*Petualangan Tina dan Ayu*
Trio Antik kini tampil cantik dan ganteng dengan pakaian merah-merah cerah, seperti petugas partai saja. Tubuh mereka sudah wangi melati seperti aroma malam 1 syuro. Masing-masing dikalungi rangkaian bunga kembang sepatu tanpa bunga sandal.
Mereka duduk melingkar bersama Kadesa Panen Sate,
ketiga istri cantik Kadesa, Somali, dan sejumlah tokoh desa.
Di depan mereka, di tengah lingkaran, tersaji berbagai
macam hidangan laut, hasil tangkapan jala warga Desa Waykutuk hari ini.
Warga yang lain membentuk majelis santap ikan yang
lain di halaman rumah Kadesa Panen Sate itu.
“Selagi kita kedatangan tamu agung, kita nikmati hasil
laut ini sebanyak-banyaknya, karena pekan jala tinggal dua hari lagi.
“Ikan bakarnya guede buangeeet!” kata Ayu senang
melihat ikan bakar yang besarnya nyaris sebadan Tina.
“Hahaha! Bisa ma-ma-mabok ikan nih,” kata Salman pula.
“Hahaha!” tawa semua orang.
“Tapi jangan kabur lagi,” kata Mamu Kania seraya
tersenyum.
“Hahaha! Itu mah karena kebelet,” kata Ayu sembari
tertawa.
“Iya, salah saham itu. Hehehe!” kata Tina pula cengengesan.
“Salah saham?” sebut ulang Kadesa Panen Sate tidak
paham.
“Maksud Tina, salah paham, Kadesa. Hehehe!” ralat Ayu.
“Oh. Hahaha!” tawa Kadesa Panen Sate, lalu makan sate
ikan.
“Duubur Rajo Cangkir ke mana?” tanya Tina.
“Hahahak!” tawa terbahak Salman.
“Apa?!” kejut Kadesa Panen Sate dengan mata mendelik.
“Maaf, maaf, maaf!” ucap Ayu panik yang membuat Tina
heran.
Tina tidak sadar bahwa dia telah berkata tabu.
“Maksud Tina, Dukun Rajo Canti. Lidah Tina suka
kesurupan sendiri. Hehehe!” ralat Ayu cepat lalu cengar-cengir.
“Iya,” ucap Tina ikut cengengesan.
“Dukun Rajo Canti tidak boleh makan bersama kita,
nanti kesaktiannya hilang,” kata Mamu Sunar.
“Juga tidak boleh menikah,” kata Mamu Unam pula.
“Wa-wa-wa....”
“Waria?” terka Ayu memotong perkataan Salman.
“Hahaha! Bu-bu-bukan. Wa-wa-wanita kesepian,” kata
Salman.
“Maksudnya peralatan tua?” kata Tina pula.
“Bukan peralatan, tapi perawan, Tina.” Ralat Ayu lagi.
“Itu pilihan Dewa,” kata Kadesa Panen Sate menengahi
dialog Trio Antik itu.
“Karena Dukun Rajo Canti punya simpanan,” kata Somali.
“Hah! Siapa?” tanya Kadesa Panen Sate terkejut.
Para tokoh Desa Waykutuk juga terkejut dan memusatkan
perhatiannya kepada lelaki cebol itu.
“Tapi bohong! Hahaha!” pekik Somali lalu tertawa
terpingkal-pingkal.
“Hahaha! Ta-ta-tapi bohong!” kata Salman dengan nada
mengejek sambil bibir bawahnya dimajukan ke depan. Tawanya pun tawa imitasi yang
mengejek karena kesal.
“Nanti kamu kena kutuk, Somali!” kata Mamu Kania marah.
“Dikutuk tambah pendek, tahu rasa kamu!” kata Mamu
Sunar pula. Dia kesal.
“Masih syukur kalau tambah pendek, kalau dikutuk jadi
cebong, bagaimana?” kata Mamu Unam pula.
“Hehehe!” Somali hanya cengar-cengir. (RH)


Mending dikutuk jd ganteng 😁
BalasHapus