Pergi Tanpa Suara, Bab15 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*


Rina lalu membangunkan kakaknya yang tidur sebentar dalam posisi duduk memeluk dengkul.

Rina: A’, bangun!

Ketika pagi sudah mulai terang, sekitar pukul 05.30 WIB, tiba-tiba …

Lisa: Uhhuk!

Lisa tiba-tiba terbatuk, dari dalam mulutnya terlempar gumpalan darah beku, tapi Rina tidak melihatnya. Dia hanya melihat ada darah yang keluar lewat sudut bibir Lisa.

Lisa: Gue minta minum dong.

Rina segera menyeka darah pada mulut Lisa.

Wahyu: Rin, itu apaan yang jatuh?

Wahyu menunjuk gumpalan darah yang jatuh.

Rina: Ini batu?

Rina memungut batu merah itu dan menyerahkan ke Wahyu.

Wahyu: Ini darah, Rin.

Rina: Apa ini yang bikin Lisa enggak bisa ngomong?

Lisa akhirnya tersadar dengan sendirinya.

Rina merasa sedih melihat kondisi Lisa yang begitu lemah.

Rina: Kalau begini, bagaimana bisa turun sendiri? Bagaimana kalau kita sepakat gendong Lisa turun sampai bawah?

Sementara itu, kondisi Lisa sudah semakin membaik. Rekan-rekan setim pun cukup lega.

Lisa: Sebenarnya kita jadi ke puncak, ‘gak?

Gito: Gak usah, ya. Sampai sini saja. Kata para pendaki, kalau naik ke Gunung Gede, jalannya eggak sampai puncak, karena ini tempat ternyamannya.

Gito sengaja berbohong.

Pak!

Tiba-tiba Lisa menepak matras.

Lisa: Kayaknya ini tempat terakhir gue.

Setelah bicara seperti itu, Lisa melirik satu per satu kepada teman-temannya.

Rina: Tempat terakhir apa, Sa?

Lisa: Kan kita mau pulang.

Rina: Ya udah makan dulu.

Namun, mereka hanya bisa menyedu minuman ringan sereal dan roti.

Mereka tidak masak karena khawatir terlalu lama dan mereka takut jika Lisa kumat lagi.

Mereka akhirnya membereskan barang-barangnya dan siap-siap untuk turun.

Ketika mereka ingin pergi menemui pendaki senior dan rombongannya yang tadi malam untuk mengucapkan terima kasih, ternyata rombongan pendaki senior dan tendanya sudah tidak ada.

Rina: Kok tidak ada? Kapan perginya?

Elang: Mungkin tadi malam.

Rina: Kita itu semalaman enggak tidur. Terus, kalau ngerapiin tenda pasti kedengaran suaranya. Kok ini enggak?

Elang: Iya ya, enggak mungkin juga mereka main pulang tanpa basa basi ke kita.

Rina: Kalau mereka beberes, setidaknya kita bisa dengar suaranya, orang gak jauh dari kita. Kok cepat banget bapak itu turun?

Elang: Kayaknya pas sudah tolong kita, mereka langsung buru-buru turun.

Rina: Kita ‘kan ramai di tenda, tapi kok kita enggak dengar pergerakan mereka?

Elang: Udahlah, enggak usah pikirin yang gitu-gitu, yang penting nanti kita turun selamat.

Rina lalu pergi ke salah satu tenda pendaki lain yang sebelumnya tendanya bersebelahan dengan tenda senior tadi malam.

Rina: Bang, mau turun jam berapa?

Pendaki2: Agak siangan, kita mau ke puncak dulu. Duluan aja, Teh.

Rina sebenarnya ingin bertanya tentang tenda pendaki senior yang semalam, tapi lidahnya seolah tidak bisa diucapkan untuk bertanya hal itu.

Rina: Enggak enak ah gue nanya. (Dalam hati)

Rina pun tidak menanyakan tentang tenda pendaki senior itu. Termasuk kepada rekan-rekannya sendiri, Rina merasa malas untuk bertanya, padahal ia sangat penasaran.

Rina seolah dibuat lupa dan sulit untuk membicarakan tentang tenda pendaki senior.

Rina: Kayaknya ada sesuatu sama tenda itu.

Elang: Enggak usah diomongin. Skip aja. (RH)

-------------------------------------------------------------

 

A: Kisah ini berdasarkan kisah nyata yang diceritakan di channel YouTube “Prasodjo Muhammad”, yang disadur dengan mengganti nama tokoh dan beberapa bagiannya.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar