Cerdas Jawab, Bab22 Petualangan Tina & Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*


Waktu-waktu menegangkan dalam mata pelajaran IPA pun dimulai. Siswa siswi Kelas 2B SMP Negeri Kalianda diperintahkan maju sepasang-sepasang untuk melakukan “cerdas jawab”.

Ibu Yustina Agustini gemar melakukan metode pembelajaran seperti ini agar siswa mau dan bisa menghafal.

Menulis lima pertanyaan plus jawabannya, lalu harus dihafal. Kemudian sepasang siswa maju ke muka kelas. Satu siswa berlakon sebagai penanya dan satu sebagai juru jawab, tanpa membaca teks.

“Ausyana, Fitri, maju!” perintah Bu Yustina.

“Siap, Ibu Cantik!” sahut Fitri.

Dia dan Ausyana lalu maju bersama. Dia menyerahkan kertas soal dan jawabannya ke Bu Yustina.

Fitri dan Ausyana berdiri berhadapan di muka kelas, menyampingi murid lainnya.

“Berjuanglah, Ausyana! Kalau salah, Gordon masih sudi jadi pacarmu!” teriak Gordon dari bangku belakang.

“Huuu!” sorak para murid Kelas 2B.

“Fitri! Abang di sini!” teriak Ardiansyah pula, tidak mau kalah saing dengan Gordon.

“Siapa bilang kamu lagi di pasar?” celetuk Fitri menyahut.

“Hahaha!” tawa ramai satu kelas.

“Tenaaang! Biar hati Ibu juga tenang ya!” seru Bu Yustina, tapi suaranya empuk di telinga para murid.

“Siap, Ibu Cantik!” sahut anak-anak penuh semangat, selalu membuat Bu Yustina tersipu malu.

“Ayo dimulai, Fitri!” perintah Bu Yustina.

“Satu. Awal proses reproduksi manusia terjadi ketikaaa....” Fitri mulai mengucaapkan soal nomor satu yang dibuatnya.

“Ketika sel sperma bertemu dengan sel telur,” jawab Ausyana.

“Dua....”

“Tunggu, tunggu, tunggu!” potong Ausyana.

Fitri berhenti dan bertanya dengan mimik wajahnya kepada rekannya.

“Bu, memangnya perempuan punya telur? Setahu saya mah, laki-laki yang punya,” tanya Ausyana serius.

“Hahaha...!” Meledaklah tawa rekan-rekannya satu kelas penuh.

Bu Yustina yang cantik tersenyum lebar.

“Woi, Gordon! Kamu punya telur gak? Ausyana nyari!” teriak Romli yang duduk di pojokan.

“Punya di rumah, sekilo tujuh ratus lima puluh!” jawab Gordon serius

“Itu enggak boleh dilepas, apalagi sampai dijual, nanti enggak bisa punya keturunan!” teriak Romli lagi.

“Hahaha...!” tawa murid-murid satu kelas di saat Gordon terdiam bingung karena otaknya belum sampai ke pembahasan “telur yang tidak boleh dilepas”.

“Tenang, Anak-Anak!” seru Bu Yustina dengan lembut.

“Siap, Ibu Cantik!” sahut para murid patuh.

“Nanti Ibu jelaskan ya, Ausyana. Lanjutkan, Fitri!” kata Bu Yustina.

“Dua. Pertemuan kedua sel umumnya terjadi dalam hubungaaan....” Fitri kembali membacakan soalan nomor dua.

“Seksual!” jawab Ausyana lantang dan yakin.

“Tiga....”

“Tunggu, tunggu, tunggu!” potong Ausyana lagi. Sepertinya dia mau bertanya aneh lagi. “Bu, kalau di luar hubungan itu, memangnya enggak bisa?”

“Hahaha!” jawab rekan-rekannya sekelas.

“Nanti Ibu jelaskan ya, Aus. Lanjutkan dulu cerdas jawabnya,” kata Yustina lembut sembari tersenyum sabar.

Fitri kembali melafazkan soal nomor tiga yang terpenggal.

“Tiga. Apakah sama sistem reproduksi pria dan wanita?”

“Enggak dong, Fit. Kamu lihat aja dari muka, laki perempuan beda. Bulunya juga beda. Bentuk tubuh beda. Cara makan sampai cara pipis aja beda. Belum lagi cara jalan, genitnya, cara tidur, ya pasti beda, Fit,” kata Ausyana panjang kali lebar sama dengan luas.

“Ya Allah Gusti. Tinggal jawab ‘beda’, Auuus. Titik. Kenapa kamu nyerocos?” kata Fitri mengelus dadanya sendiri.

“Biar jelas. Noh, kayak Gordon, telur aja dikira ayam,” kilah Ausyana.

“Eh eh eh, kok malah debat? Ayo dilanjut!” sergah Bu Yustina.

“Siap, Ibu Cantik!” ucap Fitri patuh, membuat guru cantiknya tersipu malu.

“Empat. Sebutkan dua fungsi sistem reproduksi wanita!” kata Fitri.

“Yang begini nih, Bu...,” kata Ausyana mau protes.

“Eit, jawab, jangan protes!” sergah Bu Yustina cepat.

“Siap, Ibu Cantik,” jawab Ausyana patuh, lagi-lagi membuat Bu Yustina tersenyum. Lalu jawabnya, “Berfungsi memproduksi sel telur dan menyediakan tempat untuk janin selama kehamilan.”

Plok plok plok...!

“Cerdas! Waw!” teriak Gordon sambil bertepuk tangan heboh sendiri. Dia bahkan mencolek Somali agar ikut bertepuk tangan.

“Guntur! Jangan rusuh!” seru Bu Yustina.

“Eh, Gordon Tampan, Bu!” ralat Gordon.

“Tambang apaan, tengil gitu!” celetuk Tina.

“Tampan, bukan tambang, Tinaaa! Hahaha!” ralat berjemaah rekan sekelas, lalu tertawa ramai.

“Hahaha!” tawa Tina lucu sendiri.

“Lanjut!” perintah Bu Yustina.

“Lima. Apa nama organ reproduksi wanita yang berfungsi sebagai jalur sel telur dari ovarium ke rahim?” tanya Fitri.

“Tuba falopi,” jawab Ausyana.

“Yes yes yes! Pacarku memang cerdas!” teriak Gordon girang.

“Hei, Flash Gordon! Sekali lagi kamu bilang ‘pacarku’, saya laporin ke Pak Rudi!” ancam Ausyana.

“Jangan dong, kekasihku. Kan bercanda. Siapa tahu terkabul,” kata Gordon pilih damai.

“Tapi kalau berjanda, jangan sama orang cantik!” timpal Tina pula.

“Bercanda, bukan berjanda, Tinaaa!” ralat berjemaah rekan sekelas.

Namun, Tina cuek.

“Selanjutnya, kontestan kedua. Tina dan Ayu maju!” panggil Bu Yustina.

“Bakal kacau,” ucap Ilham.

“Ayo, Tina dan Ayu maju!” perintah Bu Yustina.

“Tina, sudah kamu hafalin semua kan jawabannya?” tanya Ayu, masih belum maju.

“Sudah,” jawab Tina.

“Yakin?” tanya Ayu lagi.

“Yakin dong. Jawabnya cuma sekata-kata doang,” jawab Tina lancar.

“Benar yakin, Tin? Ini masalah hidup dan mati loh.” Ayu masih ragu.

“Yaaah, keburu dimakan tikus nih penantian saya,” celetuk Ardiansyah.

“Buruan maju! Penonton resah nih!” teriak Ilham pula.

“Maju, Tina Ayu!” perintah Bu Yustina lagi. “Satu panggilan lagi. Jika belum maju, maka akan dihukum.”

“Setujuuu!” teriak siswa satu kelas ramai-ramai. Paling senang mereka jika melihat teman dihukum, katanya lucu dan menggemaskan.

Tina dan Ayu maju. Ayu menyerahkan kertas soal dan jawabannya ke Bu Yustina.

Selanjutnya, Tina dan Ayu berdiri berhadapan di muka kelas, menyampingi teman-temannya yang lain.

“Satuuu, duaaa, tiga! Mulai!” hitung Bu Yustina.

“Satu. Apa nama lain dari uterus?”

“Rahmi!” jawab Tina kencang dan yakin. Padahal jawaban seharusnya adalah rahim.

“Hahaha!” tawa terbahak satu kelas.

“Yaaa! Tuh kan!” kata Ayu kecewa berat.

“Lanjut terus, waktu hampir habis!” perintah Bu Yustina.

“Apa boleh buat, Tina. Hajar habis!” kata Ayu tiba-tiba bersemangat. Dia tidak takut harus hancur jika menabrak tembok beton.

“Tarik terus, Yu!” kata Tina pula tetap semangat.

“Dua. Organ apa yang berfungsi menghasilkan sel telur dan memproduksi hormon seks utama?” tanya Ayu.

“Aquarium!” jawab Tina yang seharusnya adalah ovarium.

“Hahaha!” Warga kelas semakin heboh tertawa.

“Tiga. Apa nama lain dari serviks?” tanya Ayu, terus tancap gas tanpa peduli keriuhan rekan-rekan mereka yang tertawa.

“Teler rahmi!” jawab Tina semakin kencang. Jawaban yang dia maksud adalah leher rahim.

“Hahaha!” warga kelas semakin panjang tertawa.

“Empat. Organ yang merupakan lorong atau jalan keluar untuk melahirkan disebuuut....”

“Panitia!” teriak Tina seperti orang sedang dikejar waktu. Seharusnya dia menjawab v*g*na.

“Huahaha!” tawa warga kelas, masih kontinyu.

“Lima. Sebelum lahir, bayi di dalam rahim disebuuut....”

“Jentiiik!” jawab Tina kencang dan panjang, tanpa sadar bahwa jawaban “janin” diubahnya jadi jentik manusia.

“Huahaha...!” tawa puncak warga kelas. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar