Pagi yang Buruk, Bab6 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Teeet!

Bruakr!

“Aaak!” jerit wanita yang dibonceng oleh pemotor yang ditabrak oleh Radit.

Baik Radit dan sepeda motor yang dia tabrak dengan keras belakangnya jatuh di pertigaan yang ramai tapi tidak macet itu.

Warga sekitar segera berlarian untuk menolong tiga orang yang terlibat insiden. Para pemotor yang juga saat itu melintas di lokasi kecelakaan segera berhenti dengan dua opsi, ada yang segera parkir dan turun membantu, sebagian besar lagi berhenti menonton.

Ada yang membantu Radit dan sepeda motornya, ada yang membantu pemotor yang merupakan ojek online, dan lebih banyak yang membantu si gadis. Bukan karena dia lumayan cantik, tetapi karena dia yang lebih berdarah kakinya.

“Woi, Mas! Bawa motor yang benar dong!” teriak driver ojol setelah dia berdiri. Lelaki separuh baya itu mendelik marah kepada Radit yang menderita lecet berdarah di jari tangannya.

“Bapak yang ngerem mendadak!” balas Radit tidak mau disalahkan bulat-bulat.

“Gua enggak ngerem mendadak, penumpang gua saksinya. Ini pertigaan, gua pasti ngerem, tapi enggak mendadak!” debat driver itu lagi.

“Mas, Mas, Mas! Jelas Mas yang nabrak dari belakang. Saya lihat tadi Mas seperti meleng. Mendingan selesaikan secara kekeluargaan. Kasihan si Eneng, lukanya lumayan!” kata seorang warga, pemilik warung pinggir jalan.

Terdiamlah Radit sambil melihat gadis penumpang ojol yang meringis kesakitan. Dia harus mengakui, dirinya memang tidak fokus mengendara lantaran memikirkan kemarahan Andini dan keluarganya.

“Iya, aku tanggung jawab,” kata Radit akhirnya. Jelas dia yang salah. Dia pun tidak mau disalahkan dan dihakimi oleh warga, apalagi korban utamanya perempuan muda.

“Nah gitu dong, biar enggak macet!” seru satu warga lain yang melihat pertigaan itu sudah macet karena menyempitnya lebar jalan oleh keramaian.

Akhirnya, kedua pemotor melihat sejenak kerusakan pada sepeda motor masing-masing. Dua-duanya menderita kerusakan. Sepeda motor Radit rusak spion, kaca lampu depan, bodi baret, stang depan agak miring dan putaran roda goyang. Sementara sepeda motor si ojol tidak separah kendaraan Radit.

Keduanya sepakat membawa gadis yang menjadi korban ke klinik 24 jam. Setelah itu, keduanya pergi ke bengkel untuk hitung-hitungan. Jelas, semua biaya ditanggung oleh Radit.

“Hallo, Pak!” sapa Radit di telepon. Saat di klinik dia ditelepon atasannya. Memang, dia sudah terlambat sampai ke pabrik.

“Elu di mana, Dit? Anak gudang sudah pada nunggu!” kata atasan Radit dengan nada yang setengah ngegas.

“Maaf, Pak. Aku habis nabrak motor orang, Pak. Jadi aku harus tanggung jawab dulu,” jawab Radit dengan nada memelas.

“Elu bisa langsung datang ke pabrik atau masih lama? Kalau masih lama, serlok, nanti gua suruh orang ke sana ambil kunci. Karyawan harus kerja dan ini ada bongkaran yang harus cepat turun,” kata atasan Radit.

“Maaf, Pak. Masih lama, harus ke bengkel dulu,” jawab Radit seraya mengerenyit, meski sakit di tangan dan kakinya tidak terlalu parah.

Akhirnya, dikirimlah utusan dari pabrik untuk mengambil kunci gudang. Sementara Radit harus menyelesaikan kewajibannya. Mau tidak mau dia harus mengeluarkan biaya banyak, cukup menguras isi dompetnya, meski tidak sampai kering kemarau.

Terlambat dua jam. Radit diberhentikan oleh satpan di gerbang. Bukan karena dia terlambat, tetapi karena ada orang yang sedang menunggunya.

“Dit, ada yang nyariin. Tuh!” kata satpam yang lebih tua dari Radit. Dia menunjuk dengan mata ke arah depan pos.

Ada dua orang berbadan besar berotot yang segera berdiri saat melihat kedatangan Radit. Yang satu agak ganteng berkaos warna merah, namanya Alet. Yang berjaket hitam tanpa diresleting berkulit hitam dengan tampang model timur Indonesia, kepalanya botak licin. Dia bernama Gogos.

Tidak ada sedikit pun aura kelembutan dari wajah kedua orang tersebut.

Deg!

Melihat perawakan kedua orang tersebut, jantung Radit langsung menghentak. Dia sepertinya bisa menerka siapa dua orang yang tidak dikenalnya itu. Namun, mau tidak mau Radit harus menemui kedua orang yang sudah berjalan menemuinya. Pikiran dan perasaan Radit semakin campur aduk seperti ketoprak tanpa gula.

Radit tidak turun dari motornya ketika dua orang itu menemuinya.

“Selamat pagi, Pak Radit. Kami dari PT Kucur Kilat,” kata Alet, lelaki agak ganteng memperkenalkan diri.

“Tapi bisa enggak, Bang, enggak usah pakai datang ke pabrik begini?” kata Radit bernada emosi, menunjukkan ketidaksukaannya. “Lagian aku akan bayar kok, enggak nunggak lagi!”

“Eh, slow, Bang!” hardik si lelaki hitam dengan mata mendelik. Gogos ikut terbawa emosi mendengar nada Radit yang tidak bersahabat.

“Pak Radit,” kata Alet sambil meletakkan satu tangan besarnya di bahu kanan Radit.

“Ah! Apaan sih?!” sentak Radit marah sambil menepis tangan lelaki besar berkaos merah. Dia sangat tidak suka diperlakukan seperti anak SD sedang mau dipalak.

Sikap Radit itu langsung memancing kemarahan kedua lelaki besar.

Bdak!

Dengan keras dan cepat, Alet mendorong dada Radit. Posisinya yang sedang duduk di sepeda motornya membuat Radit tidak bisa menahan. Radit jatuh bersama motornya.

Dua satpam yang sedang ada di pos segera berlari mendekat, menengahi dan melerai.

“Bang, jangan bikin onar di sini!” bentak salah satu satpam yang juga punya badan besar, meski tidak seberat Alet dan Gogos.

“Kita datang hanya untuk mengingatkan Pak Radit. Kalau sampai menunggak lagi, kita datang lagi dan harus ada barang yang disita jadi jaminan!” kata Alet kepada Radit, tanpa mempedulikan perkataan si satpam.

“Iya! Aku akan bayar dua bulan sekalian, kalau perlu tiga bulan!” teriak Radit yang sudah sangat marah, tapi dia ditahan oleh satu satpam. Dia tidak peduli dengan sepeda motornya yang tergeletak, padahal baru diservis di bengkel.

“Abang berdua lebih baik keluar. Jangan buat keributan di sini!” tegas si satpam lagi.

“Ayo!” ajak Alet kepada Gogos.

“Mulai sekarang, bukan lagi Lidya yang cantik itu yang datang mengingatkan, tapi kami berdua yang datang. Jadi Bapak jangan galak-galak ke kami!” kata Gogos sebelum pergi mengikuti temannya.

Radit tidak membalas lagi kata-kata dua penagih utang itu.

“Dit, kamu enggak apa-apa?” tanya si satpam.

“Enggak, Pak. Terima kasih,” jawab Radit dengan wajah yang masih menunjukkan kemarahan.

“Kamu ngambil pinjol, Dit?” tanya satpam yang lain.

Radit hanya mengangguk.

“Waduh! Mendingan cepat-cepat dilunasi, Dit. Kasihan keluarga,” kata si satpam menyayangkan.

“Iya, Pak,” ucap Radit sambil menaiki sepeda motornya yang sudah diberdirikan oleh si satpam.

Sebenarnya dia sudah tidak mau mendengar nasihat tentang bahaya pinjaman online. Itu justru kian membuatnya marah. Namun, tidak mungkin dia marah kepada kedua satpam itu.

Setelah kejadian barusan, Radit baru mengakui kesalahannya, yaitu dia langsung emosi. Padahal kedua penagih itu hanya mengingatkan saja.

Pagi itu benar-benar pagi yang buruk bagi Radit. Tiga insiden yang menguras emosi, energi dan duitnya.

Radit menjalankan sepeda motornya ke gedung gudang. Meski perasaan dan pikirannya sedang kalut, dia tetap harus bekerja. Kalkulasi uang di kepalanya tidak juga menemui titik terang. Dia bingung membagi jatah untuk bayar utang dan setoran kepada Erwin. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar: