Darah Haid Banyak, Bab13 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*


Rina: Sa, sadar, sadar!

Greg greg!

Saking menggigil dan kejangnya, gigi Lisa sampai gemetar beradu.

Rina: Pak, ini apa? Ini hipo, ya? (Masih panik)

Pendaki1: Jangan ngomong begitu ya, Neng, di sini.

Pendaki senior itu lalu mengambil selimut aluminium dan mengenakannya kepada Lisa.

Namun, badan Lisa sangat keras, tidak bisa ditekuk.

Lisa: Eee! (Merintih menggigil)

Rina: Sa, jangan begitu dong. Sadar. Gua eggak mau melihat kamu di sini kayak gini. Gue sedih lihat elu.

Lisa: Eee … eee! (Seolah menyahut)

Rina: A’, ini bagaimana?

Elang: Ya udah bagaimana! Lagian pada ngeyel! (Marah)

Pendaki1: Udah, jangan pada berantem. Ini kan temannya lagi begini. Berusaha aja bagaimana cara nyembuhin dianya.

Rina: Bagaimana, ya?

Gitu: Coba itu dibuka dulu celananya, sudah basah sama darahnya!

Rina: Coba Abang-Abang di depan dulu, biar gue yang gantiin celananya.

Para lelaki lalu keluar dari dalam tenda. Rina bekerja membuka celana Lisa.

Ketika Rina membuka celana Lisa, dia melihat darah keluar seperti air keran yang mengucur, keluar terus.

Rina kemudian mengelapnya, tapi terus keluar. Ia lap berulang-ulang, tapi terus keluar. Sampai matrasnya dan selimut aluminiumnya basah oleh darah haid.

Rina: Gue gantiin juga percuma ini, darahnya pasti nempel lagi. (Dalam hati)

Rina: Bagaimana ya? Kalau kelamaan kebuka juga bakal kedinginan, kasihan. (Dalam hati)

Rina lalu mencari akal. Ia kemudian menggunakan sleeping bag untuk Lisa.

Rina: Biarin deh, setidaknya sudah gue gantiin pakai celana yang enggak basah. (Dalam hati)

Namun, tubuh Lisa semakin goyang tidak mau diam. Rina kembali menangis panik.

Rina: Bang … Bang …! Tolong … tolong …! Tolong, ya Allah! Ini tuh manusia! (Teriak)

Pendaki1: Habis, bagaimana, Neng? Kita juga bingung.

Lisa lalu diruqyah dengan berbagai ayat, solawat dan doa, tapi Lisa tetap seperti itu.

Rina: Ya Allah, kalau memang ada salah, maafin. Siapa pun penunggu di sini yang sakit hati karena kelakuan kita, kita minta maaf.

Lisa terus diruqyah dengan bacaan Al-Qur’an, tapi tubuh Lisa tetap bergerak-gerak sampai tenda ikut bergoyang terus.

Rina hanya menangis dan memeluki tubuh Lisa.

Pendaki1: Jangan begitu, Neng. Nanti dia enggak ada oksigen. Dibiarin aja, diluasin aja, biar dia semakin rileks, enggak ketutupan sama kita.

Kapasitas tenda itu hanya untuk empat orang, tetapi saat itu dipenuhi banyak orang.

Pendaki1: Yang enggak ngerti mending ke luar saja!

Setelah kondisi cukup lega, pendaki senior itu lalu meruqyah Lisa di dekat telinga. Dia juga azan di dekat telinga Lisa.

Setelah diazani, pupil hitam bola mata Lisa mulai turun lagi.

Pendaki1: Bang, sini, azanin!

Lisa lalu diazani di sisi kanan oleh pendaki senior dan Elang di sisi telinga kiri.

Melihat sahabatnya sudah seperti orang mati, Rina hanya menangis sambil menggoyang-goyangkan kaki Lisa.

Rina: Sa, sadar, Sa! (Sambil menangis)

Ketika kepala Lisa ditepuk-tepuk oleh pendaki senior, barulah Lisa tersadar dengan napas terengah-engah, seolah usai berlari jauh. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar