Ratu Tidak Berbaju, Bab8 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*

Sesampainya di Pos Panyangcangan, Rina menarik Lisa.

Rina: Duduk dulu ya, kita capek. Enggak mungkin kita ngikutin kamu terus, jalan kamu terlalu cepat.

Lisa: Kalau mau berhenti, jangan di sini.

Rina: Terus di mana kita berhentinya?

Lisa menjawab dengan tunjukan tangan agak berbelok, padahal arah jalan adalah lurus.

Rina: Lah, itu ‘kan bukan jalan.

Lisa: Ini jalan ke kiri, itu jalan ke kanan.

Padahal jalan hanya ada satu.

Rina: Terus kita mau lewat mana?

Lisa: Kamu mau lewat mana? Kiri atau kanan?

Rina bingung karena jalannya hanya ada satu.

Rina: Aduh, gue bingung. Kok ke kiri atau ke kanan? Ini kayaknya benar-benar dimasukin, tapi gue enggak bisa lihat siapa yang ada di dalam Lisa.

Rina tambah bingung.

Rina: Ya udah turun aja, pulang aja, yuk!

Rina lalu melepas tas daypack Lisa, bermaksud membawakannya, tapi Lisa merampasnya lagi.

Lisa: Enggak, sini, gue bisa sendiri!

Rina: Tapi jangan begitu dong, kita ‘kan capek ngawalnya. Lagian ini juga ‘kan enggak bersih, kok kamu mau masukin orang yang kotor?

Rina: Udahlah keluar, daripada nanti kamu kita musnahin di sini!

Lisa: Oh! Berani! (Marah)

Lisa menunjuk Rina dengan telunjuknya, membuat Rina jadi merasa salah dan takut.

Rina: Oh enggak! Maaf, maaf!

Lisa lalu membenarkan tasnya, kemudian jalan dengan cepat.

Rina bicara kepada teman-temannya yang lain.

Rina: Aduh, gimana nih? Gue takut kalau gue juga diserang. Gue sudah salah ngomong soalnya.

Akhirnya mereka berhenti di Telaga Warna.

Ada mitos bahwa di telaga itu tidak boleh berhenti atau beristirahat. Namun, Lisa berhenti dan duduk di tempat itu.

Lisa kemudian sadar.

Lisa: Uh, kok kita sudah di sini ya?

Rina: Iya, kita memang sudah sampai di sini. Elu enggak capek?

Lisa: Enggak.

Lisa lalu menunjuk ke telaga.

Lisa: Ih, itu airnya bagus.

Rina melihat ke arah tunjukan Lisa.

Tiba-tiba Lisa mengeluarkan suatu bungkusan dari dalam tasnya dan dikepal. Benda itu dilempar ke telaga dan tiba-tiba ia berlari, Rina pun mengejar.

Lisa yang dikejar lalu berhenti dan berbalik mencekik Rina dengan kuat.

Begitu kuatnya cekikan Lisa, Rina sampai merasa sangat kesakitan dan sulit bernapas. Ada air mata yang keluar di sudut mata Rina.

Ketika Rina dicekik, dia melihat keberadaan seorang perempuan, tapi tidak memakai baju. Cantik sekali, berambut panjang, memakai tiara.

Wanita itu bergerak memutari mereka berdua lalu pergi menghilang.

Elang dan teman-temannya cepat membantu melepaskan cekikan Lisa.

Di saat Rina masih merasakan sakit di lehernya, Rina merasakan Lisa ada yang memasuki lagi, tetapi sosok yang berbeda.

Mata Lisa langsung berubah warna sangat merah.

Lisa: Pergi! Jangan di sini! Ini tempat saya!

Suara Lisa terdengar lelaki dan berat, seperti suara lelaki tua.

Lisa: Kamu enggak boleh di sini, nanti Ratu marah!

Rina: Ratu siapa? Apa yang tadi lewat, ya?

L: Ratu marah karena Ratu tidak pakai busana!

Rina berubah lemas dan takut. Dia menangis.

Rina: Pulang, pulang! Gue takut! (Sambil menangis)

Meski indigo, tetapi Rina belum banyak belajar cara-cara menghadapi perkara-perkara gaib. Ia baru bisa sekedar sering melihat saja.

Lisa marah-marah sambil menunjuk-nunjuk. Di tangannya keluar urat-urat yang bertonjolan seperti urat tangan bapak-bapak tua.

Lisa akhirnya bisa diredakan, tetapi tubuh dan tangannya masih sangat kaku.

Gito: Udah, bawa, bawa!

Elang, Gito, dan Sultan lalu menggotong tubuh Lisa yang kejang kaku. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar