![]() |
| Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur. (Foto: Rudi/MINA) |
(RajaDumay.com) --- Kantor berita Islam
Mi’raj (MINA) meluncurkan buku “3 Tahun MINA” di usia tiga tahun berdirinya di
Indonesia.
Buku yang berisi
tentang sejarah berdirinya MINA dan berbagai prestasinya dalam usia singkat
itu, diluncurkan pada Sabtu (19/12) oleh Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah
Mansur di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor.
Buku pertama yang
diterbitkan oleh MINA Publishing House
tersebut juga menceritakan berbagai kisah para wartawan yang bekerja dari “nol”
pengalaman dalam hal jurnalistik dengan status beramal saleh.
Dalam sambutannya,
Yakhsyallah selaku pemimpin yang bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan
perjuangan kantor berita Islam pertama di dunia ini, mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah meluangkan waktu, tenaga dan biaya demi
memperjuangkan Islam dan Muslimin melalui MINA.
“Bagi semua
reporter dan manajemen MINA agar dapat mensyukuri apa yang telah dicapai,
prestasi yang telah diraih dan semua yang telah didapatnya dengan bekerja lebih
giat lagi,” katanya.
Sementara itu,
Pimpinan Redaksi MINA Ismet Rauf mengatakan, melihat prestasi dalam usia tiga
tahun untuk level sebuah kantor berita, ia mengaku optimis untuk pencapaian di
masa yang akan datang.
“Insya Allah ada alasan untuk optimis. Tentu
dengan niat ikhlas karena Allah, dengan kerja keras semua pihak,” katanya.
Ismet membandingkan
dengan Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA,
kantor berita tertua yang masih ada di Indonesia, didirikan pada 1973.
Sementara di luar negeri, kantor berita tingkat dunia sudah berusia lebih
seratus tahun.
“Melihat pencapaian
selama tiga tahun MINA dan peluang-peluang yang terbuka, rasa hormat perlu kita
lafazkan pada Muhyiddin Hamidy, Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah),” kata Ismet,
mengenang mendiang pendiri dan Pemimpin Umum MINA yang wafat pada 12 Desember
2014.
Sosok Muhyiddin
Hamidy juga banyak dikisahkan di dalam buku tersebut.
MINA adalah sebuah
kantor berita internasional yang memproduksi berita dan tulisan secara online dengan versi tiga bahasa, yaitu
Arab, Inggris dan Indonesia.
MINA didirikan
sebagai wujud nyata hasil dari keputusan Konferensi Internasional Pembebasan
Al-Aqsha di Bandung 2012 yang dihadiri oleh ulama dari 22 negara, termasuk Imam
Besar Masjid Al-Aqsha Syaikh Ali Omar Yakob Al-Abbasi.
MINA juga sudah memiliki
koresponden di beberapa negara, khususnya di Gaza, Palestina.
Dalam
perjalanannya, berita-berita MINA telah banyak dikutip oleh berbagai media
nasional dan asing. (Rudi Hendrik)
(Sumber: MirajNews.com/id)


0 komentar:
Posting Komentar