PKK10: Gadis Penjaga Rumah Burung


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Seperti dunia milik berdua, sementara orang lain dianggap obat nyamuk bakar cap Kang Kung.

Pokoknya bahagia dan hanya bahagia yang dirasakan oleh Blikik dan Citayam.

Pada senja yang berangin sejuk, keduanya duduk berdampingan naik pedati yang ditarik oleh seekor kuda. Lari kuda cukup kencang.

Blikik bertindak sebagai kusirnya, sementara Citayam berlaku sebagai tukang pegang. Dia duduk di sisi tunangannya sambil memegangi lengan besar Blikik. Blikik tidak hanya memiliki sesuatu lain yang besar, tetapi juga lengan yang besar.

Sore itu, dari Desa Buangsetan mereka menuju ke Desa Buangbiang. Kedua desa masih tetanggaan dalam Kademangan Butogilo yang dikepalai oleh Demang Segara Gara.

Di bawah kepemimpinan Demang Segara Gara, desa-desa yang berada di dalam wilayah Kademangan Butogilo terbilang aman dari kelompok-kelompok begal. Karenanya Blikik berani berpergian lintas desa di kala senja yang pastinya akan bertemu malam di tengah jalan.

“Kakang, kapan pernikahan kita dilaksanakan?” tanya Citayam sembari tersenyum kepada alam, sedangkan kepala dia sandarkan di lengan tunangannya.

“Pasti secepatnya. Kakang butuh waktu untuk mengumpulkan uang. Termasuk perjalanan kita saat ini dalam rangka mengumpulkan uang. Yang terpenting, sayangku ini bisa sabar dan tidak selalu menuntut. Percayalah, Kakang pasti mengutamakan pernikahan kita dibanding yang lain. Kakang juga kan sudah tidak sabar untuk pegang-pegang yang lain. Hahaha!” kata Blikik yang berujung pikiran mesum disertai tawanya.

“Iiih genit!” pekik Citayam dengan wajah memerah jambu, kemudian dia tersenyum lebar dengan pandangan yang malu.

“Hahaha!” Blikik kian tertawa. “Kau malu, tapi terus menempel kepadaku.”

“Nanti kalau aku lepas, Kakang malah disambar wanita lain,” kata Citayam sembari pura-pura merengut. Sepertinya dia ada bakat jadi bintang sinetron.

“Hahaha!” Blikik terus tertawa. Dia lalu mencolek dagu Citayam, membuat gadis cantik itu kian tersenyum lebar dan menundukkan wajahnya, tapi pelukannya pada lengan besar pemuda itu kian kuat.



Sangat bahagia Blikik saat itu, demikian pula dengan Citayam. Blikik lupa dengan istrinya yang sedang bergelut dengan api tungku dan asap dapur, membuat makan malam yang enak untuknya.

Akhirnya, sebelum matahari senja tenggelam di barat, mereka akhirnya tiba di kediaman besar Demang Segara Gara. Itu adalah rumah kedua Demang. Nyai Demang tidak tinggal di rumah besar yang dijaga sejumlah prajurit kademangan itu.

“Mau urusan apa?” tanya prajurit penjaga pintu halaman yang pagarnya hanya separuh.

“Mau mendaftar Duel Pendekar,” jawab Blikik.

“Masuklah dan temui wanita pendekar bernama Ageng, yang ada di rumah burung itu!” suruh si prajurit memberi jalan.

“Baik.”

Blikik pun menjalankan kembali pedatinya memasuki halaman dan menuju ke rumah mungil bambu yang ada di sisi kiri halaman. Keberadaan rumah kecil yang disebut “rumah burung” itu justru memperindah pemadangan di halaman.

Pedati diparkirkan tepat di depan rumah burung. Bagian depan rumah burung itu hanya memiliki satu pintu yang tertutup dan jendela besar yang terbuka, seperti sebuah warung tanpa barang yang dipajang, kecuali seorang wanita cantik berusia matang berpakaian pendekar warna merah muda.

“Pendekar Ageng?” tanya Blikik menyapa santun. Dia sudah berdiri di depan jendela.

“Benar. Mau memberi apa?” tanya wanita itu dingin.

“Mau memberi hati, tapi takut istriku minta cerai. Jadi aku mau memberi pendaftaran untuk Duel Butogilo,” jawab Blikik sedikit menggombal.

“Jangan menggombal di depanku jika tidak mau kehilangan hidung,” kata Ageng dingin, tapi bikin bokong Blikik merinding.

“Siapa namamu dan julukanmu?” tanya Ageng sambil menyiapkan sehelai kulit bambu dan pisau kecil.

“Eh, bukan aku!” sangkal Blikik.

“Lalu siapa yang ingin kau daftarkan?” tanya Ageng, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam dari pisaunya.

“Rugi Sabuntel. Temanku namanya Rugi Sabuntel,” kata Blikik cepat, takut telat menjawab yang bisa membuat emosi kewanitaan Ageng terpancing.

“Pendekar yang gendut itu?” tanya Ageng memastikan.

“Kau mengenal Rugi?” tanya Blikik cepat, terkejut bahwa pendekar wanita itu ternyata mengenal Rugi.

“Aku mengaguminya,” kata Ageng datar.

“Oh ya? Hahaha!” pekik Blikik, lalu tertawa heboh sendiri.

“Jangan menertawaiku!” hardik Ageng.

Blikik seketika berhenti tertawa.

“Aku hanya tertawa senang, bukan menertawaimu, Cantik,” ucap Blikik pelan, tapi berani menggoda.

Ageng sementara tidak menanggapi perkataan Blikik. Ia menulis nama Rugi Sabuntel di lembaran kulit bambu yang tipis dengan ujung pisaunya. Hebatnya, Ageng menulis seperti sedang menulis menggunakan kuas. Pisaunya begitu ringan mengukir kerasnya kulit bambu tersebut.

“Julukannya?” tanya Ageng singkat.

“Julukan Rugi?” tanya balik Blikik.

“Hmm,” gumam Ageng.

“Pendekar Gendut Budiman,” jawab Blikik asal pilih nama. Padahal, Rugi Sabuntel tidak pernah punya julukan.

Ageng kembali menulis nama julukan yang disebutkan oleh Blikik.

“Kau sudah tahu hari dan waktu pertandingannya?” tanya Ageng.

“Sudah.”

“Jangan terlambat atau dianggap gugur,” pesan Ageng. “Kau boleh pergi.”

“Tunggu dulu. Aku mau tahu, siapa-siapa yang akan menjadi calon lawan Rugi di pertandingan nanti,” ujar Blikik.

“Ada Pendekar Macan Langit, Pendekar Golok Bayangan, Ki Kumis, Pengantin Tanpa Suami, dan banyak lagi,” jawab Ageng.

“Aku hanya tidak mengenal pendekar yang bernama Pengantin Tanpa Suami. Maksudnya, dia itu pendekar wanita?” tanya Blikik.

“Iya. Dia pendekar wanita yang pilih tanding, dari luar kadipaten,” jelas Ageng.

“Waaah, menarik jika pendekar wanita itu menjadi lawan Rugi. Aku juga jadi penasaran,” kata Blikik.

“Istrimu ada di sana, tapi kau masih juga bersikap genit,” tukas Ageng.

“Eh, aku tidak genit. Wajar aku jika penasaran,” sangkal Blikik.

“Jika urusanmu sudah selesai, pergilah!” usir Ageng.

“Iya,” ucap Blikik lalu berani menatap dua tarikan napas kepada Ageng.

“Mau aku congkel matamu itu?” tanya Ageng yang tidak suka ditatapi seperti itu oleh Blikik.

“Hehehe! Galak sekali,” ucap Blikik setelah terkekeh.

Buru-buru dia berbalik pergi sebelum Ageng menunaikan ancamannya.

Blikik kembali naik ke posisi kusir di pedatinya.

“Sudah selesai, Kakang?” tanya Citayam.

“Sudah. Pendekar wanitanya galak,” jawab Blikik. “Untung calon istriku bukan seorang pendekar, jadi tidak bisa galak-galak.”

“Hmmm. Aku juga bisa galak loh, Kakang,” kata Citayam dengan lirikan menggoda.

“Ah, kok aku tidak tahu,” kata Blikik setengah terkejut.

“Aku galak jika di ranjang. Hihihi!” kata Citayam lalu tertawa genit.

“Hahaha!” tawa kencang Blikik.

Tawa ramai keduanya membuat Ageng yang adalah jomblo 24 karat itu memandang kesal kepada Blikik dan selingkuhannya.

Pedati itu bergerak keluar dari halaman dan berjalan pergi meninggalkan kediaman Demang Segara-gara.

Blikik dan pedatinya sempat berpapasan dengan sebuah kereta kuda bagus yang berbilik tertutup. Di bagian depan duduk seorang sais dan lelaki berpakaian pendekar. Kereta kuda yang identik berwarna biru gelap itu memasuki halaman setelah prajurit jaga membuka pintu pagar halaman.

Kereta kuda berhenti di halaman, tepat di depan teras.

Seorang lelaki berpakaian bagus warna biru cerah turun. Dia terbilang tampan untuk ukuran lelaki berkepala empat lebih tiga tahun. Bertotopong bagus warna biru pula. Lelaki berkumis tipis itu tidak lain adalah Demang Segara Gara.

“Ageng!” panggil Demang Segara Gara setengah berteriak.

“Hamba, Gusti!” sahut Ageng sambil berlari keluar dari rumah burungnya dan mendatangi Demang Segara Gara.

“Sudah berapa banyak pendekar yang mendaftar?” tanya Demang.

“Dua puluh satu orang, Gusti. Kali ini Rugi Sabuntel mendaftar,” jawab Ageng.

“Oh ya? Bagus jika demikian. Sebenarnya aku butuh pendekar seperti dia, tapi tetap harus ikut penyaringan,” kata Demang Segara Gara. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar