*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Di Desa Anuspati di
Kademangan Buto Cangkem.
Rugi Sabuntel sedang
berjalan di sekitar area pasar desa yang sudah tidak terlalu ramai, tapi masih
banyak orang yang berjualan, karena itu pasar.
Namun tiba-tiba, dua
orang lelaki berbaju merah datang dengan berkuda dan berhenti menghadang
langkah Rugi Sabuntel. Mereka berbekal golok di pinggang, bukan berbekal
serantang nasi uduk.
“Berhenti!” seru
salah satu dari penunggang kuda itu, kita sebut saja Centeng Satu.
Rugi Sabuntel pun
berhenti karena ada kuda yang menghadang. Mau lari tapi tidak ada alasan, mau
berbelok, tapi tidak ada tanda panah yang mengarahkan berbelok.
“Hai, Orang Asing!”
seru lelaki yang tadi memerintahkan Rugi Sabuntel berhenti. “Kau harus membayar
uang keamanan perjalanan di Kademangan Buto Cangkem.”
“Oh iya. Berapa, Den
Pendekar?” ucap Rugi Sabuntel santun sambil merogoh saku celananya.
Rugi Sabuntel lalu
mengeluarkan sebuah kantung kain yang berisi kepeng.
“Sepuluh kepeng,”
kata lelaki satunya. Kita sebut saja Centeng Dua.
“Oh iya, sebentar,
Den Pendekar,” ucap Rugi Sabuntel sambil merogoh kantung uangnya.
Terlihat jelas bahwa
tangan pemuda gendut itu agak gemetar.
“Gendut lambat!” maki
Centeng Satu marah.
Dia lalu memajukan
kudanya sehingga menabrak pelan Rugi Sabuntel yang sedang berjongkok untuk
memungut kepengnya yang jatuh.
“Aduh! Jangan, Den
Pendekar!” pekik Rugi Sabuntel sambil terjatuh.
Rugi Sabuntel sengaja
menjatuhkan tubuhnya dan tidak melawan. Dia pun sengaja membiarkan kantung
kepengnya jatuh, membuat semua kepengnya terburai berserakan di tanah.
Centeng Dua lalu
turun dari kudanya.
“Sudah, pergi saja
kau, Gendut Babi!” usir Centeng Dua.
Centeng Dua mendorong
tubuh Rugi Sabuntel dengan kakinya. Pemuda gendut itu membiarkan tubuhnya
terdorong lalu jatuh ke tanah pasar.
“Jangan, Den Pendekar!
Itu uang makanku hari ini!” ucap Rugi Sabuntel memelas.
“Hari ini kau puasa,
agar badanmu tidak seperti kerbau hamil seperti itu. Hahaha!” kata Centeng Dua.
Centeng Dua memunguti
semua uang milik korbannya. Rugi Sabuntel berusaha ikut memungut uangnya.
“Jangan, Den
Pendekar! Kasihani kau!” pekik Rugi Sabuntel dengan wajah mewek drama.
“Apa?!” pekik Centeng
Dua mendelik marah.
“Maksudku, kasihani
aku, Den Pendekar,” ucap Rugi Sabuntel meralat.
“Sana!” bentak
Centeng Dua sambil menendang keras badan Rugi Sabuntel. Pemuda gendut berguling
seperti orang gendut.
“Hahaha! Mirip
kambing hamil, sampai susah bangun!” tawa Centeng Satu yang masih duduk di
pelana kudanya.
“Hahaha!” tawa
Centeng Dua pula.
Setelah memungut
semua kepeng milik Rugi Sabuntel, Centeng Dua lalu kembali naik ke kudanya
sembari tertawa.
Kedua centeng
kademangan itu lalu meninggalkan Rugi Sabuntel. Mereka berdua pergi mendatangi
seorang pedagang tembikar yang tidak jauh dari posisi Rugi Sabuntel.
Rugi Sabuntel yang
pura-pura lemah segera bangun sambil terus memerhatikan kedua centeng pemeras
tersebut dari jauh.
“Hei, Penjual
Tembikar! Bayar pajakmu!” Centeng Satu langsung menagih dengan kasar, tanpa
turun dari kudanya.
“Hah! Bukankah
kemarin aku sudah bayar, Den?” kata wanita separuh baya penjual tembikar. Dia
terkejut dengan penagihan itu.
“Kau jangan mencoba
mengakali kami, atau kami hancurkan semua barang daganganmu!” bentak Centeng
Satu marah.
“Sungguh, Den.
Kemarin sudah aku bayar,” ucap ibu Penjual Tembikar dengan wajah takut.
“Tidak bisa! Kau
harus bayar kepada kami. Kami adalah pemungut pajak yang sah. Jika kau sudah
bayar kemarin, berarti kau sudah ditipu oleh seseorang. Ayo bayar!” tegas Centeng
Satu.
“Tapi, Den.... Uangku
sudah habis untuk membayar pajak kemarin. Orang yang memungut pajak kemarin
adalah anak buah Ki Demang Rawes juga. Dia sering mengawal Ki Demang, Den,” kata
Penjual Tembikar dengan wajah takut bercampur sedih, tapi tidak pakai air gula.
“Tidak bisa, kau
harus bayar sekarang!” bentak Centeng Dua pula.
“Mohon ampun, Den.
Jika harus bayar lagi, aku tidak punya uang, Den. Daganganku pun belum ada yang
laku hari ini.”
“Pedagang
pembangkang! Heah!”
Centeng Dua lalu
menggerakkan kudanya sehingga menginjak pecah sejumlah tembikar dagangan wanita
separuh baya itu.
“Aaa! Jangan, Den! Aku
hanya menjual, ini barang punya majikanku. Huuu!” jerit Pedagang Tembikar
ketakutan lalu menangis kejer.
Set! Tus!
“Akh!” jerit
kesakitan Centeng Dua.
Tiba-tiba ada sebutir
kerikil melesat dan menghantam lambung Centeng Dua, membuatnya kesakitan dan
oleng, lalu jatuh dari atas kudanya.
Bugk!
“Hukh!” keluh Centeng
Dua. Jatuhnya tidak cantik dan juga tidak ganteng. Bahunya yang jatuh lebih
dulu mencium tanah keras.
Sreeek!
Uang hasil pemalakan yang
disimpan oleh Centeng Dua jatuh terburai dan berserakan di depan pedagang
tembikar
“Siapa itu?!” teriak
Centeng Satu.
Centeng Satu mengedarkan
pandangannya mencari orang yang menyerang rekannya. Untuk sementara, dia hanya
melihat para pedagang pasar yang sejak tadi melihat pemerasan itu, segera mengalihkan
pandangannya dan pura-pura sibuk merapikan dagangannya masing-masing. Mereka
takut akan menjadi orang yang disalahkan.
Namun tiba-tiba, dari
balik sebuah pohon kedondong yang tumbuh di dekat situ, muncul berlari seorang
lelaki gendut seperti seekor banteng. Wajah lelaki gendut itu ditutupi oleh
topeng daun pisang kerajinan tangan sendiri.
Meski orang itu
bertopeng daun pisang, tapi dari postur tubuhnya yang makmur dan warna
pakaiannya, kedua centeng kademangan tersebut bisa menerka bahwa itu adalah
lelaki gendut yang tadi mereka palak, yaitu Rugi Sabuntel.
“Orang-orang jahat!”
teriak Rugi Sabuntel marah.
“Kau? Akk!” kejut
Centeng Satu lalu menjerit.
Rugi Sabuntel yang
bertopeng telah melompat di udara seperti banteng yang mengudara, lalu menabrak
tubuh Centeng Satu di atas kuda.
Centeng Satu
terlempar dari atas kuda dan jatuh keras di tanah. Uangnya juga berserakan di
tanah.
“Uangku sayang!”
pekik Centeng Dua, sambil buru-buru memunguti uangnya.
“Jangan ambil, itu
bukan uangmu!” teriak Rugi Sabuntel sambil mengayunkan tendangannya.
Dak!
Centeng Dua terlempar
ke belakang dengan kepala lebih dulu, setelah kaki besar Rugi Sabuntel
menghantam wajahnya.
“Aaak! Beraninya kau
melawan centeng Ki Demang Rawes!” teriak Centeng Dua sambil memegangi wajahnya
yang hidungnya patah berdarah.
Centeng Dua buru-buru
bangkit dan mencabut goloknya.
Dak! Tak! Ceb!
“Aaak! Jarikuuu!”
jerit Centeng Satu kesakitan.
Meski gendut,
pendekar bertopeng bisa dengan cepat menendang tangan Centeng Dua, sehingga
goloknya lepas melambung. Kemudian, tendangan lain si gendut mengibas menendang
golok di udara, sehingga golok melesat menancap di tanah dan memutus satu jari
tangan Centeng Satu yang sedang memunguti kepeng.
“Kalian memang harus
dihajar agar tidak memeras rakyat!” kata Rugi Sabuntel.
Pendekar bertopeng
meninju dada Centeng Dua dengan keras, sampai-sampai centeng itu meyemburkan
darah lewat mulutnya.
“Jika kalian tidak pergi,
aku akan menggoreng nyawa kalian!” ancam Rugi Sabuntel.
Pendekar bertopeng
siap menyerang lagi, membuat kedua centeng itu kian ketakutan.
“Ayo lari! Nyawa kita
lebih penting!” teriak Centeng Satu kepada Centeng Dua.
Centeng Satu cepat
membantu Centeng Dua bangun, lalu mengajaknya kabur bersama, terhuyung-huyung
dengan mesra. Mereka bahkan meninggalkan kedua kudanya.
“Untung kalian kabur.
Jika tidak, jadi bubur nasib kalian,” ucap Rugi Sabuntel sembari memandangi
kedua centeng tersebut.
“Hidup Pendekar
Gendut!” teriak seorang lelaki pedagang ikan lele yang sejak tadi serius
menyaksikan peristiwa yang langka terjadi.
“Gunduuut!” teriak
warga pasar pula sambil meninjukan kepalan tangannya ke langit.
“Hidup Pendekar
Gendut!” teriak pedagang ikan lele itu lagi.
“Genduuut!” teriak semua
warga pasar yang senang atas kemenangan pendekar bertopeng daun pisang.
“Terima kasih, terima
kasih! Hahaha!” seru Rugi Sabuntel lalu tertawa. Dia begitu senang dielu-elukan
seperti orang ganteng, meskipun orang banyak menyebutnya “Gendut”.
“Terima kasih, Den
Pendekar!” ucap Penjual Tembikar penuh rasa syukur kepada Rugi Sabuntel.
Ibu penjual tembikar
berlutut menghormat di depan kaki Rugi Sabuntel.
“Ah, tidak apa-apa,
Mak. Mereka memang perlu dihajar. Aku hanya mau mengambil uangku saja yang
dirampas oleh mereka,” kata Rugi Sabuntel.
Rugi lalu memunguti kepeng
yang berserakan dan menghitungnya.
“Aku sudah mengambil
uangku, sisanya silakan Emak ambil sebagai ganti tembikar yang pecah.
“Terim kasih, Den
Pendekar. Terima kasih!” ucap Pedagang Tembikar sangat senang.
Dengan perasaan gembira,
Penjual Tembikar bersemangat memunguti sisa kepeng yang berserakan.
“Hidup Pendekar
Gendut!” teriak penjual lele lagi.
“Genduuut!” sahut
warga pasar yang lain.
“Setelah ini, orang-orang
Ki Demang pasti akan datang lebih banyak. Lebih baik segera pulanglah kalian!”
seru Rugi Sabuntel kepada warga pasar.
Terkejutlah mereka
semua, seolah-olah mereka baru menyadari bahwa ada kemungkinan centeng-centeng Ki
Demang datang lagi untuk membalas dendam.
Para pedagang itupun segera
mulai mengemasi barang dagangannya untuk pulang atau menutup lapaknya.
Rugi Sabuntel menambatkan satu kuda milik centeng Ki Demang, lalu menungganginya yang satu lagi. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar