*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Seperti dunia milik
berdua, sementara orang lain dianggap obat nyamuk bakar cap Kang Kung.
Pokoknya bahagia dan
hanya bahagia yang dirasakan oleh Blikik dan Citayam.
Pada senja yang
berangin sejuk, keduanya duduk berdampingan naik pedati yang ditarik oleh
seekor kuda. Lari kuda cukup kencang.
Blikik bertindak
sebagai kusirnya, sementara Citayam berlaku sebagai tukang pegang. Dia duduk di
sisi tunangannya sambil memegangi lengan besar Blikik. Blikik tidak hanya
memiliki sesuatu lain yang besar, tetapi juga lengan yang besar.
Sore itu, dari Desa
Buangsetan mereka menuju ke Desa Buangbiang. Kedua desa masih tetanggaan dalam Kademangan
Butogilo yang dikepalai oleh Demang Segara Gara.
Di bawah kepemimpinan
Demang Segara Gara, desa-desa yang berada di dalam wilayah Kademangan Butogilo
terbilang aman dari kelompok-kelompok begal. Karenanya Blikik berani berpergian
lintas desa di kala senja yang pastinya akan bertemu malam di tengah jalan.
“Kakang, kapan
pernikahan kita dilaksanakan?” tanya Citayam sembari tersenyum kepada alam,
sedangkan kepala dia sandarkan di lengan tunangannya.
“Pasti secepatnya.
Kakang butuh waktu untuk mengumpulkan uang. Termasuk perjalanan kita saat ini
dalam rangka mengumpulkan uang. Yang terpenting, sayangku ini bisa sabar dan
tidak selalu menuntut. Percayalah, Kakang pasti mengutamakan pernikahan kita
dibanding yang lain. Kakang juga kan sudah tidak sabar untuk pegang-pegang yang
lain. Hahaha!” kata Blikik yang berujung pikiran mesum disertai tawanya.
“Iiih genit!” pekik
Citayam dengan wajah memerah jambu, kemudian dia tersenyum lebar dengan
pandangan yang malu.
“Hahaha!” Blikik kian
tertawa. “Kau malu, tapi terus menempel kepadaku.”
“Nanti kalau aku
lepas, Kakang malah disambar wanita lain,” kata Citayam sembari pura-pura
merengut. Sepertinya dia ada bakat jadi bintang sinetron.
“Hahaha!” Blikik
terus tertawa. Dia lalu mencolek dagu Citayam, membuat gadis cantik itu kian
tersenyum lebar dan menundukkan wajahnya, tapi pelukannya pada lengan besar
pemuda itu kian kuat.
Sangat bahagia Blikik
saat itu, demikian pula dengan Citayam. Blikik lupa dengan istrinya yang sedang
bergelut dengan api tungku dan asap dapur, membuat makan malam yang enak
untuknya.
Akhirnya, sebelum
matahari senja tenggelam di barat, mereka akhirnya tiba di kediaman besar
Demang Segara Gara. Itu adalah rumah kedua Demang. Nyai Demang tidak tinggal di
rumah besar yang dijaga sejumlah prajurit kademangan itu.
“Mau urusan apa?”
tanya prajurit penjaga pintu halaman yang pagarnya hanya separuh.
“Mau mendaftar Duel
Pendekar,” jawab Blikik.
“Masuklah dan temui
wanita pendekar bernama Ageng, yang ada di rumah burung itu!” suruh si prajurit
memberi jalan.
“Baik.”
Blikik pun
menjalankan kembali pedatinya memasuki halaman dan menuju ke rumah mungil bambu
yang ada di sisi kiri halaman. Keberadaan rumah kecil yang disebut “rumah
burung” itu justru memperindah pemadangan di halaman.
Pedati diparkirkan
tepat di depan rumah burung. Bagian depan rumah burung itu hanya memiliki satu
pintu yang tertutup dan jendela besar yang terbuka, seperti sebuah warung tanpa
barang yang dipajang, kecuali seorang wanita cantik berusia matang berpakaian
pendekar warna merah muda.
“Pendekar Ageng?”
tanya Blikik menyapa santun. Dia sudah berdiri di depan jendela.
“Benar. Mau memberi
apa?” tanya wanita itu dingin.
“Mau memberi hati,
tapi takut istriku minta cerai. Jadi aku mau memberi pendaftaran untuk Duel
Butogilo,” jawab Blikik sedikit menggombal.
“Jangan menggombal di
depanku jika tidak mau kehilangan hidung,” kata Ageng dingin, tapi bikin bokong
Blikik merinding.
“Siapa namamu dan
julukanmu?” tanya Ageng sambil menyiapkan sehelai kulit bambu dan pisau kecil.
“Eh, bukan aku!”
sangkal Blikik.
“Lalu siapa yang
ingin kau daftarkan?” tanya Ageng, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam
dari pisaunya.
“Rugi Sabuntel.
Temanku namanya Rugi Sabuntel,” kata Blikik cepat, takut telat menjawab yang
bisa membuat emosi kewanitaan Ageng terpancing.
“Pendekar yang gendut
itu?” tanya Ageng memastikan.
“Kau mengenal Rugi?”
tanya Blikik cepat, terkejut bahwa pendekar wanita itu ternyata mengenal Rugi.
“Aku mengaguminya,”
kata Ageng datar.
“Oh ya? Hahaha!”
pekik Blikik, lalu tertawa heboh sendiri.
“Jangan
menertawaiku!” hardik Ageng.
Blikik seketika
berhenti tertawa.
“Aku hanya tertawa
senang, bukan menertawaimu, Cantik,” ucap Blikik pelan, tapi berani menggoda.
Ageng sementara tidak
menanggapi perkataan Blikik. Ia menulis nama Rugi Sabuntel di lembaran kulit
bambu yang tipis dengan ujung pisaunya. Hebatnya, Ageng menulis seperti sedang
menulis menggunakan kuas. Pisaunya begitu ringan mengukir kerasnya kulit bambu
tersebut.
“Julukannya?” tanya
Ageng singkat.
“Julukan Rugi?” tanya
balik Blikik.
“Hmm,” gumam Ageng.
“Pendekar Gendut
Budiman,” jawab Blikik asal pilih nama. Padahal, Rugi Sabuntel tidak pernah
punya julukan.
Ageng kembali menulis
nama julukan yang disebutkan oleh Blikik.
“Kau sudah tahu hari
dan waktu pertandingannya?” tanya Ageng.
“Sudah.”
“Jangan terlambat
atau dianggap gugur,” pesan Ageng. “Kau boleh pergi.”
“Tunggu dulu. Aku mau
tahu, siapa-siapa yang akan menjadi calon lawan Rugi di pertandingan nanti,”
ujar Blikik.
“Ada Pendekar Macan
Langit, Pendekar Golok Bayangan, Ki Kumis, Pengantin Tanpa Suami, dan banyak
lagi,” jawab Ageng.
“Aku hanya tidak
mengenal pendekar yang bernama Pengantin Tanpa Suami. Maksudnya, dia itu
pendekar wanita?” tanya Blikik.
“Iya. Dia pendekar
wanita yang pilih tanding, dari luar kadipaten,” jelas Ageng.
“Waaah, menarik jika
pendekar wanita itu menjadi lawan Rugi. Aku juga jadi penasaran,” kata Blikik.
“Istrimu ada di sana,
tapi kau masih juga bersikap genit,” tukas Ageng.
“Eh, aku tidak genit.
Wajar aku jika penasaran,” sangkal Blikik.
“Jika urusanmu sudah
selesai, pergilah!” usir Ageng.
“Iya,” ucap Blikik
lalu berani menatap dua tarikan napas kepada Ageng.
“Mau aku congkel
matamu itu?” tanya Ageng yang tidak suka ditatapi seperti itu oleh Blikik.
“Hehehe! Galak
sekali,” ucap Blikik setelah terkekeh.
Buru-buru dia
berbalik pergi sebelum Ageng menunaikan ancamannya.
Blikik kembali naik
ke posisi kusir di pedatinya.
“Sudah selesai,
Kakang?” tanya Citayam.
“Sudah. Pendekar
wanitanya galak,” jawab Blikik. “Untung calon istriku bukan seorang pendekar,
jadi tidak bisa galak-galak.”
“Hmmm. Aku juga bisa
galak loh, Kakang,” kata Citayam dengan lirikan menggoda.
“Ah, kok aku tidak
tahu,” kata Blikik setengah terkejut.
“Aku galak jika di
ranjang. Hihihi!” kata Citayam lalu tertawa genit.
“Hahaha!” tawa
kencang Blikik.
Tawa ramai keduanya
membuat Ageng yang adalah jomblo 24 karat itu memandang kesal kepada Blikik dan
selingkuhannya.
Pedati itu bergerak
keluar dari halaman dan berjalan pergi meninggalkan kediaman Demang
Segara-gara.
Blikik dan pedatinya
sempat berpapasan dengan sebuah kereta kuda bagus yang berbilik tertutup. Di
bagian depan duduk seorang sais dan lelaki berpakaian pendekar. Kereta kuda
yang identik berwarna biru gelap itu memasuki halaman setelah prajurit jaga
membuka pintu pagar halaman.
Kereta kuda berhenti
di halaman, tepat di depan teras.
Seorang lelaki
berpakaian bagus warna biru cerah turun. Dia terbilang tampan untuk ukuran
lelaki berkepala empat lebih tiga tahun. Bertotopong bagus warna biru pula.
Lelaki berkumis tipis itu tidak lain adalah Demang Segara Gara.
“Ageng!” panggil
Demang Segara Gara setengah berteriak.
“Hamba, Gusti!” sahut
Ageng sambil berlari keluar dari rumah burungnya dan mendatangi Demang Segara
Gara.
“Sudah berapa banyak
pendekar yang mendaftar?” tanya Demang.
“Dua puluh satu
orang, Gusti. Kali ini Rugi Sabuntel mendaftar,” jawab Ageng.
“Oh ya? Bagus jika demikian. Sebenarnya aku butuh pendekar seperti dia, tapi tetap harus ikut penyaringan,” kata Demang Segara Gara. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar