*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Di samping rumahnya
di Desa Buangsial, Bendong berlatih melempar pisau dari jarak jauh sejauh
panjang tali jemuran.
Ada kelapa muda
digantung di dahan pohon jambu monyet, kemudian pisau dilempar sehingga melesat
berputar kincir lalu menancap di kulit kelapa.
Ternyata tangan kiri
Bendong sudah tidak berfungsi, terbukti bahwa tangan itu hanya menggantung
tanpa memiliki tenaga sedikit pun.
“Malaikat Pagi!”
teriak Blikik tiba-tiba dari jauh.
Bendong terkejut
karena mendengar nama itu diteriakkan. Dia menengok ke halaman depan rumah.
Dilihatnya Blikik datang bersama si gendut kekar, Rugi Sabuntel.
“Apa kabar, Bendong?
Hahaha!” sapa Rugi Sabuntel lalu tertawa senang.
Bendong tidak
menyahut. Dia hanya tersenyum tipis sampai kedua tamunya datang mendekat.
“Waw! Kau semakin
mahir melempar pisau!” puji Blikik.
“Bukannya kalian
berdua seharusnya bekerja di gudang jagungnya Demang Segara Gara?” tanya
Bendong.
“Jagoan nomor satu
kita ingin bertemu denganmu. Katanya rindu berkelahi,” jawab Blikik.
Bendong tersenyum
sebelah sudut bibir.
“Jika kondisiku
normal, aku akan layani. Namun, lihat sekarang, tangan kiriku sudah mati,” kata
Bendong.
“Hah! Tangan kirimu
lumpuh?” kejut Rugi Sabuntel.
“Harga yang harus
dibayar demi membela kebenaran,” kata Bendong.
“Wah, aku jadi
terharu, Bendong,” ucap Rugi Sabuntel.
“Dan aku jadi
termalu,” timpal Bendong.
“Aaah! Tidak usah
bahas itu. Bendong, Rugi datang kemari karena tertarik dengan cerita kau
menjadi perampok,” kata Blikik menengahi.
“Kau tertarik jadi
perampok juga?” tanya Bendong.
“Baru setengah
tertarik. Karena itu aku butuh mendengar ceritamu secara lengkap,” jawab Rugi
Sabuntel.
“Aku masih ingin
meneruskan pekerjaanku merampok orang yang kaya dari memeras orang lain dan
menolong orang lemah yang dianiaya. Namun sayang, jika aku memaksakan diri
dengan tangan seperti ini, itu sama saja aku bunuh diri. Rakyat kecil butuh
sosok pembela. Banyak di antara mereka yang hartanya dikuras dan raganya
disiksa. Selama sosok pembela itu tidak ada, orang-orang jahat tapi berkuasa
itu akan terus tertawa dan merasa selalu bisa bertindak semaunya. Beruntung
Desa Buangsial dan Buangsetan yang memiliki Demang Segara Gara. Dia baik kepada
rakyat. Namun, coba kalian pergi ke Kademangan Buto Cangkem, kalian akan
melihat manusia memakan sesama manusia,” tutur Bendong.
“Tapi bagaimanapun,
memakan uang hasil perampokan itu panas,” kata Rugi Sabuntel.
“Jika kau tidak mau
memakan uang hasil rampokan dari orang-orang kaya, kau bisa berpikiran bahwa
kau mengembalikan uang rakyat yang dirampok oleh para penguasa itu kepada
pemiliknya, yaitu rakyat. Jikapun harta para penguasa itu kita kuras habis,
mereka sudah menikmati lebih dari upah mereka yang diberikan oleh Kerajaan
setiap bulannya. Aku akui kau lebih sakti dariku, Rugi. Kau hanya mau makan
dari hasil kerjamu sendiri, meskipun kependekaranmu bisa kau gunakan untuk
mendapatkan uang banyak. Padahal, jika kau menjamin keamanan di pasar Desa
Buangsetan saja, kau sudah bisa kaya hanya dengan mengawasi keadaan pasar,”
kata Bendong.
“Aku kagum kepadamu,
Bendong,” ucap Rugi Sabuntel.
Lelaki gendut kekar
itu lalu menepuk-nepuk bahu kiri Bendong.
“Gurumu pasti sangat
mendukung karena dia dulu pembela rakyat kecil dan pembenci penguasa lalim.
Jika dulu aku tahu kisah Ki Robek lebih awal, mungkin aku mau menjadi muridnya
daripada menjadi pemimpin anak-anak nakal,” kata Bendong.
“Hahaha!” tawa Rugi
Sabuntel dan Blikik.
“Oh ya, apakah kau
tahu tentang Cincin Mata Pelangi?” tanya Rugi Sabuntel.
“Aku pernah mendengarnya,
tapi aku tidak tahu cincin seperti apa itu. Gurumu mungkin tahu. Sebagai
pendekar besar di masa lalu, dia pasti memiliki pengetahuan banyak,” jawab
Bendong.
Rugi Sabuntel pun
hanya manggut-manggut.
Sepulang dari Desa
Buangsial, Rugi Sabuntel memutuskan langsung pulang ke hutan, ke kediaman
gurunya. Ia begitu ingin cepat-cepat tahu tentang Cincin Mata Pelangi.
Setibanya di kediaman
gurunya, ternyata Ki Robek ada sedang duduk bersila di balai-balai bambu di
bawah rindangnya pohon beringin tua, terlihat dari begitu lebatnya akar-akar
gantungnya.
“Guru!” panggil Rugi
Sabuntel meski jaraknya masih cukup jauh untuk berpelukan.
“Rugi! Berdirilah
yang lama di ujung bambu itu!” perintah Ki Robek.
Rugi Sabuntel hanya
bisa terkejut karena langsung ditodong dengan satu perintah oleh gurunya. Dia
lebih dulu menjura hormat kepada gurunya setibanya ia di bawah pohon beringin.
Ki Robek hanya mengangguki hormatan muridnya.
Tidak jauh dari
posisi mereka memang ada sebatang bambu ukuran sedang yang berdiri lurus tanpa
ditancapkan di tanah hutan.
“Tapi, Guru....”
“Itu hukuman bagimu karena kau tidak masuk kerja hari
ini!” tegas Ki Robek memotong kata-kata muridnya.
“Guru tahu? Bagaimana
Guru bisa tahu?” tanya Rugi Sabuntel terkejut.
“Nyai Demang datang
ke sini untuk mencari tahu kenapa kau tidak masuk kerja,” kata Ki Robek.
“Apa? Nyai Demang
sampai datang ke mari?” pekik Rugi Sabuntel semakin terkejut.
“Kau harus hati-hati
terhadap wanita, Rugi. Apalagi terhadap wanita cantik. Apalagi terhadap wanita
yang sudah bersuami. Setahuku Demang Segara Gara adalah orang yang baik,”
nasihat Ki Robek.
“I-i-iya, Guru. Tapi
aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nyai Demang,” kata Rugi Sabuntel membela
diri.
“Pekerja dan majikan
adalah suatu hubungan,” kata Ki Robek.
“Iya, Guru. Tapi
bukan hubungan itu yang aku maksud.”
“Lalu dari mana kau?”
“Aku menemui musuh
masa kecilku yang pernah menjadi perampok budiman untuk membantu orang miskin
dan teraniaya,” jawab Rugi Sabuntel yang membuat hati Ki Robek terhentak.
“Lalu?” tanya Ki
Robek.
“Aku tertarik untuk
menjadi perampok budiman. Bagaimana, Guru?”
“Lakukan hukumanmu!”
perintah Ki Robek tanpa menjawab pertanyaan muridnya untuk yang satu itu.
“Baik, Guru,” ucap
Rugi Sabuntel.
Dia lalu pergi
mendekati batang bambu yang berdiri diam. Sepertinya bambu itu sedang tertidur.
Bugk!
“Akk!” erang Rugi
Sabuntel setelah dia melompat tinggi dan langsung terjatuh bersama bambu yang
coba diinjaknya.
“Coba terus sampai
berhasil!” seru Ki Robek. “Aku baru akan memberi jawaban dan arahan jika kau
sudah berhasil berdiri lama di ujung bambu itu.”
“Iya, Guru,” ucap
Rugi Sabuntel sambil wajahnya mengerenyit.
Dia lalu kembali
memberdirikan batang bambu sampai berdiri tanpa dipegangi lagi.
“Hup!”
Rugi Sabuntel
melompat tinggi ke atas dan kembali langsung mendaratkan ujung kaki kanannya
pada ujung batang bambu yang tingginya dua kali tinggi badannya.
Ketika diinjak, meski
Rugi Sabuntel menggunakan ilmu peringan tubuh yang membuat beratnya bisa
seringan anak kucing, tiang bambu itu langsung goyang itik.
Bugk!
“Aww!” erang Rugi
Sabuntel lagi ketika tubuh besarnya menghantam tanah yang keras. Bokongnya yang
menabrak landasan lebih dulu.
“Apakah kau tidak
bisa mendarat dengan kaki jika jatuh?” tanya Ki Robek agak membentak.
“Hehehe! Aku lupa
mendarat pakai kaki, Guru,” jawab Rugi Sabuntel cengengesan.
“Hmmm!” Sang guru
menggereng mendengar jawaban itu.
Rugi Sabuntel kembali
mencoba. Dia memberdirikan batang bambu, lalu melompat ke ujung tingginya.
Singkat kisah.
Setelah mencoba
sebanyak lebih tiga puluh kali lagi, akhirnya....
“Hahaha! Aku
berhasil, Guru!” teriak Rugi Sabuntel girang dari atas ujung bambu.
Melihat muridnya yang
besar gendut sudah bisa berdiri satu kaki di ujung atas batang bambu tanpa
oleng lagi, Ki Robek tidak menunjukkan reaksi gembira. Tidak ada senyum sedikit
pun di bibir tuanya.
“Ya sudah. Jika kau
berhasil, berarti kau berhasil. Turunlah!”
“Iya, Guru.”
Rugi Sabuntel lalu turun dari atas dengan gaya pula. Dia bersalto dan mendarat keras di tanah, membuat dedaunan kering beterbangan, bahkan ada yang sampai ke wajah gurunya. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar