*Miliarder Ular Biru*
Radit terbangun
karena mendengar suara sepeda motor yang kemudian suaranya mati, bukan menjauh.
Meski kesadarannya
sudah kembali, tetapi Radit merasakan matanya sangat berat untuk terbuka.
“Akkk!” erangnya
karena dia merasakan tubuhnya sakit, nyaris di semua bagian.
Setelah memaksa
matanya untuk terbuka dengan wajah yang mengerenyit, barulah Radit melihat
kondisi tempat dia berada.
Ternyata Radit sedang
terbaring di atas sebuah ranjang kayu berkasur, di sebuah kamar sederhana yang
semi permanen alias semen yang bagian atasnya kayu beratap genteng. Di sudut
kanan atas ada kipas yang menyala kencang. Angin kipas dapat dirasakan oleh
Radit.
Cahaya penerangan
berasal dari luar yang masuk melalui lubang-lubang udara, menunjukkan hari
sedang siang. Tidak ada jam dinding di kamar itu, yang ada hanya cecak di
dinding. Pintu kamar itu hanya berupa tirai nomor satu berwarna hitam, karena
tidak ada tirai yang lainnya.
Jelas, Radit berada
di sebuah rumah warga, tapi rumah siapa dan di mana?
Dia segera ingat,
terakhir dia berada di sungai dan dilempari warga dengan batu. Terakhir dia
hanya pasrah dan menduga dirinya akan mati saat pandangannya sudah gelap dan
kondisinya sudah tidak bertenaga dibawa arus sungai. Bahkan dia masih ingat
ketika dia hanyut dan tenggelam di dalam air sungai. Dia pun masih ingat ketika
air masuk ke dalam tenggorokannya.
Saat ingat dengan
kepalanya yang terkena timpukan batu, Radit segera menggerakkan tangannya untuk
memeriksa kepalanya. Sebelum dia menyentuh kepalanya, dia tersadar bahwa saat
itu dia dalam kondisi tidak berbaju. Separuh tubuhnya ditutupi oleh selimut yang
lusuh dan berbau, tetapi baunya bukan bau kain, lebih mirip bau minyak yang
kurang sedap.
Dengan wajah
mengerenyit menahan sakit, Radit memeriksa tubuhnya di dalam selimut. Dan
ternyata, Radit tidak bercelana di balik selimut. Juga tidak pakai kolor. Asli,
dia bugil total alias buto.
Radit tidak sempat
terkejut, karena dia mendapati ada luka di perut dan di pinggul kirinya. Itu
dua luka robek yang yang sudah kering, tetapi basah oleh cairan minyak. Saat
Radit mengusap minyak itu, terasa perih lukanya. Dia lalu mencium jarinya. Barulah
dia tahu bahwa bau asing yang diciumnya sejak awal adalah bau minyak tersebut.
Setelahnya, barulah
dia meraba kepalanya. Ternyata kepalanya diperban kain.
“Engkong tinggal sama
siapa?” tanya satu suara lelaki.
Radit mendengar suara
yang sumbernya ada di balik tembok, tepatnya di samping rumah. Seiring itupun
dia mendengar suara langkah yang berjalan.
“Saya tinggal
sendirian, Pak Polisi. Apa-apa saya kerjakan sendiri. Meski tua, tetapi saya
masih sehat seratus satu persen. Hehehe!” jawab satu suara lelaki tua.
Sama-sama di balik tembok.
Radit yang menyimak,
terkejut bukan main saat mendengar suara kakek-kakek itu menyebut “Pak Polisi”.
Seketika dia takut dan panik. Namun, apa yang harus dia lakukan.
“Polisi itu pasti
sedang mencari aku,” duga Radit.
Baru saja Radit punya
ide untuk bersembunyi di kolong ranjang, tiba-tiba ada seseorang menyibak tirai
nomor satu.
Satu wajah muncul
dari luar kamar dan melongok, memandangi seluruh sisi dalam kamar tersebut.
Sementara Radit mematung dalam posisi setengah berbaring. Sepasang matanya
mendelik nanar memandangi wajah lelaki berkumis yang berdiri di ambang pintu
kamar. Napasnya sampai tertahan, seolah-olah dia tidak mau napasnya terendus
atau terdengar oleh orang itu.
Lelaki berkumis yang
terbilang masih muda itu memakai seragam polisi tanpa mengenakan topi. Setelah
memandangi kondisi dalam kamar sekitar setengah menit, lelaki itu melepas tirai
dan berbalik meninggalkan kamar.
Si Pak Polisi
berjalan di dalam rumah yang kosong dari orang lain untuk memeriksa ruangan lain,
termasuk dapur. Di luar terdengar ada percakapan dua orang, suaranya sama
dengan suara dua orang yang tadi di dengar oleh Radit.
Setelah melihat
kondisi dapur, polisi yang memiliki nama Sumargo di dada seragamnya itu
langsung pergi ke ruang tamu dan keluar ke teras.
Di teras, ada seorang
polisi berseragam, tetapi dilapisi jaket hitam. Dari wajahnya, meski tidak
berkumis, jelas lebih tua dari Sumargo. Juga lebih gendut perutnya yang
terkesan mengintimidasi kancing baju seragamnya.
Hendrik. Itu nama
yang dia sandang di dada seragamnya. Masih ada hurup P yang terlihat, sisanya
tertutupi oleh tepian jaket. Mungkin lengkapnya adalah Hendrik Perkasa, atau
Hendrik Prakoso, atau juga Hendrik Putri.
Bersama Hendrik P
yang duduk di bangku kayu panjang di teras yang sederhana, ada duduk seorang
kakek kurus berkulit agak gelap.
Kakek yang hanya
mengenakan kaos oblong biru itu memakai celana putih gombrong dengan sabuk ala
jawara Betawi warna hijau tua. Wajahnya tirus semodel dengan raga kurusnya.
Sepasang matanya kecil dan cekung, dengan sedikit jenggot putih. Kepalanya
memakai totopong kain batik, entah itu model suku mana. Sunda atau Jawa.
Kakek itu bernama
asli Batur Angga Ambarawa Sukma. Namun, hanya dia yang tahu nama lahirnya
tersebut. Nama di KTP adalah Kong Botok. Semua orang yang mengenalnya pun
memanggilnya Kong Botok. Termasuk kedua polisi yang datang bertamu itu. Mereka mengenal
si kakek dengan nama Kong Botok.
“Kosong, Bang,” kata
Sumargo kepada Hendrik, sambil jalan menghampiri.
“Memang … kasusnya
apa?” tanya Kong Botok.
“Rampok toko emas,”
jawab Hendrik P.
“Oooh,” desah Kong
Botok.
“Katanya sih korban
pinjol,” tambah Hendrik sambil bangkit dari duduknya. “Kita pamit, Kong. Langsung
info aja ke Pak RT kalau ketemu orang yang mencurigakan atau ketemu mayatnya di
kali.”
“Iya,” jawab Kong
Botok seraya tersenyum tua.
Hendrik lalu menjabat
tangan Kong Botok dengan gestur santun. Sumargo juga ikut menyalami tangan si
kakek.
Kedua polisi itu lalu
meninggalkan teras rumah. Mereka harus naik karena posisi tanah rumah itu satu
meter lebih rendah dari jalan kecil di depan rumah. Di atas sana ada sebuah
sepeda motor berplat polisi diparkir, tepat di pinggir jalan yang berlapis
tatanan batu paving block.
Suara sepeda motor
itulah yang tadi Radit dengar. Seolah-olah didatangkan khusus untuk
membangunkan Radit dari tidur panjangnya.
Kong Botok hanya
memandangi kepergian kedua polisi itu dari depan teras rumahnya yang sederhana.
Setelah kedua aparat
penegak hukum tersebut pergi bersama sepeda motornya, barulah Kong Botok
berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Dia langsung pergi ke kamar tempat
Radit terbaring.
Ketika Kong Botok
menyibak tirai nomor satu, dilihatnya Radit kaget. Itu terjadi karena sejak
tadi si pemuda tegang dan was-was. Dia samar-samar mendengar percakapan singkat
di teras rumah.
“Pak polisinya sudah
pergi,” ujar Kong Botok sambil masuk dan menghampiri ranjang dan Radit yang
masih berselimut.
Radit tidak menjawab.
Dia hanya memandangi Kong Botok dengan wajah pucat.
“Tidak usah tegang
seperti itu. Aman,” kata Kong Botok. “Polisi enggak akan ke mari lagi.”
“Aku … aku pingsan,
Kong?” tanya Radit dengan nada ragu. Entah ragu karena apa?
“Kamu pikir kamu
sudah mati? Hehehe!” kata Kong Botok, lalu terkekeh. “Memang dasarnya belum
ajal. Dan takdir kamu, kamu ketemu Engkong.”
“Engkong siapa?”
tanya Radit.
“Kong Botok.”
“Terima kasih sekali,
Kong, sudah menolong aku,” ucap Radit.
“Karena itulah,
manusia itu harus bersukur.”
“Tapi, Kong. Polisi
tadi mencari aku, tapi kenapa pas melihat ke sini, seperti tidak melihat siapa-siapa?”
tanya Radit.
“Bagaimana mau lihat
kamu kalau kamu sembunyi di selimut?” kata Kong Botok.
“Tidak, Kong. Aku
tidak sembunyi,” sangkal Radit.
“Mugkin polisi itu
matanya sudah minus,” kata Kong Botok. Lalu katanya mengalihkan topik, “Kamu
pingsan tiga hari. Oh iya, Engkong enggak siapin makanan. Biar Engkong pergi
beli dulu. Kalau mau ke wc, ada di dapur.”
Seolah baru merasakan
ketiga disinggung oleh Kong Botok, Radit merasa lapar.
“Iya, Kong.”
Kong Botok lalu berbalik pergi. Radit hanya memandangi. Pikirannya masih memendam keheranan karena dia masih membantah dugaan Kong Botok tentang penglihatan polisi tadi. (RH)


Kong Botok orang sakti nampaknya ya Om?
BalasHapusKayaknya. ini tokoh kuncinya
HapusKeknya Kong Botok punya ilmu mirip Gegara Cinta ya, Om? Kalau gak salah ingat aku🤔 yg bersama Joko gak jdi ditangkap hansip itu lhoo, Om😆
BalasHapusIya, pas Getara sama Joko encup-encupan di tengah jalan
Hapusandai Om atau aku punya ilmu itu, pasti kita gak akan semerana sekarang kan, Om? hanya berpegang mimpi doangðŸ˜ðŸ¤§
Hapusbetul betul betul
Hapus