Mau Pulang di Sini, Bab16 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*

Akhirnya Elang dan rombongan turun.

Sebelum turun, mereka terlebih dulu berdoa.

Sambil berdoa, Rina memandangi wajah Lisa yang berdoa. Terlihat dia berdoa kusyuk sekali, seolah-olah minta pertolongan agar dia mendapat pertolongan.

Ketika Rina dan yang lainnya sudah selesai berdoa, Lisa masih terdiam berdoa dengan kepala tertunduk. Sampai ada 30 menit dia seperti itu.

Elang: Coba colek, takutnya jatuh ngegabruk lagi kayak waktu itu.

Rina lalu mencolek lengan Lisa.

Rina: Yuk turun!

Lisa terkaget.

Lisa: Hah? Udah ya?

Rina: Lah, elu bagaimana sih? Dari tadi berdoa lama banget. Tidur ya?

Lisa: Enggak. Tadi gue ngelihat di sekeliling gue ada banyak perempuan pakai putih-putih tembus pandang.

Rina: Yau dah, izin aja sama dia, kan kita mau turun.

Losa: Kok gue betah ya di sini? Gue enggak mau pulang.

Rina: Eh, jangan begitu. Kita kan sudah capek, entar keburu siang, kita enggak bisa turun karena kena malam di jalan. Kan enggak enak, gelap.

Lisa lalu menengok ke belakang.

Lisa: Tapi ini tempat ternyaman gue. Kayaknya gue bakalan enggak bisa ke sini lagi. Makanya gue mau di sini aja.

Rina: Udah, enggak usah kayak gitu, kita turun aja. Kita turun gunung kan buat pulang.

Lisa: Iya, tapi gue mau pulangnya di sini.

Rina: Ya Allah, apa lagi? Kenapa lagi? (Dalam hati, bingung)

Sementara Elang, Gito dan lainnya sudah jenuh sejenuh-jenuhnya, karena bakal seperti itu lagi.

Sultan tidak bisa menahan emosi lagi. Dia marah dan berteriak kepada Lisa.

Sultan: Elu mau turun, atau kita tinggalin?!

Lisa jadi menangis.

Rina: Bang, jangan kayak gitu. Enggak apa-apa kita turun bareng-bareng, jangan dibentak-bentak.

Lisa: Ya udah, turun turun aja, gue masih betah di sini.

Lisa lalu buang badan dan memandang ke arah batu di tengah-tengah Surya Kencana.

Rina: Bang, kita kan naik ke sini bareng-bareng, masa turunnya sendiri-sendiri.

Sultan: Habis gue kesal, Rina. Dia begini terus.

Rina: Enggak, Bang. Gue yakin dia turun sehat kok.

Rina lalu menarik tangan Lisa.

Rina: Udah yuk, kita turun.

Lisa mau berjalan, tetapi wajahnya tetap menengok memandang ke arah batu besar.

Rina: Ada apa sih di batu itu?

Lisa: Rina pasti nangis kalau ke sini lagi.

Rina: Kenapa? Kok bisa gue nangis?

Lisa: Ya pokoknya lu pasti nangis deh. Nanti suatu saat kita naik lagi ke sini.

Rina: Iya, nanti kita naik lagi ya, tapi jangan ke sini, ke gunung yang lain.

Lisa: Enggak, Rina. Nanti Rina pertama kali naik gunung lagi, pasti ke sini. Ada gue di sini.

Rina: Iya.

Namun, di dalam hati Rina merasa sedih mendengar Lisa bicara seperti itu.

Lisa terus dituntun turun.

Rina: Kita naik lewat Cibodas, harusnya turun lewat situ juga.

Lisa: Gua enggak mau, gue takut ketemu anak kecil itu lagi. Gue takut banget deh lihat anak kecil itu lagi.

Rina: Ini sudah setengah jalan, enggak apa-apa naik lagi?

Lisa: Enggak apa-apa.

Mereka lalu naik lagi dan akhirnya turun lewat lintas Putri.

Di Simpang Maleber, jalan yang banyak akar kondisinya licin bekas terkena hujan.

Rina: Pelan-pelan, Sa. Licin.

Lisa: Iya, gue bisa kok.

Rina: Ini pakai trekking pole.

Lisa: Enggak, gue enggak mau pakai trekking pole. Gue bisa sendiri.

Rina: Tapi licin.

Lisa: Enggak apa-apa.

Lisa lalu berjalan terus. Namun, ketika baru dua langkah turun, tiba-tiba dia berhenti dan menunjuk.

Lisa: Iiih, itu desa! (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar