*Siksa Dari Gunung*
Akhirnya Elang
dan rombongan turun.
Sebelum
turun, mereka terlebih dulu berdoa.
Sambil
berdoa, Rina memandangi wajah Lisa yang berdoa. Terlihat dia berdoa kusyuk
sekali, seolah-olah minta pertolongan agar dia mendapat pertolongan.
Ketika Rina
dan yang lainnya sudah selesai berdoa, Lisa masih terdiam berdoa dengan kepala
tertunduk. Sampai ada 30 menit dia seperti itu.
Elang: Coba
colek, takutnya jatuh ngegabruk lagi kayak waktu itu.
Rina lalu
mencolek lengan Lisa.
Rina: Yuk
turun!
Lisa
terkaget.
Lisa: Hah?
Udah ya?
Rina: Lah,
elu bagaimana sih? Dari tadi berdoa lama banget. Tidur ya?
Lisa:
Enggak. Tadi gue ngelihat di sekeliling gue ada banyak perempuan pakai
putih-putih tembus pandang.
Rina: Yau
dah, izin aja sama dia, kan kita mau turun.
Losa: Kok
gue betah ya di sini? Gue enggak mau pulang.
Rina: Eh,
jangan begitu. Kita kan sudah capek, entar keburu siang, kita enggak bisa turun
karena kena malam di jalan. Kan enggak enak, gelap.
Lisa lalu
menengok ke belakang.
Lisa: Tapi
ini tempat ternyaman gue. Kayaknya gue bakalan enggak bisa ke sini lagi.
Makanya gue mau di sini aja.
Rina: Udah,
enggak usah kayak gitu, kita turun aja. Kita turun gunung kan buat pulang.
Lisa: Iya,
tapi gue mau pulangnya di sini.
Rina: Ya
Allah, apa lagi? Kenapa lagi? (Dalam hati, bingung)
Sementara
Elang, Gito dan lainnya sudah jenuh sejenuh-jenuhnya, karena bakal seperti itu
lagi.
Sultan
tidak bisa menahan emosi lagi. Dia marah dan berteriak kepada Lisa.
Sultan: Elu
mau turun, atau kita tinggalin?!
Lisa jadi
menangis.
Rina: Bang,
jangan kayak gitu. Enggak apa-apa kita turun bareng-bareng, jangan
dibentak-bentak.
Lisa: Ya
udah, turun turun aja, gue masih betah di sini.
Lisa lalu
buang badan dan memandang ke arah batu di tengah-tengah Surya Kencana.
Rina: Bang,
kita kan naik ke sini bareng-bareng, masa turunnya sendiri-sendiri.
Sultan:
Habis gue kesal, Rina. Dia begini terus.
Rina:
Enggak, Bang. Gue yakin dia turun sehat kok.
Rina lalu
menarik tangan Lisa.
Rina: Udah
yuk, kita turun.
Lisa mau
berjalan, tetapi wajahnya tetap menengok memandang ke arah batu besar.
Rina: Ada
apa sih di batu itu?
Lisa: Rina
pasti nangis kalau ke sini lagi.
Rina:
Kenapa? Kok bisa gue nangis?
Lisa: Ya
pokoknya lu pasti nangis deh. Nanti suatu saat kita naik lagi ke sini.
Rina: Iya,
nanti kita naik lagi ya, tapi jangan ke sini, ke gunung yang lain.
Lisa:
Enggak, Rina. Nanti Rina pertama kali naik gunung lagi, pasti ke sini. Ada gue
di sini.
Rina: Iya.
Namun, di
dalam hati Rina merasa sedih mendengar Lisa bicara seperti itu.
Lisa terus
dituntun turun.
Rina: Kita
naik lewat Cibodas, harusnya turun lewat situ juga.
Lisa: Gua
enggak mau, gue takut ketemu anak kecil itu lagi. Gue takut banget deh lihat
anak kecil itu lagi.
Rina: Ini
sudah setengah jalan, enggak apa-apa naik lagi?
Lisa:
Enggak apa-apa.
Mereka lalu
naik lagi dan akhirnya turun lewat lintas Putri.
Di Simpang
Maleber, jalan yang banyak akar kondisinya licin bekas terkena hujan.
Rina:
Pelan-pelan, Sa. Licin.
Lisa: Iya,
gue bisa kok.
Rina: Ini
pakai trekking pole.
Lisa:
Enggak, gue enggak mau pakai trekking pole. Gue bisa sendiri.
Rina: Tapi
licin.
Lisa:
Enggak apa-apa.
Lisa lalu
berjalan terus. Namun, ketika baru dua langkah turun, tiba-tiba dia berhenti
dan menunjuk.
Lisa: Iiih,
itu desa! (RH)


0 komentar:
Posting Komentar