*Siksa Dari Kubur*
Di Simpang Maleber.
Tiba-tiba Lisa menunjuk.
Lisa: Iiih, itu desa.
Itu desa!
Rina: Yah, ini anak
begitu lagi. (Lirih)
Lisa: Itu desa,
lihatin deh. Itu desa, tahu.
Lisa terus menunjuk
ke satu arah. Padahal tidak ada desa di Simpang Maleber.
Lisa: Ih lucu,
anak-anaknya kecil-kecil.
Elang: Berdoa aja,
Rin. Di sini energinya memang kuat banget. Elu yang harusnya berkomunikasi,
bukan dia.
Rina: A’, kayaknya
memang enakan lewat Cibodas ya.
Elang: Udah lu jangan
bolak balik bolak balik, makan waktu. Sudah enggak apa-apa, sudah sampai sini.
Lisa: Itu desanya
panjang tahu, Rin.
Sepanjang jalan
turun, Lisa menceritakan kepada Rina tentang desa yang dilihatnya sendiri.
Lisa: Ini dulunya
perkampungan, Rin. Warganya itu kecil-kecil, Rin.
Rina: Oh iya ya ya.
Rina tidak begitu
serius menanggapi cerita Lisa. Dia khawatir ada makhluk yang menempeli Lisa,
kemudian dia masuk dan bisa membawanya ikut ke dimensi desa itu.
Rina: Gue kayak
ngomong sama orang halu. (Dalam hati)
Rina: Fokus, fokus,
fokus. (Dalam hati)
Setibanya di sebuah
warung, Rina berhenti.
Elang: Jangan
berhenti terus, kita kan turun, enggak secapek kalau naik. Udah duluan.
Rina dan Lisa jalan
di depan. Namun, ketika turun itu, Rina mengalami pusing yang sangat, seperti
vertigo.
Pandangan Rina
berputar. Dia berusaha bertahan.
Rina: A’, pegangin
dong, gue pusing banget.
Elang: Aduuuh, enggak
yang ini, yang ini. Udahlah, istirahat dulu!
Ketika kakaknya
berkata “istirahat”, Rina melihat sekelilingnya gelap pekat, lebih gelap
daripada mati lampu, padahal itu siang.
Rina: Ayo, Rin,
jangan masuk, istighfar, istighfar! (Dalam hati)
Namun, Rina merasakan
seolah dirinya dikelilingi oleh banyak orang. Semakin banyak dan terus banyak,
sampai Rina merasa sesak karena terdesak oleh mereka.
Kemudian, perlahan
pandangan Rina menjadi terang kembali dengan kepala tetap pusing. Ternyata Rina
mengalami hal yang sama ketika Lisa berdoa di atas.
Rina melihat dirinya
dikelilingi oleh banyak perempuan bertubuh tembus pandang. Mereka semua
mengenakan kerudung putih panjang ke bawah seperti selendang.
Sosok-sosok wanita
itu terus memutari tubuh Rina.
Jin 1: Saya yang tadi
di telaga.
Rina mendengar suara,
tapi tidak melihat ada dari para wanita itu yang bicara.
Jin 1: Kenapa saya
usir kamu, karena Ratu enggak pakai busana. Ratu malu kalau dilihat manusia,
apalagi pendaki yang sering istirahat di sini.
Setelah mendengar
suara itu, Rina melihat kemunculan kakek yang sebelumnya pernah mencekiknya.
Kakek itu telanjang
tapi membawa sebatang tongkat. Meski telanjang, tetapi Rina tidak bisa melihat
ke arah kemaluannya. Rina tahu bahwa kakek itu telanjang, tetapi entah mengapa
Rina tidak bisa memandang ke tubuh bawah si kakek itu.
Jin 1: Ambil dan bawa
pulang!
Namun, Rina sangat
tidak mengerti maksud perintah itu.
Rina: Gue mau balik
ke diri gue. Kenapa enggak ada yang bangunin gue pas gue enggak sadar. (Dalam
hati)
Rina tetap dikepung
oleh para wanita gaib itu.
Jin 1: Kamu enggak
akan bisa turun.
Rina: Tapi saya mau
turun. Saya minta maaf jika saya buat salah kepada kalian.
Rina bicara, tapi
bibirnya tidak berucap. Kata-katanya seolah terucap melalui hati atau batin,
atau telepati.
Rina merasa sekitar
30 menit berada di alam gaib.
Ia tersadar karena
rambutnya dihentak oleh seorang bapak-bapak.
Bapak 2: Neng,
kenapa?
Rina: Pusing.
Rina tidak berani
cerita.
Bapak 2: Neng,
cepatan turun, pergi dari sini, takutnya nanti begitu lagi.
Bapak 2: Pokoknya
mah, saya dengar dari orang-orang yang bisa ngelihat setan, pasti ngelihat di
sini. Udah, mendingan turun ke bawah, enggak usah pakai istirahat lagi.
Bapak 2: Kalau benar-benar capek, istirahatnya berdiri saja, lalu minum, jangan duduk. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar