Sejam Banding Sehari, Bab20 Petualangan Tina & Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*


Trio Antik plus Somali akhirnya diantar pulang oleh ayahnya Ausyana, seorang sopir mikrolet, tapi mobilnya punya sendiri. Keluarga Ausyana punya empat mobil mikrolet trayek Sidomulyo-Pasar Baru.

Mereka semua sudah berganti pakaian hasil pemberian keluarganya Ausyana.

Lagi-lagi Somali bikin ulah karena udiknya.

“Hahaha! Pak, ini binatang apa namanya?” tanya Somali begitu gembira.

“Yang mana?” tanya Ayah Ausyana yang mirip Saiful Jamil, sambil menyetir.

“So-so-somali, ini itu mo-mo-mobil, bukan bi-bi-binatang,” kata Salman Alfarisy.

“Ini itu seperti perahu, bukan binatang,” kata Ayu Nostalgia pula.

“Kalau perahu kan enggak bisa jalan di darat,” kata Somali.

“Sooo maaa liii! Bisa cium gak?” kata Tina kesal.

“Bisa, bisa, bisa!” jawab Somali girang, lalu bergeser ke dekat Tina yang memang cantik.

“Eeeh, maksudnya diam!” ralat Ayu sambil menarik baju Somali. “Tina bisa langsung tua kalau dicium kamu. Hahaha!

“Hahahak!” tawa terbahak Salman.

“Itu teman sekolah juga?” tanya Ayah Ausyana.

“Bukan, Om. Somay mah anak ilalang,” jawab Tina.

“Anak hilang maksudnya, Om,” ralat Ayu.

“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali lalu tertawa ramai sendiri.

“Jangan dengarin, Om. Dia mah tulang bolong,” kata Tina.

“Tukang bohong maksudnya, Om,” ralat Ayu.

“Oh pantas. Habis pendekar kutu sih,” kata Ayah Ausyana.

“Wi-wi-wiro Sableng?” terka Salman.

“Bukan. Pendek kekar kurang tua,” kata Ayah Ausyana.

“Hahaha! Kutang tua,” tawa terbahak Tina.

“Hahaha! Kutang siapa, Tina?” tanya Ayu melanjutkan ucapan error Tina.

“Hahaha! Ku-ku-kutang Ayu!” kata Salman.

“Mesum!” umpat Ayu sambil memukul kepala Salman.

“Hahaha! Memang Tina suka begitu?” tanya Ayah Ausyana setelah ikut tertawa.

“Iya, Om. Penyakit struk lidah namanya. Hahaha!” jawab Ayu. “Kalau enggak gitu, cantiknya Tina kurang micin.”

“Hahaha!” tawa Ayah Ausyana.

“Pak! Memang mobilnya enggak bisa loncat-loncat?” tanya Somali sambil berdiri dari duduknya.

“Woi! Kamu kira mobil ini kodok?” hardik Tina.

“Waaak!” teriak Somali dengan tubuh terpental ke depan menabrak kursi sopir, ketika mobil mengerem di belakang mobil lain yang hendak berhenti. “Aduuuh, sakit!”

“Tapi bohong! Haahaha!” kata Ayu meledek.

“Hahaha!” tawa Tina dan Salman pula.

“Makanya, di mobil itu duduk, jangan berdiri. Dikira peramu,” kata Tina.

“Perahu, bukan peramu, Tina,” ralat Ayu.

“Iya, itu maksud saya,” kata Tina.

“Pada turun di mana?” tanya Ayah Ausyana.

“Saya dan Ayu turun di Gang Bewok, Om,” jawab Tina tanpa error.

“Sa-sa-saya turun di depan SD, Om,” jawab Salman.

“Yang pendekar kutu turun di mana?” tanya Ayah Ausyana.

Bingunglah Somali untuk menjawab.

“Hayyo! Enggak bisa pulung. Enggak bisa pulung!” kata Tina meledek seperti meledek orang gila.

“Pulang ke mana ya?” tanya Somali cemas sembari mengerenyit bingung.

“Buang aja, Om. Somali anak hilang ini,” kata Ayu.

“Eh jangan begitu, kasihan. Nanti manis loh,” kata Tina.

“Nangis, bukan manis. Bagian apanya yang manis, pahit semua,” kata Ayu.

“Ikut Salaman aja. Bilang ke emak kamu, teman yang lagi dikusir bapaknya,” kata Tina. “Habis, enggak mungkin timur sekamar sama Ayu. Hahaha!”

“Bisa gak, Sal?” tanya Ayu.

“Gak bi-bi-bisa,” jawab Salman.

“Yaaah, masa nilep di rumah saya,” kata Tina.

“Nginep, bukan nilep,” ralat Ayu. Lalu katanya kepada teman gagapnya, “Iya, Sal. Masa Somali tidur makan di jalan.”

“Gak bisa!” tegas Salman. “Ta-ta-tapi....”

“Bohooong!” teriak Tina dan Ayu bersamaan.

“Hahaha!” Tertawa bersamalah mereka, termasuk Somali.

“Terima kasih, Sahabat!” pekik Somali sambil memeluk Salman.

“Eh eh eh! Apa- apaan sih. Me-me-memangnya saya bo-bo-boneka je-je-jerami!” kata Salman sambil berontak lepas dari pelukan Somali yang hanya tertawa-tawa.

Singkat cerita.

Ayu tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi langsung pulang ke rumah Tina Cihuy. Rumah Ayu dan Tina hanya dipisahkan oleh tiga rumah, artinya mereka bertetangga dekat. Maka wajarlah jika mereka tidak seperti kakak adik.

Assalamu ‘alaikum!” salam Tina ketika tiba di rumahnya.

Wa ‘alaikumussalam!” jawab Sumardan yang mirip aktor laga Donnie Yen.

Ayah Tina itu sedang olah otot di teras dengan angkat barbel 7kg.

“Eh, dari mana tadi? Ibumu nyariin. Katanya pergi dadakan enggak bilang-bilang,” kata Sumardan.

“Ibu manis gak nyariin saya, Pak?” tanya Tina.

“Ah, ngapain nangis? Kamu sudah gede ini, hilang sebentar doang mah gak masalah. Satu dua, satu dua,” kata Sumardan enteng sambil tetap mengangkat barbel, membuat otot lengannya kembang kempis.

“Hah! Hilang sebentar?” ucap Tina heran sambil memandang Ayu yang juga melongo. “Kita kan hilang sejari?”

“Sehari, bukan sejari, Tina,” ralat Ayu.

“Iya.”

“Mana saya tahu,” kata Ayu.

“Apa sih yang kamu tabu, Yu?” kata Tina sembari mencibir.

“Udah, masuk dulu. Siapa tahu ibumu mau nyuruh apa,” kata Sumardan.

“Suap, Pak!” pekik Tina sambil menghormat seperti hansip, lalu masuk ke rumah.

Sang ayah hanya tersenyum.

“Om, gedein otot mau dikiloin ya?” tanya Ayu berseloroh.

“Hahaha! Kamu yang saya kiloin,” kata Sumardan.

“Mahar saya terlalu mahal, Om. Hahaha!” kata Ayu, lalu berjalan masuk ke rumah.

Sesampainya di dalam, mereka melihat di atas meja, buku-buku milik Tina, Ayu dan Salman ditumpuk rapi, termasuk buku novel berjudul “Pintu Setan Kuning”.

Allahuakbar! Bulunya masih ada!” pekik Tina kaget.

“Buku, bukan bulu,” ralat Ayu.

“Kamu harusnya kaget dulu, baru ngeralat saya,” kata Tina.

“Kagetnya kan sudah diwakili kamu,” tandas Ayu.

“Saya jadi kalut sama buku itu. Seram,” kata Tina.

“Takut, bukan kalut, Tinaaa,” ralat Ayu berusaha sabar sentosa.

“Iya, maksud saya itu,” kata Tina mendadak bernada bisik. “Bukunya kita bawang aja yuk?”

“Kalau dibuang, Somali pulangnya bagaimana?” tanya Ayu berbisik pula.

“Iya ya. Ayu cadas juga.”

“Saya memang cerdas, Tin. Baru tahu ya?”

“Iya sih, baru tahu. Atau, kamu cadasnya sekali-kali doang?”

“Hmmm! Apa susahnya muji-muji sahabat sendiri, enggak bayar ini,” kata Ayu.

“Kalau ngujinya dapat bonus, nanti saya nguji-nguji terus,” kata Tina.

“Eh, kalian itu ke mana saja?” tanya Musdahlifa yang muncul dari dalam dengan pakaian yang masih sama dengan yang kemarin. “Kalau mau pegri, libang-libang Ibu, biar enggak nyariin.”

“Maaf, Bu, sudah pergi sehaluan,” kata Tina.

“Seharian, bukan sehaluan, Tina,” ralat Ayu.

“Iya. Ibu saya juga tahu kok,” kata Tina. Memang, selain Ayu, orang yang mengerti bahasa bengkok Tina adalah kedua orangtuanya.

“Kalau sejam doang mah, enggak malasah, Tina. Asal jangan seharian,” kata Musdahlifa.

“Hah! Memang kita pergi jerapa jam, Bu?” tanya Tina terkejut.

“Satu jam,” jawab Musdahlifa.

Allahumma!” Tina kaget.

“Kodok sodok!” Ayu kaget pula.

“Yu, kalau kaget ya nyebut. Kayak enggak punya murtad aja,” sergah Tina.

“Ustaz, Tina. Kamu kira saya apa, pakai murtad segala,” kata Ayu kesal.

“Samlan mana? Sudah selesai bejalar kelompoknya?” tanya Musdahlifa. “Kalau sudah, bukunya tolong dibeserin.”

“Iya, Bu. Nanti saya beresin,” kata Tina.

“Hahaha!” Ayu mendadak tertawa. “Giliran ngeralat ibunya, omongannya lempang.”

“Harus, Yu. Ibunya ngomongnya sudah keselip melulu, masa Tina ngomongnya harus kepejit juga. Hahaha!” kata Musdahlifa lalu tertawa. Dia tidak pernah tersinggung jika lidahnya dipermasalahkan secara hukum adat.

“Sekarung tanggal berapa, Bu?” tanya Tina.

“Hahaha! Sekarang!” ralat Ayu sambil tertawa.

“Iya, maksud saya itu. Enggak ada yang lucu kayaknya deh,” kata Tina tanpa terpancing untuk tertawa.

“17 Luji. Kenapa?” jawab Musdahlifa. “Masa anak selokah lupa tanggal. Bisa hancur neraga kita.”

“Hehehe!” Ayu cengengesan paksa.

“Itu baju siapa dikapai? Perasaan kamu enggak punya baju begitu, Tin,” tanya sang ibu.

“Baju Asuyana, Bu,” jawab Tina jujur.

“Baju Ausyana, Tina. Sudah dikasih baju, masih juga orangnya dibilang guguk,” kata Ayu.

“Ya sudah, lain kali kalau mau pergi, libang-libang dulu. Mana kerjaannya tadi enggak dibeserin,” kata Musdahlifa.

“Iya, Bu,” ucap Tina.

Musdahlifa kembali masuk ke dalam.

“Yu, kita pergi ke negerinya Somali kan satu hari lamanya, kenapa di sini cumi sapu jam?” kata Tina bingung.

“Di negerinya Somali kebanyakan makan cumi kali,” kata Ayu yang tidak memberi jawaban memuaskan.

“Berarti, kalau kita lama-lama di sana, pulang-pulang sudah jadi tua langka,” kata Tina.

“Tua bangka,” ralat Ayu. “Saya pulang, Tin. Mau bobo seksi dulu.”

“Hahaha! Jebol (jempol) kaki kamu tuh yang seksi,” kata Tina. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar