*Petualangan Tina dan Ayu*
Trio Antik plus Somali akhirnya diantar pulang oleh
ayahnya Ausyana, seorang sopir mikrolet, tapi mobilnya punya sendiri. Keluarga
Ausyana punya empat mobil mikrolet trayek Sidomulyo-Pasar Baru.
Mereka semua sudah berganti pakaian hasil pemberian
keluarganya Ausyana.
Lagi-lagi Somali bikin ulah karena udiknya.
“Hahaha! Pak, ini binatang apa namanya?” tanya Somali
begitu gembira.
“Yang mana?” tanya Ayah Ausyana yang mirip Saiful
Jamil, sambil menyetir.
“So-so-somali, ini itu mo-mo-mobil, bukan
bi-bi-binatang,” kata Salman Alfarisy.
“Ini itu seperti perahu, bukan binatang,” kata Ayu
Nostalgia pula.
“Kalau perahu kan enggak bisa jalan di darat,” kata
Somali.
“Sooo maaa liii! Bisa cium gak?” kata Tina kesal.
“Bisa, bisa, bisa!” jawab Somali girang, lalu bergeser
ke dekat Tina yang memang cantik.
“Eeeh, maksudnya diam!” ralat Ayu sambil menarik baju
Somali. “Tina bisa langsung tua kalau dicium kamu. Hahaha!
“Hahahak!” tawa terbahak Salman.
“Itu teman sekolah juga?” tanya Ayah Ausyana.
“Bukan, Om. Somay mah anak ilalang,” jawab Tina.
“Anak hilang maksudnya, Om,” ralat Ayu.
“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali lalu tertawa ramai
sendiri.
“Jangan dengarin, Om. Dia mah tulang bolong,” kata
Tina.
“Tukang bohong maksudnya, Om,” ralat Ayu.
“Oh pantas. Habis pendekar kutu sih,” kata Ayah
Ausyana.
“Wi-wi-wiro Sableng?” terka Salman.
“Bukan. Pendek kekar kurang tua,” kata Ayah Ausyana.
“Hahaha! Kutang tua,” tawa terbahak Tina.
“Hahaha! Kutang siapa, Tina?” tanya Ayu melanjutkan
ucapan error Tina.
“Hahaha! Ku-ku-kutang Ayu!” kata Salman.
“Mesum!” umpat Ayu sambil memukul kepala Salman.
“Hahaha! Memang Tina suka begitu?” tanya Ayah Ausyana
setelah ikut tertawa.
“Iya, Om. Penyakit struk lidah namanya. Hahaha!” jawab
Ayu. “Kalau enggak gitu, cantiknya Tina kurang micin.”
“Hahaha!” tawa Ayah Ausyana.
“Pak! Memang mobilnya enggak bisa loncat-loncat?”
tanya Somali sambil berdiri dari duduknya.
“Woi! Kamu kira mobil ini kodok?” hardik Tina.
“Waaak!” teriak Somali dengan tubuh terpental ke depan
menabrak kursi sopir, ketika mobil mengerem di belakang mobil lain yang hendak
berhenti. “Aduuuh, sakit!”
“Tapi bohong! Haahaha!” kata Ayu meledek.
“Hahaha!” tawa Tina dan Salman pula.
“Makanya, di mobil itu duduk, jangan berdiri. Dikira
peramu,” kata Tina.
“Perahu, bukan peramu, Tina,” ralat Ayu.
“Iya, itu maksud saya,” kata Tina.
“Pada turun di mana?” tanya Ayah Ausyana.
“Saya dan Ayu turun di Gang Bewok, Om,” jawab Tina
tanpa error.
“Sa-sa-saya turun di depan SD, Om,” jawab Salman.
“Yang pendekar kutu turun di mana?” tanya Ayah
Ausyana.
Bingunglah Somali untuk menjawab.
“Hayyo! Enggak bisa pulung. Enggak bisa pulung!” kata
Tina meledek seperti meledek orang gila.
“Pulang ke mana ya?” tanya Somali cemas sembari
mengerenyit bingung.
“Buang aja, Om. Somali anak hilang ini,” kata Ayu.
“Eh jangan begitu, kasihan. Nanti manis loh,” kata
Tina.
“Nangis, bukan manis. Bagian apanya yang manis, pahit
semua,” kata Ayu.
“Ikut Salaman aja. Bilang ke emak kamu, teman yang
lagi dikusir bapaknya,” kata Tina. “Habis, enggak mungkin timur sekamar sama
Ayu. Hahaha!”
“Bisa gak, Sal?” tanya Ayu.
“Gak bi-bi-bisa,” jawab Salman.
“Yaaah, masa nilep di rumah saya,” kata Tina.
“Nginep, bukan nilep,” ralat Ayu. Lalu katanya kepada
teman gagapnya, “Iya, Sal. Masa Somali tidur makan di jalan.”
“Gak bisa!” tegas Salman. “Ta-ta-tapi....”
“Bohooong!” teriak Tina dan Ayu bersamaan.
“Hahaha!” Tertawa bersamalah mereka, termasuk Somali.
“Terima kasih, Sahabat!” pekik Somali sambil memeluk
Salman.
“Eh eh eh! Apa- apaan sih. Me-me-memangnya saya
bo-bo-boneka je-je-jerami!” kata Salman sambil berontak lepas dari pelukan
Somali yang hanya tertawa-tawa.
Singkat cerita.
Ayu tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi langsung
pulang ke rumah Tina Cihuy. Rumah Ayu dan Tina hanya dipisahkan oleh tiga
rumah, artinya mereka bertetangga dekat. Maka wajarlah jika mereka tidak
seperti kakak adik.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Tina ketika tiba di
rumahnya.
“Wa ‘alaikumussalam!” jawab Sumardan yang mirip
aktor laga Donnie Yen.
Ayah Tina itu sedang olah otot di teras dengan angkat
barbel 7kg.
“Eh, dari mana tadi? Ibumu nyariin. Katanya pergi
dadakan enggak bilang-bilang,” kata Sumardan.
“Ibu manis gak nyariin saya, Pak?” tanya Tina.
“Ah, ngapain nangis? Kamu sudah gede ini, hilang
sebentar doang mah gak masalah. Satu dua, satu dua,” kata Sumardan enteng
sambil tetap mengangkat barbel, membuat otot lengannya kembang kempis.
“Hah! Hilang sebentar?” ucap Tina heran sambil
memandang Ayu yang juga melongo. “Kita kan hilang sejari?”
“Sehari, bukan sejari, Tina,” ralat Ayu.
“Iya.”
“Mana saya tahu,” kata Ayu.
“Apa sih yang kamu tabu, Yu?” kata Tina sembari
mencibir.
“Udah, masuk dulu. Siapa tahu ibumu mau nyuruh apa,”
kata Sumardan.
“Suap, Pak!” pekik Tina sambil menghormat seperti
hansip, lalu masuk ke rumah.
Sang ayah hanya tersenyum.
“Om, gedein otot mau dikiloin ya?” tanya Ayu
berseloroh.
“Hahaha! Kamu yang saya kiloin,” kata Sumardan.
“Mahar saya terlalu mahal, Om. Hahaha!” kata Ayu, lalu
berjalan masuk ke rumah.
Sesampainya di dalam, mereka melihat di atas meja,
buku-buku milik Tina, Ayu dan Salman ditumpuk rapi, termasuk buku novel
berjudul “Pintu Setan Kuning”.
“Allahuakbar! Bulunya masih ada!” pekik Tina
kaget.
“Buku, bukan bulu,” ralat Ayu.
“Kamu harusnya kaget dulu, baru ngeralat saya,” kata
Tina.
“Kagetnya kan sudah diwakili kamu,” tandas Ayu.
“Saya jadi kalut sama buku itu. Seram,” kata Tina.
“Takut, bukan kalut, Tinaaa,” ralat Ayu berusaha sabar
sentosa.
“Iya, maksud saya itu,” kata Tina mendadak bernada
bisik. “Bukunya kita bawang aja yuk?”
“Kalau dibuang, Somali pulangnya bagaimana?” tanya Ayu
berbisik pula.
“Iya ya. Ayu cadas juga.”
“Saya memang cerdas, Tin. Baru tahu ya?”
“Iya sih, baru tahu. Atau, kamu cadasnya sekali-kali
doang?”
“Hmmm! Apa susahnya muji-muji sahabat sendiri, enggak
bayar ini,” kata Ayu.
“Kalau ngujinya dapat bonus, nanti saya nguji-nguji
terus,” kata Tina.
“Eh, kalian itu ke mana saja?” tanya Musdahlifa yang
muncul dari dalam dengan pakaian yang masih sama dengan yang kemarin. “Kalau
mau pegri, libang-libang Ibu, biar enggak nyariin.”
“Maaf, Bu, sudah pergi sehaluan,” kata Tina.
“Seharian, bukan sehaluan, Tina,” ralat Ayu.
“Iya. Ibu saya juga tahu kok,” kata Tina. Memang,
selain Ayu, orang yang mengerti bahasa bengkok Tina adalah kedua orangtuanya.
“Kalau sejam doang mah, enggak malasah, Tina. Asal
jangan seharian,” kata Musdahlifa.
“Hah! Memang kita pergi jerapa jam, Bu?” tanya Tina
terkejut.
“Satu jam,” jawab Musdahlifa.
“Allahumma!” Tina kaget.
“Kodok sodok!” Ayu kaget pula.
“Yu, kalau kaget ya nyebut. Kayak enggak punya murtad
aja,” sergah Tina.
“Ustaz, Tina. Kamu kira saya apa, pakai murtad
segala,” kata Ayu kesal.
“Samlan mana? Sudah selesai bejalar kelompoknya?”
tanya Musdahlifa. “Kalau sudah, bukunya tolong dibeserin.”
“Iya, Bu. Nanti saya beresin,” kata Tina.
“Hahaha!” Ayu mendadak tertawa. “Giliran ngeralat
ibunya, omongannya lempang.”
“Harus, Yu. Ibunya ngomongnya sudah keselip melulu,
masa Tina ngomongnya harus kepejit juga. Hahaha!” kata Musdahlifa lalu tertawa.
Dia tidak pernah tersinggung jika lidahnya dipermasalahkan secara hukum adat.
“Sekarung tanggal berapa, Bu?” tanya Tina.
“Hahaha! Sekarang!” ralat Ayu sambil tertawa.
“Iya, maksud saya itu. Enggak ada yang lucu kayaknya
deh,” kata Tina tanpa terpancing untuk tertawa.
“17 Luji. Kenapa?” jawab Musdahlifa. “Masa anak
selokah lupa tanggal. Bisa hancur neraga kita.”
“Hehehe!” Ayu cengengesan paksa.
“Itu baju siapa dikapai? Perasaan kamu enggak punya
baju begitu, Tin,” tanya sang ibu.
“Baju Asuyana, Bu,” jawab Tina jujur.
“Baju Ausyana, Tina. Sudah dikasih baju, masih juga
orangnya dibilang guguk,” kata Ayu.
“Ya sudah, lain kali kalau mau pergi, libang-libang
dulu. Mana kerjaannya tadi enggak dibeserin,” kata Musdahlifa.
“Iya, Bu,” ucap Tina.
Musdahlifa kembali masuk ke dalam.
“Yu, kita pergi ke negerinya Somali kan satu hari
lamanya, kenapa di sini cumi sapu jam?” kata Tina bingung.
“Di negerinya Somali kebanyakan makan cumi kali,” kata
Ayu yang tidak memberi jawaban memuaskan.
“Berarti, kalau kita lama-lama di sana, pulang-pulang
sudah jadi tua langka,” kata Tina.
“Tua bangka,” ralat Ayu. “Saya pulang, Tin. Mau bobo
seksi dulu.”
“Hahaha! Jebol (jempol) kaki kamu tuh yang seksi,” kata Tina. (RH)

.jpeg)
0 komentar:
Posting Komentar