*Siksa Dari Gunung*
Sesampainya di Pos
Panyangcangan, Rina menarik Lisa.
Rina: Duduk dulu ya,
kita capek. Enggak mungkin kita ngikutin kamu terus, jalan kamu terlalu cepat.
Lisa: Kalau mau
berhenti, jangan di sini.
Rina: Terus di mana
kita berhentinya?
Lisa menjawab dengan
tunjukan tangan agak berbelok, padahal arah jalan adalah lurus.
Rina: Lah, itu ‘kan
bukan jalan.
Lisa: Ini jalan ke
kiri, itu jalan ke kanan.
Padahal jalan hanya
ada satu.
Rina: Terus kita mau
lewat mana?
Lisa: Kamu mau lewat
mana? Kiri atau kanan?
Rina bingung karena
jalannya hanya ada satu.
Rina: Aduh, gue
bingung. Kok ke kiri atau ke kanan? Ini kayaknya benar-benar dimasukin, tapi
gue enggak bisa lihat siapa yang ada di dalam Lisa.
Rina tambah bingung.
Rina: Ya udah turun aja,
pulang aja, yuk!
Rina lalu melepas tas
daypack Lisa, bermaksud membawakannya, tapi Lisa merampasnya lagi.
Lisa: Enggak, sini,
gue bisa sendiri!
Rina: Tapi jangan
begitu dong, kita ‘kan capek ngawalnya. Lagian ini juga ‘kan enggak bersih, kok
kamu mau masukin orang yang kotor?
Rina: Udahlah keluar,
daripada nanti kamu kita musnahin di sini!
Lisa: Oh! Berani!
(Marah)
Lisa menunjuk Rina
dengan telunjuknya, membuat Rina jadi merasa salah dan takut.
Rina: Oh enggak!
Maaf, maaf!
Lisa lalu membenarkan
tasnya, kemudian jalan dengan cepat.
Rina bicara kepada
teman-temannya yang lain.
Rina: Aduh, gimana
nih? Gue takut kalau gue juga diserang. Gue sudah salah ngomong soalnya.
Akhirnya mereka
berhenti di Telaga Warna.
Ada mitos bahwa di
telaga itu tidak boleh berhenti atau beristirahat. Namun, Lisa berhenti dan
duduk di tempat itu.
Lisa kemudian sadar.
Lisa: Uh, kok kita
sudah di sini ya?
Rina: Iya, kita
memang sudah sampai di sini. Elu enggak capek?
Lisa: Enggak.
Lisa lalu menunjuk ke
telaga.
Lisa: Ih, itu airnya
bagus.
Rina melihat ke arah
tunjukan Lisa.
Tiba-tiba Lisa
mengeluarkan suatu bungkusan dari dalam tasnya dan dikepal. Benda itu dilempar
ke telaga dan tiba-tiba ia berlari, Rina pun mengejar.
Lisa yang dikejar
lalu berhenti dan berbalik mencekik Rina dengan kuat.
Begitu kuatnya
cekikan Lisa, Rina sampai merasa sangat kesakitan dan sulit bernapas. Ada air
mata yang keluar di sudut mata Rina.
Ketika Rina dicekik,
dia melihat keberadaan seorang perempuan, tapi tidak memakai baju. Cantik
sekali, berambut panjang, memakai tiara.
Wanita itu bergerak
memutari mereka berdua lalu pergi menghilang.
Elang dan
teman-temannya cepat membantu melepaskan cekikan Lisa.
Di saat Rina masih
merasakan sakit di lehernya, Rina merasakan Lisa ada yang memasuki lagi, tetapi
sosok yang berbeda.
Mata Lisa langsung
berubah warna sangat merah.
Lisa: Pergi! Jangan
di sini! Ini tempat saya!
Suara Lisa terdengar
lelaki dan berat, seperti suara lelaki tua.
Lisa: Kamu enggak
boleh di sini, nanti Ratu marah!
Rina: Ratu siapa? Apa
yang tadi lewat, ya?
L: Ratu marah karena
Ratu tidak pakai busana!
Rina berubah lemas
dan takut. Dia menangis.
Rina: Pulang, pulang!
Gue takut! (Sambil menangis)
Meski indigo, tetapi
Rina belum banyak belajar cara-cara menghadapi perkara-perkara gaib. Ia baru
bisa sekedar sering melihat saja.
Lisa marah-marah
sambil menunjuk-nunjuk. Di tangannya keluar urat-urat yang bertonjolan seperti
urat tangan bapak-bapak tua.
Lisa akhirnya bisa diredakan,
tetapi tubuh dan tangannya masih sangat kaku.
Gito: Udah, bawa,
bawa!
Elang, Gito, dan Sultan lalu menggotong tubuh Lisa yang kejang kaku. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar