Oleh Hery Nurdi
Allama Muhammad Iqbal pernah
berkisah tentang dirinya, ayahnya dan Al-Quran. “Saya biasa membaca Al-Quran
selepas salat Subuh. Dan ayah, selalu mengawasi,” tuturnya.
Tidak saja mengawasi, sang ayah
juga bertanya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya sang ayah. Padahal jelas-jelas
sang ayah melihat anaknya sedang mengaji.
“Aku menjawabnya, sedang membaca
Al-Quran,” kenang Muhammad Iqbal. Pertanyaan itu diulang-ulang oleh sang ayah
setiap pagi, selepas subuh, selama tiga tahun penuh. Jawaban yang diberikan
juga sama, setiap pagi, selepas subuh, setahun penuh, Muhammad Iqbal menjawab
sedang mengaji Al-Quran.
Lalu, suatu hari Muhammad Iqbal
memberanikan diri bertanya kepada sang ayah, “Mengapa Ayah selalu menanyakan
pertanyaan yang sama, padahal jawaban saya juga selalu sama?”
“Nak, bacalah Al-Quran itu
seolah-olah diturunkan langsung kepadamu,” jawab ayahnya. Dan sejak saat itu,
Muhammad Iqbal mengetahui apa pesan di balik pertanyaan ayahnya. Sejak saat itu
pula, Muhammad Iqbal senantiasa membangun atmosfir di dalam dirinya,
seolah-olah Al-Quran itu turun langsung untuknya. Muhammad Iqbal tidak saja
membaca, tapi juga mencoba mengerti. Tidak saja mampu mengerti, tapi juga
memahami. Tidak sebatas memahami, tapi juga mengejawantah. Tidak saja
mengejawantah, tapi juga mencoba untuk menyampaikan kembali isi al-Qur’an
seperti yang dipahaminya.
Maka hari ini kita mengenang nama
Muhammad Iqbal sebagai salah satu tokoh besar dalam dunia Islam. Bahkan
beberapa kalangan menyebutnya sebagai salah satu mujaddid atau pembaharu dalam
sejarah Islam. Muhammad Iqbal pantas dan layak menjadi besar, sebab yang ia
baca, mengerti, pahami, serta ejawantah dan yang ia sampaikan adalah hal yang
sangat besar, yaitu Al-Quran.
Dan lebih dari segalanya, ia
mampu membangun sesuatu yang sangat besar: perasaan bahwa Al-Quran diturunkan
langsung untuk dirinya.
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan
barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 185).
Hari ini, kurang lebih ada 1,6
miliar manusia yang berikrar sebagai seorang Muslim. Mereka tersebar di seluruh
penjuru dunia. Di Barat dan di Timur. Masing-masing berjibaku dengan hidupnya.
Masing-masing sibuk dengan segala agenda. Mencoba memecahkan segala masalah
dalam berbagai peristiwa. Bertarung dengan pilihan-pilihan yang tidak ringan
dalam kehidupan. Sampai-sampai akhirnya mereka lupa, bahwa sesungguhnya Sang
Pencipta Manusia telah membekali kitab panduan tempat segala masalah menemukan
jawaban, tempat segala musykilah
menemukan rujukan. Al-Quran.
Dengan terang Allah SWT
menyebutkan, Dia tidak menghendaki kesukaran untuk kita. Dia menghendaki
kemudahan untuk manusia.
Hari ini, berapa banyak orang
yang mampu membangun atmosfer seperti yang telah mampu dibangun oleh Muhammad
Iqbal. Di belahan Asia Tenggara ini sama, kaum Muslimin berjumlah tak kurang
dari 400 juta manusia. Dan hampir setengah dari jumlah di atas, lahir, hidup
dan tinggal di Indonesia. Negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di
dunia.
Mari kita ulang pertanyaannya. Berapa
banyak dari jumlah Muslimin di Indonesia yang memiliki perasaan yang sama
dengan Muhammad Iqbal? Atau kita perlu mengerucutkan sasaran pertanyaan. Berapa
banyak pemimpin-pemimpin umat Islam yang mampu menghadirkan perasaan, bahwa Al-Quran
ini diturunkan untuk dirinya, bukan untuk orang lain, bukan untuk jamaah lain,
bukan untuk kaum yang lain? Berapa banyak?
Bulan ini adalah bulan penuh berkah.
Bulan diturunkannya Al-Quran yang mulia, petunjuk bagi manusia. Jika hari ini
kaum Muslimin mampu menghadirkan rasa di atas di dalam jiwa, insya Allah, 50 persen dari masalah
sudah teratasi dengan sendirinya. Baik masalah internal ataupun eksternal.
Dan jika kita sudah mampu
melakukannya, insya Allah kita juga
berani dengan gagah akan berkata, “Takun
daulatal islamiyah fii qalbika takun fi ardhika.” Tegakkan dulu Islam di
hatimu, maka dia akan tegak sendirinya di muka dunia. Amin.


0 komentar:
Posting Komentar