*Siksa Dari Gunung*
Rina: Sa, sadar,
sadar!
Greg greg!
Saking menggigil dan
kejangnya, gigi Lisa sampai gemetar beradu.
Rina: Pak, ini apa?
Ini hipo, ya? (Masih panik)
Pendaki1: Jangan
ngomong begitu ya, Neng, di sini.
Pendaki senior itu
lalu mengambil selimut aluminium dan mengenakannya kepada Lisa.
Namun, badan Lisa
sangat keras, tidak bisa ditekuk.
Lisa: Eee! (Merintih
menggigil)
Rina: Sa, jangan
begitu dong. Sadar. Gua eggak mau melihat kamu di sini kayak gini. Gue sedih
lihat elu.
Lisa: Eee … eee!
(Seolah menyahut)
Rina: A’, ini
bagaimana?
Elang: Ya udah
bagaimana! Lagian pada ngeyel! (Marah)
Pendaki1: Udah,
jangan pada berantem. Ini kan temannya lagi begini. Berusaha aja bagaimana cara
nyembuhin dianya.
Rina: Bagaimana, ya?
Gitu: Coba itu dibuka
dulu celananya, sudah basah sama darahnya!
Rina: Coba
Abang-Abang di depan dulu, biar gue yang gantiin celananya.
Para lelaki lalu
keluar dari dalam tenda. Rina bekerja membuka celana Lisa.
Ketika Rina membuka
celana Lisa, dia melihat darah keluar seperti air keran yang mengucur, keluar
terus.
Rina kemudian
mengelapnya, tapi terus keluar. Ia lap berulang-ulang, tapi terus keluar.
Sampai matrasnya dan selimut aluminiumnya basah oleh darah haid.
Rina: Gue gantiin
juga percuma ini, darahnya pasti nempel lagi. (Dalam hati)
Rina: Bagaimana ya?
Kalau kelamaan kebuka juga bakal kedinginan, kasihan. (Dalam hati)
Rina lalu mencari
akal. Ia kemudian menggunakan sleeping bag untuk Lisa.
Rina: Biarin deh,
setidaknya sudah gue gantiin pakai celana yang enggak basah. (Dalam hati)
Namun, tubuh Lisa
semakin goyang tidak mau diam. Rina kembali menangis panik.
Rina: Bang … Bang …!
Tolong … tolong …! Tolong, ya Allah! Ini tuh manusia! (Teriak)
Pendaki1: Habis,
bagaimana, Neng? Kita juga bingung.
Lisa lalu diruqyah
dengan berbagai ayat, solawat dan doa, tapi Lisa tetap seperti itu.
Rina: Ya Allah, kalau
memang ada salah, maafin. Siapa pun penunggu di sini yang sakit hati karena
kelakuan kita, kita minta maaf.
Lisa terus diruqyah
dengan bacaan Al-Qur’an, tapi tubuh Lisa tetap bergerak-gerak sampai tenda ikut
bergoyang terus.
Rina hanya menangis
dan memeluki tubuh Lisa.
Pendaki1: Jangan
begitu, Neng. Nanti dia enggak ada oksigen. Dibiarin aja, diluasin aja, biar
dia semakin rileks, enggak ketutupan sama kita.
Kapasitas tenda itu
hanya untuk empat orang, tetapi saat itu dipenuhi banyak orang.
Pendaki1: Yang enggak
ngerti mending ke luar saja!
Setelah kondisi cukup
lega, pendaki senior itu lalu meruqyah Lisa di dekat telinga. Dia juga azan di
dekat telinga Lisa.
Setelah diazani,
pupil hitam bola mata Lisa mulai turun lagi.
Pendaki1: Bang, sini,
azanin!
Lisa lalu diazani di
sisi kanan oleh pendaki senior dan Elang di sisi telinga kiri.
Melihat sahabatnya
sudah seperti orang mati, Rina hanya menangis sambil menggoyang-goyangkan kaki
Lisa.
Rina: Sa, sadar, Sa!
(Sambil menangis)
Ketika kepala Lisa
ditepuk-tepuk oleh pendaki senior, barulah Lisa tersadar dengan napas
terengah-engah, seolah usai berlari jauh. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar