*Siksa Dari Gunung*
Rina lalu
membangunkan kakaknya yang tidur sebentar dalam posisi duduk memeluk dengkul.
Rina: A’, bangun!
Ketika pagi sudah
mulai terang, sekitar pukul 05.30 WIB, tiba-tiba …
Lisa: Uhhuk!
Lisa tiba-tiba
terbatuk, dari dalam mulutnya terlempar gumpalan darah beku, tapi Rina tidak
melihatnya. Dia hanya melihat ada darah yang keluar lewat sudut bibir Lisa.
Lisa: Gue minta minum
dong.
Rina segera menyeka
darah pada mulut Lisa.
Wahyu: Rin, itu apaan
yang jatuh?
Wahyu menunjuk
gumpalan darah yang jatuh.
Rina: Ini batu?
Rina memungut batu
merah itu dan menyerahkan ke Wahyu.
Wahyu: Ini darah,
Rin.
Rina: Apa ini yang
bikin Lisa enggak bisa ngomong?
Lisa akhirnya
tersadar dengan sendirinya.
Rina merasa sedih
melihat kondisi Lisa yang begitu lemah.
Rina: Kalau begini,
bagaimana bisa turun sendiri? Bagaimana kalau kita sepakat gendong Lisa turun
sampai bawah?
Sementara itu, kondisi
Lisa sudah semakin membaik. Rekan-rekan setim pun cukup lega.
Lisa: Sebenarnya kita
jadi ke puncak, ‘gak?
Gito: Gak usah, ya.
Sampai sini saja. Kata para pendaki, kalau naik ke Gunung Gede, jalannya eggak
sampai puncak, karena ini tempat ternyamannya.
Gito sengaja
berbohong.
Pak!
Tiba-tiba Lisa menepak
matras.
Lisa: Kayaknya ini
tempat terakhir gue.
Setelah bicara
seperti itu, Lisa melirik satu per satu kepada teman-temannya.
Rina: Tempat terakhir
apa, Sa?
Lisa: Kan kita mau
pulang.
Rina: Ya udah makan
dulu.
Namun, mereka hanya
bisa menyedu minuman ringan sereal dan roti.
Mereka tidak masak
karena khawatir terlalu lama dan mereka takut jika Lisa kumat lagi.
Mereka akhirnya
membereskan barang-barangnya dan siap-siap untuk turun.
Ketika mereka ingin
pergi menemui pendaki senior dan rombongannya yang tadi malam untuk mengucapkan
terima kasih, ternyata rombongan pendaki senior dan tendanya sudah tidak ada.
Rina: Kok tidak ada?
Kapan perginya?
Elang: Mungkin tadi
malam.
Rina: Kita itu
semalaman enggak tidur. Terus, kalau ngerapiin tenda pasti kedengaran suaranya.
Kok ini enggak?
Elang: Iya ya, enggak
mungkin juga mereka main pulang tanpa basa basi ke kita.
Rina: Kalau mereka
beberes, setidaknya kita bisa dengar suaranya, orang gak jauh dari kita. Kok
cepat banget bapak itu turun?
Elang: Kayaknya pas
sudah tolong kita, mereka langsung buru-buru turun.
Rina: Kita ‘kan ramai
di tenda, tapi kok kita enggak dengar pergerakan mereka?
Elang: Udahlah,
enggak usah pikirin yang gitu-gitu, yang penting nanti kita turun selamat.
Rina lalu pergi ke
salah satu tenda pendaki lain yang sebelumnya tendanya bersebelahan dengan
tenda senior tadi malam.
Rina: Bang, mau turun
jam berapa?
Pendaki2: Agak
siangan, kita mau ke puncak dulu. Duluan aja, Teh.
Rina sebenarnya ingin
bertanya tentang tenda pendaki senior yang semalam, tapi lidahnya seolah tidak bisa
diucapkan untuk bertanya hal itu.
Rina: Enggak enak ah
gue nanya. (Dalam hati)
Rina pun tidak
menanyakan tentang tenda pendaki senior itu. Termasuk kepada rekan-rekannya
sendiri, Rina merasa malas untuk bertanya, padahal ia sangat penasaran.
Rina seolah dibuat
lupa dan sulit untuk membicarakan tentang tenda pendaki senior.
Rina: Kayaknya ada
sesuatu sama tenda itu.
Elang: Enggak usah
diomongin. Skip aja. (RH)
-------------------------------------------------------------
A: Kisah ini berdasarkan kisah nyata yang diceritakan di channel YouTube “Prasodjo Muhammad”, yang disadur dengan mengganti nama tokoh dan beberapa bagiannya.


0 komentar:
Posting Komentar