Wanita Transparan, Bab17 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Kubur*


Di Simpang Maleber. Tiba-tiba Lisa menunjuk.

Lisa: Iiih, itu desa. Itu desa!

Rina: Yah, ini anak begitu lagi. (Lirih)

Lisa: Itu desa, lihatin deh. Itu desa, tahu.

Lisa terus menunjuk ke satu arah. Padahal tidak ada desa di Simpang Maleber.

Lisa: Ih lucu, anak-anaknya kecil-kecil.

Elang: Berdoa aja, Rin. Di sini energinya memang kuat banget. Elu yang harusnya berkomunikasi, bukan dia.

Rina: A’, kayaknya memang enakan lewat Cibodas ya.

Elang: Udah lu jangan bolak balik bolak balik, makan waktu. Sudah enggak apa-apa, sudah sampai sini.

Lisa: Itu desanya panjang tahu, Rin.

Sepanjang jalan turun, Lisa menceritakan kepada Rina tentang desa yang dilihatnya sendiri.

Lisa: Ini dulunya perkampungan, Rin. Warganya itu kecil-kecil, Rin.

Rina: Oh iya ya ya.

Rina tidak begitu serius menanggapi cerita Lisa. Dia khawatir ada makhluk yang menempeli Lisa, kemudian dia masuk dan bisa membawanya ikut ke dimensi desa itu.

Rina: Gue kayak ngomong sama orang halu. (Dalam hati)

Rina: Fokus, fokus, fokus. (Dalam hati)

Setibanya di sebuah warung, Rina berhenti.

Elang: Jangan berhenti terus, kita kan turun, enggak secapek kalau naik. Udah duluan.

Rina dan Lisa jalan di depan. Namun, ketika turun itu, Rina mengalami pusing yang sangat, seperti vertigo.

Pandangan Rina berputar. Dia berusaha bertahan.

Rina: A’, pegangin dong, gue pusing banget.

Elang: Aduuuh, enggak yang ini, yang ini. Udahlah, istirahat dulu!

Ketika kakaknya berkata “istirahat”, Rina melihat sekelilingnya gelap pekat, lebih gelap daripada mati lampu, padahal itu siang.

Rina: Ayo, Rin, jangan masuk, istighfar, istighfar! (Dalam hati)

Namun, Rina merasakan seolah dirinya dikelilingi oleh banyak orang. Semakin banyak dan terus banyak, sampai Rina merasa sesak karena terdesak oleh mereka.

Kemudian, perlahan pandangan Rina menjadi terang kembali dengan kepala tetap pusing. Ternyata Rina mengalami hal yang sama ketika Lisa berdoa di atas.

Rina melihat dirinya dikelilingi oleh banyak perempuan bertubuh tembus pandang. Mereka semua mengenakan kerudung putih panjang ke bawah seperti selendang.

Sosok-sosok wanita itu terus memutari tubuh Rina.

Jin 1: Saya yang tadi di telaga.

Rina mendengar suara, tapi tidak melihat ada dari para wanita itu yang bicara.

Jin 1: Kenapa saya usir kamu, karena Ratu enggak pakai busana. Ratu malu kalau dilihat manusia, apalagi pendaki yang sering istirahat di sini.

Setelah mendengar suara itu, Rina melihat kemunculan kakek yang sebelumnya pernah mencekiknya.

Kakek itu telanjang tapi membawa sebatang tongkat. Meski telanjang, tetapi Rina tidak bisa melihat ke arah kemaluannya. Rina tahu bahwa kakek itu telanjang, tetapi entah mengapa Rina tidak bisa memandang ke tubuh bawah si kakek itu.

Jin 1: Ambil dan bawa pulang!

Namun, Rina sangat tidak mengerti maksud perintah itu.

Rina: Gue mau balik ke diri gue. Kenapa enggak ada yang bangunin gue pas gue enggak sadar. (Dalam hati)

Rina tetap dikepung oleh para wanita gaib itu.

Jin 1: Kamu enggak akan bisa turun.

Rina: Tapi saya mau turun. Saya minta maaf jika saya buat salah kepada kalian.

Rina bicara, tapi bibirnya tidak berucap. Kata-katanya seolah terucap melalui hati atau batin, atau telepati.

Rina merasa sekitar 30 menit berada di alam gaib.

Ia tersadar karena rambutnya dihentak oleh seorang bapak-bapak.

Bapak 2: Neng, kenapa?

Rina: Pusing.

Rina tidak berani cerita.

Bapak 2: Neng, cepatan turun, pergi dari sini, takutnya nanti begitu lagi.

Bapak 2: Pokoknya mah, saya dengar dari orang-orang yang bisa ngelihat setan, pasti ngelihat di sini. Udah, mendingan turun ke bawah, enggak usah pakai istirahat lagi.

Bapak 2: Kalau benar-benar capek, istirahatnya berdiri saja, lalu minum, jangan duduk. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar