*Dendam Tiga Wanita*
Akira masuk ke arena keempat dengan kondisi basah kuyup. Di tengah lapangan ada arena berupa lingkaran cukup besar yang dibentuk menggunakan tambang. Dalam lingkaran juga ada lingkaran dengan tali lebih kecil.
“Tes untuk tingkat
keempat!” seru Rayni.
Teng!
Rayni memukul
sebuah kentongan besi yang menggantung di tiang luar lingkaran. Setelah itu,
sebagian lantai di seberang lingkaran bergerak terbuka cukup lebar menciptakan
lubang berbentuk persegi empat.
Deg!
Terkejut jantung Akira saat melihat seorang lelaki
sangat gemuk naik keluar dari dalam lubang. Lelaki gemuk itu tidak berbaju dan
hanya bercelana panjang hitam. Tampak perutnya begitu besar membulat dengan
dada yang besar berlipat menggantung di tubuhnya. Sepasang lengannya bahkan
lebih lebar dari tubuh Akira. Lipatan dagunya yang menggantung membuat lehernya
hilang. Rambutnya yang agak panjang dikuncir di belakang kepala.
“Apa-apaan ini?!”
protes Rala Badar emosi. “Anakku mau diadu dengan orang sebesar itu? Itu
mustahil!”
“Jika Akira memang
tidak bisa, berarti gagal. Tapi kami memberikan ujian tes, selalu memiliki
peluang untuk berhasil, meski peluang yang ada hanya satu peluang dari seratus
kemustahilan!” kata Sukrama mencoba menenangkan Rala Badar.
Lelaki besar super
gemuk itu memasuki lingkaran arena dan berdiri mengangkang di dalam lingkaran
kecil. Sorot matanya tajam menatap Akira.
“Namanya Godam.
Tiga kali kesempatan mencoba. Terserah bagaimana caranya, kau harus menjatuhkan
Godam dari berdirinya. Godam tidak akan menyakitimu. Tidak ada aba-aba dariku.
Terserah kau mau menyerang dari arah mana. Hanya itu!” jelas Rayni.
Akira lalu berjalan memutari
lingkaran arena sambil memandangi tubuh Godam, seolah sedang mencari titik
lemah Godam. Mendorongnya jatuh jelas tidak mungkin. Setelah berputar satu
putaran, Akira berhenti tepat di depan Godam
yang hanya tersenyum seolah mengejeknya.
Akira lalu mengambil jarak mundur
yang agak jauh lalu dia berlari maju dan melakukan lompatan tinggi menerkam.
Pak! Blugk!
Akira menerkam ke kepala Godam dan
mendorong wajah bakpao itu dengan kedua tangannya. Namun, kepala itu hanya
terdorong di leher tanpa mendorong tubuh Godam sedikit pun dari posisi
berpijaknya. Sementara Akira jatuh berdebam. Akira kesakitan.
“Dua kesempatan
lagi!” seru Rayni.
“Hohoho!” tawa
Godam layaknya seorang raksasa di mata Akira.
Akira kembali bangkit seraya
meringis, tapi dia tidak putus asa. Di benaknya sudah tergambar satu-satunya
cara. Dan itu harus berhasil. Untuk lompatan, sampai. Tinggal peluang mengambil
kesempatannya yang sangat kecil.
Akira lalu berlari-lari kecil
memutari lingkaran. Dari lari kecil berubah kencang menjauhi lingkaran lalu
berbelok melesat dari arah depan. Akira kembali melakukan lompatan tinggi, tapi yang maju
kedua kaki terlebih dulu.
Godam cepat
memasang telapak tangannya di depan wajah guna menangkis terjangan Akira, dari pada wajah gemuknya
tambah bengkak. Namun yang mengejutkan Godam, terjangan dan tubuh Akira lewat di atas bahunya.
Seb!
“Akk!” pekik Godam
tertahan ketika dalam terjangan Akira yang berlalu, tangan mungil anak perempuan itu
berhasil meraih kunciran rambut Godam.
Dan dengan sekuat
tenaga Akira menarik kunciran Godam.
Selain menyakiti kulit kepala Godam, tarikan itu ternyata mampu menarik tubuh
atas Godam. Godam yang tidak beranjak menjadi terganggu keseimbangannya. Godam
yang dalam posisi berdiri di kedua tumitnya, berusaha mempertahankan
keseimbangannya dengan memutar-mutar kedua tangannya.
“Aw!” pekik Godam
lagi saat merasakan kulit kakinya tersakiti.
Spontan orang
besar itu mengangkat kaki kirinya yang dicubit oleh Akira dengan keras. Dan otomatis
pula, keseimbangan yang labil pun jadi hilang.
Bem!
Seperti raksasa
tumbang ke bumi.
“Lulus!” teriak
Rayni.
“Yeaa!” teriak
Rala Badar pula di luar sana.
Godam hanya
menghempaskan napas. Dia harus kalah oleh bocah seumur tunas jagung.
Rayni kembali
mengajak Akira untuk pindah ke arena
berikutnya. Sementara Godam masuk ke dalam lubang lantai tempat ia tadi keluar.
“Tes untuk tingkat
kelima!” teriak Rayni.
Arena kelima
adalah sebuah lapangan berbentuk segi empat berlantai matras hitam untuk
beladiri.
Teng!
Rayni memukul
sebuah kentongan besi yang menggantung di tiang luar lapangan. Setelah itu,
sebagian lantai yang tidak tertutupi matras bergerak terbuka cukup lebar,
menciptakan lubang berbentuk persegi empat.
Dari dalam lubang
itu melangkah naik seorang anak remaja berusia 14 tahun, tiga tahun lebih tua
dari Akira. Gadis remaja itu mengenakan
pakaian serba hitam. Di dada kanan bajunya ada gambar sebuah logo pisau yang
menusuk bauh apel. Gadis itu berkulit putih cantik. Matanya agak sipit dan
memiliki sepasang alis yang panjang, memberi model mata yang khas dan menarik.
Sebagian rambutnya dibiarkan terurai, sebagian lagi dikepang kecil lalu
dilingkarkan di kepalanya. Tinggi tubuhnya tidak jauh berbeda dengan Akira.
“Namanya,
Alexandria, Kelas Putih tingkat lima,” kata Rayni memperkenalkan calon lawan
duel Akira berikutnya.
Akira mengangguk seraya tersenyum
kepada gadis bernama Alexandria. Namun, Alexandria memberikan sikap dingin,
tanpa senyuman atau anggukan balasan.
“Tugasmu
menjatuhkan dia tanpa boleh menyerang wajah. Jika sampai menyerang wajah, maka
gugur. Ada tiga kali kesempatan!” kata Rayni.
Akira mengangguk. Ia lalu maju
masuk ke atas arena. Ia berdiri berhadapan langsung dengan Alexandria.
“Mulai!” teriak
Rayni.
Akira langsung bertolak dan
melompat cepat hendak menyeruduk perut Alexandria dengan bahunya.
Kecepatan Akira dalam menyerang sempat
membuat Alexandria terkejut. Namun, ia adalah seorang wanita yang tangkas.
Cepat ia bergeser dari tempat berdirinya sambil kakinya mendorong keras pinggul
Akira.
“Dua kesempatan
lagi!” teriak Rayni saat Akira jatuh bergulingan di matras.
Akira segera bangun. Kegagalan itu
membuatnya tertantang untuk berhasil menaklukkan Alexandria.
Akira kembali berdiri berhadapan
dengan Alexandria. Kali ini gadis remaja itu tersenyum kecil tapi pahit
rasanya, senyuman yang meremehkan. Melihat senyuman yang merendahkan tersebut, Akira merasa tersulut emosinya.
“Mulai!” teriak
Rayni kembali memberi aba-aba.
Akira kali ini berlari maju.
Alexandria juga maju. Namun, Alexandria maju lalu bergeser sedikit ke samping,
membiarkan tubuh dan serangan Akira lewat tipis di sisinya. Seiring itu, dengan
mudahnya Alexandria menyodorkan kaki kanannya guna menyandung pergerakan kaki Akira. Itu berhasil.
Bluk!
“Satu kesempatan
lagi!” teriak Rayni.
Akira tersungkur di matras.
Seraya meringis, Akira bangkit berdiri. Ia segera
kembali ke posisinya semula. Kedua gadis kecil itu kembali saling berhadapan
dan saling menatap tajam.
“Mulai!” teriak
Rayni lagi.
Akira berlari, tapi tidak langsung
menyerang. Ia berlari mengelilingi posisi Alexandria. Ia mengulang gaya serang
saat menjatuhkan Godam.
Tindakan Akira itu membuat Alexandria harus
memutar wajah, mengikuti gerakan lawannya. Alexandria hanya berbalik sesekali, tetapi
pandangannya terus mengikuti pergerakan Akira.
Hingga semenit
berlalu, Akira masih saja berlari hanya
memutari Alexandria, tanpa menyerangnya. Seolah ia sedang mencari titik lengah
Alexandria yang justru tidak didapat-dapatnya.
Alexandria jadi
kesal. Akhirnya ia memutuskan, tiba-tiba ia menyerang Akira yang terus berlari. Melihat
Alexandria menyerangnya dari samping, Akira mendadak tancap gas, membuatnya terhindar dari
serangan Alexandria.
Setelahnya, Akira tiba-tiba berbelok tajam
dalam kecepatan lari yang tinggi. Ia melompat menerkam Alexandria dari samping.
Sementara Alexandria yang belum kembali ke dalam kuda-kuda, terkejut. Terkaman
cepat itu ia duga akan menubruk tubuhnya hingga harus jatuh bersama.
Untuk menghindari
terkaman itu, terpaksa Alexandria mengangkat lututnya setinggi perut.
Akibatnya, terkaman Akira tertahan dan
wajahnya menabrak lutut Alexandria.
Akira jatuh ke matras dalam kondisi
lubang hidung mengeluarkan segaris darah.
“Pelanggaran!
Alexandria gugur!” teriak Rayni.
Terkejut
Alexandria mendengar keputusan wasit Rayni.
“Aku protes!”
teriak Alexandria cepat. “Aku tidak menyerang wajahnya, tetapi dia yang
menabrakkan wajahnya ke lututku!”
“Alexandria, kau
sebagai seorang yang sudah mahir, seharusnya tahu bahwa gerakanmu akan mengenai
wajahnya!” tandas Rayni.
“Huh!” dengus
Alexandria lalu berbalik pergi menuju lubang lantai tempat ia tadi keluar.
Tampak di balik
dinding kaca, Rala Badar terlihat cemas, karena Akira masih terbaring di matras
sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
Rayni segera
memeriksa kondisi Akira. Hidung Akira tidak patah, hanya
mengeluarkan darah karena terbentur tempurung lutut Alexandria.
“Tes dihentikan! Akira lulus sampai ke tingkat
lima!” teriak Rayni.
“Itu pencapaian
yang sudah bagus untuk anak perempuan seusianya,” kata Sukrama kepada Rala
Badar.
“Syukurlah,” ucap
Rala Badar tersenyum lebar. Ia begitu gembira melihat kehebatan putri angkat
sematawayangnya. “Akira sangat berbakat.”
“Ya, Akira sangat berbakat. Jika dia
giat, masa depannya akan bagus di sini,” kata Sukrama membenarkan. (RH)
Catatan: Kategori GANTUNG adalah novel yang sudah pernah terbit, tetapi akhir alurnya menggantung. Semoga setelah sampai di bab terakhir, Author sanggup melanjutkan kembali alurnya. Harap maklum.


0 komentar:
Posting Komentar