Ketukan Siang Hari, Bab7 Sembilan Ketukan




*Sembilan Ketukan*

 

Di hari ketiga.

Sutrisno dan Eko Subagyo bekerja seperti biasa. Siang itu, Sutrisno membersihkan dinding dapur yang sudah hitam-hitam dan berjamur, lalu mengecatnya.

Sekitar pukul 12.00 WIB lewat, Sutrisno istirahat. Sementara Eko pergi ke luar untuk membeli makan siang. Maka Sutrisno sendirian di rumah tersebut.

Sutrisno yang sedang ada di dapur tiba-tiba teringat kejadian semalam, karena saat itu dia tiba-tiba merinding.

Sutrisno: Saya kok merinding seperti ini? Kenapa ya? (Bicara sendiri)

Duk duk duk! (3X)

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada belakang tembok dapur yang sedang Sutrisno cat, seperti orang yang sedang memukul tembok dengan palu. Nada ketukannya sama dengan yang dua malam sebelumnya, yaitu 3X3.

Sutrisno terkejut.

Sutrisno: Loh, ketukan ini seperti yang semalam. Jangan-jangan ini kuntilanak yang semalam.

Sutrisno langsung bangun dan berlari ke depan rumah. Di sana dia menunggu Eko sampai temannya pulang membawa makanan.

Sutrisno: Ko, sini! Saya mau tanya serius.

Eko: Kenapa?

Sutrisno: Ko, kuntilanak itu biasa muncul siang, gak sih?

Eko: Kadang-kadang muncul.

Sutrisno: Serius, Ko?

Eko: Iya seriusan.

Sutrisno: Kadang-kadang munculnya di mana?

Eko: Kalau siang begini biasanya sih di kamar mandi.

Sutrisno: Sumpah?

Eko: Iya, sumpah, benaran.

Eko: Kenapa memangnya kamu tanya seperti itu, Tri?

Sutrisno: Saya tadi dengar suara ketokan itu lagi, Ko. Tapi kali ini di dinding belakang.

Eko: Ya iya, itu memang dia. Kalau dia mau datang, memang suka ngetok-ngetokin. Semalam kamu lihat gak sih mukanya?

Sutrisno: Enggak, saya enggak lihat. Memang bagaimana sih mukanya?

Eko: Ya sudah, nanti kamu lihat saja mukanya. (Menggoda)

Sutrisno: Aaah, kamu parah.

Eko: Ya sudah, kita makan dulu

Mereka pun makan siang. Setelah itu, mereka melanjutkan pekerjaannya. (RH)

 

 

 

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar: