PKK11: Jagoan Topeng Daun Pisang


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Di Desa Anuspati di Kademangan Buto Cangkem.

Rugi Sabuntel sedang berjalan di sekitar area pasar desa yang sudah tidak terlalu ramai, tapi masih banyak orang yang berjualan, karena itu pasar.

Namun tiba-tiba, dua orang lelaki berbaju merah datang dengan berkuda dan berhenti menghadang langkah Rugi Sabuntel. Mereka berbekal golok di pinggang, bukan berbekal serantang nasi uduk.

“Berhenti!” seru salah satu dari penunggang kuda itu, kita sebut saja Centeng Satu.

Rugi Sabuntel pun berhenti karena ada kuda yang menghadang. Mau lari tapi tidak ada alasan, mau berbelok, tapi tidak ada tanda panah yang mengarahkan berbelok.

“Hai, Orang Asing!” seru lelaki yang tadi memerintahkan Rugi Sabuntel berhenti. “Kau harus membayar uang keamanan perjalanan di Kademangan Buto Cangkem.”

“Oh iya. Berapa, Den Pendekar?” ucap Rugi Sabuntel santun sambil merogoh saku celananya.

Rugi Sabuntel lalu mengeluarkan sebuah kantung kain yang berisi kepeng.

“Sepuluh kepeng,” kata lelaki satunya. Kita sebut saja Centeng Dua.

“Oh iya, sebentar, Den Pendekar,” ucap Rugi Sabuntel sambil merogoh kantung uangnya.

Terlihat jelas bahwa tangan pemuda gendut itu agak gemetar.

“Satu, dua, tiga, lima, tu.... Aduh jatuh!” hitung Rugi Sabuntel seperti anak kecil menghitung. Lalu dia sengaja menjatuhkan dua koin kepengnya.

“Gendut lambat!” maki Centeng Satu marah.

Dia lalu memajukan kudanya sehingga menabrak pelan Rugi Sabuntel yang sedang berjongkok untuk memungut kepengnya yang jatuh.

“Aduh! Jangan, Den Pendekar!” pekik Rugi Sabuntel sambil terjatuh.

Rugi Sabuntel sengaja menjatuhkan tubuhnya dan tidak melawan. Dia pun sengaja membiarkan kantung kepengnya jatuh, membuat semua kepengnya terburai berserakan di tanah.

Centeng Dua lalu turun dari kudanya.

“Sudah, pergi saja kau, Gendut Babi!” usir Centeng Dua.

Centeng Dua mendorong tubuh Rugi Sabuntel dengan kakinya. Pemuda gendut itu membiarkan tubuhnya terdorong lalu jatuh ke tanah pasar.

“Jangan, Den Pendekar! Itu uang makanku hari ini!” ucap Rugi Sabuntel memelas.

“Hari ini kau puasa, agar badanmu tidak seperti kerbau hamil seperti itu. Hahaha!” kata Centeng Dua.

Centeng Dua memunguti semua uang milik korbannya. Rugi Sabuntel berusaha ikut memungut uangnya.

“Jangan, Den Pendekar! Kasihani kau!” pekik Rugi Sabuntel dengan wajah mewek drama.

“Apa?!” pekik Centeng Dua mendelik marah.

“Maksudku, kasihani aku, Den Pendekar,” ucap Rugi Sabuntel meralat.

“Sana!” bentak Centeng Dua sambil menendang keras badan Rugi Sabuntel. Pemuda gendut berguling seperti orang gendut.

“Hahaha! Mirip kambing hamil, sampai susah bangun!” tawa Centeng Satu yang masih duduk di pelana kudanya.

“Hahaha!” tawa Centeng Dua pula.

Setelah memungut semua kepeng milik Rugi Sabuntel, Centeng Dua lalu kembali naik ke kudanya sembari tertawa.

Kedua centeng kademangan itu lalu meninggalkan Rugi Sabuntel. Mereka berdua pergi mendatangi seorang pedagang tembikar yang tidak jauh dari posisi Rugi Sabuntel.

Rugi Sabuntel yang pura-pura lemah segera bangun sambil terus memerhatikan kedua centeng pemeras tersebut dari jauh.

“Hei, Penjual Tembikar! Bayar pajakmu!” Centeng Satu langsung menagih dengan kasar, tanpa turun dari kudanya.

“Hah! Bukankah kemarin aku sudah bayar, Den?” kata wanita separuh baya penjual tembikar. Dia terkejut dengan penagihan itu.

“Kau jangan mencoba mengakali kami, atau kami hancurkan semua barang daganganmu!” bentak Centeng Satu marah.

“Sungguh, Den. Kemarin sudah aku bayar,” ucap ibu Penjual Tembikar dengan wajah takut.

“Tidak bisa! Kau harus bayar kepada kami. Kami adalah pemungut pajak yang sah. Jika kau sudah bayar kemarin, berarti kau sudah ditipu oleh seseorang. Ayo bayar!” tegas Centeng Satu.

“Tapi, Den.... Uangku sudah habis untuk membayar pajak kemarin. Orang yang memungut pajak kemarin adalah anak buah Ki Demang Rawes juga. Dia sering mengawal Ki Demang, Den,” kata Penjual Tembikar dengan wajah takut bercampur sedih, tapi tidak pakai air gula.

“Tidak bisa, kau harus bayar sekarang!” bentak Centeng Dua pula.

“Mohon ampun, Den. Jika harus bayar lagi, aku tidak punya uang, Den. Daganganku pun belum ada yang laku hari ini.”

“Pedagang pembangkang! Heah!”

Centeng Dua lalu menggerakkan kudanya sehingga menginjak pecah sejumlah tembikar dagangan wanita separuh baya itu.

“Aaa! Jangan, Den! Aku hanya menjual, ini barang punya majikanku. Huuu!” jerit Pedagang Tembikar ketakutan lalu menangis kejer.

Set! Tus!

“Akh!” jerit kesakitan Centeng Dua.

Tiba-tiba ada sebutir kerikil melesat dan menghantam lambung Centeng Dua, membuatnya kesakitan dan oleng, lalu jatuh dari atas kudanya.

Bugk!

“Hukh!” keluh Centeng Dua. Jatuhnya tidak cantik dan juga tidak ganteng. Bahunya yang jatuh lebih dulu mencium tanah keras.

Sreeek!

Uang hasil pemalakan yang disimpan oleh Centeng Dua jatuh terburai dan berserakan di depan pedagang tembikar

“Siapa itu?!” teriak Centeng Satu.

Centeng Satu mengedarkan pandangannya mencari orang yang menyerang rekannya. Untuk sementara, dia hanya melihat para pedagang pasar yang sejak tadi melihat pemerasan itu, segera mengalihkan pandangannya dan pura-pura sibuk merapikan dagangannya masing-masing. Mereka takut akan menjadi orang yang disalahkan.

Namun tiba-tiba, dari balik sebuah pohon kedondong yang tumbuh di dekat situ, muncul berlari seorang lelaki gendut seperti seekor banteng. Wajah lelaki gendut itu ditutupi oleh topeng daun pisang kerajinan tangan sendiri.

Meski orang itu bertopeng daun pisang, tapi dari postur tubuhnya yang makmur dan warna pakaiannya, kedua centeng kademangan tersebut bisa menerka bahwa itu adalah lelaki gendut yang tadi mereka palak, yaitu Rugi Sabuntel.

“Orang-orang jahat!” teriak Rugi Sabuntel marah.

“Kau? Akk!” kejut Centeng Satu lalu menjerit.

Rugi Sabuntel yang bertopeng telah melompat di udara seperti banteng yang mengudara, lalu menabrak tubuh Centeng Satu di atas kuda.

Centeng Satu terlempar dari atas kuda dan jatuh keras di tanah. Uangnya juga berserakan di tanah.

“Uangku sayang!” pekik Centeng Dua, sambil buru-buru memunguti uangnya.

“Jangan ambil, itu bukan uangmu!” teriak Rugi Sabuntel sambil mengayunkan tendangannya.

Dak!

Centeng Dua terlempar ke belakang dengan kepala lebih dulu, setelah kaki besar Rugi Sabuntel menghantam wajahnya.

“Aaak! Beraninya kau melawan centeng Ki Demang Rawes!” teriak Centeng Dua sambil memegangi wajahnya yang hidungnya patah berdarah.

Centeng Dua buru-buru bangkit dan mencabut goloknya.

Dak! Tak! Ceb!

“Aaak! Jarikuuu!” jerit Centeng Satu kesakitan.

Meski gendut, pendekar bertopeng bisa dengan cepat menendang tangan Centeng Dua, sehingga goloknya lepas melambung. Kemudian, tendangan lain si gendut mengibas menendang golok di udara, sehingga golok melesat menancap di tanah dan memutus satu jari tangan Centeng Satu yang sedang memunguti kepeng.

“Kalian memang harus dihajar agar tidak memeras rakyat!” kata Rugi Sabuntel.

Pendekar bertopeng meninju dada Centeng Dua dengan keras, sampai-sampai centeng itu meyemburkan darah lewat mulutnya.

“Jika kalian tidak pergi, aku akan menggoreng nyawa kalian!” ancam Rugi Sabuntel.

Pendekar bertopeng siap menyerang lagi, membuat kedua centeng itu kian ketakutan.

“Ayo lari! Nyawa kita lebih penting!” teriak Centeng Satu kepada Centeng Dua.

Centeng Satu cepat membantu Centeng Dua bangun, lalu mengajaknya kabur bersama, terhuyung-huyung dengan mesra. Mereka bahkan meninggalkan kedua kudanya.

“Untung kalian kabur. Jika tidak, jadi bubur nasib kalian,” ucap Rugi Sabuntel sembari memandangi kedua centeng tersebut.

“Hidup Pendekar Gendut!” teriak seorang lelaki pedagang ikan lele yang sejak tadi serius menyaksikan peristiwa yang langka terjadi.

“Gunduuut!” teriak warga pasar pula sambil meninjukan kepalan tangannya ke langit.

“Hidup Pendekar Gendut!” teriak pedagang ikan lele itu lagi.

“Genduuut!” teriak semua warga pasar yang senang atas kemenangan pendekar bertopeng daun pisang.

“Terima kasih, terima kasih! Hahaha!” seru Rugi Sabuntel lalu tertawa. Dia begitu senang dielu-elukan seperti orang ganteng, meskipun orang banyak menyebutnya “Gendut”.

“Terima kasih, Den Pendekar!” ucap Penjual Tembikar penuh rasa syukur kepada Rugi Sabuntel.

Ibu penjual tembikar berlutut menghormat di depan kaki Rugi Sabuntel.

“Ah, tidak apa-apa, Mak. Mereka memang perlu dihajar. Aku hanya mau mengambil uangku saja yang dirampas oleh mereka,” kata Rugi Sabuntel.

Rugi lalu memunguti kepeng yang berserakan dan menghitungnya.

“Aku sudah mengambil uangku, sisanya silakan Emak ambil sebagai ganti tembikar yang pecah.

“Terim kasih, Den Pendekar. Terima kasih!” ucap Pedagang Tembikar sangat senang.

Dengan perasaan gembira, Penjual Tembikar bersemangat memunguti sisa kepeng yang berserakan.

“Hidup Pendekar Gendut!” teriak penjual lele lagi.

“Genduuut!” sahut warga pasar yang lain.

“Setelah ini, orang-orang Ki Demang pasti akan datang lebih banyak. Lebih baik segera pulanglah kalian!” seru Rugi Sabuntel kepada warga pasar.

Terkejutlah mereka semua, seolah-olah mereka baru menyadari bahwa ada kemungkinan centeng-centeng Ki Demang datang lagi untuk membalas dendam.

Para pedagang itupun segera mulai mengemasi barang dagangannya untuk pulang atau menutup lapaknya.

Rugi Sabuntel menambatkan satu kuda milik centeng Ki Demang, lalu menungganginya yang satu lagi. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar