*Miliarder Ular Biru*
Suatu siang. Radit
berpenampilan sangat rapi, lebih rapi dari penampilannya ketika dia masih
menjabat sebagai kepala gudang. Penampilannya selayaknya seorang eksekutif
muda. Rambutnya telah dipangkas pendek seperti seorang taruna.
Mahkota Cahaya.
Itulah nama toko emas yang didatangi oleh Radit.
Saat itu, secara umum
adalah waktu istirahat bagi banyak karyawan. Waktunya makan siang. Radit tahu
itu. Karenanya dia sengaja datang pada kisaran jam istirahat. Nyatanya, ketika
Radit datang ke Mahkota Cahaya, dua orang karyawannya sedang setengah istirahat,
dalam arti istirahat sambil jaga toko. Satu karyawn lelaki sedang aktif
melayani sepasang pelanggan wanita dan karyawan wanita muda sedang duduk makan
siang.
“Selamat datang di
Mahkota Cahaya, Mas. Ada yang bisa aku bantu? Atau mau lihat-lihat dulu?” sapa
karyawan lelaki dengan lembut dan ramah. Dia masih muda, sedikit lebih tua dari
Radit.
“Mau jual cincin,”
jawab Radit seraya tersenyum kaku.
“Oh, silakan,” ucap
si karyawan. Dia meninggalkan konsumen pertama yang sedang menjajal gelang emas
yang ingin dibeli.
Radit lalu
mengeluarkan cincin dari dalam sakunya.
“Cincin emas dua
gram, 24 karat. Tapi suratnya sudah rusak,” kata Radit sambil menyodorkan
cincin dan kertasnya di atas kaca.
Belum juga karyawan
lelaki itu meraih cincin tersebut, pelanggan wanita sudah memanggil.
“Mas, tolong coba yang satunya!”
Karyawan lelaki itu lalu menengok kepada rekan wanitanya.
“Las, tolong layani Mas-nya sebentar,” kata karyawan lelaki kepada
Lastih yang masih makan.
“Iya,” jawab Lastih yang cantik dengan mulut masih berisi makanan.
Lastih minum terlebih dahulu, kemudian bangkit meninggalkan makannya
yang masih separuh piring. Dia datang kepada Radit dengan senyum, tapi tidak
lebar karena khawatir ada daun kangkung yang tersisa di antara giginya.
Lastih segera mengambil cincin emas Radit. Yang pertama dia periksa
adalah kertas suratnya. Pada saat yang sama, Radit diam-diam melirik ke
sudut-sudut langit-langit toko, mencari yang namanya CCTV.
“Wah, Mas. Ini kertasnya sudah rusak, tidak bisa menunjukkan sebagai
suratnya. Harganya juga tidak bisa kebaca,” komentar Lastih.
“Iya, Mbak. Suratnya dulu kecuci. Tapi itu surat aslinya kok,” kata
Radit, kembali fokus kepada karyawan toko.
“Ini sama saja tanpa surat. Bagaimana, Mas?” Lastih balik bertanya.
“Bagaimana ya, Mbak?” tanya Radit tanpa perlu jawaban. Dia lalu diam,
pura-pura berpikir. Padahal matanya mencuri-curi pandang kepada CCTV untuk
menghitung jumlahnya.
“Kalau memaksa mau dijual, harga mungkin turun 10 sampai 20 persen, tapi
aku periksa dulu, Mas,” kata Lastih.
“Oh gitu ya, Mbak.”
Lastih hanya memberi senyum manis tanpa pamer gigi.
Radit lalu mengambil cincin yang merupakan cincin pernikahannya.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Radit yang menunjukkan dia batal untuk
menjual cincinnya.
Lastih hanya tersenyum seraya mengangguk. Melihat kebimbangan Radit,
Lastih memilih kembali ke kursinya untuk melanjutkan makannya. Radit sendiri
akhirnya berbalik pergi, tapi berhenti setelah lima langkah.
“Mungkin bukan cuma di atas kameranya. Mungkin masih ada yang belum aku
lihat,” pikir Radit.
Radit lalu berbalik dan kembali lagi ke etalase kaca toko emas.
“Mbak, biarin deh harganya dipotong, sedang butuh banget sih,” kata
Radit kepada Lastih.
Dengan menahan sedikit rasa gondok, Lastih kembali memutus makannya.
Namun, kewajibannnya tetap harus tersenyum kepada konsumen.
Lastih lalu mengurus pembelian cincin tersebut. Di saat proses itulah,
diam-diam Radit memastikan jumlah CCTV yang terpasang di dalam toko itu dan
juga pada bagian luarnya. Dia yakin, semua sisi dari toko itu tersorot oleh
kamera.
Radit akhirnya memastikan jumlah CCTV yang terpasang dan menghapalkan
posisi kameranya di mana saja.
Usai transaksi itu, Radit tidak langsung pulang. Dia pergi membeli
sejumlah barang yang akan menunjang kesuksesan rencananya.
Singkat cerita. Malam pun tiba dan bergerak tanpa henti.
Toko emas Mahkota Cahaya tutup pukul 21.30 WIB, di saat sejumlah toko di
sekitarnya belum tutup. Posisi toko itu ada di sisi luar dari bangunan pasar,
tidak di dalam. Jadi toko itu menghadap ke ruang terbuka luar pasar.
Ketika Lastih dan rekannya pulang menuju parkiran, mereka sempat melihat
keberadaan orang gila yang duduk di sudut pasar yang dekat dengan tong sampah
besar.
Orang gila berambut gimbal. Pakaiannya tidak terlalu kotor, tetapi tidak
rapi dan tidak benar. Pinggangnya diikat tali rapiah warna-warni yang kusut.
Dia menggendong buntalan kain lusuh seperti gelandangan yang membawa setumpuk
pakaian ganti.
Orang gila, bukan hal langka di pasar itu. Banyak jalan tikus yang bisa
dilalui oleh orang gila untuk masuk ke pasar yang termasuk tradisional itu.
Mereka sering lolos dari pihak keamanan pasar. Sekuriti yang juga punya rasa
kemanusiaan, terkadang membiarkan gembel atau orang gila bermalam di lingkungan
pasar asalkan tidak berbuat macam-macam. Ya, sekedar tidur. Namun, pagi hari mereka
harus pergi agar pemilik toko tidak menemukannya.
Lastih hanya melihat sekilas orang gila tersebut.
Waktu terus bergerak dan berlalu. Pasar semakin sepi. Satu per satu toko
menutup diri. Sementara si orang gila tetap bertahan di tempatnya, di dekat
tong sampah. Namun, kini dia tidur meringkuk di lantai kotor menghadap ke
tembok, seakan-akan tidak mau peduli dengan lingkungan sekitar lagi. Yang
penting tidur.
Ketika pasar itu benar-benar tutup total, ada seorang keamanan yang
berpatroli memeriksa kondisi luar dan dalam pasar.
Satpam yang hanya berkaos sekuriti itu menemukan si orang gila. Karena
posisi si orang gila seperti itu, Pak Satpam hanya mendekati dan menyenterinya.
Setelah dipastikan itu hanya orang gila yang tidur, Pak Satpam membiarkannya.
Besok subuh baru akan dibangunkan dan disuruh pergi.
Namun, rencana Pak Satpam tidak terwujud di kala subuh.
Sekitar pukul satu malam, dua satpam di pos dikejutkan oleh teriakan
rekan mereka di ruang monitor CCTV pasar.
“Toko emas Mahkota dirampok!”
Satpam pemantau monitor yang baru kembali dari pipis, terkejut saat
melihat ke monitor CCTV. Pada salah satu layar dia melihat ada pergerakan orang
di koridor luar, tepatnya di toko emas Mahkota Cahaya.
Ada dua layar yang gelap hitam, sepertinya kamera di lokasi sudah
ditutupi dengan sesuatu. Namun, kamera CCTV yang fungsinya memantau emperan
toko sepanjang koridor, yang posisinya jauh, merekam situasi depan toko Mahkota
Cahaya.
Kamera CCTV di luar toko Mahkota Cahaya terhubung ke pos keamanan.
Sedangkah kamera yang ada di dalam toko milik toko itu sendiri.
Saat satpam melihat aksi perampokan itu di monitor, orang di depan toko
emas sudah berhasil membuka paksa pintu rolling door toko. Orang itu
tidak lain adalah si orang gila berambut gimbal.
Kedua orang satpam yang mendengar teriakan temannya, cepat ke ruang
monitor untuk melihat.
“Kodok Tiga, Kodok Tiga! Perampokan di Mahkota Cahaya!” kata salah satu
satpam di walkie talkie. Dia memberi tahu rekan mereka di pos belakang.
Setelah melihat sendiri di salah satu layar yang menunjukkan ada
aktivitas orang mencurigakan, dua satpam cepat berlari keluar. Sementara satu
sisanya tetap memantau layar.
Dak dak dak…!
Terkejut si orang gila berambut gimbal saat mendengar suara lari sepatu
yang lebih dari sepasang. Kondisi yang hening membuat suara lari para satpam
cepat terdengar meski masih ada di ujung koridor.
Prak!
Si orang gila yang baru selesai menyemproti CCTV dengan cat semprot,
memutuskan untuk cepat memecahkan kaca etalase yang ada emasnya, tapi hanya
sedikit, tidak sebanyak tadi siang. Sepertinya sebagian emas ukuran mahal telah
dipindahkan ke tempat aman.
“Woi! Maling!” teriak salah satu satpam, padahal dia masih di ujung
koridor.
Sreeekr!
Si orang gila hanya merauk sekali hamparan perhiasan emas, lalu lari
dengan kencang meninggalkan toko itu. Sambil lari, dia menyusupkan
tangannya yang memegang emas rampokan ke dalam buntalan kainnya.
Sepertinya si orang gila tidak mau terlambat kabur. Dia sangat panik.
Si orang gila berlari masuk ke dalam gang antar toko. Dia masuk ke dalam
bangunan.
“Malingnya masuk ke dalam lorong! Kodok Satu kasih gua tahu, jangan
tempe!” kata si satpam kepada rekannya di ruang moitor melalui walkie
talkienya.
“Dia ada di Blok D5, Kodok-Kodok!” teriak satpam di ruang monitor ikut tegang. Si orang gila terlihat muncul di layar yang lain sedang berlari sekencang-kencangnya sambil membawa buntalan kainnya. (RH)


Kenapa kodok? Ada makna khusus kah?
BalasHapusItu hanya karena pilihan Om saja, hihihii!
HapusJangan bilang satpamnya kodok-kodok di belakang rumahku yg ada pohon kedondong tempat kita kencan itu, Om🤔🤔🤔
BalasHapusitu kode, kayak kita main kode hahahaha!
Hapus