*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel ketika mereka berdua tiba
bersama kuda tunggangannya di rumah Bendong di Desa Buangsial.
“Lebih baik kau yang menyimpan harta rampokan ini,
Rugi,” kata Bendong.
“Tidak. Aku percaya kepadamu. Aku menjadi seorang
perampok budiman karena percaya dengan kisahmu. Jadi, aku pun percaya kepadamu
mengenai hasil rampokan ini,” tolak Rugi Sabuntel. “Jika aku percaya kepadamu,
kau juga harus percaya kepadaku. Jika tidak, kita berdua pasti akan apes
menginjak kotoran kerbau.”
“Hahaha!” tawa Bendong mendengar perumpamaan yang
dikemukakan mantan musuh masa kecilnya itu. Dia membenarkan bahwa mereka memang
harus saling percaya.
“Lalu kapan harta ini akan kita bagikan?” tanya Rugi.
“Aku juga harus tetap bekerja di gudang jagungnya Demang.”
“Sebenarnya aku punya tempat persembunyian yang aman.
Namun untuk sementara, harta ini aku simpan di sini. Nanti malam kita akan
pergi ke tempat persembunyianku dan menghitungnya di sana. Barulah paginya kita
bagi-bagikan ke rakyat,” ujar Bendong.
“Baik,” ucap Rugi Sabuntel. “Jika demikian, aku
pulang.”
“Baik.”
Rugi Sabuntel meninggalkan Bendong dan harta hasil
rampokan pertama mereka. Kini, Rugi Sabuntel wajib memiliki kuda karena wilayah
jelajahnya sudah lintas kademangan.
Sementara Bendong masuk ke rumahnya dengan rasa
bahagia. Dia telah kembali sebagai seorang perampok budiman.
Keesokan paginya.
“Kanjeng Juragaaan, apa yang terjadi?” pekik seorang
pelayan wanita di rumah Juragan Gorong terkejut ketika melihat kondisi
majikannya dan kondisi kamar yang tidak beres.
Masih untung, orang yang pertama menemukan keadaan Juragan
Gorong dan istrinya adalah pelayan perempuannya, bukan centeng atau pelayan
lelakinya.
Si pelayan yang bingung, lebih dulu menutupi tubuh
majikan perempuannya secara utuh. Setelah itu barulah dia memanggil Kepala
Centeng di kediaman Juragan Gorong.
“Aku dirampoook! Sialan kalian semuaaa! Kenapa rampok
bisa masuk dengan seenaknya dan menguras habis hartakuuu!” teriak-teriak
Juragan Gorong setelah Kepala Centeng berhasil membebaskannya dari totokan.
Gemparlah kediaman Juragan Gorong oleh kabar rampok
yang menguras habis brankas sang majikan.
“Cepaaaat!” teriak Juragan
Gorong marah kepada kepala centengnya yang bernama Jenggot Ketapang, padahal
jenggot lebatnya sedikit pun tidak mirip ketapang.
“Ke mana, Kanjeng Juragan?”
tanya Jenggot Ketapang bingung.
“Kejar rampok itu!” bentak
Juragan Gorong.
“Ke mana, Kanjeng Juragan?”
tanya Jenggot Ketapang lugu.
“Jenggot Bodoh!” semprot
sang majikan. “Kejar rampok itu ke lauuut!”
“Baik, Kanjeng Juragan!”
pekik Jenggot Ketapang patuh.
Dia lalu berbalik dan pergi
keluar menemui para anak buahnya.
“Kita kejar perampok itu ke
laut!” seru Jenggot Ketapang kepada anak buahnya.
“Jenggot Toloool!” teriak
Juragan Gorong kesal bukan main alang kepalang.
Terkejut Jenggot Ketapang
dan cepat menengok kepada majikannya. Dia terkejut bukan karena disebut
“Tolol”, tetapi karena diteriaki lagi.
“Ada apa lagi, Kanjeng
Juragan?” tanya Jenggot Ketapang dengan wajah tak bersalah.
“Kejar ke mana saja, tapi
bukan ke laut. Mengerti?!” bentak Juragan Gorong dengan wajah ingin menangis.
Bagaimana tidak? Sudahlah hartanya ludes seperti sayur lodeh yang enak, anak
buahnya pun tidak bisa memahami perasaannya.
“Mengerti, Kanjeng Juragan,”
ucap Jenggot Ketapang sembari tersenyum.
“Siapkan juga kereta kudaku!”
perintah Juragan Gorong.
“Kanjeng Juragan mau ke
mana?” tanya si centeng lagi, seperti anak pintar yang harus banyak bertanya.
“Aku mau pergi ke rumah
Demang!” jawab Juragan Gorong ketus.
“Tapi, Kanjeng.... Kanjeng
belum pakai baju,” kata Jenggot Ketapang sambil menunjuk badan majikannya yang
belum berbaju. Sementara majikan perempuannya sejak tadi meringkuk menutupi tubuhnya
dengan sarung.
“Iya, aku tahu. Nanti aku
pakai baju. Siapkan dulu kereta kudaku, baru kalian pergi mengejar perampok itu!”
teriak Juragan Gorong lagi.
“Tapi, kalau aku menyiapkan kereta
kuda dulu, nanti perampoknya tambah jauh, Kanjeng Juragan,” kata Jenggot
Ketapang.
“Ya, sudah, pergilah. Kejar
perampok itu,” ucap Juragan Gorong lemah. Dia pasrah.
“Baik, Kanjeng Juragan,”
ucap Jenggot Ketapang seraya tersenyum manis, meski tidak ada manis-manisnya
sedikit pun.
Jenggot Ketapang pun
berbalik dan langsung melangkah pergi. Dia segera diikuti oleh para anak
buahnya.
Jenggot Ketapang hanya
membawa anak buahnya yang pandai berkuda, karena tidak semua anak buahnya
pandai berkuda, apalagi jumlah kuda Juragan Gorong tidak banyak.
Tanpa memiliki petunjuk apa
pun tentang para perampok, Jenggot Ketapang asal memilih arah. Nalurinya yang
berbicara. Ternyata ujung-ujungnya, dia dan ketujuh anak buahnya berhenti di
sebuah kedai pinggir jalan.
“Kopi tabrak sembilan,
Nyai!” pesan Jenggot Ketapang kepada wanita pemilik kedai yang berusia empat
puluhan tahun.
“Baik, Pendekar,” ucap
wanita pemilik kedai, yang walaupun tidak cantik, tapi bagaimanapun, yang
namanya sejelek-jeleknya perempuan, tetap saja memiliki daya tarik, apalagi
bisa pakai bedak dan gincu.
“Kita ada delapan, Kepala,”
ralat anak buah Jenggot Ketapang.
“Aku tahu,” jawab Jenggot
Ketapang.
“Lalu satunya buat siapa?”
“Buat aku dua gelas,” jawab
Jenggot Ketapang.
“Oooh.”
Di saat Jenggot Ketapang
mengejar perampok ke kedai pinggir jalan, Juragan Gorong pergi melapor ke rumah
Demang Rawes, demang Kademangan Buto Cangkem.
Sementara itu di Desa
Buangsetan, Rugi Sabuntel datang masuk kerja dengan gaya. Dia datang ke gudang
jagung dengan berkuda, menarik perhatian rekan-rekan sesama buruhnya, terutama
perhatian Nyai Demang.
“Wuaaah!” pekik Blikik setelah
berlari mendekati Rugi Sabuntel yang menambatkan kudanya di batang pohon. Lalu
tanyanya dengan berbisik, “Rugi, ini hasil rampokan?”
“Bukan, ini hasil dari menang
tarung di jalanan,” jawab Rugi Sabuntel seraya tersenyum.
“Rugi!” panggil seorang rekannya
dari pintu gudang.
Rugi Sabuntel hanya menengok
dan bertanya dengan wajahnya.
“Nyai Demang memanggilmu!” teriak
si rekan itu.
“Iya!” teriak Rugi Sabubtel.
“Ada yang kangen rupanya.
Hahaha!” kata Blikik lalu tertawa.
Rugi Sabuntel hanya tersenyum.
Dia segera meninggalkan kudanya yang sudah nyaman merumput.
Rugi Sabuntel masuk ke
gudang dan langsung pergi menuju ke meja tempat Nyai Demang yang selalu cantik
berada. Apalagi masih pagi, di mana wanita itu masih sangat segar, belum
berkeringat.
Sembari tersenyum, Rugi
Sabuntel datang menghadap ke majikannya yang justru memasang wajah merengut,
yang membuatnya terlihat kian menggemaskan.
“Ke mana saja kau? Kau
hitung berapa hari kau tidak masuk? Seharusnya kau bicara dulu kepadaku jika
mau tidak masuk, agar aku tidak mencari-cari dan mengharap kedatanganmu,” cecar
Nyai Demang.
“Maafkan aku, Nyai. Sedikit
ada urusan penting,” ucap Rugi Sabuntel.
“Apakah kau sekarang sudah
mapan, sehingga tidak bersemangat lagi bekerja di gudang jagungku? Aku lihat
kau sudah berkuda,” tanya Nyai Demang.
“Aku hanya ada urusan di
luar desa, sehingga harus berkuda agar tetap bisa bekerja dengan Nyai,” kilah
Rugi Sabuntel.
“Aku dengar dari Blikik, kau
ikut mendaftar di pertandingan Duel Pendekar Butogilo?” tanya Nyai Demang,
sekarang pakai senyum dan tatapan penuh arti.
“Sesuai yang Nyai Demang
dengar,” jawab Rugi Sabuntel sembari senyum-senyum malu kuda.
“Kau harus menang, Rugi. Aku
akan datang menonton dan menjagokanmu. Tidak masalah jika kau sampai berhenti
bekerja di sini, asalkan kau menang dalam pertandingan,” kata Nyai Demang
dengan senyuman lebarnya.
“Iya, Nyai. Aku tidak akan
tega untuk mengecewakan Nyai.”
“Hihihi! Aku suka kau, Rubi.
Eh, maksudku, aku suka kata-katamu. Hihihi!” ucap Nyai Demang sambil tertawa
nyaring. (RH)


Om, Rugi Gendut lanjut yg baru doong. Kangen pengen lihat tingkahnya jadi duda gendut kek mana😂
BalasHapusInsya Allah, sabar, ditunaikan dulu sampai habis
Hapus