*Sembilan Ketukan*
Di hari ketiga.
Sutrisno dan Eko
Subagyo bekerja seperti biasa. Siang itu, Sutrisno membersihkan dinding dapur
yang sudah hitam-hitam dan berjamur, lalu mengecatnya.
Sekitar pukul 12.00
WIB lewat, Sutrisno istirahat. Sementara Eko pergi ke luar untuk membeli makan
siang. Maka Sutrisno sendirian di rumah tersebut.
Sutrisno yang sedang
ada di dapur tiba-tiba teringat kejadian semalam, karena saat itu dia tiba-tiba
merinding.
Sutrisno: Saya kok
merinding seperti ini? Kenapa ya? (Bicara sendiri)
Duk duk duk! (3X)
Tiba-tiba terdengar
suara ketukan pada belakang tembok dapur yang sedang Sutrisno cat, seperti
orang yang sedang memukul tembok dengan palu. Nada ketukannya sama dengan yang
dua malam sebelumnya, yaitu 3X3.
Sutrisno terkejut.
Sutrisno: Loh,
ketukan ini seperti yang semalam. Jangan-jangan ini kuntilanak yang semalam.
Sutrisno langsung
bangun dan berlari ke depan rumah. Di sana dia menunggu Eko sampai temannya
pulang membawa makanan.
Sutrisno: Ko, sini!
Saya mau tanya serius.
Eko: Kenapa?
Sutrisno: Ko,
kuntilanak itu biasa muncul siang, gak sih?
Eko: Kadang-kadang
muncul.
Sutrisno: Serius, Ko?
Eko: Iya seriusan.
Sutrisno:
Kadang-kadang munculnya di mana?
Eko: Kalau siang
begini biasanya sih di kamar mandi.
Sutrisno: Sumpah?
Eko: Iya, sumpah,
benaran.
Eko: Kenapa memangnya
kamu tanya seperti itu, Tri?
Sutrisno: Saya tadi
dengar suara ketokan itu lagi, Ko. Tapi kali ini di dinding belakang.
Eko: Ya iya, itu
memang dia. Kalau dia mau datang, memang suka ngetok-ngetokin. Semalam kamu
lihat gak sih mukanya?
Sutrisno: Enggak,
saya enggak lihat. Memang bagaimana sih mukanya?
Eko: Ya sudah, nanti
kamu lihat saja mukanya. (Menggoda)
Sutrisno: Aaah, kamu
parah.
Eko: Ya sudah, kita
makan dulu
Mereka pun makan
siang. Setelah itu, mereka melanjutkan pekerjaannya. (RH)


Itu si eko kok bisa santai gitu sih? 😅
BalasHapussudah lama kenal
Hapus