PKK14: Kuras Harta Juragan Gorong


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Sebagai orang yang sudah pernah merampok kediaman Juragan Gorong, Bendong sudah tahu yang mana pintu kamar sang juragan.

Kamar Juragan Gorong menjadi target karena di kamar pribadinyalah dia menyimpan kepeng dan harta kekayaannya yang lain.

Bendong dan Rugi Sabuntel langsung mendekati sebuah pintu kamar yang tertutup yang posisinya ada di bagian tengah rumah. Dengan menggunakan bahasa isyarat yang mudah dimengerti, Bendong memberi arahan-arahan singkat yang kemudian dia praktikkan.

Seperti ketika mendekati pintu kamar. Seorang pencuri harus lebih dulu memastikan bahwa orang di dalam kamar dalam keadaan tertidur. Sebab, yang namanya orang punya istri, bisa saja pada tengah malam seperti itu adalah waktu afdol bagi suami bini bergumul di atas ranjang.

Maka Bendong mencontohkan kepada Rugi Sabuntel dengan menempelkan satu telinganya ke daun pintu, bukan kedua telinganya. Setelah yakin bahwa tidak ada suara napas berpacu dalam keringat asmara dari dalam kamar, Bendong lalu mengangguk kepada Rugi Sabuntel.



Setelah itu, mereka harus mengetahui jenis kunci di balik pintu. Caranya bagaimana? Jangan dijawab!

Bendong lalu mengurai kawat yang melingkar di pinggangnya. Karena Bendong hanya bertangan satu, jadi ia berikan ujung kawat kepada Rugi Sabuntel. Ia lalu meluruskan kawat dan menekuknya pada satu titik.

Setelah itu, kawat kembali ia ambil dan ujungnya dimasukkan ke dalam kamar lewat celah atas pintu. Ujung kawat lalu diulur sehingga masuk lebih banyak. Tekukan yang sudah dibuat membuat ujung kawat bisa meraba bagian dalam daun pintu.

Dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa meraba menggunakan ujung kawat. Gerakan kawat pun cepat dalam meraba. Tidak perlu lama-lama, Bendong dengan cepat sudah bisa menyimpulkan jenis kunci pintu, yaitu jenis palang. Untuk bisa membuka pintu tanpa kekerasan adalah harus mengangkat ke atas sebatang kayu palang pengunci.

Bendong kembali menarik keluar kawatnya. Dengan cekatan, dia lalu mengubah model kawatnya dengan ujung dilengkungkan dan membentuk pengait seperti pancing. Bendong tetap menggunakan bantuan tangan Rugi Sabuntel untuk sekedar memegang. Tangan kanannya bergerak cepat bekerja. Sebentar saja sudah terbuat dua kawat panjang seperti tadi, hanya bedanya, yang ini ujungnya berkait.

Satu per satu kawat itu kembali dimasukkan ke celah atas pintu lalu ujungnya diturunkan di balik pintu. Ketika pengaitnya berhasil menyangkut di palang pengunci, kawat yang kedua juga dimasukkan untuk mengait bagian lain palang pengunci.

Ketika kedua pengait kawat tersangkut pada kedua ujung palang pengunci, Rugi Sabuntel kemudian ditugaskan menarik perlahan. Ternyata tarikan Rugi Sabuntel membuat palang kayu di dalam tertarik naik ke atas dan keluar dari pasungannya. Setelah itu, Bendong tinggal mendorong pintu secara perlahan agar gerakan pintu yang terbuka tidak mengganggu kerja kawat yang bisa menjatuhkan kayu palang.

Setelah pintu terbuka secukupnya, Bendong segera masuk dan melihat kondisi dalam kamar.

Terlihat sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, sedang tidur lelap dengan kondisi aurat ke mana-mana. Sepertinya keduanya kelelahan usai berpacu dalam keringat asmara.

Si lelaki separuh baya tidur dengan mulut menganga dalam kondisi busikit. Dia masih menutupi kelelakiannya dengan sarung. Si wanita yang lumayan lebih muda, juga menutupi kewanitaannya dengan kain sarung, tapi tidak menutupi dua bukit kecilnya.

Ini suatu pelajaran bagi suami istri yang usai berpacu dalam keringat asmara, agar berpakaian sebelum tidur. Jika sudah seperti ini kasusnya, jadi repot urusan. Yang jelas, orang yang pertama nanti menemukan pasangan ini dalam kondisi tertotok, pasti menang banyak.

Bendong tidak peduli. Itu bukan urusannya. Urusannya adalah cepat mengambil kayu palang dari pengait kawat dan meletakkannya di lantai tanpa suara. Dengan demikian, Rugi Sabuntel pun bisa masuk ke kamar.

“Wow!” ucap Rugi Sabuntel melihat pemandangan di atas ranjang, tapi tanpa suara, hanya gerakan bibir saja.

Dengan langkah tanpa suara, Bendong menghampiri ranjang. Dia tidak bermaksud melakukan pelecehan, tetapi demi mengamankan kerja mereka.

Bendong mengeluarkan beberapa helai kain hitam yang sudah ia persiapkan. Satu helai kain yang seperti sapu tangan itu diletakkan ke atas wajah si lelaki busikit berperut gendut.

Tuk tuk tuk!

Setelah wajah korban tertutupi semua, Bendong lalu menotok lengkap lelaki pemilik tersebut. Orang itu hanya terhentak sebentar, lalu diam. Orang yang adalah Juragan Gorong tersebut terbangun, tetapi pandangannya gelap dan suaranya tidak bisa dipakai berteriak.

Hal yang sama dilakukan Bendong kepada wanita di sisi Juragan Gorong.

Setelah kedua penghuni kamar diamankan dengan totokan, barulah Bendong menunjuk ke salah satu bagian dinding kamar.

Pada satu titik di dinding kayu tebal itu ada sebuah logam sebulat lingkaran telunjuk dan jempol. Pada logam itu ada lubang kecil yang sepertinya adalah lubang kunci. Posisi logam itu dikelilingi oleh garis berbentuk kotak seperti pola pintu kecil.

Bendong dan Rugi Sabuntel lalu mendekati dinding papan bergaris kotak. Bendong lalu mengeluarkan kawat-kawat kecil dan pendek yang berpola-pola, seperti macam-macam kunci yang sederhana.

Ketika Bendong berjongkok hendak memasukkan satu kawat kunci ke lubang di logam kunci, Rugi Sabuntel mencolek bahu Bendong.

Pemuda bertopeng itu menengok. Rugi Sabuntel memberi kode agar Bendong mundur. Bendong pun bangkit dan mundur untuk memberi ruang kepada rekan gendutnya.

Rugi Sabuntel lalu maju. Telapak tangan kanannya tiba-tiba menyala kuning seperti lava dan berasap tipis. Telapak tangan itu lalu ditempelkan pada bagian papan yang ada logam kuncinya. Seperti batu diletakkan ke dalam lumpur kental. Seperti itulah tangan kanan Rugi Sabuntel masuk memakan papan hingga kemudian jebol berpola telapak tangan besar. Kunci logam pun ikut rusak oleh daya panas tangan Rugi Sabuntel.

Seperti itulah kehebatan ilmu Telapak Lahar.

“Jika aku tahu kau punya kemampuan itu, tadi aku tidak perlu repot-repot memancing palang pintu!” kata Bendong berbisik.

Rugi Sabuntel hanya tersenyum lebar di balik kain topengnya. Dia lalu menarik dan membuka brankas model zaman dahulu itu.

Di dalam ada sebuah lubang berbentuk kotak, mirip rak kecil. Di dalam sana ada banyak kantong-kantong kepeng dan beberapa kotak berisi perhiasan. Ada pula gulungan-gulungan kulit binatang yang tertata rapi.

Bendong mengeluarkan karung kain yang sudah mereka siapkan. Dengan gerakan cepat, Rugi Sabuntel dan Bendong menguras isi brankas sampai habis.

Rugi Sabuntel yang penasaran dengan gulungan kulit binatang itu mencoba membuka satu gulungan dari ikatan. Setelah dilihat, ternyata itu berisi tulisan-tulisan dan ada nilai angkanya.

“Itu surat tanah yang dimiliki oleh Juragan Gorong!” bisik Bendong lagi.

Rugi Sabuntel hanya manggut-manggut lalu kembali menggulung dan mengikat surat tanah tersebut.

Setelah memenuhi karung kain itu sebanyak setengah, karung segera diikat.

Bendong memberi tanda agar pergi.

Keduanya pun segera menuju ke pintu kamar. Tidak lupa mereka mengintip ke luar dan menengok ke kanan dan kiri. Setelah dipastikan aman, keduanya kembali pergi ke dapur dan keluar lewat pintu belakang.

Mereka kembali melalui jalan yang mereka lewati saat datang. Perampokan pertama mereka berjalan sukses dan aman. Tidak ada kesulitan berarti apalagi menemui perlawanan.

Setelah keluar dari lingkungan kediaman Juragan Gorong, mereka berdua segera pergi ke titik tempat mereka menambatkan kuda.

“Heah heah!” teriak Rugi Sabuntel dan Bendong menggebah kuda-kudanya.

“Hahaha!” tawa mereka.

Perampokan pertama yang sukses dengan hasil yang besar sangat membuat Rugi Sabuntel gembira.

Sementara Bendong merasa bahagia karena dia kembali bisa beraksi setelah pensiun setahun lamanya. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar