*Dendam Tiga Wanita*
“Tes untuk tingkat dua!” kata Rayni mengajak Akira untuk
masuk arena berikutnya yang ada di ruang kaca sebelah.
Dalam ruangang itu, adalah sebuah arena berupa jembatan
lintasan lurus di atas kolam air yang penuh rintangan penghalang. Kanan kiri
jembatan adalah dinding yang memiliki berbagai alat untuk menjatuhkan orang
yang melintas. Ada tembakan bola, semprot air, ayunan gada, dan yang lainnya.
Tinggi jembatan dari permukaan air kolam lebih tinggi dari kepala Akira. Lebar
lintasan jembatan hanya dua jengkal dan ada bagian jembatan yang terputus.
“Lewati semua rintangan di atas jembatan. Ada sepuluh
rintangan. Jika kau jatuh, gagal. Dan ada tiga kali kesempatan mencoba!” jelas
Rayni.
Akira hanya mengangguk. Dia lalu berdiri di depan tangga
naik ke jembatan. Akira memerhatikan model rintangannya satu per satu,
tapi Akira belum mengetahui beberapa jenis rintangan lainnya di atas jembatan.
“Bersiaplah! Mulai!” seru Rayni.
Akira segera menaiki tangga dan langsung berlari kecil di
atas tangga. Usianya tidak membuat Akira takut dengan berlari di ketinggian.
Bang! Bang! Beg!
Jburr!
Baru berlari beberapa meter di jembatan, dari tembok
samping kanan kiri menembakkan beberapa bola kepada Akira. Bola pertama luput,
tapi bola kedua tepat mengenai kepala Akira. Akira oleng seketika dan jatuh ke
dalam kolam.
Di dalam air, Akira meronta gelagapan seperti tidak bisa
berenang, sebab kedalaman kolam cukup dalam. Sejenak terlintas dalam ingatan Akira
peristiwa buruk saat ia jatuh terjun ke dalam sungai dan hanyut di malam hari.
Melihat Akira meronta-ronta di dalam air seperti tidak
bisa berenang, Rala Badar jadi panik bukan main. Dia jadi heran karena waktu
itu Akira sudah bisa mengatasi traumanya.
Rayni juga sempat terkejut, karena menurut pengakuan Akira
sebelumnya bahwa dia bisa berenang.
Rayni membatalkan niatnya untuk terjun ke kolam menolong.
Ternyata Akira berubah tenang dan berenang ke tepi kolam. Akira kembali naik
dengan kondisi basah kuyup.
“Kau tidak apa-apa, Akira?” tanya Rayni memastikan.
“Tidak.”
Rala Badar pun di luar sana merasa lega.
Mungkin Akira hanya terkejut saat jatuh ke air.
“Masih mau mencoba?” tanya Rayni.
Akira mengangguk lalu melangkah ke depan tangga. Ia basah
kuyup, pakaiannya menjadi lebih berat dan air bertetesan ke lantai. Namun,
itu bukan masalah.
“Mulai!” seru Rayni lagi.
Akira yang memang berjiwa petarung bergerak cepat naik
dan berlari kecil seperti tadi di atas jembatan.
Bang! Bang!
Akira yang berlari sambil mengawasi meriam bola di
dinding, dapat mengelak dari enam tembakan bola. Bahkan Akira sempat
berjongkok saat satu bola menembak ke arah kepala.
Sroots!
Lolos rintangan pertama, rintangan selanjutnya adalah
meriam air. Akira lolos dari semprotan air, tapi semprotan itu berjalan
mengejar. Akira harus berlari kencang, apa lagi rintangan ketiga adalah
jembatan yang putus dan yang ada hanya palang-palang besi di sebelah atas. Akira
harus bergantung dengan tangan untuk sampai ke jembatan selanjutnya. Palang
besi itu cukup tinggi. Karena itu Akira berlari kencang sekaligus menghindari
semprotan air.
Di ujung jembatan yang putus, Akira melompat tinggi dan
kedua tangannya berhasil menjangkau palang besi. Ada sepuluh palang besi yang
harus digantungi olehnya.
Sementara di luar sana, Rala Badar begitu tegang dan
gregetan sendiri di sebelah Sukrama.
Akira berhasil berjalan menggantung dengan kedua
tangannya melewati sepuluh palang besi. Dengan hati-hati dia turun kembali ke
jembatan berikutnya. Akira kembali berlari tanpa tahu rintangan
apa lagi yang ada di jembatan itu.
Alangkah terkejutnya Akira ketika dinding panjang dan
lebar di sisi kanan bergerak maju ke arahnya. Tampaknya sudah pasti Akira akan
terdorong jatuh oleh dinding itu. Akira memilih berhenti unruk berpikir.
Matanya yang liar mencari cara menunjukkan kecerdasannya. Lari kencang pun
tetap akan terkena, melompat ke atas tidak mungkin, melompat ke air berarti
gagal.
“Aaah!” teriak Rala karena yakin Akira akan gugur, karena
rintangan itu sepertinya mustahil dilalui.
“Dia berhasil!” kata Sukrama yang membuat Rala Badar
cepat melotot seksama menyaksikan.
Ketika jarak dinding itu tinggal beberapa jengkal lagi,
tiba-tiba Akira menjatuhkan tubuhnya. Bukan ke air, tapi tengkurap di atas
jembatan. Rupanya bagian bawah dinding memiliki ketinggian sebetis dari atas
jembatan. Dan dinding itu berhenti tepat di atas punggung Akira lalu ditarik
kembali oleh mesin penggeraknya. Itulah jalan satu-satunya menghindar dari
dorongan dinding.
Setelah itu, Akira cepat bangun dan berlari. Namun,
dinding dari sebelah kiri bergerak datang dengan cara yang sama. Akira pun
melakukan tindakan serupa. Setelah dinding kedua berhenti di atas punggungnya
dan berbalik, Akira cepat bangkit dan kembali berlari. Akira lolos dan masuk ke
rintangan berikutnya.
Selanjutnya, beberapa meter ke depan, di atas jembatan
menggantung sepuluh gantungan gada yang bergerak mengayun teratur ke kanan ke
kiri dengan ritme bergantian. Ayunan gada yang satu dengan yang lain tidak
seirama. Akira harus melalui kesepuluh halangan ayunan gada. Jika terkena, maka
gada akan mendorongnya jatuh ke air.
Ternyata rintangan yang satu ini dengan mudah Akira lalui
tanpa kesulitan. Termasuk lintasan yang diberi sekat-sekat setinggi pinggang, Akira
hanya perlu turun naik melaluinya.
Adapun rintangan ketujuh adalah jembatan yang berubah
hanya setipis jari. Akira harus berjalan pelan dan menjaga keseimbangannya
dengan baik. Itu pun berhasil Akira lalui.
Jembatan berikutnya adalah jembatan berjalan yang
memiliki lapisan yang berputar dari depan mundur ke belakang. Selain
keseimbangan, Akira harus berlari cepat melawan arus seperti berlari di alat
treadmill.
Pertama menginjak jembatan itu, Akira nyaris terpeleset. Akira
terpaksa harus berlari kencang. Berjalan biasa akan terbawa mundur, berlari
pelan akan jalan di tempat. Itu pun akhirnya Akira lalui.
Selanjutnya, jembatannya tidak berjalan, tapi ada
rintangan gawang setinggi lutut dengan jarak tertentu yang bergerak berjalan.
Ketika Akira berada di jembatan itu, Akira terpaksa harus melakukan lompatan di
tempat lebih tinggi dari lututnya dan mendarat dengan sempurna agar tidak oleng
dan jatuh. Sambil bergerak maju, Akira beberapa kali harus melompat sempurna.
Rintangan terakhir terdiri dari beberapa jembatan putus
pendek-pendek. Bedanya, semua jembatan pendek itu bergoyang agak kencang ke
kanan dan ke kiri. Namun di sebelah atas, diberi bentangan tambang
yang berfungsi sebagai pegangan. Akira pun berpikir sejenak, hingga akhirnya
dia pun memutuskan.
Akira memutuskan meraih tali lalu kedua kakinya pun ia
naikkan ke tambang. Kemudian Akira merayap bergantung di tambang. Akira merasa
sangat ragu untuk berjalan di jembatan yang bergoyang kencang
itu, meski tangannya bisa berpegangan pada tambang. Maka Akira memilih cara
aman dengan hanya melalui tambang.
“Akira anak yang cerdas!” puji Sukrama kepada Rala Badar.
“Lulus!” seru Rayni ketika Akira sampai di finish.
Akira berlari mengitari kolam dengan wajah dingin tapi
semangat. Di luar arena kaca, Rala Badar begitu gembira.
Di arena ketiga, adalah sebuah kolam murni. Tapi di dalam
air kolam ada sesuatu.
“Tes untuk tingkat tiga! Aturannya tidak sulit. Kau harus
menyelam dan mengumpulkan 20 bendera, lalu kau bawa ke tepi tempat aku
berdiri. Kau hanya memiliki satu kesempatan bernapas keluar dari air
setelah menyelam. Dan selalu ada tiga kali mencoba!”
Akira hanya mengangguk lalu berdiri di bibir kolam.
“Mulai!” seru Rayni.
Jbur!
“Harkll!”
Akira langsung terjun ke dalam air. Namun, semuanya
cukup terkejut ketika Akira meronta di dalam air dan gelagapan seperti tidak
bisa berenang lagi. Air kolam sempat tertelan oleh Akira. Rayni memperhatikan
sejenak.
“Uhuk uhuk uhuk! Hoekh!”
Akira muncul ke permukaan dan mengeluarkan kepalanya dari
air sambil terbatuk-batuk dan ingin muntah. Itu karena air tertelan olehnya
cukup banyak.
“Gagal!” seru Rayni.
Akira berenang ke tepi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rayni memastikan.
“Tidak,” jawab Akira pelan sambil kembali naik.
“Baik, atur dulu pernapasanmu dan tenangkan pikiranmu.
Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu bila kau terjun ke air!”
kata Rayni.
Akira lalu melakukan olah pernapasan dan mencoba
menenangkan pikirannya. Mengolah pernapasan adalah hal yang biasa Akira lakukan
bersama ayah kandungnya.
“Aku dan Ibu mengalami masa buruk di dalam air,” kata Akira
kepada Rayni setelah pernapasannya selesai. Lalu serunya pelan, “Aku
siap!”
“Mulai!” seru Rayni.
Jbur!
Akira kembali terjun. Tampak Akira meronta kecil.
Namun, itu cepat teratasi. Di dalam air, Akira melakukan penyelaman untuk
mengumpulkan bendera kain yang dipasang di untaian-untaian tali di dalam air
kolam. Bendera-bendera kecil itu tinggal ditarik dalam mengambilnya.
Menyelam bukanlah hal sulit bagi Akira. Usia sekecil itu,
Akira telah diajarkan berbagai kelebihan oleh kedua orangtuanya, termasuk
berenang dan menyelam. Apalagi belakangan ayah angkatnya menjadi guru yang baik
baginya. Kecepatan dan ketahanan Akira dalam menyelam tergolong tinggi.
“Hebat, Akira tidak melakukan pencurian napas yang
diberikan!” ucap Sukrama memuji lagi.
“Aku yang mendidiknya. Hahaha!” kata Rala Badar seraya
tertawa, seolah-olah Akira adalah murni buah karyanya.
“Lulus!” seru Rayni yang turut kagum, sebab Akira mampu
tidak melakukan peluang pencurian napas yang diperbolehkan
sekali. (RH)
Catatan: Kategori GANTUNG adalah novel yang sudah pernah terbit, tetapi akhir alurnya menggantung. Semoga setelah sampai di bab terakhir, Author sanggup melanjutkan kembali alurnya. Harap maklum.


0 komentar:
Posting Komentar