Kong Botok, Bab16 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

 

Radit terbangun karena mendengar suara sepeda motor yang kemudian suaranya mati, bukan menjauh.

Meski kesadarannya sudah kembali, tetapi Radit merasakan matanya sangat berat untuk terbuka.

“Akkk!” erangnya karena dia merasakan tubuhnya sakit, nyaris di semua bagian.

Setelah memaksa matanya untuk terbuka dengan wajah yang mengerenyit, barulah Radit melihat kondisi tempat dia berada.

Ternyata Radit sedang terbaring di atas sebuah ranjang kayu berkasur, di sebuah kamar sederhana yang semi permanen alias semen yang bagian atasnya kayu beratap genteng. Di sudut kanan atas ada kipas yang menyala kencang. Angin kipas dapat dirasakan oleh Radit.

Cahaya penerangan berasal dari luar yang masuk melalui lubang-lubang udara, menunjukkan hari sedang siang. Tidak ada jam dinding di kamar itu, yang ada hanya cecak di dinding. Pintu kamar itu hanya berupa tirai nomor satu berwarna hitam, karena tidak ada tirai yang lainnya.

Jelas, Radit berada di sebuah rumah warga, tapi rumah siapa dan di mana?

Dia segera ingat, terakhir dia berada di sungai dan dilempari warga dengan batu. Terakhir dia hanya pasrah dan menduga dirinya akan mati saat pandangannya sudah gelap dan kondisinya sudah tidak bertenaga dibawa arus sungai. Bahkan dia masih ingat ketika dia hanyut dan tenggelam di dalam air sungai. Dia pun masih ingat ketika air masuk ke dalam tenggorokannya.

Saat ingat dengan kepalanya yang terkena timpukan batu, Radit segera menggerakkan tangannya untuk memeriksa kepalanya. Sebelum dia menyentuh kepalanya, dia tersadar bahwa saat itu dia dalam kondisi tidak berbaju. Separuh tubuhnya ditutupi oleh selimut yang lusuh dan berbau, tetapi baunya bukan bau kain, lebih mirip bau minyak yang kurang sedap.

Dengan wajah mengerenyit menahan sakit, Radit memeriksa tubuhnya di dalam selimut. Dan ternyata, Radit tidak bercelana di balik selimut. Juga tidak pakai kolor. Asli, dia bugil total alias buto.

Radit tidak sempat terkejut, karena dia mendapati ada luka di perut dan di pinggul kirinya. Itu dua luka robek yang yang sudah kering, tetapi basah oleh cairan minyak. Saat Radit mengusap minyak itu, terasa perih lukanya. Dia lalu mencium jarinya. Barulah dia tahu bahwa bau asing yang diciumnya sejak awal adalah bau minyak tersebut.

Setelahnya, barulah dia meraba kepalanya. Ternyata kepalanya diperban kain.

“Engkong tinggal sama siapa?” tanya satu suara lelaki.

Radit mendengar suara yang sumbernya ada di balik tembok, tepatnya di samping rumah. Seiring itupun dia mendengar suara langkah yang berjalan.

“Saya tinggal sendirian, Pak Polisi. Apa-apa saya kerjakan sendiri. Meski tua, tetapi saya masih sehat seratus satu persen. Hehehe!” jawab satu suara lelaki tua. Sama-sama di balik tembok.

Radit yang menyimak, terkejut bukan main saat mendengar suara kakek-kakek itu menyebut “Pak Polisi”. Seketika dia takut dan panik. Namun, apa yang harus dia lakukan.

“Polisi itu pasti sedang mencari aku,” duga Radit.

Baru saja Radit punya ide untuk bersembunyi di kolong ranjang, tiba-tiba ada seseorang menyibak tirai nomor satu.

Satu wajah muncul dari luar kamar dan melongok, memandangi seluruh sisi dalam kamar tersebut. Sementara Radit mematung dalam posisi setengah berbaring. Sepasang matanya mendelik nanar memandangi wajah lelaki berkumis yang berdiri di ambang pintu kamar. Napasnya sampai tertahan, seolah-olah dia tidak mau napasnya terendus atau terdengar oleh orang itu.

Lelaki berkumis yang terbilang masih muda itu memakai seragam polisi tanpa mengenakan topi. Setelah memandangi kondisi dalam kamar sekitar setengah menit, lelaki itu melepas tirai dan berbalik meninggalkan kamar.

Si Pak Polisi berjalan di dalam rumah yang kosong dari orang lain untuk memeriksa ruangan lain, termasuk dapur. Di luar terdengar ada percakapan dua orang, suaranya sama dengan suara dua orang yang tadi di dengar oleh Radit.

Setelah melihat kondisi dapur, polisi yang memiliki nama Sumargo di dada seragamnya itu langsung pergi ke ruang tamu dan keluar ke teras.

Di teras, ada seorang polisi berseragam, tetapi dilapisi jaket hitam. Dari wajahnya, meski tidak berkumis, jelas lebih tua dari Sumargo. Juga lebih gendut perutnya yang terkesan mengintimidasi kancing baju seragamnya.

Hendrik. Itu nama yang dia sandang di dada seragamnya. Masih ada hurup P yang terlihat, sisanya tertutupi oleh tepian jaket. Mungkin lengkapnya adalah Hendrik Perkasa, atau Hendrik Prakoso, atau juga Hendrik Putri.

Bersama Hendrik P yang duduk di bangku kayu panjang di teras yang sederhana, ada duduk seorang kakek kurus berkulit agak gelap.

Kakek yang hanya mengenakan kaos oblong biru itu memakai celana putih gombrong dengan sabuk ala jawara Betawi warna hijau tua. Wajahnya tirus semodel dengan raga kurusnya. Sepasang matanya kecil dan cekung, dengan sedikit jenggot putih. Kepalanya memakai totopong kain batik, entah itu model suku mana. Sunda atau Jawa.

Kakek itu bernama asli Batur Angga Ambarawa Sukma. Namun, hanya dia yang tahu nama lahirnya tersebut. Nama di KTP adalah Kong Botok. Semua orang yang mengenalnya pun memanggilnya Kong Botok. Termasuk kedua polisi yang datang bertamu itu. Mereka mengenal si kakek dengan nama Kong Botok.

“Kosong, Bang,” kata Sumargo kepada Hendrik, sambil jalan menghampiri.

“Memang … kasusnya apa?” tanya Kong Botok.

“Rampok toko emas,” jawab Hendrik P.

“Oooh,” desah Kong Botok.

“Katanya sih korban pinjol,” tambah Hendrik sambil bangkit dari duduknya. “Kita pamit, Kong. Langsung info aja ke Pak RT kalau ketemu orang yang mencurigakan atau ketemu mayatnya di kali.”

“Iya,” jawab Kong Botok seraya tersenyum tua.

Hendrik lalu menjabat tangan Kong Botok dengan gestur santun. Sumargo juga ikut menyalami tangan si kakek.

Kedua polisi itu lalu meninggalkan teras rumah. Mereka harus naik karena posisi tanah rumah itu satu meter lebih rendah dari jalan kecil di depan rumah. Di atas sana ada sebuah sepeda motor berplat polisi diparkir, tepat di pinggir jalan yang berlapis tatanan batu paving block.

Suara sepeda motor itulah yang tadi Radit dengar. Seolah-olah didatangkan khusus untuk membangunkan Radit dari tidur panjangnya.

Kong Botok hanya memandangi kepergian kedua polisi itu dari depan teras rumahnya yang sederhana.

Setelah kedua aparat penegak hukum tersebut pergi bersama sepeda motornya, barulah Kong Botok berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Dia langsung pergi ke kamar tempat Radit terbaring.

Ketika Kong Botok menyibak tirai nomor satu, dilihatnya Radit kaget. Itu terjadi karena sejak tadi si pemuda tegang dan was-was. Dia samar-samar mendengar percakapan singkat di teras rumah.

“Pak polisinya sudah pergi,” ujar Kong Botok sambil masuk dan menghampiri ranjang dan Radit yang masih berselimut.

Radit tidak menjawab. Dia hanya memandangi Kong Botok dengan wajah pucat.

“Tidak usah tegang seperti itu. Aman,” kata Kong Botok. “Polisi enggak akan ke mari lagi.”

“Aku … aku pingsan, Kong?” tanya Radit dengan nada ragu. Entah ragu karena apa?

“Kamu pikir kamu sudah mati? Hehehe!” kata Kong Botok, lalu terkekeh. “Memang dasarnya belum ajal. Dan takdir kamu, kamu ketemu Engkong.”

“Engkong siapa?” tanya Radit.

“Kong Botok.”

“Terima kasih sekali, Kong, sudah menolong aku,” ucap Radit.

“Karena itulah, manusia itu harus bersukur.”

“Tapi, Kong. Polisi tadi mencari aku, tapi kenapa pas melihat ke sini, seperti tidak melihat siapa-siapa?” tanya Radit.

“Bagaimana mau lihat kamu kalau kamu sembunyi di selimut?” kata Kong Botok.

“Tidak, Kong. Aku tidak sembunyi,” sangkal Radit.

“Mugkin polisi itu matanya sudah minus,” kata Kong Botok. Lalu katanya mengalihkan topik, “Kamu pingsan tiga hari. Oh iya, Engkong enggak siapin makanan. Biar Engkong pergi beli dulu. Kalau mau ke wc, ada di dapur.”

Seolah baru merasakan ketiga disinggung oleh Kong Botok, Radit merasa lapar.

“Iya, Kong.”

Kong Botok lalu berbalik pergi. Radit hanya memandangi. Pikirannya masih memendam keheranan karena dia masih membantah dugaan Kong Botok tentang penglihatan polisi tadi. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. Kong Botok orang sakti nampaknya ya Om?

    BalasHapus
  2. Keknya Kong Botok punya ilmu mirip Gegara Cinta ya, Om? Kalau gak salah ingat aku🤔 yg bersama Joko gak jdi ditangkap hansip itu lhoo, Om😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pas Getara sama Joko encup-encupan di tengah jalan

      Hapus
    2. andai Om atau aku punya ilmu itu, pasti kita gak akan semerana sekarang kan, Om? hanya berpegang mimpi doang😭🤧

      Hapus