Orang Gila Rampok, Bab12 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Suatu siang. Radit berpenampilan sangat rapi, lebih rapi dari penampilannya ketika dia masih menjabat sebagai kepala gudang. Penampilannya selayaknya seorang eksekutif muda. Rambutnya telah dipangkas pendek seperti seorang taruna.

Mahkota Cahaya. Itulah nama toko emas yang didatangi oleh Radit.

Saat itu, secara umum adalah waktu istirahat bagi banyak karyawan. Waktunya makan siang. Radit tahu itu. Karenanya dia sengaja datang pada kisaran jam istirahat. Nyatanya, ketika Radit datang ke Mahkota Cahaya, dua orang karyawannya sedang setengah istirahat, dalam arti istirahat sambil jaga toko. Satu karyawn lelaki sedang aktif melayani sepasang pelanggan wanita dan karyawan wanita muda sedang duduk makan siang.

“Selamat datang di Mahkota Cahaya, Mas. Ada yang bisa aku bantu? Atau mau lihat-lihat dulu?” sapa karyawan lelaki dengan lembut dan ramah. Dia masih muda, sedikit lebih tua dari Radit.

“Mau jual cincin,” jawab Radit seraya tersenyum kaku.

“Oh, silakan,” ucap si karyawan. Dia meninggalkan konsumen pertama yang sedang menjajal gelang emas yang ingin dibeli.

Radit lalu mengeluarkan cincin dari dalam sakunya.

“Cincin emas dua gram, 24 karat. Tapi suratnya sudah rusak,” kata Radit sambil menyodorkan cincin dan kertasnya di atas kaca.

Belum juga karyawan lelaki itu meraih cincin tersebut, pelanggan wanita sudah memanggil.

“Mas, tolong coba yang satunya!”

Karyawan lelaki itu lalu menengok kepada rekan wanitanya.

“Las, tolong layani Mas-nya sebentar,” kata karyawan lelaki kepada Lastih yang masih makan.

“Iya,” jawab Lastih yang cantik dengan mulut masih berisi makanan.

Lastih minum terlebih dahulu, kemudian bangkit meninggalkan makannya yang masih separuh piring. Dia datang kepada Radit dengan senyum, tapi tidak lebar karena khawatir ada daun kangkung yang tersisa di antara giginya.

Lastih segera mengambil cincin emas Radit. Yang pertama dia periksa adalah kertas suratnya. Pada saat yang sama, Radit diam-diam melirik ke sudut-sudut langit-langit toko, mencari yang namanya CCTV.

“Wah, Mas. Ini kertasnya sudah rusak, tidak bisa menunjukkan sebagai suratnya. Harganya juga tidak bisa kebaca,” komentar Lastih.

“Iya, Mbak. Suratnya dulu kecuci. Tapi itu surat aslinya kok,” kata Radit, kembali fokus kepada karyawan toko.

“Ini sama saja tanpa surat. Bagaimana, Mas?” Lastih balik bertanya.

“Bagaimana ya, Mbak?” tanya Radit tanpa perlu jawaban. Dia lalu diam, pura-pura berpikir. Padahal matanya mencuri-curi pandang kepada CCTV untuk menghitung jumlahnya.

“Kalau memaksa mau dijual, harga mungkin turun 10 sampai 20 persen, tapi aku periksa dulu, Mas,” kata Lastih.

“Oh gitu ya, Mbak.”

Lastih hanya memberi senyum manis tanpa pamer gigi.

Radit lalu mengambil cincin yang merupakan cincin pernikahannya.

“Terima kasih, Mbak,” ucap Radit yang menunjukkan dia batal untuk menjual cincinnya.

Lastih hanya tersenyum seraya mengangguk. Melihat kebimbangan Radit, Lastih memilih kembali ke kursinya untuk melanjutkan makannya. Radit sendiri akhirnya berbalik pergi, tapi berhenti setelah lima langkah.

“Mungkin bukan cuma di atas kameranya. Mungkin masih ada yang belum aku lihat,” pikir Radit.

Radit lalu berbalik dan kembali lagi ke etalase kaca toko emas.

“Mbak, biarin deh harganya dipotong, sedang butuh banget sih,” kata Radit kepada Lastih.

Dengan menahan sedikit rasa gondok, Lastih kembali memutus makannya. Namun, kewajibannnya tetap harus tersenyum kepada konsumen.

Lastih lalu mengurus pembelian cincin tersebut. Di saat proses itulah, diam-diam Radit memastikan jumlah CCTV yang terpasang di dalam toko itu dan juga pada bagian luarnya. Dia yakin, semua sisi dari toko itu tersorot oleh kamera.

Radit akhirnya memastikan jumlah CCTV yang terpasang dan menghapalkan posisi kameranya di mana saja.

Usai transaksi itu, Radit tidak langsung pulang. Dia pergi membeli sejumlah barang yang akan menunjang kesuksesan rencananya.

Singkat cerita. Malam pun tiba dan bergerak tanpa henti.

Toko emas Mahkota Cahaya tutup pukul 21.30 WIB, di saat sejumlah toko di sekitarnya belum tutup. Posisi toko itu ada di sisi luar dari bangunan pasar, tidak di dalam. Jadi toko itu menghadap ke ruang terbuka luar pasar.

Ketika Lastih dan rekannya pulang menuju parkiran, mereka sempat melihat keberadaan orang gila yang duduk di sudut pasar yang dekat dengan tong sampah besar.

Orang gila berambut gimbal. Pakaiannya tidak terlalu kotor, tetapi tidak rapi dan tidak benar. Pinggangnya diikat tali rapiah warna-warni yang kusut. Dia menggendong buntalan kain lusuh seperti gelandangan yang membawa setumpuk pakaian ganti.

Orang gila, bukan hal langka di pasar itu. Banyak jalan tikus yang bisa dilalui oleh orang gila untuk masuk ke pasar yang termasuk tradisional itu. Mereka sering lolos dari pihak keamanan pasar. Sekuriti yang juga punya rasa kemanusiaan, terkadang membiarkan gembel atau orang gila bermalam di lingkungan pasar asalkan tidak berbuat macam-macam. Ya, sekedar tidur. Namun, pagi hari mereka harus pergi agar pemilik toko tidak menemukannya.

Lastih hanya melihat sekilas orang gila tersebut.

Waktu terus bergerak dan berlalu. Pasar semakin sepi. Satu per satu toko menutup diri. Sementara si orang gila tetap bertahan di tempatnya, di dekat tong sampah. Namun, kini dia tidur meringkuk di lantai kotor menghadap ke tembok, seakan-akan tidak mau peduli dengan lingkungan sekitar lagi. Yang penting tidur.

Ketika pasar itu benar-benar tutup total, ada seorang keamanan yang berpatroli memeriksa kondisi luar dan dalam pasar.

Satpam yang hanya berkaos sekuriti itu menemukan si orang gila. Karena posisi si orang gila seperti itu, Pak Satpam hanya mendekati dan menyenterinya. Setelah dipastikan itu hanya orang gila yang tidur, Pak Satpam membiarkannya. Besok subuh baru akan dibangunkan dan disuruh pergi.

Namun, rencana Pak Satpam tidak terwujud di kala subuh.

Sekitar pukul satu malam, dua satpam di pos dikejutkan oleh teriakan rekan mereka di ruang monitor CCTV pasar.

“Toko emas Mahkota dirampok!”

Satpam pemantau monitor yang baru kembali dari pipis, terkejut saat melihat ke monitor CCTV. Pada salah satu layar dia melihat ada pergerakan orang di koridor luar, tepatnya di toko emas Mahkota Cahaya.

Ada dua layar yang gelap hitam, sepertinya kamera di lokasi sudah ditutupi dengan sesuatu. Namun, kamera CCTV yang fungsinya memantau emperan toko sepanjang koridor, yang posisinya jauh, merekam situasi depan toko Mahkota Cahaya.

Kamera CCTV di luar toko Mahkota Cahaya terhubung ke pos keamanan. Sedangkah kamera yang ada di dalam toko milik toko itu sendiri.

Saat satpam melihat aksi perampokan itu di monitor, orang di depan toko emas sudah berhasil membuka paksa pintu rolling door toko. Orang itu tidak lain adalah si orang gila berambut gimbal.

Kedua orang satpam yang mendengar teriakan temannya, cepat ke ruang monitor untuk melihat.

“Kodok Tiga, Kodok Tiga! Perampokan di Mahkota Cahaya!” kata salah satu satpam di walkie talkie. Dia memberi tahu rekan mereka di pos belakang.

Setelah melihat sendiri di salah satu layar yang menunjukkan ada aktivitas orang mencurigakan, dua satpam cepat berlari keluar. Sementara satu sisanya tetap memantau layar.

Dak dak dak…!

Terkejut si orang gila berambut gimbal saat mendengar suara lari sepatu yang lebih dari sepasang. Kondisi yang hening membuat suara lari para satpam cepat terdengar meski masih ada di ujung koridor.

Prak!

Si orang gila yang baru selesai menyemproti CCTV dengan cat semprot, memutuskan untuk cepat memecahkan kaca etalase yang ada emasnya, tapi hanya sedikit, tidak sebanyak tadi siang. Sepertinya sebagian emas ukuran mahal telah dipindahkan ke tempat aman.

“Woi! Maling!” teriak salah satu satpam, padahal dia masih di ujung koridor.

Sreeekr!

Si orang gila hanya merauk sekali hamparan perhiasan emas, lalu lari dengan kencang meninggalkan toko itu. Sambil lari, dia menyusupkan tangannya yang memegang emas rampokan ke dalam buntalan kainnya.

Sepertinya si orang gila tidak mau terlambat kabur. Dia sangat panik.

Si orang gila berlari masuk ke dalam gang antar toko. Dia masuk ke dalam bangunan.

“Malingnya masuk ke dalam lorong! Kodok Satu kasih gua tahu, jangan tempe!” kata si satpam kepada rekannya di ruang moitor melalui walkie talkienya.

“Dia ada di Blok D5, Kodok-Kodok!” teriak satpam di ruang monitor ikut tegang. Si orang gila terlihat muncul di layar yang lain sedang berlari sekencang-kencangnya sambil membawa buntalan kainnya. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. Kenapa kodok? Ada makna khusus kah?

    BalasHapus
  2. Jangan bilang satpamnya kodok-kodok di belakang rumahku yg ada pohon kedondong tempat kita kencan itu, Om🤔🤔🤔

    BalasHapus