Orang Pemakan Kulit, Bab9 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*

Tina Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy, masing-masing diikat tangan dan kakinya di batang bambu. Lalu, masing-masing ujung bambu itu dipikul oleh lelaki berotot binaraga yang tidak berbaju.

Saat Trio Antik mengobrol di bawah pohon beringin besar, ternyata di atas pohon ada banyak lelaki berotot atlet binaraga yang sedang menunggu mangsa untuk di jala. Mereka pikir di bawah pohon adalah lautan yang banyak ikannya.

Orang-orang yang jumlahnya 20 orang itu dipimpin oleh Suratmati sebagai Panglima Suku Gilla dan wakilnya bernama Sepak Tinting.

Tina, Ayu dan Salman menangis, meski mereka digotong-gotong.

“Emaaak, kita diculiiik!” teriak Ayu sambil menangis.

“Lontooong! Kita jangan dipanggung!” ratap Tina pula sambil menangis.

“Ba-ba-bapaaak! Sal-sal-salman mau pulaaang!” teriak Salman pula menangis.

“Hahaha! Makan enak, makan enak!” tawa para lelaki berotot-otot keras itu begitu gembira.

“Diam! Jangan menangius! Percuma!” bentak Suratmati.

Suratmati seorang lelaki muda dan tampan. Dia tidak berbaju, sama seperti para anak buahnya, tapi mereka masih bercelana panjang. Sebagai pemimpin, wajib baginya menjadi yang paling tampan dalam kawanannya.

“Tina, bagaimana ini? Pada ganteng banget. Otot-ototnya enggak nahanin,” kata Ayu, tapi sambil menangis.

“Apa hubungannya ganteng sama otoy sama bagaimana?” tanya Tina, juga sambil menangis.

“Saya jatuh hati. Hiks hiks hiks!” jawab Ayu.

“Ujung-ujungnya ki-ki-kita matiii!” teriak Salman pula, juga sambil menangis.

“Jangan sebut-sebut nama Panglima!” bentak Sepak Tinting sambil menepak kepala Salman.

“Jangan galak-galak, Sepak Tiuntiung. Yang pentiung kita makan enak malam iuniu,” kata Suratmati bijak sembari tersenyum dengan satu sudut bibir.

“Hahaha! Makan enak, makan enak!” tawa para anak buah Suratmati dengan nada terbatas lalu mengucapkan yel-yel bahagia.

“Hahaha!” Tina, Ayu dan Salman jadi ikut tertawa mendengar kelucuan gerombolan itu.

“Kenapa malah tertawa?!” bentak Sepak Tinting.

“Saya juga masih perawan tinting,” kata Ayu, kini sudah berhenti menangis.

“Ayu! Jangan mengudang nafsu!” kata Tina, dia juga sudah tidak menangis lagi.

“Mengundang nafsu, Tina. Kamu kira tambak udang,” ralat Ayu.

“Bu-bu-bukan udang, ta-ta-tapi kita mau dibikin orang gu-gu-gu....”

“Orang gagu?” tanya Ayu memotong kata-kata Salman yang masih menangis.

“Bu-bu-bukan! Orang gu-gu-guling!” jelas Salman.

“Kalau ngomong yang benar!” bentak Sepak Tinting, kembali memukul kepala Salman.

“Haaa...!” raung Salman menangis.

“Hahaha! Makan enak, makan enak!” tawa para anggota kawanan lagi.

“Om Gantang, kita yang tidak bersoda ini mau dibawa ke mana?” tanya Tina memberanikan diri. Siapa tahu bisa bernegosiasi.

“Kalian kamiu bawa supaya kiuta biusa makan malam iuniu. Sabar ya, sebentar lagiu kiuta sampai. Hahaha!” jawab Suratmati dengan logat yang belepotan. Tawanya pun terdengar seperti sengaja dijumawa-jumawakan.

“Kalian aminal ya?” tanya Tina dengan wajah ingin menangis lagi.

“Apa iutu aniumal?” tanya Suratmati dengan mata melirik dan satu alis naik jomplang.

“Maksudnya kanibal, Om Ganteng,” ralat Ayu dengan wajah yang sama, mau menangis juga.

“Iya,” kata Tina.

“Apa iutu kaniubal?” tanya Suratmati.

“Ganteng-ganteng kok biodoh,” kata Ayu.

“Jangan meledek!” bentak Sepak Tinting sambil mencubit pipi bakpao Ayu.

“Saya dicubit sama si ganteng tinting. Aaa!” kata Ayu girang lalu menjerit histeris heboh sendiri, tapi hanya kepalanya yang heboh. Dia lupa bahwa saat itu dia dalam kondisi terikat menggantung di batang bambu.

“Su-su-sudah mau mati....”

“Jangan sebut nama Panglima!” bentak Sepak Tinting sambil kembali memukul kepada Salman.

“Memang na-na-nama panglimamu siapa? Sa-sa-sakit tahu dipukul terus!” teriak Salman balas membentak. Saking kesalnya, sampai-sampai dia berhenti menangis.

“Panglima Suratmati!” jawab Sepak Tinting.

“Hahaha! Ma-ma-mati saja sekalian!” kata Salman setelah menertawakan.

“Kurang acar!” maki Sepak Tinting lalu memukul kepala Salman lagi.

“Sudah, sudah, sudah. Sepak Tiuntiung, kamu pergiu dulu, agar biusa diusiapkan langsung tungkunya. Biar kiuta tiudak menunggu lama!” perintah Suratmati.

“Siap, Panglima!” ucap Sepak Tinting, lalu berlari pergi terbirit-birit, padahal dia hanya dikejar oleh perintah.

“Se-se-selamat kepalaku,” ucap Salman lega.

“Begigi, Om Banteng. Eh, Om Ganteng maksud saya. kanibal itu adalah koran yang suka makan daging koran,” kata Tina.

“Apa iutu koran?” tanya Suratmati.

“Bukan koran, Om Ganteng. Tapi orang yang makan daging orang,” kata Ayu meluruskan.

“Ada yang sepertiu iutu?” tanya Suratmati.

“Ada. Kalian,” jawab Ayu.

“Hahaha! Makan enak, makan enak!” tawa belasan anak buak kekar itu. Entah siapa yang menjadi pemandunya sehingga mereka bisa tertawa kompak dengan nada dan intonasi yang sama.

“Kiuta tiudak makan dagiung, tapiu kiuta makan kuliut,” kata Suratmati.

“Hah! Kutil? Haaa...!” kejut Tina lalu meraung menangis.

“Kita mau dikulitiiin!” pekik Ayu juga menangis lagi.

“Jangaaan! Ku-ku-kulit saya pa-pa-pahit!” teriak Salman.

“Iya, iya, kutil saya juga beracun!” teriak Tina.

“Emaaak!” raung Ayu.

“Hahaha! Makan enak, makan enak!”

Pengikut Panglima Suratmati terus memikul ketiga anak tangkapannya.

Menangis meraung-raunglah Tina, Ayu dan Salman selama perjalanan menuju ke tempat pengulitan. Mereka tidak bisa berhenti menangis jika membayangkan mereka digantung dalam kondisi bugil total alias buto, kemudian mulailah mereka diiris halus agar yang tersayat hanya kulit saja, daging tidak.

Mereka bertiga sangat suka menyaksikan pemotongan hewan qurban di Hari Raya Qurban, termasuk menonton pengulitan hingga pencacahannya. Kira-kira seperti kambing dan sapi di hari raya itulah nanti kondisi mereka. Itulah bayangan mereka.

“Haaa! Bisa tambah kerempeng badanku karena mengais terus!” ratap Tina.

“Berdoalah, Tina, Salman!” teriak Ayu.

“Saya hafalnya doa makam saja, Ayu!” kata Tina. “Tidak ada doa antikanibal di dalam bulu doi.”

“Ba-ba-baca doa bangun ti-ti-tidur saja. Ini pa-pa-pasti mimpi!” usul Salman pula.

“Baca surat-surat Al-Quran, Tina!” usul Ayu.

“Saya bisanya baca sunat cinta, Yuuu!”

“Ya sudah, ma-ma-matilah kita bertiga. Huuu!” ucap Salman dan melanjutkan tangisnya. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar: