PKK15: Dinantikan Nyai Demang


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel ketika mereka berdua tiba bersama kuda tunggangannya di rumah Bendong di Desa Buangsial.

“Lebih baik kau yang menyimpan harta rampokan ini, Rugi,” kata Bendong.

“Tidak. Aku percaya kepadamu. Aku menjadi seorang perampok budiman karena percaya dengan kisahmu. Jadi, aku pun percaya kepadamu mengenai hasil rampokan ini,” tolak Rugi Sabuntel. “Jika aku percaya kepadamu, kau juga harus percaya kepadaku. Jika tidak, kita berdua pasti akan apes menginjak kotoran kerbau.”

“Hahaha!” tawa Bendong mendengar perumpamaan yang dikemukakan mantan musuh masa kecilnya itu. Dia membenarkan bahwa mereka memang harus saling percaya.

“Lalu kapan harta ini akan kita bagikan?” tanya Rugi. “Aku juga harus tetap bekerja di gudang jagungnya Demang.”

“Sebenarnya aku punya tempat persembunyian yang aman. Namun untuk sementara, harta ini aku simpan di sini. Nanti malam kita akan pergi ke tempat persembunyianku dan menghitungnya di sana. Barulah paginya kita bagi-bagikan ke rakyat,” ujar Bendong.

“Baik,” ucap Rugi Sabuntel. “Jika demikian, aku pulang.”

“Baik.”

Rugi Sabuntel meninggalkan Bendong dan harta hasil rampokan pertama mereka. Kini, Rugi Sabuntel wajib memiliki kuda karena wilayah jelajahnya sudah lintas kademangan.

Sementara Bendong masuk ke rumahnya dengan rasa bahagia. Dia telah kembali sebagai seorang perampok budiman.



Keesokan paginya.

“Kanjeng Juragaaan, apa yang terjadi?” pekik seorang pelayan wanita di rumah Juragan Gorong terkejut ketika melihat kondisi majikannya dan kondisi kamar yang tidak beres.

Masih untung, orang yang pertama menemukan keadaan Juragan Gorong dan istrinya adalah pelayan perempuannya, bukan centeng atau pelayan lelakinya.

Si pelayan yang bingung, lebih dulu menutupi tubuh majikan perempuannya secara utuh. Setelah itu barulah dia memanggil Kepala Centeng di kediaman Juragan Gorong.

“Aku dirampoook! Sialan kalian semuaaa! Kenapa rampok bisa masuk dengan seenaknya dan menguras habis hartakuuu!” teriak-teriak Juragan Gorong setelah Kepala Centeng berhasil membebaskannya dari totokan.

Gemparlah kediaman Juragan Gorong oleh kabar rampok yang menguras habis brankas sang majikan.

“Cepaaaat!” teriak Juragan Gorong marah kepada kepala centengnya yang bernama Jenggot Ketapang, padahal jenggot lebatnya sedikit pun tidak mirip ketapang.

“Ke mana, Kanjeng Juragan?” tanya Jenggot Ketapang bingung.

“Kejar rampok itu!” bentak Juragan Gorong.

“Ke mana, Kanjeng Juragan?” tanya Jenggot Ketapang lugu.

“Jenggot Bodoh!” semprot sang majikan. “Kejar rampok itu ke lauuut!”

“Baik, Kanjeng Juragan!” pekik Jenggot Ketapang patuh.

Dia lalu berbalik dan pergi keluar menemui para anak buahnya.

“Kita kejar perampok itu ke laut!” seru Jenggot Ketapang kepada anak buahnya.

“Jenggot Toloool!” teriak Juragan Gorong kesal bukan main alang kepalang.

Terkejut Jenggot Ketapang dan cepat menengok kepada majikannya. Dia terkejut bukan karena disebut “Tolol”, tetapi karena diteriaki lagi.

“Ada apa lagi, Kanjeng Juragan?” tanya Jenggot Ketapang dengan wajah tak bersalah.

“Kejar ke mana saja, tapi bukan ke laut. Mengerti?!” bentak Juragan Gorong dengan wajah ingin menangis. Bagaimana tidak? Sudahlah hartanya ludes seperti sayur lodeh yang enak, anak buahnya pun tidak bisa memahami perasaannya.

“Mengerti, Kanjeng Juragan,” ucap Jenggot Ketapang sembari tersenyum.

“Siapkan juga kereta kudaku!” perintah Juragan Gorong.

“Kanjeng Juragan mau ke mana?” tanya si centeng lagi, seperti anak pintar yang harus banyak bertanya.

“Aku mau pergi ke rumah Demang!” jawab Juragan Gorong ketus.

“Tapi, Kanjeng.... Kanjeng belum pakai baju,” kata Jenggot Ketapang sambil menunjuk badan majikannya yang belum berbaju. Sementara majikan perempuannya sejak tadi meringkuk menutupi tubuhnya dengan sarung.

“Iya, aku tahu. Nanti aku pakai baju. Siapkan dulu kereta kudaku, baru kalian pergi mengejar perampok itu!” teriak Juragan Gorong lagi.

“Tapi, kalau aku menyiapkan kereta kuda dulu, nanti perampoknya tambah jauh, Kanjeng Juragan,” kata Jenggot Ketapang.

“Ya, sudah, pergilah. Kejar perampok itu,” ucap Juragan Gorong lemah. Dia pasrah.

“Baik, Kanjeng Juragan,” ucap Jenggot Ketapang seraya tersenyum manis, meski tidak ada manis-manisnya sedikit pun.

Jenggot Ketapang pun berbalik dan langsung melangkah pergi. Dia segera diikuti oleh para anak buahnya.

Jenggot Ketapang hanya membawa anak buahnya yang pandai berkuda, karena tidak semua anak buahnya pandai berkuda, apalagi jumlah kuda Juragan Gorong tidak banyak.

Tanpa memiliki petunjuk apa pun tentang para perampok, Jenggot Ketapang asal memilih arah. Nalurinya yang berbicara. Ternyata ujung-ujungnya, dia dan ketujuh anak buahnya berhenti di sebuah kedai pinggir jalan.

“Kopi tabrak sembilan, Nyai!” pesan Jenggot Ketapang kepada wanita pemilik kedai yang berusia empat puluhan tahun.

“Baik, Pendekar,” ucap wanita pemilik kedai, yang walaupun tidak cantik, tapi bagaimanapun, yang namanya sejelek-jeleknya perempuan, tetap saja memiliki daya tarik, apalagi bisa pakai bedak dan gincu.

“Kita ada delapan, Kepala,” ralat anak buah Jenggot Ketapang.

“Aku tahu,” jawab Jenggot Ketapang.

“Lalu satunya buat siapa?”

“Buat aku dua gelas,” jawab Jenggot Ketapang.

“Oooh.”

Di saat Jenggot Ketapang mengejar perampok ke kedai pinggir jalan, Juragan Gorong pergi melapor ke rumah Demang Rawes, demang Kademangan Buto Cangkem.

Sementara itu di Desa Buangsetan, Rugi Sabuntel datang masuk kerja dengan gaya. Dia datang ke gudang jagung dengan berkuda, menarik perhatian rekan-rekan sesama buruhnya, terutama perhatian Nyai Demang.

“Wuaaah!” pekik Blikik setelah berlari mendekati Rugi Sabuntel yang menambatkan kudanya di batang pohon. Lalu tanyanya dengan berbisik, “Rugi, ini hasil rampokan?”

“Bukan, ini hasil dari menang tarung di jalanan,” jawab Rugi Sabuntel seraya tersenyum.

“Rugi!” panggil seorang rekannya dari pintu gudang.

Rugi Sabuntel hanya menengok dan bertanya dengan wajahnya.

“Nyai Demang memanggilmu!” teriak si rekan itu.

“Iya!” teriak Rugi Sabubtel.

“Ada yang kangen rupanya. Hahaha!” kata Blikik lalu tertawa.

Rugi Sabuntel hanya tersenyum. Dia segera meninggalkan kudanya yang sudah nyaman merumput.

Rugi Sabuntel masuk ke gudang dan langsung pergi menuju ke meja tempat Nyai Demang yang selalu cantik berada. Apalagi masih pagi, di mana wanita itu masih sangat segar, belum berkeringat.

Sembari tersenyum, Rugi Sabuntel datang menghadap ke majikannya yang justru memasang wajah merengut, yang membuatnya terlihat kian menggemaskan.

“Ke mana saja kau? Kau hitung berapa hari kau tidak masuk? Seharusnya kau bicara dulu kepadaku jika mau tidak masuk, agar aku tidak mencari-cari dan mengharap kedatanganmu,” cecar Nyai Demang.

“Maafkan aku, Nyai. Sedikit ada urusan penting,” ucap Rugi Sabuntel.

“Apakah kau sekarang sudah mapan, sehingga tidak bersemangat lagi bekerja di gudang jagungku? Aku lihat kau sudah berkuda,” tanya Nyai Demang.

“Aku hanya ada urusan di luar desa, sehingga harus berkuda agar tetap bisa bekerja dengan Nyai,” kilah Rugi Sabuntel.

“Aku dengar dari Blikik, kau ikut mendaftar di pertandingan Duel Pendekar Butogilo?” tanya Nyai Demang, sekarang pakai senyum dan tatapan penuh arti.

“Sesuai yang Nyai Demang dengar,” jawab Rugi Sabuntel sembari senyum-senyum malu kuda.

“Kau harus menang, Rugi. Aku akan datang menonton dan menjagokanmu. Tidak masalah jika kau sampai berhenti bekerja di sini, asalkan kau menang dalam pertandingan,” kata Nyai Demang dengan senyuman lebarnya.

“Iya, Nyai. Aku tidak akan tega untuk mengecewakan Nyai.”

“Hihihi! Aku suka kau, Rubi. Eh, maksudku, aku suka kata-katamu. Hihihi!” ucap Nyai Demang sambil tertawa nyaring. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Om, Rugi Gendut lanjut yg baru doong. Kangen pengen lihat tingkahnya jadi duda gendut kek mana😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, sabar, ditunaikan dulu sampai habis

      Hapus