Ke Rumah Ausyana, Bab19 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*


Rombongan Trio Antik plus Somali dari negeri anta barantah pergi ke jalan raya. Mereka berjalan kaki untuk sampai ke rumah Ausyana. Kondisi diri mereka kotor oleh lumpur, wajah dan pakaian, terlebih-lebih Somali.

“Woi woi woi! Binatang besinya warna merah!” teriak Somali sambil menunjuk mobil warna merah yang melintas. Wajahnya begitu antusias melihat sesuatu yang baru kali ini dilihatnya.

“Woi woi woi! Binatangnya gede sekali!” teriak Somali lagi sambil menunjuk bus yang melintas. Wajahnya ikut memutar memandangi mobil yang lewat.

“Be-be-berisik, So-so-soto!” bentak Salman Alfarisi. Dia kesal dengan tingkah Somali seperti manusia yang baru tercipta dari lumpur.

“Eh, gagap boleh, tapi jangan salah sebut nama,” kata Somali mengingatkan.

“Bi-bi-bikin malu, tahu!” kata Salman.

“Iya. Biar aja bintang basinya lewat, enggak usah diketiakin,” kata Tina pula.

“Hahaha! Nanti kamu diketekin sama Tina loh,” kata Ayu.

“Somasi! Kalau enggak mau diam, saya pulangin lagi ke lauk!” ancam Tina.

“Laut, bukan lauk, Tina,” ralat Ayu.

“Iya, maksud saya itu,” kata Tina enteng.

“Ayo lanjut!” ajak Ayu.

“Salman, binatang-binatang itu makannya apa? Daun pisang?” tanya Somali, serius.

“Ba-ba-ba....”

“Sembarangan! Sejak kapan mobil makannya bakso?” Ayu menghardik Salman.

“Sa-sa-saya belum se-se-selesai ngomong, su-su-sudah dipotong,” kata Salman kesal.

“Ayu kayak tulang jagal daging, main pocong aja. Hahaha!” kata Tina.

“Tukang potong, bukan tulang pocong,” ralat Ayu.

“Ma-ma-maksud saya ba-ba-bahan bakar,” lanjut Salman.

“Hahaha! Kirain bakso,” kata Ayu lucu sendiri. Lalu ajaknya kepada rekan-rekannya, “Eh, makan bakso, yuk!”

“Lupa ya, kalau kita kayak balut?” kata Tina.

“Badut, bukan pembalut,” ralat Ayu.

“Siapa yang bilang pembalut? Tuh kan mulai budek,” sangkal Tina.

“Hahaha! Ampun ba-ba-bakso,” tawa Salman.

“Woi woi woi! Belalang besi!” teriak Somali sambil menunjuk sepeda yang melintas, sampai-sampai orang yang bersepeda memandangi mereka dengan kening berkerut.

“Hei!” teriak Tina sambil menepuk bahu Somali, lalu mengomel, “Belakang, belakang. Itu sepeda, bukan belakang. Kalau enggak mau diam, kita sumpal nih lututnya!”

“Mulut, bukan lutut, Tina,” ralat Ayu.

“Iya, maksud saya itu. Lumut,” kata Tina.

“Terserah kamu, Tin,” ucap Ayu, sepertinya dia menyerah.

“Iya, iya, iya, saya diam,” kata Somali.

“Tuh, ru-ru-rumah pa-pa-pacarku!” kata Salman sambil menunjuk sebuah rumah di pinggir jalan raya Trans Sumatera.

“Cie cie cie, paaagar!” goda Tina sambil tersenyum lebar.

“Pacar, bukan pagar, Tina,” ralat Ayu. Sepertinya dia kembali bersemangat menjadi tukang ralat bagi sahabatnya, daripada dunia berantakan.

“Iya, tadi saya juga ngomong begitu,” tandas Tina.

“Hahaha! Su-su-su....”

“Susu Nona?” tanya Ayu memotong.

“Su-su-sumu!” sentak Salman kesal. Lalu katanya lagi, “Maksud sa-sa-saya, su-su-sudah salah, ngeyel lagi.”

“Hahaha!” tawa Somali. Tiba-tiba dia berteriak sambil menunjuk rumah Ausyana, “Woi woi woi! Rumahnya bagus sekali!”

“Diam, jangan norek!” Tina membentak Somali.

“Norak, bukan norek rekening, Tinaaa!” teriak Ayu bernada kesal.

“Enggak usah ketiak, Yu. Saya kan dengar,” kata Tina santai.

Ayu jadi dia merengut.

Mereka pun tiba di depan rumah Ausyana.

Assalamu ‘alaikum!” salam Tina kepada seorang wanita yang sedang beraktivitas di teras rumah.

Wa ‘alaikum salam!” jawab wanita itu sembari menengok melihat kepada keempat tamu yang datang.

Astaghfirullah!” pekik Ayu kaget.

Allahumma!” pekik Tina kaget pula.

Na-na-na’udzu billah!”  Salman sama saja, juga kaget.

“Asuyana sudah tua!” kata Tina masih kaget.

“Sepertinya kita pulang salah tahun, Tin,” kata Ayu mengajak panik bersama.

“Ba-ba-balik lagi ke lu-lu-lubang!” kata Salman panik pula.

“Siapa ya? Mau minta sumbangan ya?” tanya wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Ausyana, tapi versi dewasanya.

“Ausyana, ini kita. Masa enggak kenal?” kata Ayu, sepeti bicara kepada orang yang sedang amnesia.

“Siapa?” ucap wanita dewasa itu bingung.

“Saya Tina, Susana,” kata Tina sembari tersenyum penuh harap dan menepuk pelan dada kurusnya.

“Ausyana, bukan Susana, Tina,” ralat Ayu.

“Ausyana, ini Sa-sa-salman ga-ga-gagap ganteng. Sepupunya Sa-sa-sahrukh Khan,” kata Salman pula sambil tersenyum lebar.

“Siapa, Ma?” tanya Ausyana yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.

“Ausyana!” pekik Tina dan Ayu terkejut girang melihat teman mereka muncul di pintu rumah.

Mereka bertiga segera berlari menyerbu Ausyana asli dan hendak memeluknya.

“Aaa...!” jerit Ausyana nyaring sambil buru-buru lari masuk dan menutup pintu rumah.

Brak!

Tina dan Ayu menabrak pintu lalu nyaris jatuh ke belakang.

Wanita dewasa yang adalah Mama Ausyana hanya bisa bingung melihat kejadian tersebut.

Ausyana sendiri segera mengintip dari jendela kaca di samping pintu. Tampak wajahnya menyiratkan ketakutan.

“Tina Cihuy?” terka Ausyana setelah mengamati temannya itu.

“Iya, saya Tina Cihuy. Ini Ayu Nistagia,” kata Tina sembari memandang wajah Ausyana di kaca bening.

“Ayu Nostalgia. Sekali lagi bilang nista, saya remas kamu, Tina!” ralat Ayu dan mengancam sahabat kurusnya.

“Iya,” ucap Tina sembari tersenyum lepas.

Ausyana lalu membuka pintu dan keluar lagi.

“Kok kalian kotor begini?” tanya Mama Ausyana.

“Anu, Tante. Kita kolor karena....”

“Kotor, Tinaaa! Bukan kolor!” ralat Ayu gemas.

“Hahaha!” tawa Somali.

“Hahaha!” tawa Salman pula.

“Iya, kita kotor karena main di sawah, Tante,” kata Tina sembari tersenyum-senyum kepada Mama Ausyana.

“Tumben benar,” ucap Ayu lega.

“Terus, ngapain ke sini?” tanya Ausyana dengan wajah dingin.

“Mau numpang mancing,” jawab Tina.

“Mancing?” sebut ulang Mama Ausyana bingung.

“Maksudnya mandi, Tante,” ralat Ayu.

“Oooh,” ucap Mama Ausyana mengerti, tanpa curiga.

“Bertele-tele, kalian ini. Kalian kan tinggal naik mobil pulang ke rumah?” kata Ausyana dengan pandangan suntuk.

“Be-be-begini, Sayang,” kata Salman.

“Woi!” teriak Ayu sambil memukul kepala Salman. “Ada emaknya. Main panggil sayang aja!”

“Hehehe! Ma-ma-maaf, Tante. Sa-sa-saya kira Tante su-su-sudah masuk,” kata Salman sambil cengar-cengir.

“Kita enggak pedang duit.” Tina menjawab pertanyaan Ausyana.

“Pegang duit maksudnya,” ralat Ayu.

“Kan tinggal pegang. Apa susahnya?” kata Ausyana jutek.

“Duitnya yang enggak ada,” jelas Ayu sambil cengar-cengir.

“Beranian, main jauh-jauh enggak bawa duit,” kata Ausyana.

Tina, Ayu dan Salman hanya cengar-cengir, tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

“Sudah, sudah, sudah. Nanti mandi dulu. Ausyana punya banyak baju kok,” kata Mama Ausyana menengahi. “Sebentar lagi papanya Ausyana pulang narik. Nanti bisa diantar pulang.”

“Baju buat saya ada, Tante?” tanya Ayu khawatir. Sebab, ukuran badan dia jumbo.

“Pakai baju Tante pasti muatlah,” kata Mama Ausyana.

“Baju buat saya ada, Tante?” tanya Somali.

“Banyak,” jawab Ayu.

“Tapi bodong! Hahaha!” sambung Tina lalu tertawa menertawakan Somali.

Orang cebol itu hanya bisa merengut. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar