*Petualangan Tina dan Ayu*
“Ini ikan beli di
paras mana? Bisa banyak begigi?” tanya Tina.
“Maksudnya beli di
pasar mana,” ralat Ayu agar Kadesa Panen Sate dan para tokoh Desa Waykutuk
mengerti.
Ayu lalu berbisik
kepada sahabat cantik kurusnya itu.
“Ntar kalau pulang,
kamu harusnya bayar jasa penerjemah ke saya.”
“Material!” umpat
Tina.
“Matre, Tinaaa!”
ralat Ayu gemas.
“Pekan ini adalah
pekan jala. Jadi, selama sepuluh hari semua warga Desa Waykutuk harus pergi
menjala ikan di laut,” jelas Kadesa Panen Sate. “Besok kalian pun harus ikut
menjala ikan di laut. Hanya Kadesa dan istrinya yang boleh tinggal di rumah.”
“Ma-ma-mantap! Besok
na-na-nangkap ikan. Hahaha!” pekik Salman bergembira.
“Kok Somay enggak
ikut nangkap irwan?” tanya Tina.
“Tina, nama saya
Somali. Sooo maaa liii. Bukan Somay!” protes Somali kesal.
“Ta-ta-tapi bohong! Hahahakhr!”
ledek Salman, lalu tiba-tiba dia tersedak daging ikan, bukan tulang ikan.
“Keluarin! Keluarin!”
teriak Ayu sambil cepat-cepat memukul-mukul kepala Salman.
“Yang dipukul jangan
kelapanya, Yu!” kata Tina.
“Uhhuk hekh hekh!”
batuk Salman sembari menahan sakit di tenggorokannya.
Tina segera berdiri
lalu menendang punggung Salman dari belakang.
“Ininya yang
digendang!” kata Tina.
“Aakk!” jerit Salman
kesakitan, tapi sembuh.
“Hahaha! Pasti baru
pertama kali makan ikan,” kata Kadesa Panen Sate.
“Tina, sadis banget!”
kata Ayu terkejut melihat cara pertolongan pertama Tina. “Resep dari siapa
begitu?”
“Dari nenek saya.
Daripada Salaman kebubur mati,” kata Tina, lalu kembali duduk.
“Te-te-terima kasih,
Ti-ti-tina. Tapi sa-sa-sakit, tahu!” kata Salman.
“Kan Salaman lelaki
perkosa,” kata Tina sembari tersenyum.
“Hahaha!” Semua
tertawa.
“Nih, kepiring rebus
ada pelornya. Katanya, telor kepiting ini bagus untuk kesesatan,” kata Tina
sambil menyodorkan kepiting yang gemuk pada bagian perutnya kepada Salman.
“Hahaha! Kesehatan,
bukan kesesatan, Tina. Noh, lidah kamu tuh yang sesat!” ralat Ayu setelah
tertawa kencang.
“Iya, maksud saya
itu,” kata Tina tanpa merasa berdosa.
“Hahaha!” Semua
tertawa.
“Eh, pertanyaan saya
tadi belum dijawab, Somay,” kata Tina, teringat kepada pertanyaannya.
“Yang mana?” tanya
Somali.
“Kok enggak imut ke
laut?” jelas Tina.
“Saya kan anak
kesayangan Dewa,” jawab Somali.
“Ta-ta-tapi bohong.
Hahaha!” kata Salman lalu tertawa.
“Hahaha!” Somali ikut
tertawa, tanda membenarkan.
“Dia itu warga yang
nakal. Makanya dihukum menjadi pendek,” jelas Mamu Unam.
“Selalu buat
masalah,” kata Mamu Kania.
“Tapi enggak bisa
buat anak,” kata Mamu Sunar pula.
“Hahaha!” tawa Kadesa
Panen Sate.
“Hahaha!” tawa
Salman.
“Siapa bilang. Bisa
kok. Saya bisa buat anak!” sangkal Somali.
“Tapi bolong!
Hahaha!” kata Tina lalu tertawa.
“Hahaha!” Semua tertawa. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar