bata atau peralatan konstruksi lainnya dan,
jika tersedia, harganya sangat mahal.”
Keputusasaan semakin meningkat
Tess Ingram, Juru Bicara UNICEF yang mengunjungi Gaza Utara
sejak gencatan senjata, mengatakan bahwa keluarga yang ditemuinya “berduka atas
kehidupan yang pernah mereka jalani saat mereka mulai membangun kembali.”
Keputusasaan mereka, katanya, "semakin intens."
Huda Skaik, seorang mahasiswa berusia 20 tahun, harus berbagi
kamar dengan tiga saudara kandung dan orang tuanya di rumah kakek-neneknya di
Kota Gaza. Ini merupakan peningkatan dari kehidupan di kamp-kamp tenda di Gaza Tengah,
tempat mereka mengungsi selama perang, katanya.
Di sana, mereka harus tinggal di antara orang-orang asing,
dan tenda mereka hanyut oleh hujan. Setidaknya di sini mereka memiliki tembok
dan bersama keluarga, katanya.
Sebelum perang terjadi, Skaik baru saja mulai belajar sastra
Inggris di Universitas Islam Gaza. Dia sekarang terdaftar dalam kelas daring
yang diselenggarakan universitas tersebut. Namun, internetnya lemah, dan
listriknya bergantung pada panel surya yang tidak selalu berfungsi.
"Bagian terburuknya adalah kami baru menyadari bahwa kami telah kehilangan segalanya," katanya. "Kehancurannya sangat besar, tetapi saya berusaha untuk tetap positif." []
Sumber: Mi’raj News Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar