Oleh Rudi Hendrik,
jurnalis Mi’raj Islamic News Agency
(MINA)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ
يَعْلَمُونَ
Artinya,
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan
oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan
mereka).” (QS. Al-Hijr [15] ayat 3).
عَنْ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ : خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ
خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ
جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ
مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ
وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ
هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا (رواه البخاري)]
Dari
Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di
tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian
beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya
(persegi yang digambar Nabi). Dan beliau bersabda, “Ini adalah manusia, dan
(persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang
keluar ini, adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah
penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka
kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang
setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti
tertimpa ketuarentaan.” (HR. Bukhari).
Dalam menilai
gambar yang dibuat oleh Rasulullah tersebut ada perbedaan di kalangan ulama.
Ibnu Hajar Al-Asqalani
dalam mensyarahi hadits di atas, membuat beberapa gambar yang masing-masing
berbeda.
Angan-angan manusia
itu ada dua macam. Pertama, angan-angan yang bisa tercapai, yaitu yang
ditunjuki oleh garis-garis yang berada di luar lingkaran yang sekaligus sebagai
pembatas. Kedua, angan-angan yang tidak mungkin tercapai, yaitu yang ditunjuki
oleh garis yang berada di luar lingkaran (kotak).
Dari keterangan di
atas, maka dapat diambil pengertian bahwa manusia itu hidup didalam
keterbatasan. Semua indera dan fungsi tubuhnya yang diberikan oleh Allah serba
terbatas kemampuannya.
Namun, cita-cita
dan angan-angan manusia itu jauh lebih panjang dari pada ajalnya. Sesuatu yang
diangan-angankan itu biasanya tidak akan jauh dari yang namanya harta dan umur
panjang. Sudah menjadi fitrahnya bahwa masing-masing manusia memiliki keinginan
dan harapan yang selalu didamba-dambakan.
Dengan memiliki
harta yang cukup, maka ia akan memikirkan untuk mempergunakannya, walaupun fisik
dan mentalnya sudah lemah atau berkurang.
Hadits riwayat Ibnu
Majah menyebutkan,
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ الضَّرِيرُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ
عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَيَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى
الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ
Telah
menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu'adz Ad Dlarir, telah menceritakan kepada
kami Abu Awanah, dari Qatadah, dari Anas, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
"Anak Adam akan menua, tapi ia masih tetap berjiwa muda dalam dua hal,
yaitu rakus terhadap harta kekayaan dan umur yang panjang."
Walaupun keinginan
dan cita-cita seseorang itu telah tercapai, tapi tabiat manusia tidak akan merasa
cukup dengan apa yang telah dimilikinya. Maka ia akan mencari dan mencari lagi
harapan yang lain.
Pada umumnya,
cita-cita dan kegemarannya terhadap harta dan umur panjang ini sampai melampaui
batas hingga menjadi lupa dengan adanya kematian yang pasti tapi tidak bisa
diduga kapan datangnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperingatkan
manusia di dalam firman-Nya,
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya, ”Bermegah-megahan
telah melalaikan kamu, sampai (kamu) masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur
[102] ayat 1-2).
Dalam hadits
riwayat Muslim dijelaskan,
و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ
أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَوْ كَانَ لِابْنِ
آدَمَ وَادٍ مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنَّ لَهُ وَادِيًا آخَرَ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ
إِلَّا التُّرَابُ وَاللَّهُ يَتُوبُ عَلَى مَنْ تَابَ
Telah menceritakan
kepadaku Harmalah bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, telah
mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau
bersabda, "Andai kata anak Adam itu memiliki emas satu lembah, niscaya
ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulut (hawa
nafsu)-nya melainkan tanah (maut). Dan Allah menerima taubat siapa saja yang
bertaubat kepada-Nya."
Oleh karenanya,
betapa pun tingginya angan-angan manusia terhadap harta dan kesenangan dunia,
namun jangan sekali-kali melupakan satu hal yang pasti, yakni mati.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya, “Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran [3] ayat 185).
Hendaklah bagi
seorang Muslim, jangan melampaui batas dalam hal cita-cita dan angan-angannya.
Namun bukan berarti mereka tidak boleh memiliki cita-cita lalu menjadi orang
kaya.
Memangkas Angan-Angan, Mamfaatkan Harta
Panjangnya
angan-angan atau hayalan telah disebutkan sebagai hal yang tidak baik. Untuk
tidak terlarut menghabiskan waktu untuk angan-angan yang melampaui batas,
seorang Muslim hendaklah terus beraktivitas secara positif. Hendaklah
mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan sekarang juga tanpa menunda-nunda
waktu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
Artinya, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah [98]
ayat 7).
Waktu adalah
pedang, maka barang siapa tidak bisa menggunakan waktu dengan baik ia akan
dilibas masa depannya.
Untuk itu setiap
kita selesai melakukan suatu urusan atau pekerjaan, segeralah menuju ke urusan
dan pekerjaan berikutnya. Jangan membuang-buang waktu untuk urusan yang tidak
bermanfaat, terutama bagi kemaslahatan umat atau kerabat (relasi atau stakeholder lainnya).
Bersungguh-sungguhlah,
maka kita akan bisa mendapatkan atau mewujudkan sesuatu yang diharapkan dan
dicita-citakan secara wajar.
Sementara itu, agar
tidak menjadi buruk lantaran berharta, maka cara tepatnya adalah seorang Muslim
harus bisa mengendalikan hartanya kepada hal yang baik, menjadikan harta yang
kita miliki dan yang kita kejar sebagai sarana untuk beribadah dan bertakwa
kepada Allha Subhanahu Wa Ta’ala.
Jangan sampai kekayaan membuat kita lupa beribadah kepada Allah yang telah
berfirman,
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ
Artinya, “Dan kelak
akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. Yang menafkahkan
hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail [92] ayat
17-18).
Ayat tersebut
menjelaskan tentang sikap Abu Bakar yang sangat spektakuler dalam
memanivestasikan keimanan dan ketakwaannya melalui harta yang dimilikinya.
Sebagai seorang
sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
yang dikaruniai nikmat harta, dia tidak pernah segan untuk mengeluarkan harta
demi kejayaan umat Islam.
Sungguh jelas, kekayaan
tidak menjadi sebab Allah menjadi marah. Yang dilarang adalah yang mengundang
murka-Nya, yaitu orang kaya yang sombong dan lupa diri dengan kekayaannya.
Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda,
نِعْمَ الْـمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
Artinya,
“Harta terbaik adalah yang dimiliki laki-laki yang salih.” (HR. Ahmad dalam
Musnad dengan sanad hasan, juz 4, hadits no. 197 dan 202).
Di
hadits lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda,
أَفْضَلُ
دِيْنَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَليَ عِيَالِهِ
Artinya,
“Dinar terbaik yang dibelanjakan oleh seseorang lelaki adalah dinar seseorang
yang dibelanjakan untuk nafkah keluarganya.” (HR. Muslim). (P001)


0 komentar:
Posting Komentar