*Petualangan Tina dan Ayu*
Waktu-waktu menegangkan dalam mata pelajaran IPA pun
dimulai. Siswa siswi Kelas 2B SMP Negeri Kalianda diperintahkan maju
sepasang-sepasang untuk melakukan “cerdas jawab”.
Ibu Yustina Agustini gemar melakukan metode
pembelajaran seperti ini agar siswa mau dan bisa menghafal.
Menulis lima pertanyaan plus jawabannya, lalu harus
dihafal. Kemudian sepasang siswa maju ke muka kelas. Satu siswa berlakon
sebagai penanya dan satu sebagai juru jawab, tanpa membaca teks.
“Ausyana, Fitri, maju!” perintah Bu Yustina.
“Siap, Ibu Cantik!” sahut Fitri.
Dia dan Ausyana lalu maju bersama. Dia menyerahkan
kertas soal dan jawabannya ke Bu Yustina.
Fitri dan Ausyana berdiri berhadapan di muka kelas,
menyampingi murid lainnya.
“Berjuanglah, Ausyana! Kalau salah, Gordon masih sudi
jadi pacarmu!” teriak Gordon dari bangku belakang.
“Huuu!” sorak para murid Kelas 2B.
“Fitri! Abang di sini!” teriak Ardiansyah pula, tidak
mau kalah saing dengan Gordon.
“Siapa bilang kamu lagi di pasar?” celetuk Fitri
menyahut.
“Hahaha!” tawa ramai satu kelas.
“Tenaaang! Biar hati Ibu juga tenang ya!” seru Bu
Yustina, tapi suaranya empuk di telinga para murid.
“Siap, Ibu Cantik!” sahut anak-anak penuh semangat,
selalu membuat Bu Yustina tersipu malu.
“Ayo dimulai, Fitri!” perintah Bu Yustina.
“Satu. Awal proses reproduksi manusia terjadi
ketikaaa....” Fitri mulai mengucaapkan soal nomor satu yang dibuatnya.
“Ketika sel sperma bertemu dengan sel telur,” jawab
Ausyana.
“Dua....”
“Tunggu, tunggu, tunggu!” potong Ausyana.
Fitri berhenti dan bertanya dengan mimik wajahnya
kepada rekannya.
“Bu, memangnya perempuan punya telur? Setahu saya mah,
laki-laki yang punya,” tanya Ausyana serius.
“Hahaha...!” Meledaklah tawa rekan-rekannya satu kelas
penuh.
Bu Yustina yang cantik tersenyum lebar.
“Woi, Gordon! Kamu punya telur gak? Ausyana nyari!”
teriak Romli yang duduk di pojokan.
“Punya di rumah, sekilo tujuh ratus lima puluh!” jawab
Gordon serius
“Itu enggak boleh dilepas, apalagi sampai dijual,
nanti enggak bisa punya keturunan!” teriak Romli lagi.
“Hahaha...!” tawa murid-murid satu kelas di saat
Gordon terdiam bingung karena otaknya belum sampai ke pembahasan “telur yang
tidak boleh dilepas”.
“Tenang, Anak-Anak!” seru Bu Yustina dengan lembut.
“Siap, Ibu Cantik!” sahut para murid patuh.
“Nanti Ibu jelaskan ya, Ausyana. Lanjutkan, Fitri!”
kata Bu Yustina.
“Dua. Pertemuan kedua sel umumnya terjadi dalam
hubungaaan....” Fitri kembali membacakan soalan nomor dua.
“Seksual!” jawab Ausyana lantang dan yakin.
“Tiga....”
“Tunggu, tunggu, tunggu!” potong Ausyana lagi.
Sepertinya dia mau bertanya aneh lagi. “Bu, kalau di luar hubungan itu,
memangnya enggak bisa?”
“Hahaha!” jawab rekan-rekannya sekelas.
“Nanti Ibu jelaskan ya, Aus. Lanjutkan dulu cerdas
jawabnya,” kata Yustina lembut sembari tersenyum sabar.
Fitri kembali melafazkan soal nomor tiga yang
terpenggal.
“Tiga. Apakah sama sistem reproduksi pria dan wanita?”
“Enggak dong, Fit. Kamu lihat aja dari muka, laki
perempuan beda. Bulunya juga beda. Bentuk tubuh beda. Cara makan sampai cara
pipis aja beda. Belum lagi cara jalan, genitnya, cara tidur, ya pasti beda,
Fit,” kata Ausyana panjang kali lebar sama dengan luas.
“Ya Allah Gusti. Tinggal jawab ‘beda’, Auuus. Titik.
Kenapa kamu nyerocos?” kata Fitri mengelus dadanya sendiri.
“Biar jelas. Noh, kayak Gordon, telur aja dikira
ayam,” kilah Ausyana.
“Eh eh eh, kok malah debat? Ayo dilanjut!” sergah Bu
Yustina.
“Siap, Ibu Cantik!” ucap Fitri patuh, membuat guru
cantiknya tersipu malu.
“Empat. Sebutkan dua fungsi sistem reproduksi wanita!”
kata Fitri.
“Yang begini nih, Bu...,” kata Ausyana mau protes.
“Eit, jawab, jangan protes!” sergah Bu Yustina cepat.
“Siap, Ibu Cantik,” jawab Ausyana patuh, lagi-lagi
membuat Bu Yustina tersenyum. Lalu jawabnya, “Berfungsi memproduksi sel telur
dan menyediakan tempat untuk janin selama kehamilan.”
Plok plok plok...!
“Cerdas! Waw!” teriak Gordon sambil bertepuk tangan
heboh sendiri. Dia bahkan mencolek Somali agar ikut bertepuk tangan.
“Guntur! Jangan rusuh!” seru Bu Yustina.
“Eh, Gordon Tampan, Bu!” ralat Gordon.
“Tambang apaan, tengil gitu!” celetuk Tina.
“Tampan, bukan tambang, Tinaaa! Hahaha!” ralat
berjemaah rekan sekelas, lalu tertawa ramai.
“Hahaha!” tawa Tina lucu sendiri.
“Lanjut!” perintah Bu Yustina.
“Lima. Apa nama organ reproduksi wanita yang berfungsi
sebagai jalur sel telur dari ovarium ke rahim?” tanya Fitri.
“Tuba falopi,” jawab Ausyana.
“Yes yes yes! Pacarku memang cerdas!” teriak Gordon
girang.
“Hei, Flash Gordon! Sekali lagi kamu bilang ‘pacarku’,
saya laporin ke Pak Rudi!” ancam Ausyana.
“Jangan dong, kekasihku. Kan bercanda. Siapa tahu
terkabul,” kata Gordon pilih damai.
“Tapi kalau berjanda, jangan sama orang cantik!”
timpal Tina pula.
“Bercanda, bukan berjanda, Tinaaa!” ralat berjemaah
rekan sekelas.
Namun, Tina cuek.
“Selanjutnya, kontestan kedua. Tina dan Ayu maju!”
panggil Bu Yustina.
“Bakal kacau,” ucap Ilham.
“Ayo, Tina dan Ayu maju!” perintah Bu Yustina.
“Tina, sudah kamu hafalin semua kan jawabannya?” tanya
Ayu, masih belum maju.
“Sudah,” jawab Tina.
“Yakin?” tanya Ayu lagi.
“Yakin dong. Jawabnya cuma sekata-kata doang,” jawab
Tina lancar.
“Benar yakin, Tin? Ini masalah hidup dan mati loh.”
Ayu masih ragu.
“Yaaah, keburu dimakan tikus nih penantian saya,”
celetuk Ardiansyah.
“Buruan maju! Penonton resah nih!” teriak Ilham pula.
“Maju, Tina Ayu!” perintah Bu Yustina lagi. “Satu
panggilan lagi. Jika belum maju, maka akan dihukum.”
“Setujuuu!” teriak siswa satu kelas ramai-ramai.
Paling senang mereka jika melihat teman dihukum, katanya lucu dan menggemaskan.
Tina dan Ayu maju. Ayu menyerahkan kertas soal dan
jawabannya ke Bu Yustina.
Selanjutnya, Tina dan Ayu berdiri berhadapan di muka
kelas, menyampingi teman-temannya yang lain.
“Satuuu, duaaa, tiga! Mulai!” hitung Bu Yustina.
“Satu. Apa nama lain dari uterus?”
“Rahmi!” jawab Tina kencang dan yakin. Padahal jawaban
seharusnya adalah rahim.
“Hahaha!” tawa terbahak satu kelas.
“Yaaa! Tuh kan!” kata Ayu kecewa berat.
“Lanjut terus, waktu hampir habis!” perintah Bu
Yustina.
“Apa boleh buat, Tina. Hajar habis!” kata Ayu
tiba-tiba bersemangat. Dia tidak takut harus hancur jika menabrak tembok beton.
“Tarik terus, Yu!” kata Tina pula tetap semangat.
“Dua. Organ apa yang berfungsi menghasilkan sel telur
dan memproduksi hormon seks utama?” tanya Ayu.
“Aquarium!” jawab Tina yang seharusnya adalah ovarium.
“Hahaha!” Warga kelas semakin heboh tertawa.
“Tiga. Apa nama lain dari serviks?” tanya Ayu, terus
tancap gas tanpa peduli keriuhan rekan-rekan mereka yang tertawa.
“Teler rahmi!” jawab Tina semakin kencang. Jawaban
yang dia maksud adalah leher rahim.
“Hahaha!” warga kelas semakin panjang tertawa.
“Empat. Organ yang merupakan lorong atau jalan keluar
untuk melahirkan disebuuut....”
“Panitia!” teriak Tina seperti orang sedang dikejar
waktu. Seharusnya dia menjawab v*g*na.
“Huahaha!” tawa warga kelas, masih kontinyu.
“Lima. Sebelum lahir, bayi di dalam rahim
disebuuut....”
“Jentiiik!” jawab Tina kencang dan panjang, tanpa
sadar bahwa jawaban “janin” diubahnya jadi jentik manusia.
“Huahaha...!” tawa puncak warga kelas. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar