PKK 7: Hukuman Untuk Rugi


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Di samping rumahnya di Desa Buangsial, Bendong berlatih melempar pisau dari jarak jauh sejauh panjang tali jemuran.

Ada kelapa muda digantung di dahan pohon jambu monyet, kemudian pisau dilempar sehingga melesat berputar kincir lalu menancap di kulit kelapa.

Ternyata tangan kiri Bendong sudah tidak berfungsi, terbukti bahwa tangan itu hanya menggantung tanpa memiliki tenaga sedikit pun.

“Malaikat Pagi!” teriak Blikik tiba-tiba dari jauh.

Bendong terkejut karena mendengar nama itu diteriakkan. Dia menengok ke halaman depan rumah. Dilihatnya Blikik datang bersama si gendut kekar, Rugi Sabuntel.

“Apa kabar, Bendong? Hahaha!” sapa Rugi Sabuntel lalu tertawa senang.

Bendong tidak menyahut. Dia hanya tersenyum tipis sampai kedua tamunya datang mendekat.

“Waw! Kau semakin mahir melempar pisau!” puji Blikik.

“Bukannya kalian berdua seharusnya bekerja di gudang jagungnya Demang Segara Gara?” tanya Bendong.

“Jagoan nomor satu kita ingin bertemu denganmu. Katanya rindu berkelahi,” jawab Blikik.

Bendong tersenyum sebelah sudut bibir.

“Jika kondisiku normal, aku akan layani. Namun, lihat sekarang, tangan kiriku sudah mati,” kata Bendong.

“Hah! Tangan kirimu lumpuh?” kejut Rugi Sabuntel.

“Harga yang harus dibayar demi membela kebenaran,” kata Bendong.

“Wah, aku jadi terharu, Bendong,” ucap Rugi Sabuntel.

“Dan aku jadi termalu,” timpal Bendong.

“Aaah! Tidak usah bahas itu. Bendong, Rugi datang kemari karena tertarik dengan cerita kau menjadi perampok,” kata Blikik menengahi.

“Kau tertarik jadi perampok juga?” tanya Bendong.

“Baru setengah tertarik. Karena itu aku butuh mendengar ceritamu secara lengkap,” jawab Rugi Sabuntel.

“Aku masih ingin meneruskan pekerjaanku merampok orang yang kaya dari memeras orang lain dan menolong orang lemah yang dianiaya. Namun sayang, jika aku memaksakan diri dengan tangan seperti ini, itu sama saja aku bunuh diri. Rakyat kecil butuh sosok pembela. Banyak di antara mereka yang hartanya dikuras dan raganya disiksa. Selama sosok pembela itu tidak ada, orang-orang jahat tapi berkuasa itu akan terus tertawa dan merasa selalu bisa bertindak semaunya. Beruntung Desa Buangsial dan Buangsetan yang memiliki Demang Segara Gara. Dia baik kepada rakyat. Namun, coba kalian pergi ke Kademangan Buto Cangkem, kalian akan melihat manusia memakan sesama manusia,” tutur Bendong.

“Tapi bagaimanapun, memakan uang hasil perampokan itu panas,” kata Rugi Sabuntel.

“Jika kau tidak mau memakan uang hasil rampokan dari orang-orang kaya, kau bisa berpikiran bahwa kau mengembalikan uang rakyat yang dirampok oleh para penguasa itu kepada pemiliknya, yaitu rakyat. Jikapun harta para penguasa itu kita kuras habis, mereka sudah menikmati lebih dari upah mereka yang diberikan oleh Kerajaan setiap bulannya. Aku akui kau lebih sakti dariku, Rugi. Kau hanya mau makan dari hasil kerjamu sendiri, meskipun kependekaranmu bisa kau gunakan untuk mendapatkan uang banyak. Padahal, jika kau menjamin keamanan di pasar Desa Buangsetan saja, kau sudah bisa kaya hanya dengan mengawasi keadaan pasar,” kata Bendong.

“Aku kagum kepadamu, Bendong,” ucap Rugi Sabuntel.

Lelaki gendut kekar itu lalu menepuk-nepuk bahu kiri Bendong.

“Gurumu pasti sangat mendukung karena dia dulu pembela rakyat kecil dan pembenci penguasa lalim. Jika dulu aku tahu kisah Ki Robek lebih awal, mungkin aku mau menjadi muridnya daripada menjadi pemimpin anak-anak nakal,” kata Bendong.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel dan Blikik.

“Oh ya, apakah kau tahu tentang Cincin Mata Pelangi?” tanya Rugi Sabuntel.

“Aku pernah mendengarnya, tapi aku tidak tahu cincin seperti apa itu. Gurumu mungkin tahu. Sebagai pendekar besar di masa lalu, dia pasti memiliki pengetahuan banyak,” jawab Bendong.

Rugi Sabuntel pun hanya manggut-manggut.

Sepulang dari Desa Buangsial, Rugi Sabuntel memutuskan langsung pulang ke hutan, ke kediaman gurunya. Ia begitu ingin cepat-cepat tahu tentang Cincin Mata Pelangi.

Setibanya di kediaman gurunya, ternyata Ki Robek ada sedang duduk bersila di balai-balai bambu di bawah rindangnya pohon beringin tua, terlihat dari begitu lebatnya akar-akar gantungnya.

“Guru!” panggil Rugi Sabuntel meski jaraknya masih cukup jauh untuk berpelukan.

“Rugi! Berdirilah yang lama di ujung bambu itu!” perintah Ki Robek.

Rugi Sabuntel hanya bisa terkejut karena langsung ditodong dengan satu perintah oleh gurunya. Dia lebih dulu menjura hormat kepada gurunya setibanya ia di bawah pohon beringin. Ki Robek hanya mengangguki hormatan muridnya.

Tidak jauh dari posisi mereka memang ada sebatang bambu ukuran sedang yang berdiri lurus tanpa ditancapkan di tanah hutan.

“Tapi, Guru....”

Itu hukuman bagimu karena kau tidak masuk kerja hari ini!” tegas Ki Robek memotong kata-kata muridnya.

“Guru tahu? Bagaimana Guru bisa tahu?” tanya Rugi Sabuntel terkejut.

“Nyai Demang datang ke sini untuk mencari tahu kenapa kau tidak masuk kerja,” kata Ki Robek.

“Apa? Nyai Demang sampai datang ke mari?” pekik Rugi Sabuntel semakin terkejut.

“Kau harus hati-hati terhadap wanita, Rugi. Apalagi terhadap wanita cantik. Apalagi terhadap wanita yang sudah bersuami. Setahuku Demang Segara Gara adalah orang yang baik,” nasihat Ki Robek.

“I-i-iya, Guru. Tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nyai Demang,” kata Rugi Sabuntel membela diri.

“Pekerja dan majikan adalah suatu hubungan,” kata Ki Robek.

“Iya, Guru. Tapi bukan hubungan itu yang aku maksud.”

“Lalu dari mana kau?”

“Aku menemui musuh masa kecilku yang pernah menjadi perampok budiman untuk membantu orang miskin dan teraniaya,” jawab Rugi Sabuntel yang membuat hati Ki Robek terhentak.

“Lalu?” tanya Ki Robek.

“Aku tertarik untuk menjadi perampok budiman. Bagaimana, Guru?”

“Lakukan hukumanmu!” perintah Ki Robek tanpa menjawab pertanyaan muridnya untuk yang satu itu.

“Baik, Guru,” ucap Rugi Sabuntel.

Dia lalu pergi mendekati batang bambu yang berdiri diam. Sepertinya bambu itu sedang tertidur.

Bugk!

“Akk!” erang Rugi Sabuntel setelah dia melompat tinggi dan langsung terjatuh bersama bambu yang coba diinjaknya.

“Coba terus sampai berhasil!” seru Ki Robek. “Aku baru akan memberi jawaban dan arahan jika kau sudah berhasil berdiri lama di ujung bambu itu.”

“Iya, Guru,” ucap Rugi Sabuntel sambil wajahnya mengerenyit.

Dia lalu kembali memberdirikan batang bambu sampai berdiri tanpa dipegangi lagi.

“Hup!”

Rugi Sabuntel melompat tinggi ke atas dan kembali langsung mendaratkan ujung kaki kanannya pada ujung batang bambu yang tingginya dua kali tinggi badannya.

Ketika diinjak, meski Rugi Sabuntel menggunakan ilmu peringan tubuh yang membuat beratnya bisa seringan anak kucing, tiang bambu itu langsung goyang itik.

Bugk!

“Aww!” erang Rugi Sabuntel lagi ketika tubuh besarnya menghantam tanah yang keras. Bokongnya yang menabrak landasan lebih dulu.

“Apakah kau tidak bisa mendarat dengan kaki jika jatuh?” tanya Ki Robek agak membentak.

“Hehehe! Aku lupa mendarat pakai kaki, Guru,” jawab Rugi Sabuntel cengengesan.

“Hmmm!” Sang guru menggereng mendengar jawaban itu.

Rugi Sabuntel kembali mencoba. Dia memberdirikan batang bambu, lalu melompat ke ujung tingginya.

Singkat kisah.

Setelah mencoba sebanyak lebih tiga puluh kali lagi, akhirnya....

“Hahaha! Aku berhasil, Guru!” teriak Rugi Sabuntel girang dari atas ujung bambu.

Melihat muridnya yang besar gendut sudah bisa berdiri satu kaki di ujung atas batang bambu tanpa oleng lagi, Ki Robek tidak menunjukkan reaksi gembira. Tidak ada senyum sedikit pun di bibir tuanya.

“Ya sudah. Jika kau berhasil, berarti kau berhasil. Turunlah!”

“Iya, Guru.”

Rugi Sabuntel lalu turun dari atas dengan gaya pula. Dia bersalto dan mendarat keras di tanah, membuat dedaunan kering beterbangan, bahkan ada yang sampai ke wajah gurunya. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar