*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Sebagai orang yang sudah pernah merampok kediaman
Juragan Gorong, Bendong sudah tahu yang mana pintu kamar sang juragan.
Kamar Juragan Gorong menjadi target karena di kamar
pribadinyalah dia menyimpan kepeng dan harta kekayaannya yang lain.
Bendong dan Rugi Sabuntel langsung mendekati sebuah
pintu kamar yang tertutup yang posisinya ada di bagian tengah rumah. Dengan
menggunakan bahasa isyarat yang mudah dimengerti, Bendong memberi arahan-arahan
singkat yang kemudian dia praktikkan.
Seperti ketika mendekati pintu kamar. Seorang pencuri
harus lebih dulu memastikan bahwa orang di dalam kamar dalam keadaan tertidur.
Sebab, yang namanya orang punya istri, bisa saja pada tengah malam seperti itu
adalah waktu afdol bagi suami bini bergumul di atas ranjang.
Maka Bendong mencontohkan kepada Rugi Sabuntel dengan
menempelkan satu telinganya ke daun pintu, bukan kedua telinganya. Setelah
yakin bahwa tidak ada suara napas berpacu dalam keringat asmara dari dalam
kamar, Bendong lalu mengangguk kepada Rugi Sabuntel.
Setelah itu, mereka harus mengetahui jenis kunci di
balik pintu. Caranya bagaimana? Jangan dijawab!
Bendong lalu mengurai kawat yang melingkar di
pinggangnya. Karena Bendong hanya bertangan satu, jadi ia berikan ujung kawat
kepada Rugi Sabuntel. Ia lalu meluruskan kawat dan menekuknya pada satu titik.
Setelah itu, kawat kembali ia ambil dan ujungnya
dimasukkan ke dalam kamar lewat celah atas pintu. Ujung kawat lalu diulur
sehingga masuk lebih banyak. Tekukan yang sudah dibuat membuat ujung kawat bisa
meraba bagian dalam daun pintu.
Dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa meraba
menggunakan ujung kawat. Gerakan kawat pun cepat dalam meraba. Tidak perlu
lama-lama, Bendong dengan cepat sudah bisa menyimpulkan jenis kunci pintu,
yaitu jenis palang. Untuk bisa membuka pintu tanpa kekerasan adalah harus
mengangkat ke atas sebatang kayu palang pengunci.
Bendong kembali menarik keluar kawatnya. Dengan
cekatan, dia lalu mengubah model kawatnya dengan ujung dilengkungkan dan
membentuk pengait seperti pancing. Bendong tetap menggunakan bantuan tangan
Rugi Sabuntel untuk sekedar memegang. Tangan kanannya bergerak cepat bekerja.
Sebentar saja sudah terbuat dua kawat panjang seperti tadi, hanya bedanya, yang
ini ujungnya berkait.
Satu per satu kawat itu kembali dimasukkan ke celah
atas pintu lalu ujungnya diturunkan di balik pintu. Ketika pengaitnya berhasil
menyangkut di palang pengunci, kawat yang kedua juga dimasukkan untuk mengait
bagian lain palang pengunci.
Ketika kedua pengait kawat tersangkut pada kedua ujung
palang pengunci, Rugi Sabuntel kemudian ditugaskan menarik perlahan. Ternyata
tarikan Rugi Sabuntel membuat palang kayu di dalam tertarik naik ke atas dan
keluar dari pasungannya. Setelah itu, Bendong tinggal mendorong pintu secara
perlahan agar gerakan pintu yang terbuka tidak mengganggu kerja kawat yang bisa
menjatuhkan kayu palang.
Setelah pintu terbuka secukupnya, Bendong segera masuk
dan melihat kondisi dalam kamar.
Terlihat sepasang manusia, laki-laki dan perempuan,
sedang tidur lelap dengan kondisi aurat ke mana-mana. Sepertinya keduanya
kelelahan usai berpacu dalam keringat asmara.
Si lelaki separuh baya tidur dengan mulut menganga
dalam kondisi busikit. Dia masih menutupi kelelakiannya dengan sarung. Si
wanita yang lumayan lebih muda, juga menutupi kewanitaannya dengan kain sarung,
tapi tidak menutupi dua bukit kecilnya.
Ini suatu pelajaran bagi suami istri yang usai berpacu
dalam keringat asmara, agar berpakaian sebelum tidur. Jika sudah seperti ini
kasusnya, jadi repot urusan. Yang jelas, orang yang pertama nanti menemukan pasangan
ini dalam kondisi tertotok, pasti menang banyak.
Bendong tidak peduli. Itu bukan urusannya. Urusannya
adalah cepat mengambil kayu palang dari pengait kawat dan meletakkannya di
lantai tanpa suara. Dengan demikian, Rugi Sabuntel pun bisa masuk ke kamar.
“Wow!” ucap Rugi Sabuntel melihat pemandangan di atas
ranjang, tapi tanpa suara, hanya gerakan bibir saja.
Dengan langkah tanpa suara, Bendong menghampiri
ranjang. Dia tidak bermaksud melakukan pelecehan, tetapi demi mengamankan kerja
mereka.
Bendong mengeluarkan beberapa helai kain hitam yang
sudah ia persiapkan. Satu helai kain yang seperti sapu tangan itu diletakkan ke
atas wajah si lelaki busikit berperut gendut.
Tuk tuk tuk!
Setelah wajah korban tertutupi semua, Bendong lalu
menotok lengkap lelaki pemilik tersebut. Orang itu hanya terhentak sebentar,
lalu diam. Orang yang adalah Juragan Gorong tersebut terbangun, tetapi
pandangannya gelap dan suaranya tidak bisa dipakai berteriak.
Hal yang sama dilakukan Bendong kepada wanita di sisi
Juragan Gorong.
Setelah kedua penghuni kamar diamankan dengan totokan,
barulah Bendong menunjuk ke salah satu bagian dinding kamar.
Pada satu titik di dinding kayu tebal itu ada sebuah logam
sebulat lingkaran telunjuk dan jempol. Pada logam itu ada lubang kecil yang
sepertinya adalah lubang kunci. Posisi logam itu dikelilingi oleh garis
berbentuk kotak seperti pola pintu kecil.
Bendong dan Rugi Sabuntel lalu mendekati dinding papan
bergaris kotak. Bendong lalu mengeluarkan kawat-kawat kecil dan pendek yang
berpola-pola, seperti macam-macam kunci yang sederhana.
Ketika Bendong berjongkok hendak memasukkan satu kawat
kunci ke lubang di logam kunci, Rugi Sabuntel mencolek bahu Bendong.
Pemuda bertopeng itu menengok. Rugi Sabuntel memberi
kode agar Bendong mundur. Bendong pun bangkit dan mundur untuk memberi ruang
kepada rekan gendutnya.
Rugi Sabuntel lalu maju. Telapak tangan kanannya
tiba-tiba menyala kuning seperti lava dan berasap tipis. Telapak tangan itu
lalu ditempelkan pada bagian papan yang ada logam kuncinya. Seperti batu
diletakkan ke dalam lumpur kental. Seperti itulah tangan kanan Rugi Sabuntel
masuk memakan papan hingga kemudian jebol berpola telapak tangan besar. Kunci
logam pun ikut rusak oleh daya panas tangan Rugi Sabuntel.
Seperti itulah kehebatan ilmu Telapak Lahar.
“Jika aku tahu kau punya kemampuan itu, tadi aku tidak
perlu repot-repot memancing palang pintu!” kata Bendong berbisik.
Rugi Sabuntel hanya tersenyum lebar di balik kain
topengnya. Dia lalu menarik dan membuka brankas model zaman dahulu itu.
Di dalam ada sebuah lubang berbentuk kotak, mirip rak
kecil. Di dalam sana ada banyak kantong-kantong kepeng dan beberapa kotak
berisi perhiasan. Ada pula gulungan-gulungan kulit binatang yang tertata rapi.
Bendong mengeluarkan karung kain yang sudah mereka
siapkan. Dengan gerakan cepat, Rugi Sabuntel dan Bendong menguras isi brankas
sampai habis.
Rugi Sabuntel yang penasaran dengan gulungan kulit
binatang itu mencoba membuka satu gulungan dari ikatan. Setelah dilihat,
ternyata itu berisi tulisan-tulisan dan ada nilai angkanya.
“Itu surat tanah yang dimiliki oleh Juragan Gorong!”
bisik Bendong lagi.
Rugi Sabuntel hanya manggut-manggut lalu kembali
menggulung dan mengikat surat tanah tersebut.
Setelah memenuhi karung kain itu sebanyak setengah,
karung segera diikat.
Bendong memberi tanda agar pergi.
Keduanya pun segera menuju ke pintu kamar. Tidak lupa
mereka mengintip ke luar dan menengok ke kanan dan kiri. Setelah dipastikan
aman, keduanya kembali pergi ke dapur dan keluar lewat pintu belakang.
Mereka kembali melalui jalan yang mereka lewati saat
datang. Perampokan pertama mereka berjalan sukses dan aman. Tidak ada kesulitan
berarti apalagi menemui perlawanan.
Setelah keluar dari lingkungan kediaman Juragan
Gorong, mereka berdua segera pergi ke titik tempat mereka menambatkan kuda.
“Heah heah!” teriak Rugi Sabuntel dan Bendong
menggebah kuda-kudanya.
“Hahaha!” tawa mereka.
Perampokan pertama yang sukses dengan hasil yang besar
sangat membuat Rugi Sabuntel gembira.
Sementara Bendong merasa bahagia karena dia kembali bisa beraksi setelah pensiun setahun lamanya. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar