*Petualangan Tina & Ayu*
Selasa, 18 Juli 1995. Tina Cihuy dan Ayu Nostalgia sudah tiba di kelas sebelum jam masuk tiba.
Tiba-tiba Salman Alfarisy berlari masuk ke dalam kelas
Tina. Masih membawa tas ranselnya.
“Ga-ga-ga....!”
“Gagap?” potong Ayu.
“Bu-bu-bukan. Ga-ga-gawat!” ralat Salman.
“Kawat kenapa?” tanya Tina pula dengan mimik serius.
“Gawat, bukan kawat, Tina,” ralat Ayu.
“Iya, maksud saya itu,” kata Tina kepada Ayu. Lalu
tanyanya kepada Salman, “Kamu diperkaus sama Somasi, ya?”
“Somali nama saya!” sahut Somali tiba-tiba yang muncul
di pintu kelas dengan berseragam sekolah lengkap.
“Innalillahi!” pekik Tina kaget.
“Ya Allah!” Ayu pun kaget dua kali lipat.
“Kenapa Somay ada di sini?” tanya Tina panik.
“Nah itu. Sa-sa-saya bingung mau di-di-ditaruh mana
nih ma-ma-makhluk?” jawab Salman menambah kebingungan.
“Kenapa enggak dikandangin, Sal?” tanya Ayu dengan
wajah meringis tanpa sakit.
“Memangnya ayem,” kata Tina.
“Ayam, bukan ayem adem,” ralat Ayu.
“Ini tempat apa?” tanya Somali sembari senyam-senyum.
“Diam!” Tina dan Ayu membentak Somali.
Somali pun merengut diam.
“Sal, ini sekolahan, bukan tempat penampungan orang
hilang,” kata Ayu.
“Iya. Kalau Somasi dilihat Kepala Selokan, bagaimana?”
tanya Tina, bingung juga.
“Hahaha! Ka-ka-kamu nanti di-di-ditangkap Pak
Ru-ru-rudi loh.” Salman justru tertawa.
“Kepala Sekolah, Tina. Sejak kapan selokan punya
kepala?” ralat Ayu. “Terus, Somalia bagaimana?”
“Ikut se-se-sekolah saja,” usul Salman. “Ka-ka-kalau
guru tanya, bi-bi-bilang saja anak baru.”
“Ide Salaman mah gila,” kata Tina.
“Saya duduk di mana?” tanya Somali.
“Diam!” bentak Tina dan Ayu kembali.
Somali jadi terdiam, sedih dan merengut.
“So-so-somali di sini du-du-dulu. Ka-ka-kalau di kelas
saya, ba-ba-bahaya,” kata Salman.
“Eh, ada anak baru,” sapa Gordon yang baru datang dan
masuk ke dalam kelas.
“Diam!” Tina dan Ayu justru membentak Gordon.
“Busyet!” kaget Gordon dengan wajah tertarik ke
belakang. “Sarapan ceker bebek ya tadi? Hahaha!”
“Karapan ceker onta!” ketus Tina.
“Sejak kapan onta karapan? Hahaha!” kata Gordon yang
tidak mempan dengan bentakan Tina dan Ayu. Maklum sudah biasa dan Gordon tipe
anak jagoan.
“Hahaha!” tawa Salman.
“Ih, anak baru imut,” kata Fitri pula yang baru datang
sambil mencolek pinggang Somali.
“Hehehe!” kekeh Somali karena dicolek oleh anak
perempuan cantik.
“Imut apanya? Amit-amit gitu,” kata Gordon.
“Eh, jangan sembayangan menghina orang!” hardik Tina
yang meski galak tapi punya jiwa bela teman yang tinggi.
“Sembarangan, bukan sembayang, Tina,” ralat Ayu.
“Kursi sebelah saya kosong. Nanti duduk sama saya
aja,” kata Gordon bersahabat.
“Jangan. Nanti Somay tercamar,” larang Tina.
“Tercemar,” ralat Ayu.
“Memang saya apaan?” kata Gordon sewot.
“Limbah sosial. Hahaha!” kata Fitri lalu tertawa
sendiri. Lalu tanyanya, “Siapa tadi namanya? Somay?”
“Bukan. So-so-so....”
“Sotong?” terka Gordon.
“Bu-bu-bukan. So-so-somali,” tandas Salman.
“Perasaan tadi dengarnya Somay,” kata Fitri.
“Bukan, tapi Somay. Fitri salah dengar,” ralat Tina,
tapi tidak berguna.
“Hahaha!” tawa terbahak Gordon.
“Loh. Kok Somali di sini?” tanya Ausyana yang baru
datang.
“Eh, Ausyana cantik,” ucap Somali girang.
“Ausyana Sayang kenal Somali?” tanya Gordon.
“Eh, Gordon! Sekali lagi panggil saya Sayang, saya
laporin ke Pak Rudi,” ancam Ausyana. “Kemarin Susi kamu panggil Sayang,
pulang-pulang nyebur di got depan.”
“Hahaha!” Mereka tertawa ramai-ramai.
Singkat waktu dan cerita.
Pelajaran IPA sedang berlangsung. Kali ini anak-anak
Kelas 2B terlihat antusias dan semangat. Pasalnya, temanya adalah “Sistem
Reproduksi Manusia”.
Selain itu, guru IPA-nya cantik dan anggun, tipe murah
senyum, tidak angker seperti rumah tua, dan suaranya empuk seperti bolu pandan.
Namanya Yustina Agustini.
Sudahlah bahasannya sistem reproduksi, ditambah
gurunya Ibu Yustina, murid laki-laki pun menjadi agak tidak terkendali seperti
banteng mau kawin. Bawaannya buru-buru nyeruduk.
“Masing-masing sudah Ibu beri satu tema rinci agar
kalian lebih fokus. Sekarang, tugas setiap pasangan sebangku adalah, buat lima
pertanyaan saja, juga langsung jawabannya. Ditulis di kertas selembar sambil
dihafalkan. Nanti setiap pasangan maju untuk Cerdas Jawab,” jelas Bu Yustina.
“Kok muter-muter, Bu? Tinggal Ibu tanya, kita jawab,”
kritik Ausyana.
“Yang benar jawabannya dikasih cinta. Hahaha!” sahut
Gordon lalu tertawa sendiri.
“Anak laki-laki enak kalau dikasih cinta sama Bu Tina.
Lah, yang perempuan siapa yang ngasih cinta?” kata Ausyana.
“Somali! Hahaha!” pekik Ilham sambil menunjuk Somali.
“Hahaha...!”
Satu kelas tertawa yang membuat Somali panik.
“Eh, amit-amit jabang demit! Mahar PDKT saya aja lebih
mahal dari ikan cupang Kachen Woracha,” ketus Ausyana.
“Enggak, enggak, enggak! Saya hanya cinta Ayu kok!”
teriak Somali sambil naik ke atas kursi agar kelihatan.
“Cieee Ayu! Hahaha!” sorak teman sekelas.
“Hei, Somali! Jangan macam-macam, saya gantung di
papan tulis nanti!” ancam Ayu sembari melototi Somali yang duduk di belakang di
sisi Gordon.
“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali, lalu tertawa
terpingkal-pingkal di atas kursi, seolah-olah dia sedang berada di bangku
penonton sirkus.
“Wah, minta diulek nih bocah!” geram Ayu sambil
berdiri dan berjalan ke belakang laksana seorang algojo.
“Ayu cantik!” Bu Yustina segera memanggil dengan nada
lembut, untuk mencegah pertumpahan darah.
“Siap, Bu!” pekik Ayu sambil berhenti dan berbalik
menghadap ke arah meja guru.
“Kerjakan tugas kalian!” perintah Bu Yustina.
“Siap, Ibu Cantik!” jawab seisi kelas.
Bu Yustina Agustini yang memang cantik itu tersenyum
tersipu malu.
Ayu pun kembali ke kursinya di sisi Tina Cihuy.
“Bu, saya sama Ayu tadi tuyulnya apa?” tanya Tina.
“Hah, tuyul?” sebut ulang Bu Yustina tidak paham.
“Maksud Tina Junior, judulnya apa, Bu Tina Senior,”
ralat Ayu.
“Oh, temanya tentang rahim,” jawab Bu Yustina.
Murid-murid berubah tenang. Mereka mulai mengerjakan
tugas.
“Somali, kamu tulis pertanyaannya, nanti saya yang
jawab,” kata Gordon kepada Somali.
“Hah!” Somali berubah bingung melihat buku IPA, buku
tulis, dan pulpen.
“Ayo tulis!” suruh Gordon.
“Saya enggak bisa nulis,” kata Somali.
“Hah! Enggak bisa nulis?!” kejut sebagian murid kelas
yang mendengar kata-kata Somali.
Somali semakin panik dan bingung. Namun, kemudian dia
ada akal.
“Tapi bohong! Hahaha!” teriaknya lalu tertawa terpingkal-pingkal
tapi getir.
“Huuu!” seisi kelas menyoraki Somali. Untung tidak ada
yang menyambit pakai uang.
“Itu yang imut siapa? Kok Ibu baru lihat?” tanya Bu
Yustina akhirnya.
“Hahaha! Itu mah amit kaya celurit, Bu,” kata Tina
tertawa.
“Cecurut, Tina,” ralat Ayu.
“Hahaha! Iya,” tawa Tina mengaku salah. Lalu tiba-tiba
dia berbisik kepada Ayu, “Aduh, kawat, bakal ketahuan!”
“Namanya Somali, Bu. Tetangganya Tina sama Ayu!” sahut
Gordon.
“Baru masuk hari ini, Bu,” kata Fitri pula.
“Pindahan dari SMP mana, Somali?” tanya Bu Yustina.
“Dari ... dari ... anu ....” Somali kian bingun. Dahinya
mendadak keringatan sebesar biji tomat.
“Kalau dari anu mah, itu spare part,
Somali!” celetuk Ardiansyah.
“Hahaha!” tawa sekelas.
“Dari Desa Waykutuk!” jawab Somali akhirnya.
“Di mana itu?” tanya Bu Yustina.
“Di hati Ibu, cieee! Hahaha!” sahut Gordon membanyol.
“Woi, Flash Gordon! Jadi cowok gagah dikitlah. Ini
malah kebanyakan genitnya!” hardik Ausyana.
“Hahaha! Cemburu, ya?” goda Gordon semakin menjadi.
“A’udzubillah!” ucap Ausyana.
“Dari Negeri Kaluda, Bu!” sahut Somali lagi.
“Oh, SMP Negeri Kaluda?” terka Bu Yustina, seolah-olah
pernah kenal dengan negeri itu.
“Iya, Bu. Dari Lampung Timun!” teriak Tina berbohong.
“Lampung Timur, Tina. Didemo sama orang Lampung Timur
loh. Baru tahu rasa,” kata Ayu.
“Semoga betah ya, Somali!” kata Bu Yustina.
Legalah Somali, Tina dan Ayu karena Bu Yustina sudah
percaya.
“Hehehe! Pasti betah kalau dukunnya Ibu terus,” kata
Somali.
“Dukun?” sebut ulang Bu Yustina tidak mengerti,
membuat Tina dan Ayu kembali kesal kepada Somali.
“Maksud saya guru. Hahaha! Ketularan Tina saya,” ralat
Somali.
“Eh, Somay! Memang saya penyanyi bisa nular?” hardik
Tina galak.
“Penyakit, bukan penyanyi, Tinaaa!” ralat teman satu
kelas.
“Hihihi!” kikik Tina jadi malu sendiri.
“Selesaikan tugas kalian!” perintah Bu Yustina lagi.
“Siap, Ibu Cantik!” jawab para murid.
Bu Yustina kembali tersenyum tersipu malu. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar